CP Episode 12

2646 Words
Jarot, Hendra dan Udin sedang asyik menyanyi sambil main gitar. Di malam itu mereka sengaja berkumpul di teras untuk saling menghibur diri, setelah seharian penat menuntut ilmu dan mencari keberuntungan nasib. Sebagaimana yang kini dialami oleh Hermanto yang keberuntungan nasibnya mulai nampak bintang terang. Ketika Jarot dan teman-temannya tengahtenggelam dalam irama musik yang dimainkan, tibe-tiba sebuah mobil sedan berhenti di depan rumah itu. Perhatian Jarot dan teman-temannya beralih ke sana sehingga permainan gitarnya berhenti. Apalagi setelah turunnya seorang gadis cantik dari mobil itu. "Mas Hermanto ada di rumah?" tanya gadis itu ramah. "Ada. Dia baru saja pulang dari kuliah. Mungkin sedang mandi, tunggu saja sebentar pasti dia keluar." "Baiklah. Silahkan meneruskan main gitarnya," ujar gadis itu. Jarot dan teman-temannya tersenyum, lalu meneruskan bermain gitar dan menyanyi. Bagi mereka kalau ada gadis mencari Hermanto sudah tidak aneh lagi, sebab di manapun juga pemuda itu senantiasa dikejar-kejar para gadis. Memang, dia tampan, simpati dan mempunyai otak briliant. Gadis itu duduk di kursi teras sambil menunggu sampai Hermanto keluar. Petikan gitar dan suara nyanyian mereka cukup merdu dan mengusik kalbunya. Permainan gitar dan nyanyian mereka terhenti lagi. Perhatian mereka berpindah ke arah sebuah mobil sedan yang berhenti di depan rumah. Dan ternyata yang turun dari mobil itu adalah Mira. Maka Jarot jadi saling berbisik kepada teman-temannya. "Wuaah.. bisa jadi perang nih?!" gumam Jarot sambil melirik gadis yang belum mereka kenal. Mira berjalan menghampiri gadis itu. Senyum yang terulas di bibirnya sangat dipaksakan. "Hallo, Siska," tegurnya dingin. "Hallo, juga. Apa kabarnya selama ini, Mira?" balas Siska ramah. "Baik-baik. Cari mas Hermanto?" "Yah..." "Sudah bertemu dengannya?" Siska menggelengkan kepala. "Mas Jarot," panggil Mira. "Mas Hermanto lagi ngapain?" Jarot tersenyum. "Lagi mandi. Bagi yang mau ketemu silahkan antri, banyak pasien!" gurau Jarot sambil tertawa. Wajah Mira agak tersipu malu. Tapi di dalam dadanya bergejolak perasaan cemburu yang menggigit-gigit. Sementara Siska nampak tenang-tenang saja. "Kau juga mau perlu dengan mas Hermanto?" tanya Siska. Mira tidak menjawab, namun dari pancaran matanya menyimpan lava yang hampir meledak. "Siska, kumohon padamu, jauhilah mas Hermanto." Siska tersentak dan menatap Mira dalam-dalam. "Ada hubungan apa kau melarang hubunganku dengan mas Hermanto?!" ketus Siska kurang senang atas permintaan Mira. Belum sampai Mira mencetuskan ucapannya untuk menyerang Siska, perhatian mereka berpindah ke arah datangnya sebuah mobil sedan yang berhenti di depan rumah itu juga. Tapi kali ini turunlah seorang gadis cantik laksana dewi malam yang turun dari khayangan. Dia adalah Dewi Ratnasari yang cantik dan anggun berjalan menuju teras rumah. Sementara itu mereka yang ada di situ termangu memandang kehadiran seorang gadis yang tiada celanya ini. Seakan-akan memandang sesuatu keajaiban. Jarot segera bangkit dan menyambut kedatangan gadis itu. "Mau mencari siapa, Nona?" "Mas Hermanto ada di rumah?" suaranya terdengar lembut. "Ada, mari silahkan masuk." Mira dan Siska menatap gadis yang baru datang itu. Namun ketika gadis itu membalas tatapan mereka, seolah-olah mempunyai kekuatan yang dapat menundukkan. Dan Mira serta Siska tertunduk tak bereaksi. "Biar aku tunggu di sini saja," kata Dewi tenang "Kalau begitu akan kupanggilkan Hermanto." Jarot segera masuk ke dalam rumah. Sementara itu perdebatan seru antara Mira dan Siska dilanjutkan lagi. Dewi diam sebagai pendengar saja. "Siska, tentunya kau tahu perasaanku. Kita sama-sama wanita yang perperasaan halus dan peka. Aku tahu persis siapa mas Hermanto sesungguhnya. la lelaki baik dan jujur. Karena itulah aku mohon agar kau menjauhinya," kata Mira. "Kalau kau mengetahui sifatnya, pribadinya dan kau jatuh cinta, itu hakmu. Kebebasanmu. Tapi di balik kenyataan yang kau ketahui itu, sebenarnya Hermanto memiliki kejantanan yang diidam-idamkan oleh setiap wanita manapun. Termasuk diriku." "Bicaramu mulai ngawur!" "Tidak, ini kenyataan. Aku pernah membuktikannya tidur sepembaringan dalam satu kamar. Jadi aku rasa dia lebih cenderung mencintaiku dibandingkan dirimu." Bulu-bulu di tubuh Dewi mendadak jadi merinding mendengar ucapan Siska. la seperti dihadapkan pada sebuah kenyataan yang rumit dan pelik. Mereka bertiga mencintai seorang pemuda. Mira bagaikan disengat Kalajengking mendengar ucapan Siska. Dan membangkitkan emosinya sebagaimana terkena tamparan hinaan. "Kau . .. kau sungguh tak tahu diri! Tak .. tahu malu! Kalau saja mas Hermanto tahu bahwa kau gadis panggilan, p*****r! Tak mungkin dia mau mencintaimu!" ketus Mira jengkel. Siska jadi geram. la mendekati Mira dan siap menamparnya. Namun Hendra dan Udin cepat melerainya. "Tenang . . . jangan turuti emosi," nasehat Hendra lunak. Tak lama kemudian Hermanto keluar dari pintu rumah menuju ke teras. la terkejut melihat tiga orang gadis yang dikenalnya datang secara bersamaan. Dan nampaknya antara Mira dan Siska ada keributan. "Siska, Mira, ada apa?" tegur Hermanto. "Tanyalah pada kekasihmu!" balas Mira sengit. Siska jadi gelagapan untuk menjawab. Maka ia bergegas meninggalkan tempat itu dengan dilanda perasaan kesal dan benci. "Siska tungguuu!" teriak Hermanto. Namun Siska tak menghiraukan panggilan Hermanto. la naik ke dalam mobil sambil menghempaskan pintunya keras. Lalu meluncurkannya meninggalkan tempat itu. Menyusul Mira ikut pula meninggalkan teras itu tanpa berkata sepatah kata pun. Hermanto buru-buru menyambar lengan gadis itu. "Kau mau ke mana, Mira?!" "Pulang!" sahutnya kesal. Tangan Hermanto dikibaskannya hingga terlepas. Lalu berlari ke mobilnya. Hermanto terus mengejar sampai Mira naik ke dalam mobilnya dan berusaha mencegahnya "Sebenarnya ada apa, Mira?" "Tanyalah pada yang merasa jadi kekasihmu!" Mira melarikan mobilnya tanpa mau menghiraukan lelaki itu. Hermanto cuma bisa garuk-garuk kepala. la tak mengerti apa yang harus dilakukannya. Maka ia berjalan menghampiri Dewi yang duduk di teras seorang diri. Hendra dan Udin sudah tiada lagi menemaninya. Hermanto mencoba untuk melempar senyum kepada Dewi. Agar senyumnya itu dapat menghilangkan sikapnya yang salah tingkah dan canggung. Untuk tetap wajar seperti kala ia bertemu dengan gadis itu. "Kurasa akan banyak pertanyaan darimu," gumam Hermanto. Dewi cuma tersenyum kalem. Anggun dan tenang. "Sebaiknya kita pergi sekarang," ajak Hermanto. Dewi mengangguk. Mereka berdua melangkah menuju mobil yang diparkir. Dewi menyerahkan kunci mobil kepada Hermanto. "Kau saja yang stir," kata Dewi. Hermanto menerima kunci itu dengan senang hati. Lalu mereka berdua duduk berdampingan di jok depan. Hermanto melirik beberapa saat gadis yang duduk di sampingnya ketika mobil yang dikemudikan meluncur. Kali ini Dewi tidak lagi mengenakan celana jeans, tapi gaun indah yang sangat serasi dipakainya. Malam ini ia nampak kelihatan cantik dan anggun. Bila dibandingkan dengan Siska dan Mira, gadis yang duduk di sampingnya ini sangat istimewa. Banyak memiliki kelebihan. Cuma malam ini senang membisu. Senyumnya seterigah dipaksakan. "Kita ke pantai lagi ya?" ajak Hermanto. Dewi diam saja. Menoleh pun tidak. "Heeeyyy... kenapa kau sayang?" kata Hermanto setengah merengek. Dewi memandang Hermanto sekejap. "Terserah akan kau bawa ke mana," sahut Dewi tak bersemangat. Hermanto tersenyum sambil melirik gadis yang duduk di sampingnya. "Kamu ikut-ikutan marah padaku ya?" Dewi menarik napas dalam diam. "Nanti saja akan kujelaskan yang sebenarnya," gumam Hermanto sembari mengeluh. Mobil telah berhenti di tempat yang tenang dan 'sepi. Meski banyak mobil sedan yang diparkir di situ, penumpangnya ada di dalamnya. Mereka sudah berpasang-pasang untuk memadu janji dan cinta. Seperti juga Hermanto dan Dewi. Cuma kedua insan ini sedang dilanda perasaan tak me- kenapa kau, sayang? Mau nggak kita nentu. "Apa yang sedang kau pikirkan, Dewi?" tanya Hermanto lembut. "Kedua gadismu itu," gumam Dewi. Hermanto heran. "Yang kau maksudkan Siska dan Mira?" "Ya. Mereka berdua bertengkar merebutkanmu!" ketus Dewi. "Bahkan Siska mengatakan terus terang pernah tidur sekamar denganmu. Dan kau lebih cenderung mencintainya ketimbang Mira." "Bohong! Tak ada satu pun di antara mereka yang kucintai." "Tapi tidak ingkar mengenai tidur sekamar dengan Siska?" "Memang." "Berarti kau mencintainya." "Kau tak percaya padaku, Dewi?" "Sekarang aku tidak percaya. Ternyata dugaanku bahwa kau laki-laki pengobral cinta telah terbukti." "Kau salah menuduhku begitu." "Lalu kau mau tetap berdusta?" Hermanto merapatkan tubuhnya ke tempat duduk Dewi. Lalu jari-jari tangan gadis itu diraihnya lembut. Digenggamnya mesra dan hangat. "Dewi, apa yang pernah kukatakan padamu tak pernah dusta. Setulus hatiku. Sepanjang usiaku ingin merasakan getaran aneh dalam kalbu. Getaran yang ditimbulkan oleh naluri pada saat berjumpa atau berkenalan dengan seorang gadis. Namun perasaan itu tak pernah kurasakan, meski sudah beberapa gadis yang kukenal dan kuakrabi. Cuma terus terang dan jujur kukatakan; getaran perasaan aneh itu kurasakan sejak pertama kali aku melihatmu di waktu subuh berjalan mendorong kursi roda. Terus hari subuh berikutnya, sampai Suster rumah sakit itu menyebutmu sebagai istriku. Dan sejak saat itulah aku benar-benar telah jatuh cinta padamu," tutur Hermanto panjang. Dewi jadi tertunduk diam. Termenung. "Sebenarnya di antara kedua gadis itu patut kau