Tiada pertimbangan yang lain. Aku tidak ingin seperti salah satu temanku yang dulu. Karena dirinya sering menahan kencingnya, sehingga ada penyakit yang membuatnya harus dioperasi.
Membayangkan jarum suntik saja aku sudah takut, apalagi dioperasi.
Tanpa pertimbangan lagi. Aku memasuki toilet laki-laki tersebut. Tak seperti toilet santri putra yang lain yang biasanya berbau tidak enak atau pun jorok. Di pondok ini, sepertinya kebersihan adalah salah satu hal yang diutamakan. Toilet tidak ada bau sama sekali, dan wangi.
Aku masuk ke dalam, mencoba menenangkan diriku yang sebenarnya juga tidak bisa dipungkiri ada perasaan takut jika nanti ada sesuatu hal yang terjadi. Yang paling besar adalah ketahuan salah satu pengurus pondok jika aku memasuki tempat toilet yang seharusnya digunkana oleh santri pria ini.
Srettt …
Suara derit pintu yang sepertinya ditutup oleh seseorang di sampingku. Bisa dipastikan jika ada orang lain yang juga menghuni toilet di sebelahku.
Perasaanku tidaklah menentu. Segera aku mempercepat. Menutup keran sebelum pergi.
Telat …
Seperti lelaki itu juga telah selesai melakukan kegiatananya di dalam toilet itu. aku yang berada di toilet paling ujung melihat seseorang yangbaru keluar dari pintu toilet itu. seketika ketika pria itu melihat diriku yang berada di toilet laki-laki ini langsung mengernyutkan dahi.
Lampu yang menyentrong dari arahnya membuat mataku sulit untuk mengetahui siapa laki-laki itu sebenarnya. Terlebih saat tangan pria itu terangkat, dan jari telunjuknya seperti menunjuk ke arahku.
Apakah lelaki itu kenal dengan ku?
Berbagai pertanyaan menyerbu pikiranku saat ini. aku tidak tahu harus bersikap apa saat ini. kecuali tercenung di antara dinginnya tembok toilet ini.
“Shella? Kamu dik Shella kan?” tanya laki-laki itu yang sepertinya memang mengenal diriku.
“Jangan mendekat. Siapa kamu?” tanyaku dengan gugup.
Aku adalah santri putri baru di sini. seorang akhwat yang asing dan tak kubisa melihat wajahnya dengan jelas seperti telah mengenal diriku. Jika itu adalah santri sini, itu tidak mungkin.
Sesaat setelah mencium aroma parfum yang menyeruak dari pria itu. aku menyadari jika pria itu adalah …
“Kang Asyfi … “ ujarku dengan nada bergetar.
“Apa kabarmu Dik?” tanyanya kemudian.
Kakiku ingin langsung beranjak. Namun entah mengapa, itu sangat sulit untuk diriku lakukan saat ini. seperti ada sebuah magnet yang membuat kakiku tetap berada di antara piakan ini. mengapa sangat sulit hanya untuk beranjak dari tempat ini.
“Kang Asyfi mengapa ada di sini?” itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah aku tanyakan kepada seseorang yang bahkan tak mempunyai hati ini.
Mengapa semua hal yang ada di dunia ini begitu sulit untukku. Seolah semuanya itu adalah hal yang membuat diriku harus kembali. Lagi dan lagi harus mengeluarkan air mata. Iya, air mata yang ada di antara kedua kelopak mataku seketika jebol juga. tak bisa untuk kutahan-tahan lagi.
“Seharusnya Kang Asyfi yang tanya ke kamu Shell. Kenapa kamu di sini? untuk apa? pernikahan kita tinggal beberapa hari bukan?” tanyanya kemudian membahas tentang pernikahan semu yang tidak akan pernah terjadi kapan pun juga.
“Pernikahan apa yang Kang Asyfi maksud? Pernikahan terkutuk yang akan berlangsung ketika salah seorang mempelai laki-lakinya menghamili perempuan lain?” kataku dengan berani.
“Shell … “ katanya kemudian.
Dirinya diam kemudian.
“Pernikahan macam apa yang kau bicarakan Kang? Pernikahan yang akan berlangsung dan mengorbankan masa depan Alvi? Iya? Kamu yakin Kang dengan hal itu? seharusnya kau sadar setelah apa yang telah kamu lakukan ke Alvi. Jangan nikahi aku Kang. Nikahilah orang yang telah kau hinakan,” kataku dengan nada yang tegas.
Seperti Kang Asyfi tersindir dengan suaraku yang sepertinya memang baru kali ini menyala-nyala dan penuh dengan penekanan. Aku tak pernah berkata setegas ini sebelumnya. Aku seorang tipikal yang pendiam dan tidak banyak berkata jika ada sesuatu. Namun, untuk masalah sebesar ini, aku tak bisa untuk diam saja. Sudah cukuplah Alvi dan diriku yang terluka hingga separah ini. jangan ada luka yang lain yang dirinya ciptakan di lain hari, atau di lain hati.
“Tapi Dik,” katanya lagi.
Aku terkaget dengan tangannya yang tiba-tiba menyentuh tanganku. telapak tanganku seperi akan disahut. Namun dengan secepat kilat aku langsung sahut kembali tanganku.
Keadaan sangat sepi. Aku sangat berharap jika ada orang lain yang menjadi penengah kami sebelum nanti ada fitnah-fitnah yang tidak tepat. Ini sungguh bukan menjadi sebuah kegamangan di hatiku karena bagaimana pun juga ini adalah sebuah hal yang tidak baik.
Sekelebat bayangan tentangnya menyerbu pikiranku saat ini.
Teringat memori saat pertama kali aku jatuh cinta dengannya. Aku tak munafik untuk tidak mengatakan hal itu. pada kenyatannya memang seperti itu. aku pernah mencintai laki-laki yang saat ini berada di depanku.
Kuingat betul saat dirinya bersholawat berbarengan dengan diriku di salah satu tempat organisasi besar di kabupaten.
Suaranya memang mampu membuat hati bergetar. Apalagi dengan lirikan matanya yang sellau memabukkan siapa saja itu.
Aku hanya tak menyangka jika dirinya bisa berbuat sejahat itu kepada seseorang yang sangat dekat hidupku. Aku bahkan masih menyangka jika semuanya yang ada adalah hal yang berdekatan dengan kata mimpi itu sendiri.
“Saya, ingin hubungan kita berjalan seperti dahulu,” kalimat itu membuat diriku larut dalam suasana yang ada.
“Semua bisa diperbaiki Shella. Yakinlah dengan saya. Kang Asfy akan memperbaiki semuanya. Akan menjelaskan apa yang terjadi kepadamu. Tolong percayalah kepadaku. Tolong percaya kepadaku. Kumohon kepadamu.”
Ingatanku berputar sesaat dirinya memberikan bunga yang ada di panggung, untuk menyatakan cintanya kepadaku saat itu. Saat di salah satu acara sholawatan di kabupaten. Dia adalah seseorang yang menjadi icon di kabupaten ini. dan hampir semua orang di sini mengenalnya. Album yang divokalisi olehnya sejak masih duduk di bangku SMP selalu terjual laris di pasaran. Suaranya selalu berada di antara sound system orang hajatan. Dan itulah yang membuatnya terkenal.
Iya, suaranya yang merdu itu. dan aku terbujuk oleh itu.
“Maaf Kang, Shella tidak bisa untuk itu,” kataku dengan pelan.
Aku mengusap air mataku. Mencoba menghapusnya agar hatiku tak terlalu terluka atas sakit yang ada. atas segala hal yang bernama cinta buta.
Aku telah salah mencintainya. Aku telah melakukan kesalahan yang besar. aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika aku masih mencintainya.
Iya, cinta itu seakan berubah menjadi sesuatu hal yang menyakitkan di hatiku di waktu yang bersamaan.