Sorot mata itu menjadi salah satu hal yang sangat menarik untukku. Yek Ali dengan blangkon yang ada di kepalanya itu. ohh sungguh, laki-laki itu bahkan terlihat sangat sederhana, dengan pakaian batik dan sarungnya.
Dia lelaki yang lain. Paklik ku yang memiliki berbagai macam prestasi. Tak bisa terelakkan jika dirinya memiliki kecerdasan itu. kecerdasan emosional, kecerdasan dalam berpikir, kecekatan, keuletan, semuanya itu menjadi dasar dari sifatnya.
Satu hal yang membuat diriku tidak bisa untuk tidak menangis setelah tiga tahun tiada pulang dari Mesir, dan saat ini harus pulang karena permasalahan diriku. Sungguh, ini adalah sesuatu pengorbanan yang besar.
Wajahnya yang indah itu, langsung memberikan perhatiannya kepadaku. Di bandara, aku melihatnya berlari dari kejauhan. Meninggalkan koper besar yang ada di belakang bersama Gus Azizi. Dia berlari menuju diriku.
Dia Paklik yang mengetahui betul tentang sosokku. Sosok kecil yang sejak dulu ditempa olehnya. Dijauhkan dari kedua orang tua untuk mengaji dan belajar kehidupan dengannya.
Pelukan hangat itu semakin menjadi jadi ketika sebuah tangan mengusik ujung kepalaku. Menangkup kedua pipiku. Jemari yang kokoh tu mengusap kedua pelupuk mataku.
“Iso sedih bereng bocah cilik iki,” ujarnya dengan nada yang penuh dengan ejekan.
(Bisa sedih juga anak kecil ini)
Aku tak menjawab. Aku hanya mengerucutkan bibirku di balik niqab yang menutupi sebagian wajahku ini. seolah seperti biasnaya, Yek Ali selalu mengetahui jika aku melakukan itu. bibirku ditarik olehnya.
“Mecucu ora dadi awakmu ayu. Wes, rak sah sedih. Mau kemana? Ke Yogya dulu, atau langsung ke Mesir?” tanyanya kemudian.
“Yek … “ ujarku.
“Oke, kita ke Yogya dulu. Baru ke rumah Abah Umimu, baru kita ke Mesir. Baru sampai kok langsung berangkat lagi ke sana, kan nggak lucu kalau begitu, hehehe,” katanya.
Aku menjawab hanya dengan anggukan kecil.
“Saya diajak atau ndak Mas?” tanya Gus Azizi yang baru sampai di tengah-tengah kami.
“Ayo! Tapi kamu yang bagian nyetir yo. Jalan-jalan dulu, healing dulu kan.”
Dua laki-laki yang sedang berjalan dengan ringan itu begitu sangat memperhatikanku. Seharusnya aku sangat bersyukur atas hal ini. Allah memberikan laki-laki terbaiknya berupa saudara laki-laki dan keluarga yang begitu menyayangiku dengan baik. Tanganku dikamit oleh Yek Ali, seolah-olah aku adalah kekasih hatinya.
“Yek,” panggilku seolah keberatan dengan apa yang dilakukannya.
“Awakmu isin, tak gandeng koyo ngene. Huh, mentang-mentang, pernah dikhitbah sama yang keturunan Arab, terus orang Njowo koyo aku gini, yang kulitnya item gini, rak gelem? Seleramu Shell!”
(Kamu malu aku gandeng seperti ini. huh, mentang-mentang pernah dikhitbah sama keturunan Arab, terus orang Jawa seperti aku ini, yang kulitnya hitam seperti ini, nggak mau)
Salah satu tangan lak-laki itu menjenggur kepalaku. Dasar. Paklik ku ini selalu saja membuat hatiku kesal.
“Bukan begitu Yek, bukan begitu,” sergahku.
“Lha terus? Mau ngomong apa? bilang. Aku ngerti, opo sing mbuk karepno nek atimu. Aku ngerti kabeh. Hahaha, lali dekne mergo telung tahun gak ketemu.”
“Sudah, sudah. Jangan diperpanjang Yek. Berdoa dulu, biar nanti selamat sampai tujuan.”
Seseorang harus menjadi penengah di antara dua orang yang berseteru. Gus Azizi yang menjadi penengah di antara kami yang selalu tidak bisa akur. Kami selalu bertengkar jika sama-sama di rumah seperti ini.
Ohh iya, usia antara diriku dengan paklik ku tidak terlampau jauh. Sekitar sepuluh tahun. Beliau sama seperti kakak lelakiku sendiri yang bisa mengerti tentang dunia saat ini. Dia anak terakhir. Yang lebih nakal dari saudara Ibu yang lain. Namun dirinya memiliki cita-cita yang sejak dari dulu tidak masuk akal.
Termasuk cita-cita untuk jualan kopi di Mesir, jualan peralatan tulis di Tarim, atau keinginannya untuk jualan blangkon di Arab.
Namun, dirinyalah yang membuat semua hal yang bernama impian itu menjadi nyata. Menjadi sesuatu hal yang begitu membanggakan.
“Bagaimana Yek, dengan pekerjaan di Mesir. Lancar?” tanyaku kemudian di tengah perjalanan kami menuju Jogja.
Kulihat, ketika tidak ada respon jawaban dari laki-laki itu, ternyata Yek Ali tengah tertidur pulas. Mulutnya mangap ke atas. Aku takt ahu, bagaimana dirinya bisa untuk tertidur secepat ini. padahal suara sholawat menggema keras di dalam mobil ini. baru, sekitar lima menit dari bandara.
Julukan santri kebo, layak untuknya memang. Melihata bagaimana diirnya bisa dengan cepat tertidur seperti ini.
Tidak mendapatkan respon karena telah ditinggal tidur. Pandanganku beranjak ke samping. Melihat pemandangan yang ada di tepi jalan. Dunia santri dengan penuh kekangan yang ada di dalam penjara suci itu, kerap membuat seseorang pulang karena sesuatu hal yang bernama ketidak bisaan untuk beradaptasi.
Manusia dan semua makhluk memiliki ekosistem yang berbeda-beda. Kuncinya memang terhadap adaptasi, namun ketika dirasa telah tidak mampu untuk berada di dalamnya lebih lama. Keluar dan mencari ekosistem baru adalah pilihan terbijak sepanjang yang bisa untuk dipilih, menurutku. Dan aku tidak akan menyesali kepergianku dari pondok itu. kecuali penyesalan tidak bisa menuntut ilmu dari sesorang yang suci, sesuci Abah Kyai dan Umi.
Liburan. Tidak pernah terpikirkan untukku. Jika aku pulang dari pesantren, pastilah yang aku lakukan adalah duduk diam di rumah. Menjahit dan membuat pakaian. Tiada hal lain. Liburan adalah salah satu hal yang jarang dalam hidupku.
Maka, tatkala aku melihat pemandangan pantai yang begitu memanjakan mata. Suara deburan ombak dengan harum semerbak wangi air laut, entah mengapa, ada kedamaian tersendiri di hatiku. seolah ini adalah sesuatu hal yang begitu membahagiakan, yang tidak bisa untuk diriku elak bagaimana nyamannya. Bagaimana bahagianya.
“Yek, bangun Yek. Sudah sampai. Yek, bangun!” cerewetku ketika mobil yang dikendarai oleh Gus Azizi itu sampai di parkiran.
Laki-laki yang ada di sampingku, ketika tertidur tadi terlihat jika dirinya sangat Lelah. Namun jika sudah sadar seperti ini. pasti akan selalu ada keusilan yang diperbuat olehnya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. aku tidak bisa memprediksi.
“Ohh, sudah sampek yo,” ujarnya dengan menguap. Kedua tangannya direntangkan.
Ketika tanganku akan mengambil knop pintu mobil.
“Lhadalah … kok ndek pantai langsung ini gimana. Lha terus barang-barangku. Cari hotel dulu kek, atau apa gitu. Ini kok, Ya Allah. astagfirullah … “
Raut wajah keterkejutan dari Gus Azizi kulihat dari spion mobil. Sedang aku tak bisa untuk menahan tawa.
“Lha, Yek Ali ndak bilang kok. Yo wes, putar balik wes,” ujar Gus Azizi.
“Wes yo wes, rak usah. Ndek pantai sama sarungan kayak gini, wes yo weslah. Isin kur sakdelo.”
Aku tak bisa untuk tidak menahan tawa. Sungguh, ini adalah sesuatu hal yang konyol yang diciptakan oleh seseorang yang sangat sederhana di sekitarku. Ohh Gusti, mengapa aku bisa untuk mengelak rasa sayang Mu kepadaku. Lewat orang-ornag yang begitu menyayangiku, aku bisa untuk menumbuhkan perasaan sayangku kepada mereka. Kepadamu, terhadapmu. Tuhan Sang Pemilik Kasih Cinta dan Perasaan.