Dia Meninggalkan Kita

1046 Words
Di dalam perjalanan, semua seolah membisu. Tiada suara apa pun yang dikeluarkan oleh dua laki-laki yang saat ini dengan tatapan penuh fokus mengendarai kendaraannya ini. Di Ngawi, sempat Yek Ali dan Gus Azizi bertukar tempat. Bergantian untuk mengendarainya. Tentu saja, hal ini adalah untuk mereka bisa bergantian dalam keadaan terjaga Fokus dalam mengendarai mobil kami. Aku di belakang, hanya pura-pura tertidur. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hatiku ada sebuah rasa yang tidak enak. Ada kekhawatiran. IYa, Abi tak pernah untuk mengatakan suatu hal yang begitu singkat. Kecuali memang ada sesuatu hal yang sangat perlu. Ada apa sebenarnya. Ada apa yangs ebenaranya terjadi di rumah sana. Kendaraan melaju dengan kencang, ketika Yek Ali yang mengemudikan. Untungnya jalan raya sepi. Meski yang aku khawatirkan juga adalah, dirinya pasti tidak terbiasa untuk mengendarai kendaraan yang kontur jalannya dan akses jalannya yang sangat berbeda ari negara asalnya. Tidak lebih dari dua jam, kami sampai di depan rumah. Keadaan ramai. Kutengok jam yang ada di pergelangan tanganku. Di sana menunjukkan angka pukul tiga pagi. Mengapa bisa seramai ini. Keadaan riuh. Bersamaan dengan banyak orang yang datang di dua rumah yang tampak berjejer anggun itu. Rumahku dan rumah Bulik. “Ada apa Gus?” tanyaku kepada Gus Azizi saat kami telah terlebih dahulu keluar dari mobil. “Kamu yang tenang ya. Ndak ada apa-apa kok,” ujar Gus Azizi sembrari merangkul sebelah bahuku. “Ada apa Gus? Syafa ndak mau dibohongi!” ujarku dengan nada yang meninggi. Kulihat wajah laki-laki itu yang daar dan tampak tenang. Lalu sebuah napas besar terhembuskan begitu saja. “Masuklah, kalian untuk apa berdiri di sini,” suara Yek Ali menyahut. Laki laki itu menggeret tanganku untuk berjalan lebih mendekat. Pandanganku mengedar. mencari sebuah keterangan yang bisa membuat hatiku lebih yakin atas semua hal. “Yek? siapa yang meninggal Yek?” tanyaku kemudian sesaat melihat sebuah tong besar dan sebuah bayang, yang biasa digunakan untuk orang meninggal. Yek Ali tidak menjawab apa yang aku tanyakan padanya. SEperti dirinya sedang mengunci mulutnya agar aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Namun, tetap saja, aku akan mendapatkan jawabannya secepatnya. SEcepat aku akan masuk ke dalam rumah dan melihat apa yang terjadi di dalamnya. “Jangan menangis terlalu kencang. Jangan meraung seperti serigala. Semua orang akan meninggal, dan kamu harus berjanji kepada Yek,” ujar seseorang di sampingku dengan suaranya yang begitu lembut. TIdak ada wajah yang sebelumnya ceria. Itu adalah wajah yang tak kusuka dari seseorang yang memberikan senyum untukku. Senyum dan hal yang ada di dalam dirinya mengapa sangat mudah berubah. Aku tidak ingin elihat wajah serius itu. Dengan mengusap air mataku yang tiba-tiba menetes tanpa sebab. Kaki ku melangkah dengan pasti menuju ke dalam rumah yang penuh dengan bacaan Yasin. “Assalamualaikum,” salamku dengan nada yang bergetar. Tangan Yek Ali memegang tanganku dengan erat. Seolah dirinya menguatkan diriku dari erat genggam tangannya. Semua orang menangis di dalam rumah. Bulik, Budhe, dan banyak orang di dalam sana yang tak lain adalah keluargaku semuanya. “Siapa yang meninggal Bulik?” tanyaku dengan suara bergetar. Bulik Fatimah yang terlihat begitu menyedihkan. Tubuhnya limbung dipeluk oleh sanak saudara yang lain. Kakiku lemas. Aku tejatuh. Lututku menyentuh tanah. Tidak, aku tidak bisa semenyedihkan ini. Aku harus kuat. Langkah perempuan mendekatiku. Memelukku setelah memandang wajahku. Itu adalah Bulik Fatimah. “Aufa kalau ada salah, tolong dimaafkan ya Nduk,” senyum yang terlihat dipaksakan. Senyum yang begitu pedih di antara kucuran air mata. “Ada apa Bulik? ada apa?” tanyaku kemudian kepadanya. Perempuan itu masih memelukku dengan erat. Memelukku dengan penuh perasaan. air mataku tak bisa untuk tidak turun. Air mataku tidak bisa untuk tidak mengucur. SEmuanya mengucur dengan deras. Semakin deras, sesaat aku mendengar suara ambulance datang dengan suara riuh orang-orang yang menyambutnya. Aku melepaskan pelukan Bulik fatimah, dan berusaha untuk berusaha melihat siapa yang berada di dalam ambulance yang barusan datang itu. “Jangan menangis. Kau adalah wanita yang kuat.” aku mendengar suara itu perlahan. Seperti itu adalah sebuah suara yang datang dari seseorang hati seseorang. Sosok jenazah dari ambulance itu dikeluarkan. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Aufa?” aku bermonolog dengan diriku sendiri. Sesaat melihat sosok yang ada di sana. Yang dibawa oleh orang-orang dengan suara yang begitu menyedihkan. “Aufa Bulik?” tanyaku kepada perempuan yang masih memelukku dengan suaranya yang meraung-raung. Kepala itu mengangguk. Ia membenarkan dengan apa yang menjad hipotesa ku. Allah, cobaan apa lagi ini? Aku sega berlari mendekati Abi yang baru turun dari ambulance yang sama. Di sana ada Umi juga. Mereka yang terlihat tabah dengan air matanya yang berlinang satu dengan yang lain. Aku memeluk Abi. “Ada apa sebenarnya?” tanyaku dengan sedih. Aku kecewa kepada mereka yang tidak memberitahuku sejak tadi. Mengapa mereka semuanya diam? “Maafkan adikmu ya Nduk,” Abi mengusap kepalaku dengan mencium setelahnya. Dia tidak meraung seperti Umi yang telah sesenggukan. namun, bulu mata beliau yang basah itu, tidak bisa disembunyikan dari pandanganku. “Mengapa Aufa meninggalkan kita lebih cepat Bi?” itu adalah pertanyaan selanjutnya setelah aku melihat benar-benar wajah Aufa yang ada di sana. “Sudah Nduk. Diikhlaskan ya, jangan ditangisi seperti ini. Dia sudah tenang di samping Gusti Allah. Diikhlaskan jalannya. Semoga ijembarke kubure, dipadangne dalane,” ujar Abi dengan memelukku lebih erat dari tadi. Dirinya mencurahkan perasaannya sebagai ayah untukku. “Jenazah akan disholatkan kapan Mas?” suara Yek Ali datang di antara tangisku dan pelukanku bersama dengan Abi. “Ba’da Subuh. Sekarang, diurus dulu jenazahnya. Sambil menunggu yang duduk kuburan juga,” ucap Abi. “Aufa kenapa? Aufa kenapa bI?” ttanyaku dengan meracau. “Berdoa untuk ketenangan dirinya ya Nduk. jangan ditangisi,” pinta Abi. Bagaimana aku tidak menangisi. Aku pergi darinya bukan untuk dia meninggalkanku terlebih dahulu. Dia adalah sepupu, sekaligus adikku. Kami saling bermain bersama dulu. Mengapa dirinya begitu cept meninggalkan diriku. Aku memiliki banyak salah kepdanya yang sampai saat ini masih belum kupintai maaf. “Abi akan cerita yang sebenarnya terjadi. Tapi Syafa, harus berjanji kepada Abi, kalau Syafa ndak boleh menangis lagi ya?” Aku mengangguk. menghapus linangan air mataku yang terus merembes keluar. “Aufa meninggal karena bunuh diri.” Deg … Kakiku lemas. Dunia seolah hanya memiliki satu cahaya berwarna putih. Suara Abi berulang-ulang di telingaku. Seketika itu, aku tiada sadar. Hanya suara riuh orang-orang terdengar menyebut-nyebut namaku agar membuka mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD