Suara dering telepon terdengar dengan nyaring. Telepon yang terlihat tua di pojok ruangan pondok putri ini. Itu adalah telepon yang digunakan oleh pihak keamanan ketika ada sesuatu hal yang penting. SEbuah telepon yang selalu dinantikan suaranya ketika hari libur oleh santri.
Aku dan Zya yang mendengar benda itu berbunyi lantas mendekatinya. Mencoba untuk mendengar siapa yang memanggil.
Kebetulan, suasana kamar saat ini begitu sepi. Sehingga hanya ada aku dan Zya saja di ruangan ini.
“Mbak Rois, saya minta tolong, panggil NIng Syafa buat ke ndalem lagi ya. Ada yang perlu dikerjakan sama dia,” hanya suara itu yang kudengar.
Sepertinya, NIng Zahra tidak menyadari jika yang mengangkat telepon tadi adalah diriku. Entahlaj, ini adalah sebuah takdir untukku. Ketika aku yang menerima telepon itu, berarti memang seharusnya diriku ke sana. Meninggalkan segala ego yang ada di dalam hati. Ketika ingin menjauh dari tempat yang aku gunakan tadi untuk menaruh jajanan, dan bertemu dengna sesosok laki-laki yang begitu tidak bisa untuk aku jelaskan bagaimana keterkejutan diriku.
“Pergilah Ning, Percaya sama saya, semuanya akan baik-baik saja,” ujar Zya memberikan semangat untuk diriku. Aku mengangguk ketika mendapatkan tatapan yang sungguh berarti itu.
“Saya ndak bisa menemani Ning, karena harus mencuci baju,” ujar Zya dengan nadanya yang sedih. Aku mencova utuk menyibak rasa yang sungkan di wajah wanita itu.
“Aku bukan anak-anak. Aku akan kuat dengan segalanya. Terima kasih atas bahu dan perhatian yang begitu penuh dengan kasih sayang,” ujarku kemudian. Zya mengangguk.
“Assalamu’alaikum,” salam ku kemudian beranjak pergi dari ruangan kecil ini. Meninggalkan Zya yang tersenyum memberikan secercah motivasi kepadaku. Sungguh, aku tidak bisa untuk mengelak semuanya.
Di ndalem. Mataku dengan siaga mengawasi. Kesana dan kemari, melihat segalanya yang ada, dan memastikan jika tidak ada Kang Asyfi di ndalem.
Setelah kupastikan semuanya tidak ada, aku baru masuk e ndalem dengan prasaan yang setengah gamang.
“Ning Zahra kemana?” tanyaku kepada salah seorang abdi ndalem yang baru saja keluar dari dalam.
“Ning Syafa ya?” tanyanya kembali.
aku mengangguk, “Ning Zahra masih ada di depan, ngurus tamu Ning, njenengan disuruh buat nunggu beliau di bale,” ujar abdi dalem itu. Aku mengangguk lalu, keluar dari ruangan itu dan lalu kemudian menuju bale. Bale yang digunakan untuk santri-santri berdiskusi dan membaca buku di luar. Sayangnya jika malam seperti ini ag gelap. Hanya ada lampu yang berwarna keorean yang menghiasi di sana. Lampu berwarna putih tidak ada. Meski demikian, tempat itu terlihat sangat aestetik.
Aku berjalan ke sana. DI dalam sebuah gazebo yang cukup besar.
ENtah mengapa, secara tiba-tiba, perasaanku begitu kacau. Aku tak bisa mengingkari jika ada perasaan yang tidak bisa untuk dielak saat diriku berada dengan jiwaku sendiri. Ada perasaan yang masih belum rela. Belum ikhlas. Secara tiba-tiba, air mataku kembali mencelos. Kembali meluncur dengan bebas dan tidak bisa dibendung.
Rasa cinta yang ada sulit untuk dihilangkan. Iya, ketika telah mengakar dengan dalam. Aku tidak menampik semua itu.
"Ning, kenapa?" Seseorang menepuk bahuku. Membuat kedua bahuku terangkat seketika karena terkejut. Aku langsung buru-buru menghapus air mataku saat mengetahui ada Ning Zahra di sana.
"Oh, Ndak ada apa-apa Ning. Ndak ada apa-apa kok," kataku dengan gugup. Wajahku lalu menunduk untuk menyembunyikan raut sedihku. Aku takut kesedihanku menular kepada yang lain.
Iya benar. Kesedihan bisa menular kepada siapa pun yang berada di dekat kita. Tak terkecuali kepada orang-orang terdekat.
"Kamu pasti sudah ketemu sama Kang Asyfi kan?" Tanyanya kemudian. Aku mendongak untuk melihat wajah wanita itu yang bening, kemudian aku tak kuasa untuk menahan keterkejutanku ketika Ning Zahra mengetahui hal itu semuanya.
Bagaimanapun yang terjadi padaku adalah tentang rasa cintaku yang begitu besar. Bukan rasa cintanya yang begitu besar kepadaku.
"Ayo, ikut aku. Jangan menghindar. Kita perlu untuk menjelaskan kepada semuanya. Jangan ada yang saling menutupi diri. Nggak baik. Nggak akan ada titik temunya," ujar Ning Zahra dengan sergahan suaranya yang tegas. Wanita itu tidak menutupi segala ekspresi mukanya. Mimik dari segala hal yang dirinya inginkan di dunia ini. OHH sungguh, melihat hal itu sesungguhnya aku hanya bisa membatin atas segala hal. Atas rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan. Atas cinta yang berubah menjadi kebencian.
"Percuma kamu menangis di sini. Ada hal yang harus ditangisi ada juga hal yang harus dipertegas. Harus dijelaskan. Harus mendapatkan tanggung jawab, hak, dan kewajiban dari seseorang.
Jangan pernah saling menutup diri untuk semua masalah yang belum terselesaikan. Semuanya ada, mulut, telinga, otak, pikiran. Itu diberikan oleh Gusti Allah kepada kita agar kita bisa untuk mengerti tentang hakikat hidup yang sebenarnya. Ayolah, singkirkan egomu, ayo segera temui Kang Asyfi sekarang juga!" Taegas Ning Zahra kemudian.
"Tapi Ning. Nggak semua hal yang terasa mudah di mata orang lain akan mudah di mata kita. Ada hal-hal yang nggak bisa diungkapkan. Lukanya masih belum kering Ning," ujarku kemudian.
Aku seperti telah terlalu berlebih-lebihan dalam hal cinta ini. Seperti ada yang membuatku sulit untuk melepas cinta yang ada.
Ning Zahra hanya diam. Dirinya menarik napas kemudian. Dan dihembuskan dengan perlahan.
Perempuan itu sepertinya juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelahnya Karena bagaimanapun juga ini adalah hal yang paling sulit dalam hidupku untuk memutuskan segala hal yang ada mencintai untuk terluka atau meninggalkan dengan tiada pernah bisa lupa.
"Terserah kamu kalau gitu Ning. Aku pusing bahasnya."
Angin malam berhembus. Memberikan peraasan rindunya kepada sang penyandang rindu. Memberikan rasa kasih sayangnya kepada sang maha cinta.
GUntur mulai menyambar-nyambar. Aku yang berjalan ke toilet merasakan sebuah rasa yang tiada enak. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi kepadaku nanti.
“Semoga ndak hujan ya. Kalau ada hujan nanti acaranya gimana. Banyak orang dari luar yang akan bermalam di sini kan. Kasihan juga sama vokalis hadrahnya.”
Sayup-sayup suara itu terdengar dengan jelas di telingaku. Seperti memberikan sebuah jaum di hatiku.
Vokalis hadrah siapa lagi yang dirinya maksud. JIka tidak vokalis itu. Yang tadi memanggilku dengan suara keras.
Entahlah, aku tiba-tiba merasa benci kepada santri putri yang ada di dalam tolet. Keduanya saling berbincang satu dengan yang lain. Padahal kamar mandi adalah tempat letak setan berada.
Atau, aku membenci mereka karena sebab yang sebelumya?
Aku tidak tahu, yang kutahu adalah aku tidak bisa menunggu terllau lama di depan toilet ini