KETIKA TUAN AROGAN JATUH CINTA
Bab 4
Kekhawatiran berlebih pada yang belum terjadi akan menumbuhkan ketakutan tak beralasan, lalu khawatir itu akan membunuh mental kita berulangkali.
Aku mulai memahami yang disebut proses. Di dunia ini tak ada yang instan. Mie instan sekalipun perlu diseduh dengan air panas hingga bisa dinikmati. Dengarlah, lagu-lagu yang enak didengarpun tak ada yang langsung ke intro tertinggi perlu ritme, perlu nada awal.
Begitupun diriku sekarang. Butuh adaptasi. Istilahnya learning by doing. Ketika kita memutuskan membuka diri, yakinlah kemudahan dan jalan keluar akan terbentang lebar.
Meski basis pendidikanku ilmu keguruan dalam prakteknya aku belajar menjadi pendidik dari nol. Belajar dari mereka yang lebih senior. Belajar dengan melihat, mengamati, mendengar kemudian mempraktekkan. Ilmu akan bertambah jika kita membaginya. Luar biasa sekali semua proses ini. Aku terus memotivasi diri menjadi lebih baik.
Lingkungan sekolah cukup menyenangkan. Berbicara, bercerita, berkumpul dengan celoteh riang anak-anak SMP yang beranjak remaja membuat duniaku lebih berwarna. Kerap membayangkan Rio berada di tengah-tengah mereka. Alangkah bahagianya jika Rio sepertu teman sebayanya, belajar sambil mengerjakan soal, berlarian mengejar bola, dan merasakan indahnya masa remaja.
Ah, Rio sayang. Maafkan kakak. Bagaimana kakak bisa lancang mengoreksi penciptamu. Kamu anak luar biasa yang dikirimkan-Nya kepada ayah, ibu juga kakak. Kamu adalah kesayangan kami. Anak istimewa yang selalu kakak rindukan.
*
Empat bulan terlewati. Perlahan semua menjadi biasa. Tepatnya membiasakan diri. Mendengar jerit jangkrik dan celoteh binatang di malam hari atau kabut dingin mencucuk tulang di pagi hari. Terbiasa dengan semua keterbatasan yang ada di tempat ini. Kemudian terbiasa dengan semua keributan yang tercipta dari tetangga yang tak tahu diri.
Sabtu malam minggu. Suara berisik kembali terdengar. Sejak peristiwa pelemparan genteng oleh laki-laki itu aku dan Ibu tak pernah ingin tahu urusan mereka. Menghindari interaksi dengan mereka, sesuai permintaan pak Sobri.
Tampaknya emosi laki-laki kursi roda itu kembali tersulut. Entah karena apa. Aku mendekati Ibu yang menonton TV sambil mengusap-usap punggung Rio. Adikku itu kekenyangan setelah menghabiskan sepiring nasi malam ini.
Awalnya aku heran tetangga depan yang anteng tak terganggu kegaduhan lelaki pemarah itu. Lalu menyadari suara gaduh itu mungkin tak sampai di telinga mereka. Wajar sih, pagar tinggi dengan halaman dan taman luas membuat teriakan dan keributan yang diperbuat laki-laki itu hanya dihembuskan angin ke arah kami.
Teriakan itu terdengar berbeda malam ini. Aku menajamkan telinga. Yang sudah-sudah setelah puas memaki dan berteriak ia akan diam dengan sendirinya. Kali ini suara itu seperti melolong panjang, menakutkan.
Aku mengecilkan volume TV.
“Toloong ...!”
Deg.
Kami bertatapan. Ibu menggelengkan kepala tanda tak setuju. Ia langsung membaca pikiranku.
“Toloong!! Hahh ....hhhh”
Hening beberapa waktu.
Pletakkk.
Gila. Dia melempar rumah, lagi.
Pletaakk!!
Daaarrr!!
Sekarang suaranya di jendela. Aku dan ibu terjengit kaget.
“Tolooong ...! heiiii ... hahh ....hhhh!”
Beribu tanya di kepala. Aku cepat ke luar. Tak pedulikan panggilan Ibu. Instingku berkata kali ini kasusnya berbeda. Aku langsung menuju sisi pagar dan melihat laki-laki kursi roda berada di halaman, berteriak dengan panik.
Ketika melihatku, ia berseru menunjuk pagar rumahnya. Penuh tanda tanya aku berlari ke sana.
Suasana jalan dan rumah tetangga sekitar kami lengang. Di sini, pukul sembilan malam warga lelap setelah beraktifitas seharian di kebun.
Ketika berada tepat di depan pagar. Lempengan besi kokoh dan tebal itu terbuka sendiri. Aku melangkah penuh ragu.
Sekitar tujuh langkah di depan, laki-laki kursi roda menatapku tak sabar. Laki-laki yang belum kuketahui namanya menggerakkan kursi roda dengan cara tak terduga. Hebat. Kursi rodanya bisa mendekat kemudian berhenti dua langkah di depanku.
“Di atas ....” tunjuknya dengan d**a turun naik. “Cepat, jangan diam saja, lakukan sesuatu!” perintahnya cepat. Suara dan wajahnya benar-benar panik.
“A-apa yang terjadi? Pak Sobri mana?” Aku tergagap.
Laki-laki itu mengepalkan tangannya, ia semakin tak gusar, kursi roda putar balik seperti tadi seolah digerakkan dengan remote.
“Kamu manusia atau patung, hah?!” laki-laki itu berseru. Napasnya memburu. Ternyata ia lancar berbicara tidak memaki seperti biasa.
Setengah berlari aku mengikutinya, jika kuceritakan pada Ibu, beliau pasti tidak percaya kalau rumah ini begitu canggih. Dilengkapi dengan peralatan modern.
Aku ber ‘wow’ dalam hati ketika pintu berlapis baja seperti yang sering kutonton di film yang bercerita kehidupan orang-orang kaya itu terbuka otomatis.
Begitu masuk, hawa sejuk dari pendingin udara terasa. Bagian bawah rumah panggung cantik ini terbuat dari material beton, bukan papan eksotik seperti di bagian atas.
Menyapu bagian ruangan kembali aku terperangah. Rumah ini dilengkapi elevator yang menghubungkan bagian bawah dan atas rumah. Luar biasa, beneran Sultan di tengah warga kampung yang sederhana.
Pintu lift terbuka.
“Kau tak tahu itu apa? Itu tangga untuk keatas, cepatlah!”
Sia lan. Aku merengut. Hey, sombong sekali! Aku puas hidup di kota! Aku ingin meneriakinya namun urung saat matanya seakan hendak keluar melihatku.
“Benar-benar bo doh. Kamu mau berdiri di situ sampai kapan? Ada nyawa yang harus di tolong!”
Apa aku terlihat begitu kampungan dimatanya?? Terserah.
Isi rumah ini sungguh diluar ekspektasiku. Aku tak menyangka fasilitas rumah ini semewah dan selengkap ini. Sekaya apa sih mereka? Aku jadi kepo.
Bukkk!
Lelaki berwajah putih dengan rambut menutup dahi itu memukul kursi roda cukup kuat karena responku lambat. Bagai orang bo doh seperti katanya aku mengekor di belakang. Beberapa detik terdengar lift berdenting dan terbuka.
Mataku menyisir semua yang kami lewati.
Kami keluar lalu menyusuri lorong dengan ornamen indah, tergantung di dinding rumah. Rupanya ia membawaku ke dapur.
Ya Allah!
Aku berseru kaget. Seorang perempuan seusia Ibu tergeletak di bawah dengan posisi menyamping. Tak jauh dari situ Pak Sobri berbaring di kursi panjang berukir. Ia mengerang kesakitan.
Aku mendekat. Pak Sobri memegangi perutnya.
“Kau punya kenalan dokter? Cepat hubungi!”
Aku menatap laki-laki arogan itu. Pak Sobri kembali mengaduh-aduh. Napasnya tersengal-sengal. Kesombongannya waktu itu lenyap entah kemana. Ternyata mereka butuh bantuan tetangga lemah sepertiku.
“Aku punya kenalan dokter. Coba kuhubungi,” tukasku ragu. Ini malam dan di kampung yang sepi. Apa Dokter Bima mau dimintai tolong?
“Tunggu,” serunya tiba-tiba.
“Pastikan ia datang sendiri. Aku tak mau orang asing masuk ke rumah ini!”
Aku menyeringai.
“Kalau begitu, urus saja mereka sendiri. Aku juga orang asing, kan?” balasku jengkel.
Ia mengepalkan tangan dan mengguman tak jelas. Dia panik sekali. Aku tak pernah melihat perempuan ini. Ibunya kah?
“Lakukanlah, cepat!”
Dih, merintah terus. Aku bukan bawahanmu, Bro!
Ia menggerakkan kursi roda mendekati perempuan yang pingsan. Berulangkali memanggil namanya dengan suara bergetar. Oh, bukan ibunya ternyata.
“Tolong cepat ya, Dok, situasinya darurat. Sepertinya mereka keracunan makanan.” Aku menutup telepon.
Lima belas menit kemudian dokter Bima tiba. Aku menyambutnya di tangga. Ia mengambil beberapa tindakan, aku membantu sebisanya. Kondisi pak Sobri lebih baik dari istrinya, itu karena fisiknya cukup kuat. Duduk dengan tegak sesuai arahan dokter perlahan ia dapat bernapas lebih baik. Dokter Bima memberikan suntikan juga obat untuk menyerap racun.
Dokter Bima membujuk Pak Sobri menjalani perawatan lebih lanjut ke rumah sakit, menghindari hal-hal yang tak diinginkan tapi ditolak dengan tegas.
“Obat untuk menetralisir racun sedang bekerja. Bapak harus banyak mengkonsumsi cairan agar tidak dehidrasi. Kondisi Bu Rina cukup mengkhawatirkan, untungnya racun di jamur itu bukan jenis yang mematikan, tapi jika tidak ditangani dengan cepat juga bisa berakibat fatal.”
Dokter Bima mengemasi peralatannya. Aku mengekori langkahnya ke depan. Kami bertemu beberapa kali saat mengurus berkas di dinas, sama sepertiku ia termasuk salah satu dokter yang ditempatkan di kabupaten ini, Tepatnya Puskesmas yang berjarak 10 kilometer dari rumah kami.
Dokter Bima cukup berpengalaman. Dia membuka praktek sebelum ditempatkan di Kampung ini.
“Saudaramu?”
“Bukan. Kami tetangga,”sahutku sambil menunjuk rumah. Ia mengangguk, lalu berpamitan. Setelah mobilnya melewati pagar, pintu besi itu menutup otomatis.
Aku berbalik. Laki-laki itu memandangku dengan sorot mata ... entah. Mungkin malu, atau mau minta maaf?
“Masih ada yang harus kau lakukan.”
“Hah. Apa?”
Dasar laki-laki arogan. Kupikir ia akan merendahkan suaranya meminta maaf atau berterimakasih, ternyata ....
“Buatkan mereka makanan!” Kembali ia memerintah.
Aku melipat tangan di d**a. Memandangnya sinis. Lenyap rasa jeriku saat mendengar ia berteriak-teriak selama ini.
“Apa aku tak salah dengar, kau memerintahku bagai orang suruhan.” Dengusku tak terima.
“Aku akan membayarmu.”
Woow. Dia pikir aku semiskin itu?
Mengingat bagaimana Pak Sobri dan istrinya terbaring tak berdaya dan kondisi laki-laki ini diatas kursi roda, aku takkan sudi berlama-lama.
“Pintu pagar itu takkan terbuka sebelum kamu melakukan yang aku minta!”
Heii.
“Dengar, Tuan arogan. Aku bersedia bukan karena uangmu. Tapi karena rasa kemanusiaan. Semoga setelah ini pikiranmu terbuka bahwa di kampung sepi ini kau takkan bisa melakukan semua sendiri!” Entah dari mana keberanian yang kupunya hingga bisa menyerangnya dengan kata-kata itu.
Ia mengepalkan tangan. Matanya berkilat-kilat menatapku, lalu berbalik dengan wajah kaku. Baru kali ini aku bertemu makhluk arogan dan semena-mena sepertinya. Aku bertaruh ia takkan membuka pagar jika aku tidak menuruti keinginannya. Laki-laki kasar tak ada lembut-lembutnya sedikitpun. Dikasih hati minta jantung.
Aku membawa panci berisi bubur yang masih berasap. Telur dadar, sup ayam dengan irisan wortel tersusun di atas meja.
Aku melakukan semua dengan cepat. Bahan yang tersedia di kulkas kuolah sebisanya. Rumah sultan tapi isi kulkasnya rakyat jelata. Aku bahkan menemukan ikan asin di sana. Dih.
Tbc.