Ruangan itu cukup luas. Segala perabotan di dalam ruangan itu serba lux dan diatur sedemikian rapi, sehingga nampak serasi. Malam itu Sudrajat sengaja datang ke rumah Himawan untuk mengo- rek keterangan. Tentunya yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan rumah tangganya dengan Dewi.
Di ruang tengah itu Himawan duduk di ku! si roda. Sudrajat duduk di kursi dan Dewi juga ada di situ meladeni Himawan dengarı penuh kasih sayang. Lelaki yang duduk di kursi roda itu baru saja selesai makan malam bersama. Kini mereka duduk santai saling berbincang-bincang.
"Ayah sebenarnya sangat gembira dan bahagia melihat kehidupan kalian berdua yang tentram ini," kata Sudrajat meski sebenarnya hatinya dililit kesedihan.
Himawan tersenyum sambil memandang istrinya. Dan Dewi membalas senyuman itu. Padahal hatinya bagai tersayat sembilu.
"Namun sayang..." gumam Sudrajat agak kecewa.
Dewi menjadi cemas. Kecemasan itu ditimbulkan dari perasaan was-was bila saja ayahnya langsung menceritakan perbuatannya dengan Hermanto sewaktu di Puncak. Maka wajahnya berubah pucat.
"Kenapa ayah?" tanya Himawan.
Sudrajat tak sampai hati mengutarakan. Dia cuma meneguk air ludahnya yang dirasakan pahit. Sedangkan Himawan jadi bingung. Dipandangnya wajah Dewi. la menemukan wajah istrinya itu nampak pucat. Gelisah dan agak salah tingkah.
"Rupanya ada sesuatu persoalan?" kata Himawan heran.
"Ah, tidak..." sahut Sudrajat sambil menghela napas berat.
"Jangan ragu-ragu. Katakan saja, ayah," desak Himawan.
"Kenapa... kalian belum menghadiahkan cucu padaku sampai kini?" Sudrajat tertawa. Tawa yang dipaksakan.
Himawan tertunduk. Lalu dicobanya untuk tersenyum memandang Sudrajat. Beralih memandang istrinya.
"Mungkin Tuhan belum merestui kami mempunyai keturunan," kata Himawan serak.
"Padahal perkawinan kalian sudah berlangsung tiga tahun berselang. Ayah takut ada kelainan dalam tubuh kalian. Cobalah periksakan ke dokter."
"Kami sudah sering periksa ke Dokter, Ayah."
"Apa katanya Dokter?"
Himawan menggelengkan kepala berat. Lalu buru-buru menjalankan kursi rodanya menuju ke kamar. Sudrajat dan Dewi hanya memandang berlalunya lelaki itu dengan perasaan iba.
"Kau tidak kasihan melihat keadaan suamimu, Dewi?! Sekejam itukah perbuatan serong yang kau lakukan dengan lelaki lain?!" kecam ayahnya sengit.
"Ayah juga tidak kasihan melihat nasibku? Tiga tahun aku menanggung siksaan batin. Dibelenggu kesepian dan haus akan kebutuhan nafkah batin sebagaimana layaknya wanita yang normal. Sekarang keadaan sudah terlanjur basah, jika terus dibiarkan tanpa ada penyelesaian akan menambah dosa. Termasuk ayah sendiri ikut menanggung dosa. Membiarkan anaknya melakukan perbuatan serong dengan lelaki yang bukan suaminya.
"Jadi apa kemauanmu?!" bentak Sudrajat jengkel.
"Aku tak tahan hidup terus begini."
"Kau menghendaki perceraian dengan Himawan?"
"Ya. Satu-satunya jalan yang terbaik."
"Kau sudah benar-benar gila!"
"Terserah apapun anggap ayah padaku. Keputusanku tak akan dapat dirubah siapapun."
"Kalau begitu atasilah sendiri. Aku tidak mau ikut campur dalam hal ini. Dan bila sampai terjadi apa-apa pada dirimu, aku tidak mau tahu."
"Ayah hanya takut pada kemiskinan belaka. Takut melihat keadaanku yang bakal diusir atau diceraikan mas Himawan. Tapi apa artinya harta dan kedudukan jika hidupku tersiksa seperti ini."
Sudrajat bangkit dari tempat duduknya dan siap untuk meninggalkan tempat itu. Akan tetapi Himawan yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka keluar dari kamarnya.
"Aku dengar apa yang dikatakan Dewi. Dia memang benar," kata Himawan tenang.
Dewi duduk di kursi dan Sudrajat kembali duduk di tempatnya semula. Sedangkan Himawan menjalankan kursi rodanya ke tengah ruangan. Menatap tajam ke wajah Dewi.
"Perceraian itu tidak gampang, Dewi. Sampai detik akhir hayatku, aku tak akan mau menceraikanmu."
"Jadi mas Him hanya mau menyiksaku? Kau anggap diriku hanya boneka hiasan rumah mewah ini?! Begitu?!" ketus Dewi kesal.
"Bukankah aku telah memberikan kebebasan padamu? Kau boleh mencari kepuasan di luar rumah sesuka hatimu, karena aku menyadari kekuranganku. Kelemahanku. Tapi jika kau berada di rumah ini tetap menjadi istriku yang syah. Menjadi ibu rumah tangga yang kudamba."
"Kau egois!"
"Aku tak pernah bersifat begitu. Bukankah kebebasan serta kerelaanku sudah satu bukti aku tidak egois? Memang, untuk memenuhi tuntutan perceraianmu tak mungkin kulakukan. Aku sangat mencintaimu."
"Sudahlah, Him. Jangan turuti emosi istrimu yang sesat itu!"
"Ayah?!" pekik Dewi jengkel.
"Rupanya tuntutan hakku sebagai seorang istri yang layak tak terpenuhi. Ayah sama halnya akan menjerumuskan diriku yang selamanya disiksa kenyataan. Ayah termasuk orang yang tidak bertanggung jawab dan kejaaam!"
Tamparan Sudrajat yang kencang mendarat di wajah Dewi.
"Perempuan tak tahu diri!" hardik Sudrajat.
Dewi terhuyung-huyung ke belakang sambil mengusap bekas tamparan di pipinya. Dan ia segera berlari meninggalkan tempat itu.
"Dewiii... jangan pergi!" panggil Himawan.
Tapi Dewi tak menghiraukan panggilan itu. la terus berlari sambil menangis.
Sudrajat berusaha menahan geram. Sedangkan Himawan termenung sedih. Di kelopak mata lelaki itu tergenang butiran air.
"Semua ini karena kekuranganku, menyebabkan segalanya jadi penuh nestapa. Membuat Dewi menjadi tersiksa dan menderita," gumam Himawan sedih. Sudrajat ikut bersedih.
"Sungguh, aku merelakan Dewi menikah dengan lelaki manapun, asalkan tidak menuntut perceraian dariku. Tidak meninggalkan aku," kata Himawan parau.
Sudrajat bungkam. la ikut memikul beban penderitaan yang dialami Himawan. Tak disangka bibit kehancuran rumah tangga Himawan sudah tertimbun sejak awal perkawinannya. Dan nampaknya kehancuran itu sudah mendekati puncaknya.
TBC.........!