Tetangga Aneh

1328 Words
Ketika Tuan Arrogan Jatuh Cinta Part 2 “Laki-laki sebelah rumah kita gak waras. Memangnya dia siapa mau ngusir kita?Gila! Kita bahkan baru sampai di sini tadi siang!” “Gak bagus ngomongin orang yang belum dikenal seperti itu, besok Ibu tanya Wak Idok.” ibu menimpali perkataanku. Kalau Ibu mendengar langsung ucapan laki-laki arogan itu, Ibu pasti ketar ketir sepertiku. Mendengar suaranya saja jantungku mau copot. Aku tak tenang. Belum ada sehari masalah sudah datang. Beberapa saat kemudian aku menertawai diri sendiri. Apa yang ditakutkan dari laki-laki itu? Suaranya saja yang besar seperti geledek. Toh, ia tak bisa kemana-mana tanpa bantuan kursi roda. Kurasa aku tak perlu takut berlebihan. Adzan dari speaker masjid menggema. Setelah menghidupkan lampu teras aku bergegas menyusul Ibu dan Rio di belakang. Aku menatap Ibu yang basah kuyup. Rio pasti mengajak main air. Dia tak bisa menahan diri jika melihat air. Terenyuh melihat ibu yang kewalahan meladeninya “ Maen air, yok, yok, kak ....” ajaknya Rio. “Rio, Kalo wudhu jangan main air. Yuk, kita mau sholat!” Aku mengambil gayung dari tangannya. Wajah remaja itu cemberut. Tak lama ia bersorak sambil bertepuk tangan ketika kubisikkan sesuatu. Menghadapi anak berkebutuhan khusus seperti Rio harus ekstra sabar. Pada dasarnya ia anak yang baik dan penurut. Rio bukan tipe yang suka mengamuk jika tidak diikuti kehendaknya. Tapi, ia akan pergi dan berlari kencang kemana saja jika merasa sedih atau marah. Adikku itu pernah hilang selama dua hari, kami mencarinya kesana kemari sambil menangis. Untunglah Rio ditemukan orang baik lalu diantar ke kantor polisi. Sejak itu, pintu rumah selalu terkunci rapat, mengantisipasi hal yang tak diinginkan. Aku menemani Rio hingga puas bermain Lego. Tak lama ia merengek karena kantuk. Setelah memastikannya tidur aku membereskan semua mainan yang berserakan. Ada waktu tertentu hatiku perih, membayangkan bagaimana Rio menjalani hidupnya jika tak ada aku dan ibu. Di setiap waktu mustajab berdoa aku melangitkan harapan. Minta Sang Pencipta memberikan kesehatan, umur panjang dan rezeki yang cukup hingga aku bisa merawat dan menjaga Ibu dan Rio sepanjang hidupku. Saat ini, aku tak punya waktu mengkhawatirkan diri sendiri. Ibu dan Rio prioritas utama. Hati yang hancur setelah berpisah dengan Mas Dimas kualihkan dengan melakukan apa saja hingga hatiku tak lagi berdarah-darah saat kenangan bersamanya menyeruak. Sebelum memutuskan pindah, Rio kami masukkan di sekolah khusus. Perkembangannya cukup bagus. Rio bisa menulis namanya dan membaca walau sedikit. Hal-hal lain, seperti makan, mandi dan berpakaian sudah ia lakukan sendiri. Ibu mendidiknya untuk mandiri meskipun perkembangannya sangat lamban. Ketika matahari memancarkan kilau keemasan disela daun dan ranting pohon, Wak Idok datang beserta dua orang yang akan membenahi plafon. “Sebelumnya Pak Sobri menetap di Jakarta. Ia kembali ke kampung sejak enam tahun yang lalu. Itupun tak selalu ada di rumah, anak-anaknya tinggal di kota. Kalo laki-laki pakai kursi roda, Wak gak jelas, mungkin saudaranya. Wak gak tahu siapa saja yang tinggal di situ, pagar rumahnya selalu tertutup.” Aku mendengar penjelasan Wak Idok dengan seksama. Sepupu Ayah yang hanya tinggal berdua dengan istrinya di hari tua itu menyesap teh. Wak Idok selama ini mengurus kebun peninggalan Ayah. Hasilnya memang tak seberapa, namun cukup memenuhi kebutuhan hidupnya. Warga yang tinggal di kampung ini mayoritas bekerja sebagai petani karet dan sawit. Anak-anak mereka di sekolahkan ke luar kota karena fasilitas dan pendidikan di sini kurang memadai. “Tapi, Sobri dan istrinya suka sedekah. Wak selalu kebagian paket sembako dari RT. Katanya itu dari keluarga Pak Sobri.” Sebelum tengah hari, dua pekerja yang memperbaiki plafon selesai dengan pekerjaannya. Setelah menerima upah mereka berpamitan. Wak Idok menolak ketika Ibu menawari makan siang, ia bergegas pulang. Rio demam. Sepertinya kecapekan setelah menempuh perjalanan selama 5 jam lebih. Bergantian aku dan Ibu menjaganya. Takut disangka memata-matai, jendela kamar tidak kubuka. Untuk mendapatkan udara segar aku membuka lebar kamar dan jendela yang berseberangan dengan kamarku. Dari sini aku bisa melihat rumah tetangga yang tertutup pohon rambutan dan mangga yang tengah berbuah. Enaknya tinggal di kampung saat musim buah. Halaman rumah di kampung kurasa semua sama. Pekarangan terbentang luas dan ditanami aneka pohon yang buahnya dapat dinikmati ketika musim tiba. Berbeda dengan rumah di kota yang sempit tak punya halaman. Terbiasa tinggal di kota membuatku merasa begitu sunyi ketika malam tiba. “Assalamualaikum ....” Aku menuruni anak tangga melihat siapa yang bertamu. Dahiku berkerut melihat siapa yang datang bertamu sore begini. Wak Idok tadi menyebutkan namanya tapi aku takut salah sebut. Ia mengamati kondisi sekitar rumah dengan detil. Aku berdehem. “Boleh masuk, Mbak? Ada yang perlu saya bicarakan.” Aku mengangguk, mempersilakannya duduk. Laki-laki itu memilih kursi yang membuatnya leluasa menelisik isi rumah. Mencurigakan. “Maaf, keadaan kami berantakan.” Aku memindahkan beberapa barang yang masih teronggok di atas meja. Biasanya orang yang baru pindah mengunjungi tetangga sekitarnya, ini malah terbalik. “Perkenalkan, saya Sobri. Pemilik rumah sebelah.” Dengan tenang Pak Sobri mengenalkan diri. Aku mengakui orang kaya selalu punya cara berbeda untuk menunjukkan kelasnya. Gerak-gerik Pak Sobri mencerminkan status sosial yang berbeda dengan warga kampung. Sinar matanya tajam penuh penekanan. Dia terlihat tangkas dengan tubuh tegap meski usianya tak lagi muda. “Saya minta maaf soal kemarin, anak saya baru pulang berobat. Jadi kondisinya sedang kurang baik. Kalo boleh tahu, Mbak ini mau menetap atau hanya sementara?” Anak? Bukannya ia kemarin memanggil laki-laki pemarah itu ‘Tuan’? “Ini rumah peninggalan Datuk saya. Kami pindah ke sini karena saya ditugaskan di Kabupaten ini. Insyallah kami menetap, dan tak ada niat menjualnya. Kurang lebih seperti pulang ke kampung sendiri.” Aku menekankan kalimatku. Ucapan laki-laki gila itu membuatku berinisiatif menjelaskan lebih dulu. Aku memberinya batasan. Pak Sobri mengangguk. Ia lalu diam beberapa saat. “Kalo boleh tahu, anak Bapak sakit apa?” Wajahnya berubah, ia terlihat tak nyaman. Kami sama-sama diam dengan suasana canggung. “Eh, ada tamu, kok gak dibuatkan minum?” Ibu datang dari luar, memecah suasana. Pak Sobri berdiri. “Saya hanya ingin berkenalan. Maaf jika mengganggu.” Lelaki paruh baya itu berpamitan. Aku dan Ibu mengantar hingga teras. Dua langkah berjalan, laki-laki berpostur tegap itu berbalik. “Kalian hanya tinggal berdua?” tanyanya, memastikan. “Saya punya anak laki-laki, adiknya Agni.” Ibu menjawab. Laki-laki itu mengangguk. “Hmm ... begini, jika mendengar suara apapun dari rumah saya, jangan dihiraukan. Itu lebih aman buat kalian.” Aku dan Ibu saling pandang. Laki-laki itu berjalan cepat setelah mengucapkan hal yang tak bisa kupahami. Caranya berjalan membuatku teringat sesuatu. Ia benar-benar mencurigakan. * Seminggu berlalu tanpa hal berarti. Rio sudah bisa menyesuaikan diri. Sesekali aku dan Ibu mengajaknya keluar sekedar berjalan di pagi hari. Pasti jemu seharian di rumah. Esok aku akan ke Kantor BKPSDM, mengurus semua berkas kepegawaian. Mudah-mudahan tak berselang lama SK mengajarku segera turun. “Aaaaaggrhhh! Kubunuh kalian! Aaaggrhhh!” Aku terlonjak mendengar suara kuat. Siapa yang teriak malam-malam begini? Rasanya baru tertidur beberapa menit. Kutengok Ibu dan Rio, mereka berdua sama sekali tak terganggu. Penasaran, aku mencari sumber suara. "Aaarrghh!!!" Teriakan itu terdengar lagi. Laki-laki itu kambuh? Pelan-pelan kubuka jendela kamar yang tak berteralis. Semoga saja tak terlihat. Halaman rumah panggung mewah itu terang benderang. Lampu tembak diarahkan keatas membuat rumah berdinding papan mengkilat itu nampak eksotis di malam hari. Lampu taman terpasang di beberapa sudut. Aku membuka jendela lebih lebar. Wow, benar-benar rumah impian. Ini ibarat istana di tengah kampung terpencil. Di sana, lantai atas rumah panggung laki-laki itu berada. Entah siapa yang dimakinya. Aku bisa melihat pak Sobri berdiri tak jauh dari laki-laki yang tengah duduk mengoceh kepada angin. “Kau! kau kira aku tontonan gratis, hahh?!” Dadaku berdentam kuat. Laki-laki itu tahu tengah diintip. Apa dia punya indera ke-enam? Duh, kacau. Tiba-tiba .... Pletaakkk! Buukkk!! Suara keras menghantam dinding rumah. Dinding yang terbuat dari papan terasa bergetar. Aku terkejut campur geram. Laki-laki tak waras itu melempari rumah juga atap dengan batu. Secepat kilat aku menutup jendela rapat-rapat. “Keluar, atau kupecahkan kepalamu, Hahh! Aaaarrghh !!! Aku duduk di kasur ketakutan. Teriakannya menggetarkan atap rumah. Rasa ngeri membuat tubuhku berkeringat. Seharusnya ia berada di rumah sakit jiwa. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD