Pergilah, Mas!

1501 Words
Tiga hari setelah peristiwa keracunan makanan itu, pak Sobri bertandang ke rumah saat aku di sekolah. Ibu bercerita dengan mimik sukacita karena tetangga terdekat kami itu berubah jadi ramah. Aku turut senang mendengar mereka kembali sehat seperti sediakala. Yang mencengangkan pak Sobri membawa buah tangan yang tak sedikit. Beras, minyak, gula dan aneka sembako lainnya menumpuk di samping pintu. Sepertinya lima bulan ke depan kami tak perlu membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya. Mungkin, bagi mereka mengeluarkan uang memberi kami sembako sebanyak itu masalah sepele. Pak Sobri berulangkali menyampaikan terimakasih aku telah membantunya saat itu, padahal menurutku itu hal yang tak perlu mereka balas secara berlebihan. Entah bagaimana orang sekaya mereka bisa tinggal di kampung terpencil seperti ini. Mengingat isi rumah dan peralatan canggih di dalamnya aku menggelengkan kepala. Untuk apa menyusahkan diri hidup di kampung sepi begini? Seminggu kedepan aku mengikuti diklat yang wajib dijalani calon Pegawai Negeri Sipil. Banyak yang harus dipersiapkan. Aku bolak-balik setiap hari menyelesaikan kelengkapan administrasi. Meninggalkan Ibu dan Rio berdua saja membuatku was-was. Rio semakin besar, aku khawatir ibu kecapekan meladeninya. Sebelum berangkat aku menemui Wak Idok, menitipkan Ibu dan Rio pada mereka. Diklat berakhir tanpa kesulitan berarti. Lega rasanya melewati satu tahapan yang menjadi syarat perubahan status CPNS menjadi PNS. Allah maha baik, saat sebagian orang mengeluarkan uang hingga ratusan juta untuk mendapatkan pekerjaan itu, aku salah satu yang beruntung menjadi abdi negara bermodal kemampuan, tekad yang kuat dan tentunya nasib baik yang digariskan oleh-Nya. “Maaf, jika merepotkan. Tapi dia ingin sekali bubur yang Mbak buat seperti waktu itu.” Aku terdiam mendengar permintaan tiba-tiba Pak Sobri. Lelaki paruh baya itu tersenyum samar seraya menganggukkan kepala. Wajahnya jauh berbeda saat memperingatkan aku untuk tak mencampuri urusan mereka. “Hmm ... ini hanya antara kita. Sebenarnya, Tuan Barra bukan anak kandung kami, tapi, saya menyayanginya lebih dari anak sendiri. Saya sudah puluhan tahun bersamanya, melayaninya. Pada dasarnya Tuan orang yang baik. Maaf kalau selama ini sikapnya kurang bersahabat. Sudah dua hari dia demam dan tak napsu makan.” Pantas saja arogan. Manja. Semua yang diinginkan tinggal tunjuk sana tunjuk sini. Penasaran, apakah dia sudah kaya sedari kecil? Apa sebenarnya pekerjaan tetangga sebelah rumah kami ini. Apa mereka punya bisnis besar dengan profit milyaran rupiah? Tumben Pak Sobri terbuka dan banyak bicara tentang dirinya laki-laki itu. Siapa namanya? Tuan Barra? Pantas emosinya meledak-ledak. Namanya Barra, bara api yang berkobar-kobar. Hahhh, jika tak memandang Pak Sobri yang datang sendiri menemuiku, tentu aku berpikir ribuan kali menyetujui permintaannya. Teringat sikap menyebalkan laki-laki itu terakhir kali. Entahlah, aku tak merasa iba sama sekali dengan keadaanya. Akhlaknya buruk. Pak Sobri menunggu cukup lama hingga akhirnya rantang berisi bubur, telur dadar dan sup yang sama seperti waktu itu dibawa pulang dengan senyum lebar. Semoga laki-laki itu keselek terus berubah menjadi lebih ramah setelah makan bubur. Aku tertawa jahat dalam hati. * “Bu Agni, ada tamu,” “Mencari saya, Bu?” Aku memastikan. “Iya, dia mencari Agni Khirania. Cieee, nyebut namanya aja fasih gitu.” Bu Retno tertawa menggoda. Aku tersenyum tipis, bergegas ke depan. Aku terkejut, langkah kaki terasa berat saat menemukan Mas Dimas duduk tenang di kursi tamu. Detak jantung menguat. Bagaimana dia bisa muncul di sini? Di tempat sejauh ini? Senyumnya mengembang. Beberapa guru yang tengah duduk mengobrol mencuri pandang kearah kami. Tiga bulan menjadi guru di sini aku memilih menutup diri untuk urusan pribadi. “Kenapa diblokir, Dek?” Laki-laki yang ingin kuhapus dari ingatan itu langsung bertanya perihal nomornya yang kublokir. Wajahnya berbinar saat menanyakan kabarku. Basa-basi. “Tahu dari mana aku di sini, Mas?Ada perlu apa? Lima belas menit lagi aku ada kelas. Dan, jangan bilang kalo Mas sampai sejauh ini karena penasaran apakah aku bisa hidup dengan baik atau tidak!” tanyaku beruntun. Suara kupelankan namun penuh penekanan. Dan, aku tak perlu menjelaskan atas alasan apa aku menutup komunikasi dengannya. Mas Dimas menghela napas. Lalu meluncurlah ceritanya. Ia mencari informasi ke beberapa teman setelah mengetahui rumah yang kami tempati telah dikontrakkan. Bandar Lampung ternyata cukup kecil bagi seorang Dimas untuk mencari tahu keberadaan mantan istrinya. Istri yang tak pernah dianggap oleh keluarganya. “Kebetulan ada undangan yang digagas Pemkab buat kerjasama dengan perusahaan, Mas setujui untuk datang langsung karena ingin bertemu denganmu.” “Untuk apa?” potongku lugas. Ia memandangku. Ada serpihan rindu yang kutangkap di matanya. Merasa tak nyaman, aku berpaling. Memperhatikan siswa yang berlalu lalang di halaman sekolah. “Aku harus ke kelas. Sebaiknya, Mas segera pulang.” Aku mengusirnya halus. Ia mengangguk. “Oke, Mas masih banyak waktu sebelum pulang ke Karang, boleh minta sesuatu?” “Apa?” “Buka blokirnya,” “Kurasa gak etis Mas nyimpen kontak mantan istri. Terlebih tak ada hal penting yang perlu kita bahas sekarang ataupun nanti.” Aku berdiri. Tak peduli dia tersinggung atau tidak. Memang seharusnya begitu kan? “Kamu banyak berubah, Dek." Dia tersenyum tak nyaman. "Nanti Mas ke rumah, kangen sama Rio.” Aku hendak bertanya, namun urung. Kami pernah bersama selama lima tahun, meski tak pernah mengajaknya berkunjung ke kampung ini, bukan hal yang sulit bagi Mas Dimas menemukan kami. Lelaki masa lalu itu mendahului keluar setelah berpamitan kepada beberapa guru. “Bu Agni, itu calonnya, ya?” Kali Ini Bu Rita, guru senior bertanya dengan senyum penuh makna. Aku tertawa kecil lalu menggeleng. Bergegas menuju kelas. Bagaimana bisa move on jika masa lalu yang ingin dikubur dalam tiba-tiba muncul mengejutkan seperti ini. Sepanjang kelas pikiranku melalangbuana entah kemana. Hari ini jadwal ulangan harian bagi kelas 7.2. Aku memperhatikan siswa-siswi mengerjakan soal dalam suasana hening. Jam tujuh malam laki-laki itu datang berkunjung. Ia tak main-main dengan ucapannya. Ibu sedikit terkejut, menatapku penuh tanya. Aku mengangkat bahu. Percuma dilarang, aku tahu persis sifat Mas Dimas. Rio senang sekali dengan kehadiran mantan kakak iparnya itu. Adikku itu bergelayut erat di lengan Mas Dimas. Mereka memang sedekat itu, dulu. “Gak nyasar sebelum kesini, Dim?” Ibu bertanya. Mas Dimas tertawa. “Gak, Bu. Salah satu driver kantor asalnya dari kampung deket sini,” Ia menyeruput kopi lalu meladeni Rio. “Oya, Abang punya mainan baru.” “Iyo mau, Iyo mau ...!!" teriak Rio gembira. Matanya berbinar-binar lucu. Aku dan Ibu tertawa. “Selamat ya, Dek. Mas terkejut saat tahu kamu jadi guru. Kenapa gak minta penempatan di kota saja? Mas punya kenalan pejabat di pusat, dia bisa bantu urus pindah. Mas akan urus.” Aku menggeleng cepat. “Tak usah repot-repot, kami suka tinggal di sini.” “Iya sih, suasana di sini sangat sejuk ya, udaranya bersih, bebas polusi.” “Namanya hidup di kampung, Dim. Oya, Ibu dengar istrinya sudah melahirkan, selamat ya, kami turut berbahagia” Ibu memotong. Mas Dimas nampak canggung beberapa saat lalu kembali biasa dan mengajak Rio bercanda. Ibu memperhatikan aku yang tak nyaman. Tepat pukul sembilan aku minta Mas Dimas pulang. Rio yang masih ingin bermain terlihat sedih. Cepat aku menghiburnya dengan mainan pemberian Mas Dimas. “Pasang lampu tambahan, Dek, di sana masih gelap.” Ia menunjuk halaman belakang sambil meneliti sekitar. Aku mengiyakan. “Dek,” Ia menatapku. Kami berhadapan dengan jarak empat langkah. Bias lampu jatuh di wajahnya. Suasana sekitar senyap. Jangkrik mulai memainkan nyanyian malam. Aku baru menyadari rambutnya yang biasa pendek dibiarkan sedikit panjang, tapi sungguh, itu membuatnya lebih menarik. Mas Dimas mengenakan kemeja biru tangan panjang dan celana hitam. Dia selalu memperhatikan apa yang dipakainya. Dulu, orang-orang memuji kami sebagai pasangan serasi. Tapi tak sempurna. Karena aku tak mampu memberinya keturunan. “Dek, Mas ....” “Jangan bersikap seolah-olah tak ada yang berubah diantara kita, Mas.“ aku memotong ucapannya. “Tolong, jangan datang kesini, jangan terlalu baik padaku, Ibu, juga Rio. Mungkin Mas merasa bersalah atas semua yang terjadi, tapi ... kami baik-baik saja, tak perlu dikasihani.” “Bukan begitu, Mas merasa ... entahlah, Mas rindu kebersamaan kita,” ia berucap sambil memangkas jarak. Aku tercekat. Reflek mundur. “Dek, kamu tahu persis hatiku.” “Pergilah, Mas! Jangan pernah datang lagi.” Suaraku bergetar. Dadaku sesak. Marah. Sesal. Kecewa. Sakit hati campur aduk. Mataku mulai memanas. “Jangan bicara omong kosong seperti tak ada yang terjadi, Mas tahu? Aku mulai membencimu!” geramku. “Aku sangat mengenalmu, Dek. Kamu masih mencintaiku. Jangan dustai diri sendiri.” "Itu sudah berlalu. Hatiku tak lagi yang dulu." "Dek, aku datang--" Suaranya terbang terbawa angin, melewatiku. Aku merasa dia sengaja mempermainkan perasaanku. Terus bertahan jangan sampai menangis di depannya. Aku berbalik, berjalan menjauh tak menghiraukan panggilannya. Deru mobil menyadarkanku bahwa laki-laki yang menjadi sandaran hidupku itu telah pergi. Ia pergi setelah memporakporandakan ketegaran yang kubangun susah payah. Bulir bening meluncur tanpa bisa ditahan. Pelan aku menyusut wajah yang basah, bersandar pada dinding rumah. “Heeemm ....” Aku mengangkat kepala, Di taman rumahnya, Tuan Barra tengah menatap kearahku tajam dengan wajah kaku. Wajahnya nampak pucat disiram cahaya lampu taman. Posisinya dekat dengan pagar pembatas. Aku merutuk. Sejak kapan dia disana? Apa dia mendengar semua percakapan kami? Dasar tak punya akhlak! Aku masuk ke dalam rumah di bawah tatapan tajamnya. Bersambung. ====================== With love?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD