Bibi Suminah mengetuk pintu. Hermanto yang sejak tadi bimbang dan resah turun dari tempat tidur dan mendekati pintu
"Siapa?" Tegur Hermanto lesu
"Bibi."
Hermanto membuka pintu kamarnya. Di dapati bibi itu gelisah.
"Nak Her, ada tamu."
"Siapa bik?" Tanya Hermanto.
Bibi itu tergagap.
"Siapa? Siapa tamu itu?" ulang Hermanto.
Bibir perempuan setengah tua itu cuma bergerak-gerak tanpa suara.
"Kenapa? Bibi kenapa?" Hermanto makin heran.
"Dia... anu... nyonya Dewi mencari nak Hermanto."
Hermanto bergegas keluar menemui tamunya itu. Di ruang tamu ia melihat Dewi nampak kuyu. Sepasang matanya merah akibat menangis dan pipinya bengkak membiru.
"Mas Hermanto . . ." panggil perempuan itu.
Hermanto terpaku. Pandangannya bagai tersedot tatapan perempuan itu. Tatapan yang memohon perlindungan dan kasih sayang.
"Kenapa kau ke mari?" tanya Hermanto terbata-bata.
"Apakah aku tak boleh ke sini?" suara perempuan itu serak.
Hermanto buru-buru menarik lengan Dewi dan mengajaknya ke halaman samping rumah. Dan di tempat itu sinar lampu remang-remang.
"Apa yang telah terjadi, Dewi?" tanya Hermanto cemas.
"Keadaanku semakin keruh. Aku tak tahan hidup dalam siksaan batin seperti ini. Kalau mas Her benar-benar mencintaiku, bawalah ke mana saja aku pergi. Aku akan pasrah menjalani nasib menderita asal bersamamu," ratap perempuan itu.
"Jangan tergesa-gesa menempuh jalan itu, Dewi. Kau masih berstatus istri Himawan. Kalau aku harus membawamu pergi akan celaka. Sebaiknya selesaikan dulu persoalanmu dengan suamimu."
"Dia tak mau menceraikan aku."
"Berarti kita tak mungkin dapat hidup bersama."
"Maka kita kawin lari saja."
"Tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin? Kalau begitu mas Her tidak sepenuh hati mencintaiku."
"Aku tak pernah memikirkannya akan terjadi begini. Barangkali sampai detik ini aku belum mengerti apakah cinta itu membuatku bersalah? Karena menuntut terlalu banyak, sehingga memaksakan cinta itu sebagai monopoli dalam hidup. Mẹnginginkan perempuan orang lain dan berniat merampasnya tanpa melihat kenyataan."
"Jadi beginikah bukti cintamu padaku, mas Her. Kau takut menghadapi kenyataan?" Dewi mengeluh.
"Tak ada jalan lain yang baik, selain menghadapi kenyataan dengan teguh. Seandainya harus menerima hukuman, sebaiknya kita pikul bersama. Ayo, kita temui Himawan bersama-sama," ajak yang ternyata istri Hermanto.
"Tapi. .."
"Tidak ada tapi-tapian. Daripada kita musti kawin lari resikonya semakin berat. Maka tinggal bagaimana keputusan suamimu nanti. Kalau dia benar-benar mengakui kekurangannya pasti akan menyadari. Kalau dia sangat mencintaimu mungkin akan ikhlas melepaskanmu, asalkan dapat hidup bahagia dengan orang lain."
Dengan diliputi perasaan tak menentu Dewi menuruti ajakan Hermanto. Mereka berjalan menuju ke rumah Himawan. Tak ada pembicaraan di antara mereka, tapi di hati mereka berkecamuk keresahan.
Rumah megah itu nampak hening dan sepi. Dewi bersama Hermanto telah menginjakkan kakinya di lantai teras. Dan Dewi segera menekan tombol bell rumah. Terdengar lapat-lapat suara bell itu berbunyi.
Pintu rumah terbuka dan Sudrajat berdiri di belakang pintu.
"Kau?!" geram Sudrajat memandang Dewi dan Hermanto.
"Selamat malam, Pak," sapa Hermanto ramah.
"Mau apa kau kemari?!" bentak Sudrajat.
"Ayah! Kami mau berbicara dengan Himawan," Dewi menimpali dengan ketus. Lalu Dewi menarik lengan Hermanto masuk ke ruang tengah.
Himawan masih duduk termenung di kursi rodanya. Kepalanya tertunduk sehingga tak mengetahui kehadiran Dewi bersama Hermanto.
"Mas Him," panggil Dewi lunak.
Himawan mengangkat kepalanya dan tersentak manakala melihat Dewi datang bersama lelaki yang tampan. Gagah dan simpati.
Hermanto menganggukkan kepala ramah. Dan Himawan membalas dengan anggukan yang dibarengi senyuman dingin.
"Siapakah dia, Dewi?" tanya Himawan.
"Hermanto. Kami ingin tahu keputusanmu, sahut Dewi tegas.
"Tetap pada prinsipku."
"Jadi mas Him membiarkan kami terus begini? Merestui perbuatan serong yang melanggar ajaran agama dan memalukan ini?" Dewi makin jengkel.
"Kenapa kalau kau tahu itu tetap kau langgar?"
"Sekarang ayah tahu bukan? Siapa sebenarnya yang tak tahu diri. Aku atau mas Him? Mustikah harus kuutarakan sedetail-detailnya kekurangannya? Mustikah harus kuceritakan bagaimana siksaanku pada waktu aku membutuhkan puncak kenikmatan di atas tempat tidur? Dan Mas Him yang hanya bisa menimbulkan rangsangan namun tak mampu mengantarkan diriku ke batas surga dunia? Bagaimana tersiksanya aku, tentunya Ayah dan mas Him sendiri tahu hal itu. Dan itu berlangsung selama tiga tahun. Alangkah lamanya siksaan itu tertimbun dalam kehidupanku," tutur Dewi dalam keluh.
"Cukuuuup!" teriak Himawan lantang sambil memukulkan telapak tangannya di sandaran kursi. Semuanya diam. Ruangan itu menjadi hening.
"Anda sudah kenal lama dengan istri saya?" tanya Himawan.
"Belum," jawab Hermanto
"Baru berapa lama?"
"Hampir dua bulan."
"Masih baru. Anda mencintai Dewi dan berniat terus terang. mempersuntingnya?"
"Saya berani melakukan hal itu kalau Dewi bebas dari hukum perkawinan dengan anda."
"Aku selama ini memberi kebebasan padanya, mencari kepuasan sesuka hatinya di luar rumah. Apakah itu masih belum cukup? Namun permintaan Dewi tak akan kuturuti. Perceraian itu tidak semudah yang dikehendaki," kata Himawan tegas.
Dewi mendekati Himawan yang duduk di kursi roda.
"Mas Him mencintaiku?" tanya Dewi lunak.
"Iyaa."
"Apakah mas Him pernah memikirkan hakekat mencintai seseorang? Bukankah cinta yang tulus itu rela mengorbankan apa saja demi kekasihnya? Demi orang yang dicintainya? Begitupun rela melepaskan orang yang dicintainya asalkan dapat hidup berbahagia dengan orang lain. Dan kalau cinta mas Him memang tulus, tidak egois, pasti akan rela melepaskanku."
Himawan tertunduk diam, ia termenung
"Apakah mas Him akan terus sampai hati menyiksa batinku? Tegakah kau, mas Him?" desak Dewi.
"Aku... aku berat melepaskanmu... Dewi," gumam Himawan dengan berat hati.
"Lantas bagaimana?"
"Aku tak dapat menjawabnya sekarang, kata Himawan dengan napas sesak.
Dewi seperti sudah tak sabar. Tak mampu membendung emosinya. Hal itu segera diketahui oleh Hermanto. Dan lelaki itu merasa iba pada Himawan yang sudah tak mampu berbicara apa-apa. Maka Hermanto segera menarik lengan Dewi.
"Dewi, tak baik memaksa orang lain jika yang dipaksa tidak rela sepenuh hati. Kau sama saja memperkosa haknya, sedang kau tahu dia sangat mencintaimu. Takut kehilangan dirimu," kata Hermanto lunak.
"Wanita manapun tak akan tahan hidup seperti aku, mas Her. Terkecuali wanita itu tidak takut dengan dosa. Menganggap perbuatan serong dengan lelaki lain, berganti-ganti, sudah layak karena suaminya tidak mampu memberikan nafkah batin. Tapi aku takut dosa dan tahu perbuatan itu amat tercela. Maka sebelum kian berlarut, aku harus menentukan sikap. Menuntut perceraian ini."
"Tapi perceraian itu tidak segampang yang sangka. Mungkin mas Himawan lebih dewasa cara berpikirkan untuk mengambil keputusan. Sedangkan kau hanya menuruti emosi. Kepentingan diri sendiri."
Dewi jadi tersentak dan jengkel mendengar ucapan Hermanto.
"Mas Her, kenapa pikiranmu jadi berubah? Kenapa kau justru berpihak kepada mas Himawan?"
"Jangan salah mengerti, Dewi. Aku juga tidak mau dikatakan melanggar pagar ayu. Merampas istri orang. Prinsipku, andaikan mas Himawan melepaskanmu berarti kau sudah bebas dari hukum perkawinan. Dan aku akan mengawinimu."
"Itu tidak mungkin ..." kata Himawan pelan tapi ditekan.
"Kau dengar Dewi?"
"Tidak. Aku musti diceraikannya! Kalau dia tetap bersikeras begitu, aku akan mengajukan tuntutan cerai ke Pengadilan Agama."
"Cukuuuup!" teriak Himawan histeris. Mata lelaki itu memandang Hermanto lunak. Memohon pengertian.
"Silahkan anda meninggalkan rumah ini. Terima kasih atas sifat sportif anda," kata Himawan lunak.
Hermanto mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Ketika melewati Sudrajat sebagaimana biasanya Hermanto menganggukkan kepala sambil tersenyum, meski hal itu tak pernah mendapat balasan dari ayah Dewi itu.
Di luar hawa dingin menembus kulit Hermanto. la berjalan gontai menyusuri trotoar pinggir jalan. Perdebatan yang berlangsung di rumah Dewi cukup membuat kepalanya pening. Bahkan bukan begitu saja, perasaannya amat sedih bila mengingat nasib yang dialami Himawan. Lelaki malang itu harus menelan empedu hidup yang tak terperikan. Andaikan ia mengalami nasib seperti Himawan, pasti penderitaan batin yang dialami akan sama seperti lelaki itu. Terlampau pahit dan menyedihkan.
TBC..........!
(Sekian 2 episodenya sobat.. wahh kurang sedikit lagi bakalan tamat ceritanya sobat.. sepertinya bakalan ganti cerita baru nih..pamit undur dulu sobat)