Tatapan Kebencian

1390 Words
“Kok bisa-bisanya. Orang sebaik Kang Asyfi kok difitnah seperti itu sama perempuan yang kelihatannya lembut. Sudah jelas-jelas kan, kalau dia ke sini buat nutupi aib yang nggak mau nikah. Kok bisa-bisanya memfitnah Kang Asyfi mau memperkosa. Aneh memang!” Suara dari seseorang yang bernada benci itu kudengar lamat-lamat dari dalam toilet. Sepertinya memang kejadikan kemarin membuat seisi pondok gempar dengan isu yang ada dengan kehidupanku. Suara itu mengalun, ketika aku membuka pintu toilet, dan menunduk melewati dua orang yang membawa gayung beserta handuk yang disampirkan di salah satu bahunya. Aku menatap matanya sekejab. Mereka tak berjingkat kaget. Hanya memberikan pandangan sinis terhadaku. Kutahu, betapa besarnya mereka mengidolakan seseorang yang terlihat alim itu. “Sesungguhnya Allah lah yang membolak-balik hati manusia. Yang mengetahui apa yang tidak diketahui oleh makhluk-makhluk Nya.” Aku berkata dengan tenggorokanku yang tercekat. Aku tak bisa untuk mengingkari betapa sulitnya berada di dalam ujian Allah seperti ini. setelah aku berkata soal keadilan, dan dengan kejamnya mata dunia menikamku dengan sayat pisau kefanatikan terhadap idola yang bahkan tidak patut untuk diidolakan. Mataku berarir. Pandangan buruk orang-orang di dalam pondok ini seolah mengucilkanku begitu saja. Membuat diriku kerdil dengan sendirinya. Di dalam bale-bale, di depan ruangan-ruangan yang dihuni oleh ribuan santri. Mata mereka menyorot. Bedanya lingkungan masyarakat dengan lingkungan pondok memang seperti ini. ketika ada kabar yang begitu besar datang, maka semua orang akan jauh lebih cepat mengetahui. Membuat semua hal yang ada terkesan menjelek-jelekkan diriku. Aku tak bisa memungkiri hal ini bisa terjadi kepada siapa pun. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh … assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Aku mengusapkan kedua tanganku setelah melangitkan doa sholat dhuha. Tiada hal yang lain kuminta kepada Allah. Kecuali kelapangan hati untuk menerima seluruh ujian yang telah ditimpakan kepadaku sebagai makhluk yang lemah dan masih perlu banyak belajar dari segala sesuatunya. Tanganku melipat sajadah beserta mukena yang ada. Kutaruh di sebuah rak yang telah ada. Kemudian, tanganku mengambil sebuah kitab di sana. Kitab dengan warna lembarannya yang kekuningan. Aku telah menyelesaikan beberapa tahun yang lalu. Namun ketika belajar, tidak ada yang mengulang, semuanya sama. Ilmu itu sama, wajib untuk dipelajari meski kamu telah tahu sebelumnya. Sayup-sayup, aku merasa dikucilkan. Aku seolah seseorang yang hina telah melakukan dosa besar. Tatapan Kebencian itu begitu nyata di depanku. Aku tak bisa berlama-lama dalam hal ini. Mengambil kitab kuning, aku akan pergi ke masjid setelah menyelesaikan sholat dhuha di dalam pondok. Untuk kalangan dewasa sepertiku, oleh Abah Kyai diberikan ngaji pagi. Kalangan wustho, dengan orang-orang di sekitar juga. Pokok bahasan kata Zya dalam ngaji enjing itu adalah tentang bab fiqih kehidupan sehari-hari, kadang juga tentang doa-doa dan amalan-amalan untuk kehidupan nanti setelah pulang dari pondok dan hidup berumah tangga. Aku sangat senang jika menemui kitab seperti ini. siapa pun gurunya, aku akan tetap suka. Berguru tidak memandang subjeknya. Yang terpenting adalah ilmu dan barokah dari ngaji itu sendiri. Parenting bagi anak pondok salah satunya adalah hal ini. ketika mereka mengabdi di pondok. Masih tetap terus ikut mengaji yang meski mereka sudah usia dewasa, itu menjadi hal yang tidak masalah. Karena bagaimana pun juga, ngaji tidak akan kenal umur. Ngaji tidak kenal usia. Tidak seperti sekolah yang biasanya memiliki Batasan umur. “Loh, dasar. Ora nduwe isin. Wes jelas-jelas kemarin itu tertangkap basah mau nyelaki Kang Asyfi. Kok sekarang masih dengan entengnya mau pergi ngaji. Kalau aku ya jelas ndak akan berani keluar kamar.” Aku mendengarnya dengan telingaku yang terbuka lebar. Seolah suara itu sangat jelas dan langsung menusuk hatiku dalam waktu yang bersamaan. Seseorang memang kadang tidak bisa membunuh dengan belati. Namun cukup dengan lidah kadnag bisa membunuh seseorang, masa depan, dan impian di masa yang akan mendatang. Iya, hanya dengan lidah yang tak bertulang itu. semua orang bisa mati. Aku berusaha untuk menenangkan diriku sendiri. Mencoba untuk yakin atas segala sesuatunya. Beristighfar kepada Allah SWT yang memberikan semua limpahan kesabaran dan rahmatnya. “Samean mau ngaos enjing kan? Bareng sama aku ya,” kataku ketika melihat Zya yang baru masuk dari pintu depan kamar itu. Perempuan itu yang awalnya datang menunduk dan melihat aku dengan tatapan yang terkejut itu sepert tidak suka dengan pertanyaanku atau dirinya ada masalah sebelumnya dengan diriku, entahlah. Yang jelas jawabannya membuat aku merasa sedikit bersalah. “Ndak Ning. Aku liburan,” ujarnya Degnan langsung menuju tempat tidurnya. Merapikannya dan mengemasi beberapa barang. Masalah apa yang sebenarnya menimpaku saat ini. Aku masih mencoba untuk berbaik sangka. mungkin Zya capai karena dirinya bekerja keras sekali kemarin. Bantu sana sini. Kakiku terus melangkahkan kaki keluar. Mencoba untuk melewati pintu yang di sampingnya, banyak santri putri yang seumuranku juga yang masih duduk-duduk di sana. Dalam hatiku, ingin sekali rasanya untuk mengajak mereka. Sekali lagi aku mencoba melakukan hal yang terbaik untuk diriku saat ini. bersikap sopan dan mengajak semua orang yang ada di luar untuk berangkat berbarengan. “Mbak, apa ndak ada yang ke masjid buat ngaos enjing?” tanyaku dengan sopan dan penuh kelembutan. Berharap jika ada satu di antara mereka yang mau kuajak. Ohh, aku tidak bisa untuk membuat hati seseorang melembut, kecuali Allah lah yang membuat hal itu. Tidak ada jawaban. Detik selanjutnya seolah diriki tidak ada. aku tidak dianggap. Rasa putus asa menjalar ke seluruh tubuhku. Seakan-akan mencengkeram diriku agar tidak melangkah ke masjid. Namun, Sebuah tangan mencekal tanganku kemudian. Membuat diriku hampir terhuyung dibuat oleh sentakan tangan itu tiba-tiba. “Ning, aku ndak bisa buat membencimu. Tapi, seharusnya kamu tahu kalau semua orang di sini itu lebih membela Kang Asyfi daripada kamu. Seharusnya kau tau itu Ning? Jangan bersikap bodoh dengan bertanya apa pun kepada orang yang membencimu di sini. kau akan diperlakukan tidak baij oleh mereka.” Zya menangis di depanku setelah mengatakan kalimat panjangnya itu. Aku tak bisa untuk tidak ikut menangis. Aku langsung memeluknya dengan erat. Kami saling menangis bersama selanjutnya, tidak bisa untuk dimengerti, hatiku sebenarnya tidka ingin merasakan sakitnya lagi. Pikiran buruk itu memberenggut segala hal yang ada padaku. Membuat segala hal yang ada seperti mimpi buruk yang terulang kembali. “Ndak benar Zy, itu semua ndak benar. Saya kemarin mau dilecehkan. Saya yang jadi korbannya Zy. Saya berkata jujur. Saya tidak bohong apa pun. Semuanya yang dikatakan oleh pria itu adaah kebohongan besar. dan kamu seharusnya sudah tahu semuanya apa yang ada di dalam hati pria itu bukan?” Zya mengerutkan keningnya sebentar. Lalu matanya dalam menatap mataku. Dirinya menusap air matanya dan kami saling melepaskan pelukan. “Benar dan salah di dunia ini tidak dapat ditentukan kapan akan terbukti. Namun, saya selalu yakin akan adanya Allah di sini. sebaik apa pun manusia menutupi, jika Allah yang berkehendak lain, sebagaimana kita makhluk yang tidak berdaya, bisa apa?” Zya mengangguk, menangis lagi dan memelukku dengan erat. “Ngakunya keturunan Sunan, tapi kelkuannya macam iblis. Berani memfitnah orang lain untuk mendapatkan cintanya. Kukira kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha hanya ada zaman dahulu. Ternyata ada juga ya yang modus perempuan gitu di zaman ini. sok kelihatan alim lagi,” kalimat sarkas itu membuat diriku seperti tersayat. “Kamu tahu apa hah?” itu adalah kalimat tegas dari Zya yang mencoba untuk menyerang perempuan yang tiba-tiba datang kepada kami itu. “Dan kamu tahu apa tentang wanita ini yang seperti p*****r!” ujar perempuan yang sudah kelewat batas ini. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,” kakiku lemas. Aku tak pernah mendapatkan kalimat seperti itu. apalagi dikatai sebagai p*****r. Astagfirullahaladzim. Berulang kali aku menyebut nama Allah. “Astagfirullah Mbak. Ya Allah, jangan mentang-mentang kamu mengidolakan lawan jenismu dan lalu kamu menyalahkan seorang dari golonganmu yang menjadi korban pelecehan. Jadi ini ya, salah satu faktor mengapa orang-orang yang menjadi pelaku p*********n dilindungi oleh orang-orang terdekatnya. Kalau setidaknya ndak bisa buat Ning Syafa tenang, setidaknya jangan membuat hatinya trauma.” Tiba-tiba perempuan itu datang lagi kepadaku yang saat ini lemah. Hanya bisa duduk di salah satu kursi panjang, karena dadaku yang berdebar dengan kencang. “Kalau mau fitnah orang, dilihat dulu. Kalau mau dapat cintanya, hartanya, atau popularitas, seharusnya cari populeritas yang lebih elegan. Dan buat kamuy a, Zya yang masih seumur jagung. Jangan mudah percaya sama orang-orang yang punya tampang alim tapi sebenarnya hatinya itu duri semuanya. Bakal nyesel kamu deket sama dia.” Perempuan itu menjauh. Zya datang memelukku dari samping kembali. Aku melihat matanya kali ini dengan intens. Menanyai kepada dirinya mencari sebuah pembenaran. “Apa benar aku seperyi p*****r di mata mereka?” tanyaku dengan menahan isak yang tiba-tiba keluar begitu saja tanpa aku sadari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD