Pagi menjelang.
Ibu terkejut saat hendak menunaikan sholat subuh melihat bongkahan batu sebesar kepalan tangan orang dewasa di lantai papan.
Kuceritakan kejadian semalam secara singkat. Mata perempuan terkasihku itu membesar. Ibu menyayangkan tindakan gegabahku.
“Lain kali, gak usah ikut campur. Pak Sobri minta kita diam. Jangan campuri urusan orang, Nak."
Aku tak menjawab. Bergegas ke kamar mandi. Di mana salahnya? Aku hanya penasaran, kenapa pria itu tiba-tiba berteriak-teriak tengah malam. Dia sakit apa? Sakit jiwa? Selain itu, ini bukan kota, ini kampung dengan kepedulian yang masih terawat.
Saat melajukan motor keluar pagar. Dari arah kanan Pak Sobri muncul. Lelaki itu berjalan ke arahku. Langkahnya panjang-panjang. Sorot mata itu seakan mengunci pergerakanku.
“Pagi, Pak.” Kucoba menyapanya lebih dahulu. Lagi, ini kampung. Selain bertetangga, sebagai orang baru kami juga harus ramah.
Ia memandangku tajam. Meneliti penampilanku hingga aku merasa risih.
“Apa yang saya sampaikan kemarin, kurang jelas?”
Aku menelan ludah. Dia tak suka basa-basi.
“Maaf, saya hanya ingin tahu,” aku menjawab jujur. “ Mungkin ada yang bisa saya bantu, sepertinya ....”
“Tak ada yang membutuhkan bantuan kalian. Dan, menurutmu apa yang bisa kalian lakukan? Perempuan lemah sepertimu lebih baik diam. Jangan campuri yang bukan urusan kalian!”
Kata-katanya penuh penekanan. Aku tersudut sekaligus tersinggung dengan ucapannya. Tapi, memang benar, bukan urusanku.
“Saya paham. Lain kali tidak akan terulang.”
Pak Sobri berlalu begitu saja. Entah mengapa berhadapan dengan laki-laki itu membuatku tegang. Secara fisik dia tak menakutkan, malah di usia paruh bayanya tetap gagah. Tubuhnya bugar dan gerakannya cepat. Belum lagi saat ia bicara, sorot matanya membuat lawan tak bisa berkutik.
Aku bergidik. Dia seperti pembunuh berdarah dingin yang tengah menyamar.
Baiklah, aku takkan cari masalah dengan mereka.
*
Banyak kelengkapan berkas yang harus segera dilengkapi. Beruntung punya kenalan di dinas yang membidangi urusan kepegawaian. Aku juga mulai berbagi nomor WA dengan teman sesama CPNS. Selain tergabung di grup membahas penempatan, kami saling melengkapi informasi pribadi satu sama lain.
Ba’da Ashar aku tiba dirumah.
Motor kuparkir asal. Siang hanya mengganjal perut dengan semangkuk soto. Rasa lapar begitu mendominasi. Ketika melepas helm, tak sengaja mataku tertuju sosok diatas kursi roda. Dia berada di tengah taman, posisinya tepat menghadap teras tempatku berdiri.
Sejak pohon mangga dibersihkan, rumah panggung mewah di sebelah menjadi tempat cuci mata. Deretan cemara lilin di sisi kiri yang berjejer rapat hingga ke gerbang utama.
Entah bagaimana mereka membiarkan pagar bata yang bersisian dengan rumah kami ini lebih rendah. Biasanya orang kaya sangat menjaga privacy. Apa benar dibiarkan begitu karena mereka berniat membeli tanah dan rumah peninggalan Datuk ini?
Entahlah.
Sore ini laki-laki itu mengenakan mantel coklat. Wajahnya putih pucat. Seperti jarang terpapar matahari. Mata setajam elang itu menyorot ke arahku. Mau marah-marah? Dasar tak jelas. Arogan. Sinting. Aku mengoceh dalam hati.
Aku melengos. Ia ingin memecahkan kepalaku semalam. Heran, dengan gerak yang terbatas seperti itu dia sangat sombong. Bagaimana kalau normal, mungkin sudah berlari hendak mencelakaiku.
Hatiku berdebar. Saat kembali melihatnya, lelaki itu masih menatapku ke arahku dengan angkuh. Dingin. Seperti sengaja mengintimidasi. Biar kami pergi dari sini? Jangan harap. Ini rumah keluargaku.
Tak ada alasan mereka terganggu, toh kami tidak minta makan ke mereka. Jika berani mengusir, aku pasti tidak tinggal diam. Keluaga ayah pasti membantu kami.
Aku masuk ke dalam dengan bantingan pintu cukup keras.
Di ruang tengah atas, Rio sedang makan. Nasi dan lauk berhamburan di sekitarnya. Ia meraup nasi yang berserakan lalu memasukkan ke mulut. Melihatku datang, ia tertawa lebar, memamerkan giginya yang jarang.
“Dek, makannya pelan-pelan. Yang di piring aja, ini gak boleh.”
“Aaa ... aaemm ....”
Ia membuka mulut lebar-lebar ketika sendok ku arahkan padanya. Rio bicara tak jelas dengan mulut penuh. Butiran nasi keluar dari mulutnya membuatku tertawa.
“Makan dulu, nanti keselek. No, no, ini kotor!” Aku mengangkat tangan ketika Rio bermaksud meraih piring yang kupegang.
“Maem, maem, maem ....”
“Nanti lagi, ya, kakak mandi dulu, Rio main ini dulu.” Aku meletakkan beberapa mainan di dekatnya.
Nafsu makan Rio sangat besar. Aku meminta Ibu jangan memberinya nasi ketika ia ingin kembali makan. Namun, kadang Ibu beralasan kasihan. Susahnya Rio tak suka buah. Ia hanya suka pisang. Berat badanya mulai berlebih. Tingginya hampir melebihiku dengan perut berlipat.
Ah, Rio, semoga kakak bisa menjagamu hingga kamu bisa mengurus diri sendiri dengan baik.
“Plapon dan genteng yang rusak sudah diperbaiki tukang, disuruh Pak Sobri. Dia ke sini tadi minta maaf.”
Aku urung menyuap nasi. Menunggu kalimat Ibu selanjutnya.
“Lain kali, apapun yang terjadi jangan cari tahu. Anaknya tak setiap hari mengamuk seperti itu. Kita harus saling menghormati sesama tetangga.”
Aku mengangguk. Teringat sorot mata laki-laki tadi. Hiiih.
Mencoba memahami tindakannya. Tentu ada alasan. Setiap orang punya masalah besar yang harus dihadapi. Tak terkecuali laki-laki itu, terkurung dalam rumah dengan kursi roda sungguh menyedihkan, bukan? Terlepas dari apapun kesulitan yang dihadapinya, semoga ia tidak mengamuk dan berteriak-teriak seperti tadi malam. Kami juga butuh ketenangan.
*
Hari berganti dengan cepat. Tak terasa hampir dua bulan kami tinggal di rumah ini. Tak pernah membayangngkan aku akan menetap di tempat sepi seperti ini. Kampung Sinar Ratu ini merupakan kampung tua bersejarah. Menurut cerita Ayah, daerah ini basis pejuang melawan penjajah Belanda.
Meski sudah jauh lebih ramai oleh warga pendatang yang sebagian bekerja pada perusahaan kayu dan pabrik olahan karet, kampung ini juga ramai oleh pegawai pemerintah yang mencari kontrakan sejak komplek perkantoran pemerintah dibangun, bangunan pemerintah itu hanya berjarak 10 kilometer dari kampung yang kami tinggali.
Ibu mencari kesibukan, berkebun di tanah pekarangan yang cukup luas. Aku membawa bibit sayur dan media tanam yang dibutuhkan saat belanja kebutuhan kerja di pasar Bukit. Satu minggu ke depan mulai aktif mengajar. Ada rasa was-was yang menyita pikiran tentang bagaimana menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Aku tak punya pengalaman bekerja.
Mengulang materi dasar waktu kuliah. Maklumlah, otakku tak seencer dulu. Aku perlu up-grade ilmu pengetahuan sesuai kondisi sekarang dan yang lebih penting, membangun kepercayaan diri.
[Dek, apa kabar? Pindah kemana, kok, gak mengabari? ]
Mataku membesar membaca pesan masuk. Mas Dimas. Nomornya memang masih kusimpan. Tepatnya lupa dihapus.
Untuk apa ia bertanya kabarku. Mau pamer kebahagiaannya? Aku jadi sensitif jika berkaitan dengan mantan dan apapun tentangnya.
Lantaran kepo aku klik foto profilnya. Ada nyeri yang merayap melihat wajah yang dulu selalu kutemukan setiap pagi itu tersenyum lebar, dia mendekap perempuan dengan perut buncit membesar. Seketika air mata merebak.
Detik bersamaan aku merasa tak berharga menjadi seorang perempuan. Merasa tak berarti dan sia-sia. Sepertinya benar perkataan Mamanya Mas Dimas, aku perempuan tak berguna, mandul.
[Dek, jangan putus komunikasi ya, kita tetap berteman.]
Kembali ia mengirim pesan. Mungkin karena pesannya hanya k****a. Berteman, katanya? Mana ada di dunia ini mantan suami berteman dengan perempuan yang ia campakkan.
Dengan emosi aku klik tiga titik kiri atas. Block. Terserah apapun anggapannya. Aku tak mau berteman atau terlibat apapun dengannya.
Selama lima tahun bersama aku tak bisa memberikannya seorang anak. Sedangkan perempuan itu? Dalam hitungan bulan dia mengandung benih mas Dimas. Mereka nampak sangat bahagia. Hidup mantan suamiku sempurna dengan keluarga baru.
Aku menangis dengan posisi meringkuk. Tak apa. Aku butuh mengeluarkan airmata ini. Terakhir kali menangis saat putusan sidang perceraian. Kini, aku kembali menangis mengetahui laki-laki itu akan mendapatkan apa yang menjadi impian keluarga besarnya. Anak.
Menangislah Agni, keluarkan semua stok airmata yang tersimpan untuk laki-laki itu. Setelah ini, jangan hidup dalam bayang dan kenangan. Menangislah selama dan sepanjang kau mau. Setelahnya, jangan pernah mengingatnya, anggap saja ia sudah mati.
Bersambung.