Pergi ke Kairo

1094 Words
Sorotan mat aitu terlihat begitu jelas. Aku merasakan tatapan yang begitu sempurna dari Yek Ali itu. tatapan yang sangat berarti untuk diriku dan segala hal yang kualami. Aku ingin segera memeluknya, aku ingin segera untuk bertukar cerita kepadanya, dan aku ingin juga untuk berada di dekatnya, di dalam masa-masa yang begitu sedih ini, dalam masa-masa yang sangat berat ini. Beberapa kilasan masa lalu pun lekat dalam ingatanku. Saat-saat dimana aku masih bersama dengan dirinya di dalam pondok yang sama. Flashback on “Kubawakan tajin untukmu Feh. Ini hadiah ulang tahunmu,” ujarnya dengan suaranya yang tampak riang. Tajin adalah sebuah minuman sisa dari beras yang ditanak, dan air yang masih menggenang di antara nasi yang baru diliwet itu. itulah yang dinamakan tajin. Aku menggurutu sebal. Lebih-lebih saat menyadari jika apa yang ada di ekspetasiku tidak seperti yang ada. kukira aku akan dibelikan sebuah jam tangan yang menjadi incaranku sejak dua bulan yang lalu. Dan baru kemarin juga dirinya bertanya soal itu. mengapa yang datang kepadaku saat ini adalah semangkuk tajin lengkap dengan asapnya yang masih mengepul. “Yek. Kemarin kan Syafa maunya jam tangan. Kenapa yang datang malah tajin sih. Yek Ali kok ndak pernah peka dengan apa yang Syafa inginkan.” Ujarku dengan menggerutu sebal. “Lho. Orang ulang tahun itu apa yang disukainya. Siapa yang bilang kalau suka tajin. Syafa kan. Lha maka dari itu. kamu juga seharusnya bersyukur dengan apa yang sudah Yek Ali kasihkan ke kamu. Ini bentuk rasa kasih sayang yang sangat besar dari Yek Ali untuk kamu. Selebihnya ya, bentuk rasa syukur Yek Ali kepada Gusti Allah karena telah diberikan keponakan seperti kamu. Ya memang sih tidak terlalu bermanfaat. Tapi kalau nanti bisa berjodoh dengan Gus Anwar kan ya siapa tahu lebih baik.” Dia selalu banyak bicara saat bersama seperti ini. ohh, aku bahkan tidak menyangka jika dirinya adalah lelaki yang sama seperti saat dirinya berdiri di atas mimbar dan membuat para akhwat berteriak histeris. Entah karena suaranya yang begitu merdu atau malah yang sebaliknya. Aku bahkan sampai ikut pusing dimintai ini dan itu. sebagai pengantar surat dari Mbak-Mbak pondok. Ohh rasa-rasanya aku ingin pingsan saja kalau seperti ini. “Kalau cinta dan rasa sayang. Ndak perlu dibuktikan dengan harta yang bermegah-megahan. Cukup beri apa yang dirinya suka. Apa yang dirinya inginkan. Siapa tahu kan, kalau Yek belikan kamu jam tangan seperyti yang kamu inginkan, nanti malah dighosob sama temen-temanmu yang lain. nah Yek Ali bisa berpikiran jauh. Sedangkan kamu, pasti kamu kepingin telihat gaya dihadapan temanmu yang lain kan. Hayo ngaku. Yek Ali tahu semua kebusukan hatimu,” ujarnya dengan suaranya ayng mengejek. Aku hampir memukul salah satu bahunya. Namun, belum saja mengenai bahunya, tanganku segera ditepis oleh lelaki itu. dirinya tersenyum mengejek selanjutnya. “Kalau kamu mau yang Yek romantic. Kamu salah Feh. Bukan tipe yang seperti itu Yek. Kalau kamu bener-bener ndak mau tajin buatan Yek ya ndak masalah. Yek bisa menghabiskan tajin ini sendiri. Kan lumayan buat anget-anget. Musim dingin seperti ini kan sangat cocok, iya ndak? Beneran ndak mau nih?” Aku melirik ke arahnya yang seperti akan menghabiskan tajin itu dari mangkuk kecil. aku yang berusaha untuk mengalihkan pandanganku dari semua tipu daya seorang Yek Ali. “Yek, jangan dimakan sendiri dong. Syafa juga mau,” kataku dengan suara yang tidak tahu malu. “Dasar wanita, kebanyakan seperti itu ya, pertama-tama pasti menolak, setelahnya pasti berkata yang lain. selalu saja seperti itu. dan Yek Ali selalu menjadi korbannya,” katanya dengan memberenggut. Meski pada akhirnya tajin yang tidka seberapa enaknya itu diberikan kepadaku. Kami menikmati keindahan ponpes dari rooftop atasnya. Dan ini adalah kali pertama aku menaiki sebuah bangunan yang sangat tinggi itu. itupun atas perintah Yek Ali yang kurang ajar. Aku tahu jika dirinya menjadi primadona di pondok Gresik ini, namun jika berulah aneh seperti naik ke rooftop lantai tiga pondok sudah tidak menjadi hal yang lumarh. Terutama bagiku yang merupakan santri putri. Dengan latar belaknag waktu malam hari juga. pasti ini sesuatu hal yang sangat romantic. Namun di sisi lain, pastilah ada rasa ketakutan. Aku menikmati sesuap demi sesuap tajin yang berada di tanganku saat ini. aku sangat menikmatinya sehingga diriku bisa merasakan kasih sayang dari Yek Ali yang begitu besar. ohh, aku jadi teringat Umi dan Abi yang ada di rumah saat ini. rindu masakan dan tajin khas mereka yang tiada duanya. Meski kuakui tajin yang saat ini aku makan ada rasa enaknya, namun aku tidak ingin membuat Yek Ali besar kepala dengan pujian yang aku berikan kepadanya. Sungguh, memujinya akan membesarkan kepalanya saja. “Kalau nanti Yek sudah besar, dan—” “Husttt. Yek itu sudah besar. kok minta besar lagi. Yang besar itu seharusnya Syafa. Kala sekarang Syafa umurnya baru empat belas tahun, nanti besar kan umur Sembilan belas tahunlah, atau dua puluh dua tahun lah, itu Namanya sudah besar. waktunya sudah bisa buat menikah,” kataku dengan sangat lugu. “Ohh, iya, nanti kalau kamu sudah waktunya menikah itu sudah besar namanya? Ndak lah Syafa. Coba buat berpikir lebih luas lagi. Besar itu bukan soal usia. Besar itu soal kelapangan hati, kelapangan d**a untuk menerima semuanya. Kalau kamu sekarang berpikiran jika besar adala hanya soal usia, maka kamu salah. Besar itu soal tanggung jawab, soal kedalaman berpikir, soal kejernihan hati. Oke, kalau kamu saat ini berpikir seperti itu. Selebihnya, kalau nanti Yek Ali besar dan kamu masih kecil ndak apa-apa asal bisa bertanggung jawab atas hatimu, atas pikiranmu, atas segala sesuatu yang bisa untuk kamu sikapi dengan bijaksana. Ingatlah tajin ini. betapa kamu akan hanya diingat dan diperhatikan oleh segelintir orang-orang yang menyayangimu. Hanya segelintir orang. Tidak banyak orang, tidak orang di dekatmu. Hanya segelintir orang itu. Dan yang kamu butuhkan bukan soal harta lagi. Melainkan kasih sayang, perhatian, dan segala hal yang hanya kamu inginkan saat ini. Hari ini adalah hari Yek terakhir di pondok. Jaga diri kamu baik-baik di pondok ini. masih kelas tiga tsanawiyah jangan suka sama lawan jenis kamu. Tak getok kepalamu. Ooiya, Yek ndak bisa pastikan kapan pulang lagi. Dapat beasiswanya tiga tahun. Tapi kalau bisa lanjut dua tahun lagi ya Alhamdulillah, artinya ya memang sejauh itu Yek Ali akan tinggalkan kamu di pondok ini. berjuang dengan diri kamu sendiri. Kalau kamu butuh pembalut ya bilang ke Mbak-mbak petugas keamanan. Jangan diam terus. Wajah-wajah polos seperti kamu ini memang pantas dibully. Tapi ya, jangan selalu lah. Kasihan aku sama dirimu ini. sudah pendek, kucel, pokok semuanya yang jelek ada di wajahmu lah.” “Lah terus semua yang ganteng ada di wajah Yek gitu?” “Ya seperti itu lah faktanya.” Ujarnya dengan tampang yang seolah tak berdosa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD