CP Episode Terakhir 20

924 Words
Keesokan harinya Hermanto bangun tidur agak bermalas-malasan. Dan ia berniat hari ini tidak mau masuk kantor. Ingin menenangkan pikirannya yang sedang kalut. Maka ia masih berbaring di atas tempat tidur sambil merenungkan nasibnya. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Lamunan Hermanto buyar. "Siapa?" tegur Hermanto serak. "Saudara Hermanto silakan keluar!" suara sahutan itu begitu tandas dan tegas. Mendengar suara yang rasanya asing di telinganya, spontan saja Hermanto beranjak turun dari tempat tidur. Langsung membuka pintu kamarnya. Ternyata Hermanto menemukan dua orang polisi berdiri di depan pintu. Hermanto terkejut. Dan dua orang polisi itu langsung menangkapnya. "Saudara harus ikut kami," perintah polisi itu. "Apa salah saya, Pak?" "Saudara akan tahu setelah tiba di kantor polisi. Cepat!" "Ba... baik, Pak." Hermanto digiring keluar dari rumah oleh empat orang polisi. Sementara itu Jarot dan teman-temannya cuma termangu sedih. Dan Hermanto dibawa dengan mobil ke kantor polisi. Di pintu masuk kantor Hermanto melihat Sudrajat sudah duduk di ruang tunggu. Maka Hermanto sudah dapat menebak bahwa ia ditangkap karena laporan ayah Dewi. Walau Hermanto terus digiring untuk menghadap Komandan, ia masih sempat melihat kedua mata Sudrajat merah membengkak. Dan ia tahu lelaki setengah baya itu habis menangis. Hermanto duduk di depan Komandan. Perkaranya akan diproses. "Benarkah anda bermain serong dengan istri Himawan?" tanya Komandan itu sinis. Mencemooh. "Benar, Pak." "Sudah lama menjalin hubungan gelap itu?" "Sejak saya menjadi karyawannya." "Anda tahu bahwa Dewi Ratnasari sudah bersuami?" "Waktu kami menjalin hubungan belum tahu, Pak." "Bohong! Mana mungkin kau tidak tahu, sedangkan Dewi adalah Direktrismu. Dan paling tidak karyawan lainnya sudah memberi tahu." "Saya harus bersumpah dengan cara apa Pak, agar Bapak percaya keterangan saya. Saya berkata sebenarnya." Komandan itu tertawa kecil. Nadanya tidak mempercayai keterangan Hermanto. "Pernah melakukan perbuatan sebagai suami istri dengan Dewi?" Hermanto mengangguk. "Justru dia menyerahkan keperawanannya pada saya. Dan saya menduga bahwa Dewi memang belum punya suami terbukti dia masih suci." Komandan itu tertawa. Bagai mentertawakan Hermanto yang dianggap kena penyakit syaraf. Sinting. "Bagaimana mungkin keteranganmu itu dapat dipercaya. Dewi kan sudah tiga tahun menikah dengan Himawan." "Saya tidak bohong, Pak!" kata Hermanto keras. "Kau berani berkata keras di depanku!" bentak Komandan itu sambil menggebrak meja. "Saya memberikan keterangan benar! Tidak bohong!" Hermanto tetap bersikeras, ia tidak mau dianggap anak kecil yang gampang dipermainkan. Sebab ia merasa keterangannya benar. Komandan itu menatap tajam Hermanto. Lalu mengambil secarik kertas yang telah ditulis memakai pulpen. "Bacalah surat ini!" kata Komandan itu sambil menyodorkan secarik kertas itu kepada Hermanto. Hermanto membacanya. Aku tak ingin berpisah dengan Dewi Ratnasari. Lebih baik kami mati bersama. Sesuai dengan tekadku, cintaku padanya, tak seorang pun dapat memisahkan kami. Mungkin dengan jalan inilah segala penderitaan batin kami dapat berakhir. Himawan. Dengan tangan gemetar Hermanto meletakkan surat itu di atas meja. Kedua matanya berlinangan air bening. Ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. "Himawan telah meracuni istrinya, kemudian ia ikut meminum racun itu. Akhirnya mereka mati bersama-sama," kata Komandan itu. Hermanto termenung sedih. "Karena anda terlibat masalah ini, maka harus mempertanggungkan hukum yang setimpal." "Saya akan pasrah dan rela menjalaninya, sahut Hermanto penuh penyesalan. Tapi juga sportif. Tak lama kemudian Hermanto digiring oleh petugas lainnya untuk dibawa ke penjara selama menunggu proses pengadilan. Udara di dalam penjara itu begitu lembab. Baunya kurang sedap menusuk hidung. Dan semalam Hermanto tak dapat memejamkan matanya karena nyamuknya begitu banyak. la jadi sedih bila mengingat nasib yang kini dialaminya. Akibat cinta dan salah pilihan akhirnya ia harus menjadi penghuni sel yang terkutuk ini. Matahari menembakkan sinarnya melalui jeruji besi. Bayangan jeruji nampak miring di luntai. Udara agak segar berhembus masuk dari luar. Mata Hermanto yang sejak tadi memandang ke langit-langit penjara tiba-tiba berpindah ke lorong. Di sana dia melihat Jarot dan Mira sedang berjalan mendekat. Gadis itu berjalan dibimbing oleh Jarot. Tubuhnya kurus dan sukar untuk melangkahkan kakinya. Maka Hermanto berdiri dan melambai-lambaikan tangannya. "Jaroot! Miraaa!" teriak Hermanto sekeras-kerasnya. Jarot dan Mira bagai tak sabar ingin segera mendekati Hermanto yang terkurung di dalam sel. Dan bagai ada kekuatan di dalam diri Mira gadis itu berlari. "Mas Hermanto!" pekik gadis itu dengan air mata berlinang. Lalu kedua dan Mira saling berpegangan erat. Keduanya saling berpandangan mesra namun sedih. "Mira. . ." panggil Hermanto serak dan parau. Kedua remaja itu saling berpelukan. Sama-sama menangis. "Mimpiku ternyata menjadi kenyataan, mas Her," kata gadis itu di sela-sela isak tangisnya. "Aku telah tersesat dan menjadi insan yang tercela, Mira. Setelah ini aku pasti akan terasing di kalangan masyarakat. Hina di mata mereka," kata Hermanto penuh penyesalan. Mira menciumi tangan Hermanto. Air matanya yang berlinangan membasahi tangan lelaki itu. "Tapi aku tetap seperti dulu, mas Her. Aku tak akan pernah berubah. Seperti juga cintaku padamu." "Mira. . . aku tak pantas menerima cintamu." "Jangan berkata begitu, mas Her. Aku akan menantimu sampai keluar dari penjara. Entah sampai kapanpun. Percayalah." "Mira . . .ternyata kau gadis yang berhati mulia. Kenapa aku sejak dulu tak dapat melihat hatimu yang sebening embun. Kenapa aku lebih mendambakan cinta yang musti kutebus dengan duka lara," suara Hermanto parau. Di kelopak matanya menitik air bening. "Sudahlah, mas. Tak perlu disesalkan apapun yang telah terjadi, kini kau telah dapat penyesalan dalam cintamu." "Dan lekaslah kau sembuh, Mira. Karena obat yang berupa cintaku telah kau peroleh." "Aku akan segera sembuh, mas," Hermanto memeluk tubuh gadis itu erat-erat, Mira pun sangat pasrah. Dan pada suatu kesempatan yang tak di lihat orang, mereka saling berciuman, saling melumat bibir dengan mesra dan hangat, detik itu kebahagiaan yang baru terasa tercipta lagi. *** TAMAT (Sekian Kisah Hermanto Mencari Cinta Pertamanya, bila ada kesamaan nama dan kesalahan tutur kata atau makna yang kurang tepat saya mohon maaf sebesar-besarnya saya Pupunk pamit undur diri) Wassalamu'alaikum wr.wb.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD