CP Episode 19

1202 Words
Sore harinya Hermanto bertemu dengan Jarot di kampus. Dan Hermanto diajak Jarot duduk di tempat yang sepi. Di bawah pohon cemara yang bergoyang-goyang ditiup angin. "Mira jatuh sakit," kata Jarot memberi tahu. "Sakit apa?" Jarot mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepala. "Sudah berapa lama dia sakit?" "Kata Ambar sudah seminggu. Kalau kau punya waktu kita tengok ke rumahnya." Hermanto berpikir sejenak. "Nanti saja, kita sehabis pulang kuliah ke rumahnya," ajak Hermanto. "Okey." Hermanto dan Jarot masuk ke ruang kuliah. Selama Hermanto mengikuti mata kuliah pikirannya selalu melayang. Memikirkan Dewi yang bayangan wajahnya tak mau sirna di benaknya. Dan ia jadi sering melamun, sehingga Jarot yang memperhatikan tingkah lakunya cuma mengeluh. Hermanto sudah lupa akan semangat dan cita-citanya. Dia telah terbius oleh manisnya cinta yang dia tak tahu akan menyesatkan. Malam itu juga Hermanto dan Jarot berkunjung ke rumah Mira. Mereka disambut gembira oleh keduaorangtua gadis itu. "Ayo silahkan masuk, nak Hermanto juga nak Jarot," sapa Minarti ramah sekali. Lalu mereka dipersilakan duduk di ruang tamu. Suasana terjalin seperti di dalam keluarga sendiri. "Saya datang ingin menengok Mira, Pak," kata Hermanto. "Ya... ya. Anak itu sudah seminggu berbaring di atas tempat tidur. Badannya panas dingin dan makannya susah sekali. Aku kawatir sakitnya tambah parah," keluh ayah Mira sedih. " Dan dia anak kami satu-satunya," lanjut Minarti. "Kami ingin menjenguknya. Barangkali bisa mengurangi kesedihannya." "Silahkan nak Jarot." Minarti dan ayah Mira mengajak mereka masuk ke kamar Mira. Hermanto melihat Mira berbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya yang kurus diselimuti kain tebal. "Mira, lihatlah siapa yang datang," kata ibunya. Mira menoleh. Gadis itu termangu dengan pancaran mata yang berbinar-binar kegembiraan. "Mas Hermanto. . ." gumam Mira lirih. Hermanto menghampiri Mira. Sedangkan kedua orang tua gadis itu segera meninggalkan kamar itu. Hermanto meremas jari-jari tangan Mira. "Mira...Kau sakit apa?" Suara Hermanto serak dan sedih. Mira mencoba untuk tersenyum walau hatinya pedih. Dia menggelengkan kepala. Dan sepasang matanya yang jeli itu mulai digenangi air bening. Bibirnya gemetar. Jarot segera meninggalkan kamar itu. la tidak mau mengganggu pembicaraan mereka berdua. Dan ia berbincang-bincang dengan orang tua Mira di ruang tamu. Hermanto membelai rambut gadis itu penuh kasih sayang. Menyebabkan air mata gadis itu tak dapat dibendung lagi. Jatuh berderai membasahi pipinya. "Kenapa kau menangis?" "aku... aku merasa turut bahagia bila mas Her dapat hidup bahagia dengan Dewi dan saling mencintai. "Jadi sakitmu karena aku?" Mira menggelengkan kepala. Lalu jari-jari tangannya mengelus-elus rambut Hermanto penuh kasih sayang. "Lantas apa?" Mira tetap tak mau menerangkan. Menggelengkan kepala lagi. Hermanto menarik napas berat. "Aku sudah sangat gembira mas Her menjengukku. Bagaimana kemajuanmu di kantor? Pasti kau mendapat tempat yang istimewa dan paling dikasihi Direktrismu. lya kan?" Hermanto tersentak. "Dari mana kau tahu?" "Karena aku tahu Dewi adalah Direktris kantormu. "Kau tahu banyak tentang dia?" Mira mengangguk. "Ayah sudah kenal keluarga Himawan." Hermanto menelan air Iludahnya yang dirasakan pahit. la menduga bahwa Mira tahu benar siapa sebenarnya Dewi. Wanita itu bukan gadis yang masih sendiri melainkan istri orang. Suatu pilihan yang tidak tepat. Maka Hermanto merasa malu pada dirinya sendiri. "Semoga impian bahagia tidak ada penghalangnya," kata Mira setulus hati. "Sudahlah. Jangan bicara yang bukan-bukan, yang penting kau bisa lekas sembuh. Sudah minum obat?" Mira menggelengkan kepala. "Sekarang minum ya?" Hermanto menawari. Mira mengangguk senang. Lalu Hermanto meladeni Mira dengan penuh kasih sayang. "Sungguh bahagia wanita yang dapat hidup bersama mas Her," gumam Mira. "Bicaramu itu lagi. Nanti sakitmu bisa tambah parah." "Sakitku akan segera sembuh karena yang melayani minum obat adalah kamu." Hermanto tertawa kecil. "Nah... sekarang beristirahatlah. Tidur yang nyenyak." "Mas Her mau pulang?" "Iya. Besok aku datang lagi." "Sungguh?" Hermanto mengangguk lalu mencium tangan Mira. "Mas Her..." panggil Mira lembut. "Hmmm..." Hermanto memandang mata gadis itu. Ada binar-binar hangat yang menerobos ke relung hatinya. Sepasang mata yang indah itu nampak ada kesetiaan yang dalam. Dan gadis itu memeluknya erat. "Hampir setiap malam aku bermimpi buruk tentang dirimu, mas Her." "Sebuah impian tak perlu dipercaya. Hal itu akan menambah sakitmu lama sembuhnya. Aku pulang dulu, Mira." "Iyaa..." sahutan Mira terdengar berat. Hermanto melangkah pergi. Gadis itu sempat memandang punggung lelaki itu dengan perasaan pedih. Baru saja Hermanto dan Jarot memasuki rumah, telah disambut oleh Sudrajat. Rupanya lelaki setengah baya itu sudah sejak tadi menunggunya. "Selamat malam," sapa Sudrajat. "Malam, Pak." "Saudara harus ikut kami." "Ada masalah apa, Pak?" "Pokoknya saudara harus mempertanggung jawabkan perbuatan tercela itu!" "Tenang, Pak. Jelaskan dulu apa persoalannya, setelah kami tahu, tidak ada rasa keberatan buat kami untuk menuruti." Kata Jarot menimpali. "Dewi nekad hendak kabur dari rumah!" "Baik kalau begitu kami akan segera datang." Sudrajat, Hermanto dan Jarot segera pergi ke rumah Dewi. Mereka berjalan tergesa-gesa untuk segera tiba di sana. Bagi Sudrajat mengawatirkan bila sampai Dewi nekad kabur atau bunuh diri. Benar saja, keributan tengah berlangsung di rumah itu. Hermanto langsung masuk ke dalam rumah itu karena mendengar suara teriakan Himawan. Dan ia berpapasan dengan Dewi di ruang tamu. "Dewi... kau mau ke mana?!" tegur Hermanto. "Tak ada jalan lain bagiku. Aku akan pergi dari rumah ini. Aku sudah tak tahan hidup seperti ini!" "Tunggu Dewi." "Sabar Dewi. Tak baik menuruti emosi," nasehat Sudrajat lunak. Dewi tetap nekad untuk pergi. Tapi Hermanto menyambar lengan Dewi dan menariknya masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah Himawan termenung dilanda gejolak kemarahan dan kesedihan. "Kepergianmu bukanlah penyelesaian yang terbaik. Sedangkan dengan cara kekerasan belum tentu menemui penyelesaian. Tapi mungkin dengan cara musyawarah atau saling menyadari kekurangan masing-masing akan lebih baik," kata Hermanto tegas. "Aku sudah melakukan cara apapun, namun mas Him tak mau mengerti perasaanku. Dia tetap bersikeras." "Benarkah begitu, mas Him?" tanya Hermanto. "Iya. Tak seorang pun yang bisa merubah keputusanku. Dewi tetap sebagai istriku, sekalipun dia seburuk apapun melakukan perbuatan di luar rumah." "Kau dengar apa katanya, mas Her?! Dan kau Ayah?! Keputusannya sama halnya membelenggu hidupku. Apakah aku harus menurutinya?" Semua yang ada di ruangan itu diam. Hening. "Aku akan menjadi penengah persoalan ini, biarkan saja Dewi pergi menuruti kehendak hatinya. Namun jangan coba-coba Dewi. Dan kalau sampai kepergiannya, saudara Hermanto mendampingi akan kena akibatnya. Urusan ini akan kuserahkan kepada yang berwajib. Sama hałnya dia membawa lari istri orang!" "Jangan bebankan persoalan ini kepada Hermanto. Aku tahu bukan dia yang bersalah. Ini semua karena kemauan Dewi sendiri," kata Himawan. "Tapi bagaimanapun juga dia adalah penyebabnya, sehingga rumah tanggamu mengalami goncangan." "Cukup ayah. Tak ada gunanya bersikeras. Besok aku akan mengajukan tuntutan perceraian ke Pengadilan Agama. Aku sudah tak tahan hidup seperti ini. Tiga tahun waktu yang tidak sedikit menanggung siksaan batin. Dua tahun aku memeras otak demi kemajuan perusahaan, namun tak kutemukan kebahagiaan. Seperti robot yang terpedaya oleh kemewahan. Sementara batinku tersiksa." "Sekarang terserah apa maumu. Lakukanlah apa yang kau pandang baik untuk dirimu sendiri." Himawan terus berusaha mengendalikan emosinya. "Saudara Hermanto, silahkan anda pulang," perintah Himawan. "Baik. Selamat malam." Hermanto dan Jarot melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Himawan menjalankan kursi rodanya mendekati Dewi. "Dewi, kita tak perlu bertengkar terus menerus. Kalau toh kita harus berpisah, berpisahlah dengan kesan yang baik. Mari kita ke kamar. Kita berbicara yang baik," ajak Himawan lunak. Dewi masih berdiri kaku. Enggan bertatap pandangan dengan suaminya. "Dewi, ikutilah kemauan suamimu. Mungkin kalian akan bisa menemukan jalan yang terbaik," tutur ayahnya. Dewi baru sadar dan menghilangkan gejolak emosinya. la segera mendorong kursi roda itu ke dalam kamar. Sudrajat menghela napas lega. TBC..........! (Wah tinggal 1 episode lagi akan tamat nih sobat..)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD