Rio Hilang

1453 Words
Hari-hariku memburuk setelah ocehan ngawur Mas Dimas. Laki-laki sia lan itu membuat mentalkuku dititik terendah. Kenapa laki-laki begitu egois? Dia kira hati ini bola bekel yang bisa dimainkan dan dipantulkan kesana kemari sesuka hati? Ibu tak banyak bertanya. Mengapa dan untuk apa mantan suamiku itu datang dan mencariku sedemikian rupa. Seolah dia datang untuk menagih hutang. Seolah ada miliknya yang kubawa saat pergi dahulu. Aku memilih berpisah bukan mengakui pernyataan mandul seperti kata keluarga mas Dimas. Aku tak sanggup diperlakukan seperti orang asing. Cukup selama ini menerima kata-kata hinaan. Puncaknya, sikap mas Dimas membuatku gamang. Untuk apa berjuang ketika hati tempatmu bersandar tak lagi mempertahankanmu? Aku tak mandul. Dokter menyatakan aku sehat dan mampu memiliki anak. Lalu aku bisa apa setelah begitu banyak usaha yang kulakukan namun tak jua diberi rezeki momongan? Ucapanku padanya ketika terakhir ia datang bukanlah kiasan. Hatiku tengah berperang dengan cinta yang tersisa dan kebencian yang mulai kupupuk untuknya. Perpisahan kami mungkin sudah menjadi ketetapan-Nya. Aku hanya menyayangkan sikapnya yang pura-pura baik. Dia yang memintaku yakin dan berpegang pada hati dan cintanya, namun di belakangku dia menyetujui desakan keluarga untuk menikah kembali. Mas Dimas bersikap seolah-olah dia juga korban. Korban dari keadaan yang diciptakan ibunya. Dalihnya berlaku taat dan berbakti ke orangtua, lalu bagaimana denganku? Apa ia tak berpikir aku lah korban sesungguhnya? Kini, saat aku menjauh menyembuhkan diri, dia datang dan mengatakan rindu? Bullshit. Aku tersenyum getir. Dddrrrt. Dddrrrt. “Bu Agni, Hpnya!” suara itu menghalau lamunanku. “Oh, eh ... i-iya, Bu!” “Duh, yang sedang kangen, melamun terus!” Aku menyambar HP diiringi derai tawa Bu Retno. "Nak, cepat pulang, Rio gak ada di rumah. Ibu sudah cari-cari belum ketemu!" Suara Ibu bergetar di ujung telepon. "Astaghfirullah, Ibu yang tenang, Agni segera pulang!" Aku berlari cepat menuju parkir. Bu Retno bertanya namun tak ada waktu untuk menjelaskan. Hatiku kebat kebit. Kupacu motor dengan kencang menuju rumah. Sebenarnya masih ada satu kelas setelah jam istirahat. Tapi, aku bisa minta tolong Bu Aisyah menggantikan. Rio lebih penting. Aku tiba disambut Ibu dengan tangis kencang. Bude Tini, Bik Meli dan Yuk Sri mengelilingi ibu, mencoba menenangkannya yang terus menyebut nama Rio. Keadaan kampung siang hari begini sangat sepi, para lelaki berada di kebun atau bekerja lumayan jauh dari rumah. Anak-anak berada di sekolah. Kemana Rio pergi? Apa Ibu memarahinya? Aku tak tega bertanya lebih banyak. Ibu sangat panik, berulangkali menyalahkan dirinya. “Bu, Rio anak pintar, ia sudah hapal jalan ke rumah. Ibu tenang ya, kita cari lagi.” Aku mengusap lembut punggung Ibu. Beliau mengangguk. Mengusap airmata dengan lengan daster yang dipakainya. Kami berpencar. Ada yang ke belakang rumah meski mustahil karena sudah terpagar rapat. Ke kanan jalan, ke arah kiri. Rumah tetangga sekitarpun kami datangi siapa tahu Rio bemain di sana. Wak Idok bertanya pada satu dua motor yang melintas berharap berpapasan dengan adikku di jalan. Satu jam tanpa hasil. Keringat dingin mulai membasahi tubuh. Hatiku dirayapi ketakutan, namun aku tak ingin menunjukkan pada Ibu. Aku harus tetap tenang. Tak bisa dapat solusi jika panik. Tiba-tiba Wak Idok pergi setengah berlari. Aku berteriak memanggilnya. “Cari tempat lain, Uwak mau liat di sungai,” bisiknya ketika aku mendekat. Aku mengangguk dengan hati tercekat. Sungai. Iya, ada sungai sekitar 700 meter dari sini. Apa mungkin Rio berjalan sejauh itu? Aku membuang jauh-jauh pikiran buruk yang datang. Ya Allah, Rio. Kamu dimana, Sayang? Empat jam berlalu dalam ketegangan. Ibu tampak lemah. Matanya sembab kebanyakan menangis. “Iyo, maafin Ibu! Maafin Ibu ... pulang Nak, pulang ....” Ibu kembali menangis. Rio diketahui keluar rumah saat Ibu membersihkan diri selesai berkebun. Sepertinya Ibu lupa menutup dan mengunci pintu. “Dia belum makan siang, ini sudah jam tiga, Iyo pasti kelaparan!” Tak tahan, aku memeluk Ibu. Menangis bersama. Tetangga yang membantu mencari kesana kemari memandang kami dengan raut sedih. Bingung mencari kemana lagi. Semua tempat sudah didatangi. Bahkan hingga perbatasan kampung. Wak Idok datang. Dia menggelengkan kepala dengan lesu. Ia menelepon beberapa keluarga untuk menyusuri jalan kampung menggunakan motor. Aku berselonjor di lantai teras dengan gundah gulana. Pikiranku buntu. Apa lapor polisi? Mereka takkan menanggapi jika belum 1 x 24 jam. Aku teringat belum Zuhur juga perut yang melilit perih. Kemana Rio pergi? Orang takkan mengira adikku itu anak berkebutuhan khusus karena postur badannya yang terlihat sangat sehat. Aku takut, ada orang jahat yang menyakiti atau membawanya pergi jauh. Rio sangat mudah dipengaruhi. Aku memejamkan mata. Menahan sakit kepala. “Ibuuu ....!” “Akaaaak ....!!” Rio! Itu suara Rio!! Sontak kami berdiri. Anak itu berlari-lari ceria sambil mendorong kursi roda kosong keluar dari rumah Pak Sobri. Astaghfirullah ... aku benar-benar tak berpikir Rio berada di rumah pak Sobri. Hati campur aduk antara lega dan ingin marah. Di belakang Rio, pak Sobri dan bu Sarinah mengikuti. Aku dan Ibu mematung sekian lama. Betapa kacaunya kami mencari Rio, pontang panting kesana kemari selama berjam-jam. Ternyata .... Aku duduk lemas. Mengucap syukur dalam hati. Mataku kembali basah. Aku sangat takut. Takut kehilangan Rio. Adikku satu-satunya. “Ada apa ramai-ramai?” Pak Sobri bertanya dengan wajah heran. Wak Idok menceritakan secara singkat. Tetangga yang tadi berkerumun mulai berpamitan setelah mencandai Rio. Ibu mengucapkan terimakasih dan maaf berulangkali telah membuat semua orang kelimpungan. “Maaf, Maafkan kami. Kami tidak tahu kalian panik nyari Rio. Saya ketemu Rio dekat gardu. Dia jalan kaki entah mau kemana. Saya tawari pulang naik mobil dia mau, kami lupa mengabari. Rio gak mau pulang, dia asyik bermain di dalam bersama Tuan.” Aku tak tahu harus berkata apa. Hanya mengucapkan terimakasih. Aku memeluk Rio. Plong rasanya melihat dia baik-baik saja. “Lain kali main di halaman saja. Tadi Iyo mau kemana?” Aku mengusap pucuk kepalanya. “Iyo maen, ada meoong,” sahutnya sambil menggerakkan kepala lalu menirukan suara kucing berulang-ulang. Mungkin dia mengejar kucing tetangga hingga berjalan sejauh itu. Rio menolak saat kubawa masuk. Anak itu menunjuk kursi roda yang tergeletak di halaman pak Sobri. Dia hendak berlari kembali ke sana. Ibu menahannya. “Iyo maen mobilan, ngeeeng ... ngeeengg.” “Besok lagi ya, sekarang sudah sore. Om Barra juga capek.” Pak Sobri menepuk-bepuk bahu Rio. Pria itu menirukan gerakan kepala Rio ke kiri dan ke kanan. Rio tertawa. Pak Sobri mengajaknya tos. Aku menarik napas. Kepalaku masih berdenyut. Aku belum menelan sebutir nasipun sejak tadi. Aku tatap langit biru yang mulai berubah warna. Awan kelabu bergerombol di arah timur seakan berkabar entah petang atau malam langit akan menumpahkan bebannya. Hari yang melelahkan jiwa dan raga. Selesai solat ashar aku termangu di bibir jendela masih menggunakan mukena. Ujian datang silih berganti. Mengingat banyak yang terjadi dalam kurun dua tahun ini. Duka saat Ayah berpulang belum hilang, disusul rumah tanggaku hancur diterjang badai. Betapa aku merasa rapuh. Dibalik semua kepedihan ini aku berusaha menanamkan keyakinan akan kebenaran atas janji-Nya. Tuhan bersama hamba-hamba-Nya yang bertawakal dan sabar. Bukankah selalu ada pelangi setelah hujan? Bukankah malam pekat akan berganti dengan siang yang terang benderang? Bukankah janji-Nya adalah kepastian yang akan datang? Aku selalu memotivasi diri sendiri dengan kata-kata yang pernah k****a dalam ‘La Tahzan’ buku yang menemani tangisku bermalam-malam saat pertama kutahu Mas Dimas akhirnya menyerah membersamaiku. Sepoi angin membelai wajah. Speaker masjid memperdengarkan murottal yang menyejukkan. Aku membuka mata dengan suasana hati mulai membaik. Aku menunduk ketika menyadari laki-laki bernama Barra itu berada di sana. Di balkon rumah panggungnya. Ia duduk dengan punggung tegak. Mantel dan syal tebal membungkus hingga ke leher. Tatapannya selalu begitu. Dingin. Entah apa yang ada dibenaknya melihatku menangis di jendela sepetang ini. Kehilangan Rio beberapa jam membuat perasaanku terasa begitu jauh. Rumah panggung kami bersebelahan dengan perbedaan yang sangat mencolok. Bagai langit dan bumi. Jarak yang cukup dekat memungkinkan jika kami berbicara dengan sedikit berteriak. Tapi tentu saja aku takkan sudi berbincang dengan lelaki di seberang sana. Matanya saja menatapku seperti musuh. Ayah pernah cerita mengapa rumah di kampung didirikan dengan jarak berdekatan. Selain rasa kekeluargaan yang kental, dulu, orang-orang di kampung punya cara tersendiri untuk memberitahu jika ada kejadian atau berita penting. Kode itu diteriakkan dengan suara-suara tertentu yang telah dipahami oleh mereka dari satu rumah panggung ke rumah panggung sebelahnya. Menurut cerita ayah juga, dahulu penjajah tak memperbolehkan bendera merah putih dipasang atau berkibar disudut kampung. Tetapi penduduk kampung punya cara tersendiri untuk mengobarkan semangat nasionalisme, mereka menggunakan bawang merah dan bawang putih dalam tusukan lidi lalu meletakkannya pintu rumah, pagar atau tempat lainnya sambil beralasan apa saja untuk mengelabui para penjajah. Begitulah, beribu cara dan alasan digunakan agar semangat juang tetap berkobar. Akupun kini membutuhkan itu. Aku butuh semangat, dukungan dan support dari Ibu dan Rio. Itu lah alasan aku sangat takut kehilangan mereka. Ibu dan Riosatu-satunya yang kupunya. “Tutup jendelamu! Dasar cengeng!!” seru lelaki itu tiba-tiba padaku. Eh, dia benar-benar ngajak perang. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD