Cahaya Jogja adalah cahaya yang lain daripada yang lain. Jogja selalu istimewa di hati siapa pun yang berkunjung ke tanah ini. Lengkap dengan kebudayaan yang masih senantiasa dijunjung tinggi.
Kota budaya selalu menyihir siapa saja yang datang. Aku ingat betul, Arab, India, China, Jepang, banyak didatangi adalah karena semua orang ingin tahu sejarah yang terjadi dahulu. Pun juga dengan Bali yang menjunjung adat dan budaya. Kurasa, semua daerah yang mampu mempertahankan budaya akan diberikan rezeki sendiri. Yang utama adalah dalam hal ekonomi mereka.
Yogyakarta adalah salah satu bentuk kota yang memegang teguh arti toleransi beragama.
Menyempatkan diri untuk masuk ke dalam kraton ketika malam hari adalah sesuatu yang luar biasa. Ini adalah impianku sejak dahulu. Namun, selalu ada halangannya setiap kali aku akan masuk. Entahlah, aku tidak tahu.
Rabu pahing. aku bersama dengan dua laki-laki hebat di sampingku, menyaksikan pargelaran uyon-uyon dengan berbagai seni yang dikreasikan. Ada pertunjukan tari, ada juga pertunjukan wayang. Dan yang membuat aku terpukau adalah mereka selalu bisa menunjukkan sisi lain dari kebudayaan yang tak lain adalah untuk menyatukan diri kepada sang Maha Hidup.
Para penari selalu khusuk dengan tarian yang dibawakan, melebur dengan gending-gending yang dipukul. Dari seluruh elemen itu aku banyak belajar.
Dalam suka atau duka, gamelan tak pernah bersuara keras. Mereka mengalun penuh kelembutan, menceritakan jika kehidupan tak boleh terlalu ramai.
Kesunyian adalah hidup, bukan nyanyi bersorak Sorai.
Iya, diakhir pertunjukan wayang itu, sedikit diberi wejangan,. Wejangan Jawa yang begitu erat kaitannya dengan kehidupan manusia dengan agamanya.
Lihatlah, di sampingku. Yek Ali ribut dengan kameranya. Semua gambar diambil oleh dirinya. Kecuali gambar diriku.
Jahat memang, tapi ya mau bagaimana lagi. Dasarannya orang yang thengil memang seperti itu.
Akulturasi budaya yang ada, di Jogja ini, tersuguh dengan baik. Adat dari nenek moyang masih dipertahankan dengan agung. Begitu pula dengan agama di sini.
Di kota budaya ini, semua agama bisa masuk. Tidak ada yang tertekan sama sekali. Dan ini adalah sesuatu hal yang luar biasa menurutku.
“Ya, semuanya difoto, Syafa ndak,” sindir ku kepada laki-laki yang saat ini ndolosor untuk mendapatkan eangle yang tepat
“Nanti kameranya bledos, siapa yang tanggung jawab. Kamu mau gantikan? alah, alah, lhwong biaya pernikahan aja masih minta, kok mau tanggung jawab segala,”
Aku bertanya satu kalimat, maka jawabannya akan lima kalimat. Itulah Yek Ali. Seseorang yang senantiasa pandai berbicara.
Soal biaya pernikahan itu, benar. Umi dan Abiku sudah cukup, tapi Yek Ali yang bersikeras untuk menyumbang uang. Seratus juta telah ditransfer bulan lalu saat sebelum lamaran, dan saat ini. Uang itu masih utuh, dan aku kembalikan nanti. Bukan aku, tapi orang tuaku.
Pukul sepuluh lewat dua belas menit, aku keluar dari kraton itu. Gus Azizi yang tadi ke toilet, saat ini telah duduk bersama dengan seorang wanita yang aku kenali.
Sosok bule cantik yang tadi sore di Candi Borobudur itu. Dia ada di dekat kami saat ini.
“Hei, Syafa … “ dia menyapa lebih dahulu daripada ku.
Aku dan Yek Ali saling berpandangan sebentar.
“Hai,” sahutku dari kejauhan. Ketika aku akan melangkah ke sana, Yek Ali mencekal tanganku.
“Sebentar, ada pemandangan unik,” ujarnya kemudian.
Cekrekkk …
suara kameranya seperti sedang membidik sesuatu yang ada di depan kami.
“Asemmm. Yek moto aku!” pekik Gus Azizi dengan suaranya yang lucu.
Aku tak pernah mendengar laki-laki itu berseru demikian.
Bule wanita di sampingnya terlihat bingung dengan apa yang kita bicarakan.
Aku pun mendekat.
“Hei, Whats up?” tanyaku setelah mencoba memeluknya.
“Kita bertemu kembali dan aku sangat merasa spesial terhadap itu.
Ohh, aku melewatkan acara yang ada di dalam tadi. Bukankah sungguh menakjubkan?” tanya Valencia.
“Ya, kamu benar. DI dalam pertunjukannya begitu indah. kau harus ke sini kembali nanti.”
ujarku.
Valencia melihat pergelangan tangannya.
“Aku akan bertemu dengan kalian nanti. Namun aku harus kembali ke hotel dahulu sekarang,” ujar perempuan itu.
Aku mengangguk. Kami saling memeluk, dan perempuan itu langsung pergi begitu saja. Dengan ransel besarnya itu, dan sebuah kamera yang tergantung di lehernya.
Yek Ali mendekat ke arah Gus Azizi. “Kalau ditikung temen sih masih okelah, lah ini ditikung saudara sendiri. Hahahaha, tapi karena saya masih ada sembilan permaisuri, ambil ndak papa, hitung-hitung sedekah,” ujar Yek Ali sembari memukul lengan laki-laki yang masih termenung di kursinya itu.
“Yek, sudahlah, ayo kita makan gudeg. Syafa sudah lapar,” ujarku kemudian.
Kami pun pergi dari lokasi kraton, mencari warung yang menyediakan gudeg.
JOgja dengan sinarnya yang tidak pernah padam itu, seolah memberikan sinyal kepadaku jika memang sepanjang waktu, kita membutuhkan makanan, di sini adalah tempat yang terbaik yang menyediakan makanan apa pun.
Sekitar pukul sebelas, kami chek in hotel. Untungnya masih ada yang bisa menerima kami bertiga. Yek Ali memesan dua kamar. Satu kamar dengan bed besar untukku. Dan satu kamar dengan dua bed yang terpisah untuk Gus Azizi dan Yek Ali.
Kamjar kami berdampingan.
Ketika aku baru saja merebahkan tubuhku setelah membaca satu juz AL Quran, dering ponselku berbunyi.
“Assalamu’alaikum Nduk,” suara Abi di sana. Aku langsung berjingkat, setelah mendengar suaranya yang amat kurindu.
“Waalaikumsalam Abi, Syafa kangen sama Abi,” jawabku kemudian dengan melihat kuku yang ada di jariku.
“Abi juga. Sekarang pulang ya,” ujarnya kemudian dengan nada yang sedikit merendah. Lebih rendah daripada yang tadi.
“Pulang? Tapi Bi--” kataku dengan berat.
“Pulanglah Nduk sebentar,” pintanya sekali lai.
Entahlah, ada sesuatu yang sepertinya disembunyikan oleh Abi, dan aku tak tahu apa itu. Seperti ada yang membuat dirinya merasa keberatan.
“Abi tidak apa-apa kan?” tanyaku.
“Abi tidak ada apa-apa. Abi baik-baik saja Nduk. Abi tunggu ya. Hati-hati di jalan, Assalamu’alaikum.”
“Bi, Abi!” panggilku.
“Waalaikumsalam,” jawabku kemudian dengan suara yang merendah.
Ada apa? ada apa sebenarnya? adakah sesuatu di rumah? atau ada apa sebenarnya?
Aku terlalu sulit untuk bisa menafsirkan apa yang diinginkan oleh Abi tadi.
Tok tok tok …
suara pintu yang diketuk dengan sedemikian rupa. Aku perlhan menghampiri.
“Ayo pulang,” suara Yek Ali berubah menjadi parau, setelah tadi aku mendengarnya dengan nada riang.
“Pulang? Ada apa sih Yek sebenarnya?” tanyaku dengan perasaan yang campur aduk.