CP Episode 11

2336 Words
Hermanto sudah merasa tak sabar lagi menunggu jam kantor tutup dan ia bisa langsung menuju ke tempat kuliahnya. Setelah kuliah ia ingin segera sampai di rumahnya. Malam ini ia sudah mengadakan janji dengan gadis yang selama ini didambakannya. la bersikeras agar janjinya tidak akan gagal. Maka ia berniat hanya mengikuti satu mata kuliah saja untuk hari ini. Yang penting ia dapat pergi dengan Dewi. Sambil bekerja Hermanto membayangkan senyuman dan lirikan Dewi. Baginya perjumpaan semalam dengan gadis itu menimbulkan gelora cinta dalam d**a. Dan selama hidupnya memang belum pernah merasakan hal seperti ini. Gelisah, bimbang, segala perasaan bercampur aduk dan di antaranya kebahagiaan yang belum pernah dirasakan. Semua itu karena ia terlalu digoda oleh bayangan wajah gadis itu. Cuma, Hermanto menghela napas berat. la menempelak jidatnya. Untuk pergi dengan Dewi terbentur pada uangnya yang menipis. Kenapa kemarin ia tanpa berpikir panjang lagi membuat janji? Sekarang kesulitan itu hadir pada dirinya. Belum habis Hermanto dilanda kebingungan, Subekti masuk ke dalam kamarnya. "Sedang melamun memikirkan apa, Her?" tegurnya. Hermanto tersentak. "Ah nggak memikirkan apa-apa, Pak. Cuma.... " "Cuma apa?" "Apakah sekiranya kalau saya mau kasbon diperbolehkan, Pak? Terus terang uang transpotku sudah kering." "Kalau kau perlu akan kusampaikan kepada pimpinan." "Terus terang saya minta bantuan pak Subekti." "Beres. Tunggu sebentar." Subekti bergegas meninggalkan ruang kerja Hermanto. Sedang Hermanto duduk seorang diri dengan perasaan dag dig dug. la merasa sebagai karyawan baru sudah berani kasbon. Hal ini dilakukannya karena terpaksa, mengingat uangnya sudah hampir kering dan nanti malam ia harus berkencan dengan gadis pujaannya. Tak lama kemudian Subekti sudah kembali ke ruang kerja Hermanto. la melempar senyum. "Silahkan pergi dan menghadap ke ruang bendahara," kata Subekti. "Sungguh nih, Pak?" "Masa aku mau membohongimu. Ayo cepetan." Dengan perasaan lega dan gembira, Hermanto segera pergi menghadap Bendahara. la merasa sedikit malu untuk mengucapkan keinginannya. Tapi baru saja ia duduk dan hendak berbicara, mbak Bendahara yang berwajah cantik itu sudah berkata: "Tunggu sebentar, Pak." Dan mbak bendahara itu sibuk mengambilkan note kasbon. Lalu disodorkan kepada Hermanto. "Mbak, berapa. yang harus saya tulis?" tanya Hermanto bingung. "Sesuai dengan instruksi Direktris, satu juta rupiah." Hermanto termangu. "Banyak sekali?" gumam Hermanto. "Lho kok malah heran. Kan anda mengajukannya segitu." Hermanto langsung membenarkannya, supaya tidak terjadi salah faham. "Ya... ya ..." Langsung Hermanto menulis satu juta rupiah dan menanda tangani note kasbon itu. Setumpuk uang seratus ribu rupiah diterimanya dari bendahara itu, walau hatinya masih diliputi hal yang membingungkan. Sekembalinya ke ruang kerja, kebingungan itu masih memenuhi benaknya. Hermanto tak habis mengerti kenapa yang dihadapinya di kantor ini serba membingungkan. Misterius. Dan apakah seluruh karyawan di sini beranggapan seperti itu? Tapi kalau diteliti, semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Tidak ada yang dirasa misterius. Apalagi mengenai pimpinan mereka. Waktu sudah sore, Jam pulang kantor sudah tiba. Maka seluruh karyawan di kantor itu sudah bersiap-siap untuk pulang. Hermanto mendahului seluruh karyawan. la lebih duluan keluar dan menunggu di pintu lantai bawah. Apa yang dilakukannya hanya ingin bisa bertemu nuka dengan Direktrisnya. Ya cuma itu keinginannya. Seluruh karyawan keluar dari dalam gedung. Semua yang bertemu Hermanto menganggukkan kepala. Memberi salam dan senyum. Sampai pada Subekti yang pulangnya paling belakangan, menegur Hermanto yang masih berdiri di pinggir pintu. "Tunggu siapa, Her? Apakah urusannya sudah selesai?" tanya Subekti. "Su ... sudah beres." "Mau tunggu siapa lagi? Semuanya sudah pulang." Dengan setengah mengeluh dan kecewa Hermanto membarengi langkah Subekti. "Mau terus ke kuliah?" "Ya." "Kau bisa numpang sampai di bundaran Grogol. Kebetulan aku ada janji dengan teman di Jembatan Besi." "Okey." Malam yang beranjak, mulai menggeser senja yang temaram. Kemudian malam menyelimuti di bilangan kaum elite Menteng. Hermanto yang sejak tadi selesai mandi dan mengenakan pakaian rapi sudah menunggu di tepi jalan. Ketika ia memandang ke bawah dan singgah di sepatunya, kelihatan sepatu itu baru dibeli. Mengkilat karena baru saja disemirnya. Dan memandang pakaiannya, sudah licin dan rapi distrika. Pokoknya malam itu pakaian Hermanto sangat rapi dan serasi dipakai nya. Sedangkan rambutnya yang sedikit gondrong teratur rapi itu diminyaki. Dan wajahnya yang tampan, simpati banyak menarik perhatian. Ditambah lagi malam itu wajahnya berseri-seri. Gampang tersenyum. Sementara itu Jarot dan teman-temannya yang duduk di teras rumah menertawakannya. Menggodanya. "Ada Arjuna sedang menunggu Srikandi edan lewat!" ledek Jarot sambil tertawa ngakak. Semua teman-teman Jarot ikut ngakak. "Maklum saja, mengejar cinta itu mengasyikkan. Tapi kalau gagal bisa merana!" "Kalau cuma merana masih lumayan. Tapi kalau menjadi pasien rumah sakit gila, waaah berabe!" "Hermanto ikut tertawa. Sinar lampu mobil menyorot dan berkedip-kedip. la tahu mobil yang meluncur menghampirinya itu pasti Dewi. Maka ia buru-buru memberikan isyarat kepada teman-temannya. "Tenaaang! Kalian boleh saksikan bahwa Srikandi akan datang menjemputku." Mobil sedan itu berhenti di depan Hermanto. Pintu mobil itu segera terbuka, dan ia melihat yang duduk di belakang stir adalah Dewi. Maka Hermanto melemparkan senyumnya. Kemudian sebelum Hermanto masuk ke dalam mobil, membungkukkan kepalanya ke arah teman-temannya, lalu melambaikan tangan. "Selamat malam dan kami pergi," kata Hermanto dengan sikap formil menghadapi tamu agungnya. Lantas masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Mobil itu membawanya pergi. "Siapakah mereka, mas Her?" tanya Dewi lunak. Hermanto mengalihkan tatapannya memandang gadis yang duduk di sampingnya. Dan Hermanto bagaikan disentakkan sewaktu memandang gadis itu. Kecantikannya yang terpancar dari cara berdandan, rambutnya dikuncir memakai jepitan imitasi, dan lehernya yang jenjang putih mulus bagai mengundang hasrat pemuda itu untuk mengecupnya. "Teman-teman kuliahku." Dewi cuma tersenyum. "Malam ini kita mau ke mana?" "Tentunya kau lebih tahu di mana tempat yang cocok untuk kita ngobrol," sahut Hermanto. "Suka pemandangan laut di waktu malam?" "Suka sekali." "Kalau begitu kita ke sana." Mobil yang dikemudikan Dewi menuju ke arah Ancol. Pada saat mobil mereka hendak memasuki pintu gerbang, Hermanto buru-buru mengambil dompetnya untuk membayar tanda masuk. Namun Dewi juga berbuat sama, seolah-olah mereka saling berlomba tahan gengsi. "Biar aku saja yang bayar, Dewi." "Aku sajalah." Tapi Hermanto lebih cepat dan berarti dialah yang membayar karcis tanda masuk itu. Sedangkan Dewi menghela napas panjang sambil tersenyum. Mobil meluncur masuk di areal tempat rekreasi Bina Ria. Terus melintasi jalan yang membelok- belok di sepanjang pinggiran pantai. Di tempat yang sepi dan tenang, mobil itu berhenti di pinggir pesisir. Lalu Dewi mematikan mesinnya. Angin berhembus sayup-sayup basah. Suara ombak saling mengejar tak pernah berhenti, jauh di permukaan laut berwarna perak karena tertimpa cahaya rembulan beriak halus sekali. Hermanto dan Dewi hanya memandang keindahan malam itu sambil duduk di dalam mobil. Keduanya saling membisu, bercengkerama berbagai macam perasaan yang menggelora. Menggelora bagaikan ombak yang saling berkejaran di lautan. Sebab mereka seolah-olah dihadapkan pada kenyataan yang tak pernah diduga sebelumnya. "Sungguh indah malam ini," gumam Dewi. Tanpa sadar Dewi telah memegang tangan Hermanto. Dan telapak tangan yang dingin itu menyadarkan Hermanto. Dia pun membalas memegang tangan gadis itu. Lalu dia sadar bahwa dia tidak sendiri. Tidak bermimpi. "Suasana seperti ini sangat kusukai. Dan kau?" Dewi mengangguk sambil tersenyum manis. Matanya yang indah dalam sapuan cahaya rembulan berbinar-binar. la memandang Hermanto dalam-dalam. Mengagumi ketampanan lelaki itu. Dan entah mengapa perasaannya begitu bahagia bila bersanding dengan dia. Segala nestapa, kesepian dan siksaan batin terkupas bersih. Sementara itu pada belahan perasaan lainnya tetap saja bersemayam kekawatiran dan kegelisahan. "Sering datang kemari?" "Bisa dihitung dengan jari." "Dengan pacarmu?" "Aku belum punya kekasih." "Bohong!" "Sungguh." "Biasanya pemuda tampan sepertimu banyak kekasihnya dan pengobral cinta." Hermanto menghela napas panjang, dibarengi dengan senyuman pahit. la tidak bisa menyalahkan siapa saja termasuk di antaranya Dewi. Dan siapa saja tak akan percaya, jika sampai kini ia belum pernah jatuh cinta atau pacaran. "Terserah kau percaya atau tidak, sampai kini aku belum punya kekasih dan jatuh cinta. Hanya . . ." ucapan Hermanto terhenti. Tenggorokannya bagai tersumbat. "Hanya apa?" Hermanto masih belum punya keberanian untuk berterus terang. Maka ia cuma diam termenung "Ayo katakan, hanya apa?!" desak Dewi sambil menarik-narik tangan Hermanto. Hermanto memegang erat jari tangan Dewi. Memandang wajah gadis itu dalam-dalam dan pijar-pijar dari matanya melontarkan bara cinta yang sukar dibendung. "Hanya kau yang mampu membuatku tak berdaya, dan jatuh cinta. Ini merupakan cinta pertama dalam hidupku." Ungkapan perasaan Hermanto membuat Dewi terbenam dalam kegelisahan. Dan mata lelaki itu menatapnya begitu lembut. Terpancar kejujurannya. "Sepanjang hidup yang kualami belum pernah merindukan seorang wanita, selain ibuku. Namun sejak aku mengenalmu kerinduan itu gampang sekali datang dalam diriku. Ingin selalu bersanding denganmu. Ingin dibelai dan disayang. Tapi juga senantiasa gelisah dan bimbang serta cemburu. Bila kita bertemu getaran perasaan bahagia itu terasa menyusup dalam jiwaku. Barangkali itutah artinya cinta yang terkandung di lubuk hatiku." "Benarkah apa yang kau katakan, mas Her?" "Percayalah. Kau pertama bagiku untuk yang terakhir." "Itu tak mungkin...." kata Dewi bernada .. keluhan. "Kenapa? Kau menolak cintaku?" Dewi tak bereaksi. "Yah.... mungkin karena aku miskin dan tidak sepadan denganmu. Aku tahu itu. Namun aku telah merasa puas dapat mengutarakan perasaanku, Soal kau mau membalas atau tidak, aku tak akan memaksa. Yang penting endapan perasaan cintaku sudah terungkapkan." "Bukan soal miskin atau kaya, mas Her." Sepasang mata Dewi nampak digenangi air tipis yang berkilau-kilau. Dan dadanya bagai sesak untuk bernapas. "Jadi soal apa?" Dewi tak mampu untuk menjelaskannya. la malah menjatuhkan kepalanya di d**a Hermanto sambil terisak. Hermanto segera membelai rambut gadis itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Jangan mendesakku untuk mengatakannya sekarang, mas Her." "Sekarang atau nanti akan sama saja." "Aku mohon jangan . . ." keluh Dewi dalam isaknya. "Tapi aku sudah tahu sinar matamu, kau mencintaiku." Isak tangis Dewi makin menjadi. Tapi ia membenamkan wajahnya di d**a Hermanto. Bagaikan anak kecil yang membutuhkan perlindungan dan belas kasihan. Hal itu membuat Hermanto menjadi terharu dan memeluk tubuh gadis itu erat-erat. "Maafkan aku, Dewi. Mungkin desakanku ini hanya terdorong oleh emosi. Kalau hal itu me-nyinggung perasaanmu, sekali lagi aku minta maafmu," kata Hermanto lembut. Jari tangan Hermanto membelai rambut gadis itu lembut. Keharuman rambut gadis itu mengeluarkan keharuman yang menyejukkan dadanya. Kehalusan kulit gadis itu menyadarkan bahwa dia teramat halus dan peka. Dewi menggesek-gesekkan wajahnya ke d**a Hermanto lalu mendongakkan wajahnya, memandang redup wajah Hermanto. Pandangan mereka berbenturan dalam binar-binar cinta. Mata Dewi yang redup, adalah mata yang mengharap kehangatan dan kecupan lelaki itu. Matanya yang dibasahi air bening, adalah mutiara yang dirundung kesepian. Perlahan Hermanto melingkarkan lengannya di leher gadis itu. Dewi layu dan pasrah dalam pelukannya. Perlahan bibir Hermanto menciumi bibir Dewi. Bibir merah delima yang bagai magnit itu terkuak menanti. Perlahan dengan lembut bibir gadis itu dilumatnya dan rintihan manja terdengar. Pelukan erat membuat gadis itu sesak bernapas, namun terasa menggairahkan. Sekejap Dewi merenggangkan ciumannya karena hampir kehabisan napas. Tapi Hermanto mengejarnya dengan lumatan yang semakin hangat. Pelukannya semakin erat. Gadis itu terpejam meresapi ciuman Hermanto yang menggairahkan. Dan merenggangkan pori-pori yang mengucapkan sari-sari napsu birahi yang terbendung. Apalagi ditambah tangan Hermanto menjalari bagian yang sangat peka, lalu diremas. Dewi menggeliat dan merintih. Dewi bergumam: "Mas Her..." Hermanto cuma bersuara, "Hm. . ." dan dia mencium leher mulus gadis itu, membuat gadis itu meliuk-liuk. Andaikata Dewi tidak memakai celana, alangkah bebasnya tangan Hermanto mengelus dan meremas paha gadis itu. Dewi dengan lembut menempelkan bibirnya ke telinga lelaki itu. la sudah hampir tak tahan membendung gairah napsunya, maka ia berbisik lembut. "Mas Her... cukup ... aaaah ..." Hermanto merenggangkan dekapannya. Merenggangkan ciumannya di leher gadis itu. Lalu menatap seraut wajah cantik yang sayu dan merah jambu. Wajahnya yang menahan goncangan napsu birahi yang menerjang. "Setiap gadis akan terlena kalau kau cium," kata Dewi terengah. "Tentunya tidak setiap gadis kucium." Dewi diam. Suasana itu kembali hening. Suara ombak tak pernah berhenti. "Dewi, malam ini rasanya akulah yang paling bahagia. Namun dapatkah kekal kebahagiaan kita?" "Aku tak tahu.. ." "Kau tak punya keinginan itu?!" "Setiap manusia menginginkannya, mas Her. Termasuk aku juga. Tapi.. ." ucapan Dewi terhenti. "Tapi kenapa?" "Tak kenapa-kenapa," sahut Dewi sambil tersenyum manis. Senyumnya itu hanya untuk menutupi kegelisahan hatinya. Dan untuk menghalangi pertanyaan Hermanto lagi. "Barangkali kau masih sangsi dan ragu terhadap cintaku?" "Ya," kata Dewi singkat. "Kelak akan kubuktikan, bahwa cintaku selebar dan sedalam samudera." Dewi tersenyum kecil. la menganggap Hermanto cara mengungkapkan cintanya masih seperti anak kecil. Dan dari itulah Dewi percaya jika lelaki itu baru mengenal cinta. "Kita pulang yuk?!" ajak Dewi. "Aku masih ingin lebih lama di sini. Perasaan rinduku masih belum terkuras habis." "Lain waktu kita sambung lagi. Ya kan mas Her?" pinta Dewi setengah merengek. "Kita pulang yuk?!" Hermanto diam. "Lihatlah pakaianku lusuh semua," gumam Dewi. Hermanto melirik sambil tersenyum. "Tangan kamu nakal, patut dipotong!" ketus Dewi manja. "Kalau dipotong yang rugi bukan cuma aku, tapi kamu juga." "Siapa bilang?" "Buktinya kalau tanpa mengguņakan tangan kau tak akan bisa menggeliat dan merintih," kata Hermanto sambil tertawa. Dewi tersipu malu. la mencubit paha lelaki itu, gemas tapi sayang. Hermanto merintih kesakitan. "Ampuuun ..." Dewi melepaskan cubitannya. "Nah .. . tanpa tangan kau tak bisa mencubit. Padahal mengasyikkan to?" ledek Hermanto. Dewi tersipu malu. Kemudian saking gemasnya ia memukul bahu Hermanto berulang kali. Dan berikutnya Hermanto menangkap tangan Dewi. Memeluk tubuh gadis itu. Kembali lumatan hangat dan mesra menyergap bibir gadis itu. Mereka sama- sama tenggelam pada nikmatnya berciuman. Kini ciuman Hermanto makin menggairahkan. Sampai Dewi bagaikan terbang di antara bintang dan rembulan. Namun pada saat Hermanto menggigit bibir gadis itu, ciuman itu berakhir dengan tiba- tiba. "Kamu nakal aah!" rengek Dewi manja. "Aku gemas padamu." "Waah .. ." Dewi menggelengkan kepala sambil memandang sayu ke wajah Hermanto. "Kalau gemas bukan di sini tempatnya." "Di mana?" tantang Hermanto. "Lain waktu aku beri tahu. Sekarang kita pulang." Hermanto menganggukkan kepala. Baru kemudian Dewi menyisir rambutnya supaya rapi kembali. Membenahi pakaiannya yang lusuh akibat kenakalan Hermanto yang romantis. "Kuharap sesampainya kau di rumah jangancerita apapun kepada teman-temanmu," pinta Dewi. Hermanto mengangguk lagi. "Tapi sebelum meninggalkan tempat ini aku ingin mencium keningmu." Hermanto langsung memeluk pundak Dewi dan menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Lalu Hermanto mendaratkan ciuman ke kening gadis itu dengan lembut dan sayang. Tapi ciuman itu semakin turun menjalari hidung Dewi. Ketika hendak singgah di bibir merah delima itu, segera saja Dewi menarik mundur wajahnya. "Masih belum puas, Mas? Jangan terlalu sering, nanti cepat bosan. Kita kan masih punya waktu panjang di lain kesempatan." Hermanto hanya tersenyum. Dewi buru-buru melarikan mobilnya takut lelaki itu masih penasaran. TBC........ (Wah udah bersambung aja nih gimana kelanjutan Hermanto dan Dewi yaa.. saya sekarang rutin update deh sampai tamat untuk sobat semua...)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD