Gelap Mata Hatinya

1292 Words
“Sudah. Jangan menambah kekacauan lagi. Sekali Syafa bilang ndak mau, ya Kang Asyfi seharusnya menghargai pendapat Syafa, bukannya malah memaksa seperti ini!” Aku tidak tahu apa yang ada d benak lelaki yang saat ini di depanku. Lelaki yang dulu pernah menjadi calon suamiku. Sebelum akhirnya Allah memberikan sebuah jawaban yang cukup besar. Sebuah jawaban yang begitu membuat aku terpukul untuk pertama kalinya, namun aku bisa untuk menerima semuanya dengan lapang hati. “Tapi Shell. Semuanya bisa Akang jelaskan. Semuanya ndak seperti apa yang kamu lihat! Ndak seperti apa yang kamu pikirkan. Saya bisa jelaskan semuanya!” tegasnya dengan mencoba untuk meyakinkanku dengan sorot matanya yang begitu tajam itu. Aku mencoba untuk pergi dari sana. Mencoba untuk membuat seseorang itu sadar. Namun kembali dan kembali lagi, seseorang itu mencegahku. Tangannya mencoba untuk menghalangiku. Ohh, entah aku harus berbuat apa sekarang. Sesaat setelah tubuhku dibenturkan di antara tembok dingin toilet santri putri ini. “Lepaskan aku Kang. Lepaskan Syafa, Syafa hanya mau hidup bebas. Syafa hanya mau Kang Asyfi pergi! Pergi dari hidup Syafa!” kataku dengan menyentak. Kang Asyfi semakin mendekatkan tubuhnya. Aku ketakutan. Bibirku bergetar dengan keberaniannya yang seperti hendak memperkosaku. Apa yang ada di pikirannya hingga ia bertindak nekat seperti ini. “Dengar! Kamu jangan macam-macam. Kita bisa melangsungkan pernikahan kita, ndak perlu kabur-kabur seperti ini. Aufa, demi Allah saya tidak pernah menyentuhnya!” ujarnya dengan matanya yang sedikit kabur itu. aku melihat sebuah kesungguhan itu. namun dalam hati kecilku selalu terselip perasaan yang tidak pasti. Ketidakpastian itulah yang membuat hatiku sakit secara bersamaan. “Syafa ndak akan kembali ke Kang Asyfi setelah Syafa tahu Kang Asyfi seperti ini. datang ke toilet santri putri. Menghimpit Syafa seperti ini. Sadar tidak sadar, Kang Asyfi telah melecehkan Syafa. Gagalnya pernikahan kit aitu bukan karena hanya masalah besar itu saja. Tapi Gusti Allah Kang! Gusti Allah yang memberikan itu semuanya. Membuka mata Syafa biar Syafa bisa lihat. Betapa hinanya Kang Asyfi ini. betapa rendahnya Kang Asyfi ketika merendahkan harkat dan martabat perempuan!” tandasku. Kang Asyfi diam. Gurat merah di wajahnya adalah pertanda jika dirinya dalam amarah yang besar. “Dasar wanita kurang!” sebuah tangan kekar itu akan melayang ke wajahku, sebelum akhirnya ada jerit suara perempuan. “Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Tolong! Bu Kyai, Pak Kyai. Tolong!” perempuan yang wajahnya terlihat samar di antara temaramnya lampu itu adalah seseorang yang dikirimkan oleh Gusti Allah untuk menyelematkanku dari seseorang yang begitu hina di depanku ini. Aku menangis histeris. Kedua kakiku lemas. Tidak bisa untuk menopang tubuhku sendiri. Sejenak, aku mendengar suara orang-orang mendekat. Dan laki-laki yang ada di depanku itu mencoba untuk menjelaskan dengan tipu dusta yang digunakan untuk membela diri. Sedangkan aku, tergolek lemah tak berdaya. Tiada cahaya lagi, selain cahaya warna putih yang perlahan hilang, perlahan tamaram dan berganti dengan kegelapan. Tubuhku terasa diangkat, suara-suara gaduh yang mendekat, mulai menghilang secara bersamaan. Aku pingsan. *** Semerbak aroma minyak kayu putih memenuhi indera penciuman ku. Rasanya sedikit agak panas. mataku mengerjap. Menyesuaikan cahaya yang masuk dari sebuah sinar lampu yang tepat berada di atasku. Ini adalah sesuatu hal yang tidak aku inginkan. Berada di sebuah tempat yang asing untukku. Sebuah tempat yang indah dan aku akan menyesalinya karena memasuki ruangan ini. “Sumpah, Demi Allah, saya tidak melakukan apa pun. Wanita itu yang membuat kekacauan. Saya hanya masuk ke dalam toulet laki-laki. Dan mendapati dirinya memaksa saya. Saya yang dipaksa olehnya Abah,” Aku hafal suara itu. Suara milik siapa. “Ning, jangan didengarkan,”Ning Zahra mencoba untuk membuat tubuhku limbung. Aku dipaksa olehnya untuk berbaring kembali. “Istighfar Ning, Istighfar.” “TIdak bisa. Aku harus keluar. Aku harus memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itu sema fitnah. Apa yang dikatakan oleh laki-laki itu adalah sebuah fitnah yang kejam!” Aku berusaha untuk beranjak dari tempat itu. Lengan NIng Zahra yang mencoba untuk menghalangiku kusingkirkan. Kuhempaskan. Beberapa orang yang berjubal ingin tahu semuanya yang memenuhi ndalem ini, kuterobos dengan segala kekuatanku. “Innalillah, apa yang kamu ucapkan? kau tak salah mengucapkan itu semuanya? Kau adalah lelaki terhina. Yang menyebut nama Allah, yang berlindung di balik nama Allah untuk menutupi segala hal b***t yang kau lakukan! Aku tak akan membicarakan apa yang terjadi sebelumnya. Tentang batal nya perniakahan ku dengan mu. TIdak. Aku tak ingin membocorkannya di sini. karena aku tahu, itu adalah sebuah aib. Sebuah aib yang bisa membuat nama mu secara cepat busuk. membusuk di masyarakat. Akan tetapi, kau yang membuka kartu. Kau yang membuat segalanya seolah memang ini adalah waktu yang tepat untukku bisa mengerti siapa kamu yang sebenarnya.” Kedua tanganku dicekal oleh seseorang. Desisan perintah untuk bersabar tidak aku hiraukan. Apa yang dikatakan oleh Kang Asyfi sudah kelewat batas. Wajah pria itu pucat pasi. Dirinya tidak bisa menutupi segala hal yang aku ungkapkan tadi adalah sebuah kebenaran. Dia tergagap. Meski punggungnya nampak tegap duduk. Aku tak mengingkari apa yang terjadi ini, tipu daya, dan segala hal yang diperbuat olehnya adalah sesuatu hal yang sangat jauh dari sifatnya di antara puluhan ribu penggemarnya. “Benar Le?” tanya Pak Kyai sesaat setelah aku dengan nada berapi-api memberikan balasan serangan. Wanita selalu berada di antara ketidak berdayaan. namun kali ini, bukan lagi masalah hati, ini adalah masalah harga diri. Harga diri sebagai perempuan yang seharusnya tidak lagi dan lagi harus mendapatkan pelecehan dari sosok yang kurang ajar. “Ndak Pak Kyai. saya tidak pernah bohong dalam masalah apa pun. Wanita itu mengada-ada. Wanita itu memberikan keterangan palsu. Apa yang dikatakan oleh wanita itu tidak benar dan salah. Saya bisa pastikan semua itu” ujar Kang ASyfi yang membuat ku geram. “Innalillahi, apa yang kau inginkan sebenarnya? aku adalah satu orang dari sekian banyak korbanmu. Allah tahu segalanya, namun di depan hakim dunia ka malah berdusta seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada kepribadianmu Kang? Kita sudahi saja permasalahan ini.” “Sabar Nduk, sabar … “ tangan Umi lembut mengelus pundakku perlahan dengan penuh kasih sayang. Menenangkan diriku yang memang hilang kendali. Aku diberikan minum olehnya, aku tolak dengan halus. SEmentara tubuhku, sejak kapan didudukkan. Aku lebih bisa untuk menuntun diriku menjadi seseorang yang lebih pham akan segala sesuatunya. Masalah jika diberikan emosi, maka tidak akan jelas juntrungannya kemana. “Sudah, sudah. Jangan membuat parah masalah ini. Apapun yang terjadi, nak Syafa dan Nak ASyfi sama-sama santri. Sama-sama paham akan ilmu agam. Kalian mau dinikahkan di sini, atau bagaimana? Diselesaikan dengan baik-baik dan jangan sampai dibawa ke luar,” seseorang menengahi. Aku hanya bisa diam dan tak bersuara. Suara laki-laki itu memberikan jalan keluar, namun aku tak bisa untuk menyangkal jika jalan keluar yang diharapkan oleh laki-laki itu addalah menikah. Ketika aku ditunjukkan oleh Allah betapa busuknya laki-laki yang ada di hadapanku saat ini, Alhamdulillah, sementara itu rasa ketertarikanku hilang seketika. Telah hilang bersamaan dengan kepercayaan yang telah aku amanatkan kepada dirinya. “Saya berani tanggung jawab untuk menikahinya,” ujar Kang Asyfi dengan suaranya yang tegas. TIdak, bukan kata itu yang seharusnya diucapkan olehnya. Aku menggeleng. Menggeleng dengan gelengan kepala yang tidak pelan. Sungguh, jawabannya di luar dugaan. Membuat hati menjadi pilu mendengar apa yang telah dikatakan olehnya itu. Sementara hati yang tidak bisa untuk mengerti, aku berusaha untuk menarik nafas ku. “Bagaimana Syafa?” tanya Abah Kyai. “Bagaimana saya bisa menerima laki-laki seperti itu, sementara hatiku terluka oleh karenanya. Semuanya adalah kebohongan, kedustaan yang diciptakan dengan tipu daya olehnya. Dua kesalahan besar telah dilakukan, aku tidak bisa menerima semuanya. Maaf. Saya harus pergi dari forum ini.” Finalku. Kaki mencoba berlari setelah menganggukkan badan, memberikan hormat kepada seluruh yang ada di ruang keluarga ini. Kakiku kencang berlari, berharap semua masalah akan hilang dan pergi. BIarkan kali ini aku yang pergi menjauh, agar yang mendekat tidak terus dekat. Siksaan itu amatlah pedih untukku. Kutak bisa menerima segalanya dengan langsung lapang d**a.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD