Bab 7
Kelakuan minus Tuan Barra menjadi-jadi. Siapa suruh dia melihatku menangis. Dia bisa pergi atau pura-pura saja tidak melihat airmataku. Dia tidak punya empati sedikitpun.
Lelaki itu justru marah dan meneriakiku. Dasar orang aneh.
Jika ditilik lagi mereka adalah pendatang di kampung ini. Meskipun lahir dan besar dikota, namun darah ayah sebagai penduduk asli kampung ini mengalir kental ditubuhku. Hah, jiwa primordialisme-ku muncul.
Awas saja jika dia berteriak minta tolong seperti kemarin. Aku takkan sudi membantunya. Catat itu baik-baik.
*
Kututup laptop setelah menguap berulangkali. Kantuk mendera. Sangat menyenangkan berselimut ketenangan seperti ini. Tak ada suara berisik dari rumah sebelah. Sudah dua hari tidurku lelap, tak direcoki si Tuan Arogan.
Menurut yang kudengar dari Ibu mereka keluar kota. Baguslah. Tak usah pulang sekalian.
Kulirik penunjuk waktu yang bergerak ke angka sebelas malam. Saatnya istirahat. Namun badanku terasa pegal dan linu. Efek kecapekan berhari-hari mempersiapkan kunjungan tim sertifikasi di sekolah.
Kami sibuk dengan tugas dan kewajiban masing-masing. Persiapan sudah dari jauh hari, namun seminggu ini tenggat terakhir untuk memastikan semua berjalan dengan seharusnya. Banyak instrumen dan pengisian data yang harus diselesaikan.
Aku kembali menguap lebar lalu berbaring dengan mata sepet.
Baru dibuai mimpi beberapa menit kembali terbangun karena suara keras. Suara itu terdengar berulangkaki. Seperti bunyi pintu yang ditendang dan didobrak secara paksa.
Tap tap tap.
Derap kaki terdengar berlarian. Aku merutuk dalam hati. Menganggu saja. Lalu menutup kedua telinga dengan bantal. Detik kesekian bantal kuenyahkan ketika teringat Pak Sobri keluar kota untuk pengobatan Tuan Barra.
Lalu, suara apa tadi?
Aku meloncat bangun ketika mendengar suara kuat kesekian kali.
Praanng!!
Braak!!
Jiwa kepo menuntunku ke jendela. Aku mencoba mengintip lewat celah papan. Ada bayangan hitam yang bergerak cepat. Jantungku memompa dengan kuat. Apa itu tadi? Hantu? Huss, aku menepis pikiran aneh.
Berniat membangunkan Ibu. Tapi dalam temaram lampu aku malah menemukan Ibu sedang merunduk-runduk di jendela ruang tengah.
“Bu ....”
Ibu menempelkan telunjuk di bibirnya, memintaku mendekat.
Rumah panggung ini terbuat dari papan yang berusia puluhan tahun. Ada beberapa bagian yang mulai keropos. Seperti jendela ruang tengah bagian atas ini. Terdapat celah lumayan besar yang memungkinkan kami melihat apa yang sedang terjadi.
“Diam, jangan banyak bicara. Jangan bersuara,” bisik Ibu. Aku mengangguk, mengiyakan. Perasaanku jadi tak enak. Ibu menggenggam tanganku yang terasa dingin.
Jantungku berdegup ketika melihat beberapa orang berpakaian hitam berjalan mondar-mandir di balkon rumah Pak Sobri.
Siapa mereka? Pencuri? Kutaksir jumlah mereka sekitar sepuluh orang atau bisa lebih karena lampu taman yang biasanya benderang kini dimatikan.
Aku dan Ibu berpandangan. Rasa takut menghinggapi kami. Bagaimana jika benar mereka rampok yang memanfaatkan keadaan saat rumah itu tidak berpenghuni?
Aku meraih HP.
“Mau apa?” cegah Ibu khawatir. Aku berbisik. Ibu mengangguk setuju.
Kami terus mengamati melalui lubang kecil itu. Mereka mencoba masuk ke dalam melalui jendela yang kacanya telah dipecahkan.
Seseorang terlihat tengah menelepon. Dia duduk di kursi santai yang biasa diduduki Tuan Barra. Kupastikan dia yang memimpin orang-orang berpakaian hitam-hitam itu.
Tak lama kemudian orang-orang itu berlarian turun tergesa-gesa menuruni tangga. Ada yang melompat ke bawah seiring bunyi kentongan yang dipukul berulangkali.
Alhamdulillah. Wak Idok meneruskan informasiku ke warga dan tetangga sekitar. Aku meyakini orang-orang itu berniat jahat.
Setelah memastikan di luar ramai dengan warga aku dan Ibu memberanikan diri keluar. Berbaur dengan mereka.
Warga melihat orang-orang berpakaian hitam itu berlarian tunggang langgang melompati pagar tinggi. Beberapa malah melompati pagar kiri yang menjadi pembatas kami dengan Pak Sobri.
Warga mempertanyakan maksud orang-orang tersebut karena datang tengah malam saat pemilik rumah sedang keluar kota. Dipastikan mereka bukan orang sembarangan jika melihat dari jenis kendaraan yang digunakan. Mobil dengan jenis dan type terbaru itu menerobos jalan kampung yang gelap dengan kecepatan penuh saat warga mulai berdatangan ke rumah Pak Sobri.
Benak kami dipenuhi dugaan, mereka mungkin kawanan rampok yang biasa menjarah rumah-rumah mewah. Itu jelas.
Rumah Pak Sobri sangat potensial menjadi target. Tapi apa benar tujuan mereka hanya untuk merampok? Aku memandang taman yang keadaannya gelap gulita, orang-orang tadi memutus aliran listrik untuk menyamarkan aksi mereka.
Warga bubar setelah aparat kampung menghubungi pihak berwajib dan melaporkan adanya dugaan rencana perampokan.
*
Kami bernapas lega setelah tim asesor berpamitan pulang setelah acara seremonial berakhir. Sebelum pulang, Kepala Sekolah memberi arahan yang menjadi catatan untuk ditindaklanjuti. Meski penat tapi kami merasa puas.
Aku memperlambat laju motor saat menemukan mobil yang sangat kukenali terparkir di halaman yang ditumbuhi rerumputan.
Oh, Tuhan mau apa lagi dia datang.
Aku menyalami Ibu tanpa mempedulikan Mas Dimas. Ia sibuk dengan Rio. Saat pandang kami bertemu, mantan suamiku itu tersenyum. Di atas meja tergeletak beberapa bingkisan yang dibawanya.
“Mas dalam rangka apa kesini?” tanyaku langsung ke inti. Dia tertawa memamerkan deretan gigi rapihnya.
“Kamu gak salin baju dulu, Dek?”
Ibu mengajak Rio ke atas memberiku ruang untuk bicara berdua. Aku harus membuat garis pembatas. Agar semua jelas. Jangan sampai ia berpikir kedatangannya menjadi candu buatku.
“Mas sekalian mampir. Tadi penandatangan kerjasama perusahaan dengan Pemkab. Di sekolah ada acara, ya? Jadi Mas langsung ke rumah.”
“Iya, ada tamu dari provinsi. Untuk apa kesini?” Kejarku lagi.
“Apa harus ada alasan khusus untuk silaturahmi?” ia menatapku lembut.
Dulu, aku akan segera menyambut kepulangannya di rumah dan melayaninya sebaik mungkin. Sekarang? Aku tak punya hak. Bahkan sekedar menatapnya pun, aku membatasi diri.
“Masalahnya kita tak punya hal penting untuk dibicarakan. Apa tanggapan orang jika tahu Mas adalah laki-laki yang kerap mengunjungi mantan istrinya? Bisa jadi fitnah!”
“Dek, Mas baru dua kali ke sini ....”
“Justru itu masalahnya. Aku tak ingin dianggap perempuan tak tahu diri. Bagaimana jika Widya dan Mama tahu Mas menemuiku ditempat sejauh ini? Otak mereka akan berpikir yang tidak-tidak. Tolong, Mas, biarkan aku hidup tenang.”
Ia menatapku dengan wajah yang tak ingin kuartikan. Mas Dimas menghela napas. Wajahnya berubah keruh.
“Mama sudah mendapatkan cucu seperti keinginannya, namun Mas merasa hampa. Semakin dipikir-pikir Mas membutuhkanmu, Dek. Widya berbeda. Dia hanya perempuan pilihan Mama. Mungkin terdengar tak pantas, tapi, Mas mau kita rujuk!”
Aku menatapnya murka.
“Kau gila, Mas. Aku tak mau!”
“Kenapa? Kita masih saling mencintai.”
“Jangan bicara omong kosong, Mas. Aku sudah katakan, aku terlanjur membencimu!”
“Bukan benar cinta?” dia berdiri dan berjalan mendekatiku.
Mas Dimas meneliti air mukaku. Tatapannya menembus hingga ke manik mata. Jantungku berdegup kencang.
Aku melengos sekian lama kami beradu pandang. Ia meraih jemariku, reflek kusentak kasar.
“Jangan macam-macam, Mas. Aku bukan perempuan yang bisa kau sentuh. Kita sudah bercerai lebih dari setahun yang lalu!”
Lelaki yang dulu amat kucintai itu terlihat frustasi. Tubuhnya semakin mendekat hingga aku terdesak ke dinding.
“Dek, ayolah! Jangan membohongi diri sendiri. Mas yakin hubungan kita bisa diperbaiki.”
“Mas kira pernikahan itu main-main? Jangan membuat simpatiku semakin hilang. Perasaanku untukmu sudah lama kukubur dalam-dalam. Sejak palu hakim diputuskan aku hanya menganggapmu sebagai kenangan. Mas tak perlu tahu aku masih cinta atau tidak. Yang perlu Mas tahu rasa sakit yang kupunya takkan hilang sekalipun Mas berlutut di depanku. Aku sudah hilang kepercayaan saat Mas pura-pura menolak menikahi Widya!”
“Agni, Sayang, Mas ....”
“Tolong, Mas ... aku tak ingin apapun darimu. Biarkan aku hidup dengan tenang. Awalnya memang sesak dan menyakitkan. Tapi aku sudah ikhlas. Jodoh kita sudah berakhir,” aku memenuhi rongga d**a dengan udara. “Pulanglah, aku tak ingin melihatmu lebih lama.”
“Aku mencintaimu dan kau pun tak bisa berbohong, matamu masih penuh kerinduan untukku.”
Aku melotot mendengar ucapannya. Dia pikir aku Agni yang dulu. Agni yang terima dibodohi dan dikelabui.
“Cukup! Tutup mulutmu, Mas. Aku tak sudi kembali padamu!” aku menekan d**a yang terasa nyeri.
“Pergi Mas! Kau tak diinginkan disini!” usirku kasar.
Laki-laki di depanku tersentak. Dia menatapku lekat. Aku tak pernah berteriak. Selama menjadi istrinya aku tak pernah meninggikan suaraku melebihi suaranya. Aku selalu menjadi istri penurut dan bertindak sesuai keinginannya.
Mengapa tidak saat itu, Mas? Mengapa baru sekarang? Mana keteguhan sikapmu saat Mama dan yang lainnya satu suara mendepakku? Mengapa kau diam saja saat aku berurai airmata keluar dari rumah yang penuh dengan kebahagiaan kita?
Sekarang dia datang dan berniat menggergaji serbuk kayu? Apa yang akan kau dapatkan, Mas? Penat dan lelah, juga ... kemarahanku.
Semuanya sudah usai.
Mas Dimas memandangku dengan sorot mata mengiba. Kami tak saling bicara sekian lama.
Ia berjalan keluar dengan kepala tertunduk. Aku terduduk dilantai saat deru mobilnya menjauh.
Ya, Tuhan ... masih tersisa cinta untuknya.
Aku rindu saat bersamanya. Aku menjerit perih dalam hati. Kembali terisak-isak. Aku tak memungkiri dihatiku masih ada cinta dan rindu untuknya. Tapi untuk kembali bersama?
Aku mengingkari janji untuk tidak lagi menangis.
Malam ini kuhabiskan dengan tangis panjang. Berselimut kesedihan.
Bukan cinta jika menyakiti. Cinta jenis apa yang datang dan pergi sesuka hati?
Bersambung.