petik, Mas. Mereka ibarat bunga masih tumbuh segar. Lagi pula mereka nampaknya anak orang kaya," ujar Dewi seperti menganjurkan. "Sekarang jangan bicarakan soal harta ataupun kedudukan serta jabatan. Tapi mengenai hati dan perasaan. Yang kumiliki hanya itu, hati dan perasaan karena aku dilahirkan sebagai orang miskin. Jadi meskipun aku miskin, tak akan mudah tergoyahkan untuk segampang itu jatuh cinta." "Mereka juga hampir sama cantiknya." "Tapi aku lebih mencintaimu. Apakah kau sengaja mau mempermainkan aku?" nada suara Hermanto mulai jengkel. Dewi memandang Hermanto dengan gelisah. Menemukan sorot mata lelaki itu seperti berkilat- kilat kemarahan. "Kalau begitu aku akan mengundurkan diri darimu. Kini aku tahu kau hanya memperdayaku. Setelah aku bertekuk lutut di hadapanmu, mengemis cintamu, kau campakkan aku!" kata Hermanto makin emosi." Siapa yang mengatakan begitu?" sahut Dewi gugup dan gelisah. "Aku tidak mempermainkanmu, Mas Her. Jangan berkata begitu." "Aku tak tahu, kenapa aku sebodoh sekarang. Aku telah tahu bahwa kau tidak patut kucintai karena kaya raya. Tidak sebanding. Tapi aku tak mampu membunuh cintaku, padahal aku tahu itu akan sia-sia." "Tidak, mas Her. Cintamu tak pernah kusia-siakan, bahkan terus makin dalam dan berakar di hatiku," kata Dewi mulai menangis. "Cukup dengan begini dan menyembunyikan kabut misteri?" "Apa yang kau maksudkan?" "Hubungan kita akan tetap terkurung tembok tinggi yang kokoh dan tak mampu dileburkan. Karena kau tak mau berterus terang. Tak mengijinkan aku berkunjung ke rumahmu." Dewi meremas jari tangan Hermanto lalu diciumnya. Sedangkan air matanya dirasakan hangat menitik membasahi kulit tangan Hermanto. "Belum saatnya aku harus berterus terang padamu. Dan kunjunganmu ke rumahku akan menimbulkan kecewa di hatimu. Jangan tanyakan lagi tentang hidupku." "Juga tentang seorang lelaki yang setiap subuh berkursi roda itu?" Dewi tiba-tiba mendekap erat tubuh Hermanto. Menangis terisak-isak seperti tercekam kesedihan.Dan Hermanto membalas dekapan gadis itu sambil membelai rambutnya penuh kasih sayang. Seolah-olah tak akan membiarkan tangis gadis itu berkepanjangan. Dalam tekanan penderitaan. "Jangan" keluh Dewi "Kenapa?" "Kau mencintaiku bukan?" Dewi memandang Hermanto dengan air mata berlinang. Namun di dalam sinar matanya menyimpan kegelisahan. Keresahan. "Selalu saja pertanyaanmu bernada keraguan. Dan cinta kau gunakan untuk menutupi kehidupanmu. Menyelimuti siapa sebenarnya dirimu. Karena kau tahu aku sangat mencintaimu," keluh Hermanto kesal. "Jangan berkata begitu?!" "Kenapa tidak? Itu suatu kenyataan." Dewi makin terisak menangis di dalam dekapan lelaki itu. Jari tangannya meremas-remas kuat kemeja yang dikenakan Hermanto. Rasanya ia sudah tak mampu membendung tekanan jiwa. Ingin berontak, ingin mengutarakan yang terkandung dalam hatinya, namun ia takut kehilangan Hermanto. Sebab lelaki itu telah demikian lekat di hatinya. "Kalau kau memang mau bersungguh-sungguh, kenapa tetap kau rahasiakan?" desak Hermanto. "Aku mempunyai cara yang lain untuk menunjukkan kesungguhan hatiku. Tapi bukan harus dengan menjawab pertanyaanmu itu," kata Dewi sambil terisak. "Lantas apa?" Dewi tengadahkan wajah. Perlahan wajah gadis itu kian mendekat ke wajah Hermanto. Dan bibirnya mengulum basah, mengundang lelaki itu untuk mengecupnya. Sentuhan bibir gadis itu ke mulut Hermanto membuat letupan gairah di dalam dadanya. Dan gesekan 'hidung yang me- nyeruakkan bau harum gadis itu menyebabkan Hermanto lupa akan emosinya. Kini ia memeluk tubuh gadis itu kian erat dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi dengan mesra dan hangat. Dewi merenggangkan ciumannya. "Sekarang bawalah aku ke tempat peristirahatan," gumam Dewi mengajak. Hermanto termangu. "Untuk apa ke tempat peristirahatan?" "Aku akan menunjukkan kesungguhan hatiku. Juga ketulusan cintaku padamu." Dewi melepaskan pelukannya sambil mendorong tubuh Hermanto. Lalu keinginan Dewi segera diturutinya. Apa sebenarnya kemauan gadis ini, pikir Hermanto masih diliputi tanda tanya. la ingin menjajagi guna membongkar misteri dalam kehidupan gadis itu. Maka mobil yang dikemudikan Hermanto berhenti di komplek rumah peristirahatan Ancol. Kemudian Dewi mengajak Hermanto menyewa sebuah rumah peristirahatan. "Apa maksudmu membawaku ke mari?" tanya Hermanto heran. Dewi membalikkan badan sehingga kini mereka berpandangan. Dewi cuma tersenyum menghadapi pertanyaan itu. Senyum gadis itu bagai hangatnya sinar mentari pagi. Mengusik embun yang dingin. Dan gadis itu tak segera menjawab melainkan merengkuh Hermanto ke dalam rangkulannya. Ciuman menyeruak penuh gairah, membuat Hermanto terengah-engah dan ia merenggangkan ciuman itu. "Sekarang.... " Dewi menciumi bibir Hermanto." "Disini....." bisik Dewi lembut di telinga lelaki itu. "Hanya kita berdua," terputus pembicaraan dewi. "Ya, memang hanya kita berdua. Lantas mau apa?" desah Hermanto. Jari tangan Dewi membelai-belai rambut Hermanto. Sambil mendorong dan membawanya ke tempat tidur di sudut ruang kamar. Baru saja Dewi mengajaknya berbaring, lelaki itu bangkit dan berduri. "Untuk ini kau mengajakku kemari?" tanya Hermanto dingin. "Ingin membuktikan bahwa aku bersungguh-sungguh padamu." "Mustikah harus melakukan perbuatan begitu?" Dewi tertunduk sambil mengeluh. "Mas Her, tiga tahun aku hidup dalam belenggu kesepian. Tak seorang pun yang tahu. Hidupku bagaikan di dalam sangkar emas namun tak bebas. Tak kutemukan kebahagiaan sejati sebagaimana yang didambakan setiap wanita yang hidupnya normal," kata Dewi dengan suara parau. "Teruskan," pinta Hermanto. "Cukup. Kau tentu sudah dapat meraba apa yang kuutarakan itu." Hermanto berusaha membujuk gadis itu dengan lemah lembut. la duduk di atas tempat tidur. Di sisi gadis itu sambil merangkul bahunya. "Jadi kau tetap keberatan untuk mengutarakan lebih terbuka padaku?" "Jangan ulangi lagi pertanyaanmu itu." Hermanto menarik napas panjang. la semakin bingung menghadapi sifat Dewi yang dianggapnya kian aneh. Serba tertutup dan misterius. Namun gadis itu memiliki kecantikan, keanggunan dan bentuk tubuhnya yang indah memang pantas untuk dicintai. Dijadikan seorang istri. Tapi biarlah, kalau dia masih tetap bersikeras begitu. Pikir Hermanto mencoba tetap bersabar. Dewi lalu membisikkan sesuatu ke telinga Hermanto. Lelaki itu tersentak. "Jangan. . ." Suaranya terengah. "Kenapa jangan?" tanya Dewi sambil menggesek-gesekkan hidungnya ke pipi Hermanto. "Tidak," kata Hermanto. "Kenapa tidak?" Hermanto berusaha melepaskan lilitan lengan gadis itu, namun ia malah dibanting hingga terbaring di atas tempat tidur. "Kalau kau memang sungguh-sungguh mencintaiku tak semestinya kau tolak," keluh Dewi agak kecewa. "Sebab aku sangat mencintaimu, Dewi. Sebab aku ingin menunjukkan ada bedanya antara cinta dan napsu. Sebab aku pun ingin agar kau bisa membedakan hal itu. Cinta yang tulus dan suci bukan ditunjukkan dengan cara harus melakukan begitu." Dewi tercenung sesaat. Tapi kemudian ia kembali memeluk erat tubuh Hermanto seraya merengek. Merengek seperti anak kecil yang sedang meminta kembang gula. "Tapi jangan kau samakan dengan Siska. Aku jangan kau samakan dengan gadis itu," bibir gadis itu gemetar. "Aku mencintaimu, aku mencintaimu, apapun yang akan terjadi." Dewi membuka kancing-kancing kemeja Hermanto. Sedangkan lelaki itu cuma termangu. "Kenapa diam saja mas Her?" tanya Dewi lembut. Hermanto cuma memandang wajah Dewi dalam-dalam. Wajah yang tertidur di atas bantal berspray putih. Rambutnya yang panjang hitam legam terurai menutupi permukaan bantal. Dan wajah yang cantik bagai menguapkan kegersangan kemarau menanti tetesan hujan. Dan kini pesona di hati Hermanto makin menggebu. la menuruti kemauan gadis itu. Tangannya mulai menjalari bagian-bagian tubuh gadis itu yang peka, sehingga menggeliat, merintih manja. Terus menjalar untuk membukai pula pakaian gadis itu. Udara pantai yang menyusup masuk ke dalam kamar itu bagai mengusap kedua tubuh insan yang tak berbusana. Namun usapan angin itu masih kurang b*******h dan hangat dibandingkan dengan usapan tangan Hermanto. Jari tangan Hermanto mengusap, meremas, memilin serta memijit sehingga rintihan gadis itu tak pernah berhenti. Bagai cacing kepanasan. Dan kuda yang binal. Ombak di laut menghempas di batu-batu. Percikan airnya bagai mau menghancurkan apa saja yang menghalangi. Bahkan mengkikis habis. Sementara itu di dalam kamar yang dihuni Dewi dan Hermanto cuma terdengar tangis yang di- barengi dengus napas memburu. Bunga yang tumbuh di taman telah dihisap madunya. Benteng pertahanan yang senantiasa terjaga, kini telah hancur diterobos lawan. Namun serangan yang menghancurkan dinding pertahanan itu semakin merenggangkan bukit-bukit yang ditumbuhi rerumputan. Bukit yang tak pernah terjamah, masih suci dan teratur rapi, kini dibuat acak-acakan serta tanahnya yang subur menjadi retak. Meskipun hujan turun membuat pohon-pohon meliuk-liuk, bergoyang-goyang, setiap rantingnya akan merintih panjang dalam kelelapan. Kenikmatan. Dan yang semula dari begitu sakit, menjadi berkurang terus bagaikan terbang ke langit dan mimpi kenikmatan yang terus berulang-ulang. Sampai Dewi lupa pada dirinya. Kemarau yang panjang akan terhapuskan oleh hujan dalam satu hari. Dan endapan kesepian dan gairahnya telah lebur saat itu juga. Kini beban penderitaan batin dan tekanan jiwa telah pudar dan kembali bersemi. Seperti bunga yang baru saja mekar. TBC........! (Besok lagi ya sobat...)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD