Hadrah Pelebur Rindu?

1017 Words
Malam sunyi senyap. Tiada sebuah kegemerlapan di mataku. Sorot-sorot lampu yang memenuhi isi lapangan, bagiku hanya sebuah ilusi. Di mana kuketahui semuanya. Apa yang bergemerlapan, akan hilang dan menjadi sebuah kegelapan. Tidak sekarang, tapi nanti. Cahaya akan temaram. Bersamaan dengan waktu yang terus berganti. Itu;lah hidup, ada saatnya memang diri kita mendapatkan bahagia, ada juga saat kita untuk berduka. Semuanya yang tampak sebagai suatu hal yang bernama ujian, akan berganti kepada sebuah kabar gembira. Begitu juga sebaliknya. Termasuk juga dengan cinta. Di luar, ada pertunjukan seni hadrah. Hadrah yang cukup membuat santri antusias. Tidak hanya santri saja, masyarakat luar yang menunggu kehadiran salah satu dari keturunan Rasulullah--Seorang Habib. Hanya memandang wajah beliau saja telah mendapatkan banyak pahala, apalagi bisa mencium tangannya. Itu adalah sebuah kemuliaan. Berkat yang tidak bisa diganti oleh apa pun. “Ning, nanti ini bawa ke ndalem abah Syukur nggeh, soalnya ini rampenannya untuk anak hadrah,” ujar Zya dengan semburat senyumnya. Dia terlihat seperti menyembunyikan perasaan gugupnya. Seperti ada rasa bersalah saat menyuruhku. Padahal memang aku sedang tidak mengerjakan apa pun. “Iya, saya bawa nanti Dek,” kataku dengan langsung membawa dua piring rampen atau jajanan pasar untuk disajikan kepada personil hadrah dari luar daerah itu. Aku sebenarnya banyak bertanya tentang tanggung jawab ini. Bukan karena aku tak mampu untuk melakukannya. Namun, tentang mahram dan sejenisnya. Ohh, aku baru sadar jika tidak ada seorang laki-laki pun di ndalem atau di luarnya. Mereka semua masuk ke dalam sebuah majelis yang tidak bisa seseorang cegah. “Ning Syafa, nanti kalau sudah, ke sini lagi ya. Soalnya masih banyak Ning, sambil nanti aku panggil ke yang lain,” ujar Zya sebelum aku benar-benar beranjak. “Iya Dek, tidak apa-apa. Aku ke sana dulu ya,” ujar ku kemudian dengan melangkah pergi. Jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya beberapa meter saja dari rumah ndalem utama. “Assalamu’alaikum,” salamku kemudian. Alhamdulillah, tidak ada yang menjawabnya. Berarti ndalem dalam keadaan sepi. Di ruang tamu itu, hanya ada beberapa tas, rampen yang tinggal piringnya. Beberapa bantal dan air minum yang telah habis disedot manusianya. Aku masuk dengan hati-hati, dan menunduk. Mendekati sebuah titik tengah. Membersihkan semua hal yang patut aku bersihkan. Piring yang telah tiada rampennya aku bersihkan semuanya. Termasuk juga dengan air dalam kemasannya. “Shell,” panggil seseorang yang ada di atas ku. Aku melihat bayangan seseorang di sana. Ketika aku membalikkan badan dan mendapati seseorang yang begitu aku kenal itu. Hatiku terkejut bukan main. Aku dengan gugup langsung beranjak. Berdiri mengimbangi tingginya, dan akan pergi begitu saja sesaat melihat seorang laki-laki dengan jambang tipis yang berada di janggutnya. Surban berwarna hijau yang disampirkan di salah satu sisi bahunya. Dan kopyah yang digunakan oleh lelaki itu--itu adalah barang dariku yang pernah aku berikan ketika aku telah gandrung mati-matian kepadanya. “Maaf Kang, Syafa harus pergi dulu,” ujarku akan beranjak pergi. Air mata yang ada di kedua mataku akan mencelos. Aku tahan sedemikian rupanya. Aku tak sanggup untuk tidak membendungnya. Aku berlari dengan secepat yang aku bisa. Meninggalkan sandal yang ada di ndalem. Dan aku keluar hanya menggunakan kaos kakiku saja. “Dik Shella … “ panggilnya dengan keras. Aku tak menghiraukan dan langsung berlari menuju ndalem utama. Meninggalkan suara keras laki-laki itu yang berhamburan bersama dengan suara hadrah yang baru akan dimulai. Hatiku dalam kegamangan yang luar biasa. Aku menangis se jadi-jadinya. Di antara suara sholawat yang menggema ke seluruh alam semesta. Oleh lantunan suara yang suci lagi baik itu. aku tak bisa untuk tidak membenci orang yang saat ini sedang diidam-idamkan kehadirannya oleh banyak orang. Orang-orang yang ada di lapangan itu gandrung, gandrung yang segandrung-gandrungnya kepada sosok laki-laki yang memiliki kulit berwarna putih, ia keturunan Arab, dan memiliki hidung yang mancung. Ketampanannya tiada duanya. Namun sifat dan karakternya. Astaghfirullah… Aku terperdaya oleh tipu muslihat yang telah setan bakar kepadaku. Api yang bergejolak di antara dendam membuat diriku lupa akan segalanya. Cinta dan kebencian adalah dua hal yang tidak akan pernah hilang dari sifat manusia. Mereka selalu hadir di antara rasa yang tidak pernah pudar. Rasa cinta yang salah kepada makhluk yang seharusnya hanya dicintai sewajarnya saja. “Ning, lagi apa?” seseorang memanggilku. Memelukku dari belakang. Kudengar sayup-sayup itu adalah suara Zya. Aku buru-buru menghapus air mata. Menegapkan punggungku. Sayangnya, Zya mengetahui segalanya. Zya paham apa yang sedang menerpaku. “Sudah, tidak apa-apa,” ujarnya kemudian melewati rasa sedihku yang pecah bersamaan dengan air mata yang keluar dengan deras. Tak terbendung. Zya langsung memelukku dengan erat. Tangis ku pecah kembali di pelukan wanita itu. ohh, sungguh, ini adalah hal yang begitu mengharukan untukku. Aku tidak bisa beranjak. Isak ku terlalu keras untuk didengar. Sekian menit kemudian. Aku melepaskan pelukan dari Zya. Punggung Zya basah akan air mataku. “Sudah Ning? Atau mau nangis lagi?” tanya perempuan itu dengan suaranya yang mengalun. Aku melihat sebuah bulir di sana. Dia ikut sedih juga oleh karena diriku. “Maaf Zy. Tidak seharusnya kamu ikut bersedih atas segala yang telah aku alami. Maaf,” ujarku dengan terisak. Tangan perempuan itu memeluk salah satu bahuku. Diusapnya dengan pelan dan menimbulkan kedamaian. Kepalaku dituntun untuk bersender di salah satu bahunya. Lalu dengan suaranya yang lembut, perempuan yang menjadi adik kelasku itu bersuara. Menyuarakan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seseorang yang menjadi korban atas kebutaan cinta itu sendiri. “Luka yang Ning terima, adalah kebahagiaan nanti bersama dengan cinta yang sejati. Saya yakin Ning. Kalau ada Kang Asyfi lain, pasti itu ada. yang lebih baik dari pada Kang Asyfi saat ini. Adanya ketidak jodohan di dunia ini, meski pun hati sekuat apa pun mencintai, adalah adanya kasih yang telah dipersiapkan oleh Allah pada raga yang lain. Tentunya yang lebih baik. Tentunya yang lebih tinggi derajatnya." Iya benar. Apa yang dikatakan oleh perempuan itu benar. Hanya saja yang tidak benar adalah hatiku. Yang salah adalah perasaan ku. Yang tidak bisa rela dengan segalanya. Yang tidak bisa ikhlas seperti yang biasanya. Seperti yang dulu-dulu. Oh. Berapa kali aku harus menguatkan hatiku. Untuk bisa mengerti atas semuanya. Menerima segala konsekuensi yang telah aku lakukan sebelumnya. Semua orang pernah salah. Semua orang punya kisah cinta. Namun kisah cintaku kaki ini sangat berat rasanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD