Bab 8

951 Words
Richie masih menatap Kimi dengan seringai nakalnya, Ia masih tak menyangka gadis seimut Kimi sudah memiliki anak. Cincin yang melingkar di jari manis gadis itu, Richie yakini sebagai cincin pernikahan. Ia sengaja mencuri kesempatan, membiarkan Kimi masih memegang erat kedua lengannya di balik kemeja biru yang dia kenakan. Masa bodoh kali ini, jika harus menjadi pebinor pun aku rela. Richie masih menatap wajah Kimi, hingga dia tersadar dan bertanya, “apa kamu mengingatku?” Kimi menggelengkan kepalanya berpura-pura. Sejujurnya dia takut karena pernah memarahi Richie secara membabi buta saat Biru menendangkan bola dan mengenai kaca jendela mobil pria itu. “Apa kamu sudah meminta ganti rugi ke orang yang kartu namanya aku berikan kepadamu?” Richie menggeleng. “Kenapa?” tanya Kimi lagi. “Bisakah kamu melepaskan cengkeramanmu dari lenganku?” Kimi seketika melepaskan pegangannya ke Richie, ia sempat oleng lagi karena ternyata heel sebelah sepatunya patah. Beruntung dia tidak terjerembab kembali. “Ah … sial!” Richie yang mendengar Kimi memgumpat pun membelalakkan matanya, tapi seketika pria itu menyembunyikan rasa keterkejutannya, saat Kimi yang menunduk dan memegangi sepatunya melempar senyuman kikuk ke arahnya, bahkan menggigit bibir bawahnya merasa keceplosan. Keceplosanmu tak tahu tempat Kimi, bagaimana bisa kamu mengumpat di depan laki-laki. “Maaf karena hari itu sudah memakimu, aku pikir kamu memarahi ke-“ “Tidak masalah!” potong Richie cepat. “Aku juga tidak berniat meminta ganti rugi, uangku tidak akan berkurang hanya untuk mengganti kaca mobil atau bahkan membeli mobil baru yang sama persis,” sombong putra bungsu klan Tyaga itu, gayanya begitu arogan saat membanggakan diri. Kimi pun hanya bisa menelan saliva dan menganggukkan kepalanya, ia tidak sadar bahwa Richie sebenarnya sedang berusaha berkata kepadanya ‘aku lebih kaya dari suamimu’ . Ya, Richie masih menyangka bahwa Kimi adalah istri dari Nicholas Sebastian Adam-CEO ABI TV yang sebenarnya adalah saudara iparnya. “Ternyata rumor di luaran sana benar, Tyaga group memang menggaji karyawannya dengan nominal yang sangat fantastis melebihi perusahaan lain.” Ucapan Kimi membuat Richie mngerutkan kening. Karyawan? Apa dia menganggapku karyawan? Wah … sombong sekali, baiklah kamu istri CEO jadi dengan gampangnya menganggapku hanya karyawan. “Begini-“ Richie hampir menjelaskan siapa dirinya ke Kimi. Namun, gadis itu memilih memotong ucapannya dengan sederet pertanyaan yang mengganggu pikirannya. “Apa enak bekerja di sini? Gajinya besar kan? aku sedang melamar menjadi dokter di klinik pabrik ini, tapi aku sepertinya tidak akan lolos, aku terlalu jujur sebagai manusia. Ah … seharusnya aku berbohong dari pada terlihat begitu bodoh tadi, bagaimana ini? aku butuh pekerjaan untuk membayar cicilan.” Kimi mengembuskan napasnya. “Sudahlah, kenapa aku mengatakan semua ini padamu?” Kimi berlalu meninggalkan Richie begitu saja, pria itu terbengong dan mencoba mencerna setiap ucapan yang meluncur dari bibir gadis itu. "Di-dia" _ _ _ Richie pun bergegas kembali ke ruangannya, Ia langsung menanyakan kepada Jim perihal perekrutan dokter di klinik pabrik. Otak pintarnya mulai memikirkan cara untuk segera melancarkan aksi menjadi seorang pebinor. *** Malam itu, Richie sedang berada di ruangan kerja Daniel. Mendengarkan penjelasan dan saran kakaknya terhadap kinerjanya beberapa bulan ini di perusahaan. Richie yang sebenannya tidak bisa fokus, tiba-tiba meminta sesuatu ke kakaknya. “Pemilihan dokter baru untuk bertanggung jawab di klinik T Factory, biarkan aku yang memutuskannya.” “Apa?” Daniel mengernyit heran. “Bukankah menerima pegawai adalah tugas bagian HRD. Kenapa kamu ingin mengambil alih tugas seperti itu?” “Demi masa depanku.” “Hah?” Daniel masih tak mengerti dengan apa maksud Richie, sampai adik kesayangannya itu menjawab dengan penuh semangat dan percaya diri. “Dan aku ingin kakak memberikan T Factory kepadaku, tidak usah tujuh perusahaan. T Factory saja aku sudah berterima kasih sekali,” jelas Richie yang sebenarnya memiliki maksud terselubung ingin menjadi pebinor. “Ada apa dengan pabrik itu sampai dirimu seantusias ini?” “Aku melihat masa depanku di sana.” tegas Richie. Meskipun harus menjadi perebut istri orang. Setelah perbincangan dengan kakaknya kemarin, Richie menahan keputusan bagian HRD untuk memilih dokter yang akan diterima bekerja di klinik T Factory. Ia berkata ingin mewawancarai ulang semua pelamar yang lolos hingga ke tahap wawancara. *** Kimi takut, pagi itu dia kembali menginjakkan kaki ke T Factory. Ia berharap tidak akan melakukan kesalahan lagi seperti kemarin. Wawancara ulang yang dikabarkan kepadanya lewat pesan singkat oleh HRD perusahaan itu, bagaikan kesempatan kedua yang diberikan Tuhan kepadanya, dan jelas Kimi tidak ingin menyia-nyiakannya begitu saja. Kimi yang duduk di depan ruang wawancara merasa grogi melihat satu persatu pelamar keluar dengan mimik wajah kecewa. Mereka langsung mendengar keputusan diterima atau tidak bekerja di T Factory tepat setelah selesai melakukan wawancara. "Sepertinya pemilik perusahaan sendiri yang melakukan wawancara, kemarin empat orang kan? Sekarang lima." Mencuri dengar pembicaraan pelamar yang lain, Kimi semakin grogi. Apa lagi ternyata tiga orang terakhir yang tersisa dipanggil bersamaan. Melangkahkan kaki masuk ke dalam setelah dua pelamar lainnya. Kimi membungkuk memberi salam. Matanya seketika tertuju pada sosok pria yang duduk tepat di posisi tengah yang menunduk-sibuk membaca biodata tiga pelamar terakhir yang masuk. Pria itu mulai mengangkat kepalanya saat salah satu pewawancara menyebutkan nama tiga pelamar satu persatu. Ia menatap bergantian tiga pelamar itu, dan berhenti sejenak saat pandangan matanya bertemu dengan Kimi. Kimi pun kaget sampai jantungnya terasa akan meloncat keluar dari dadanya. Apa lagi saat salah satu dari mereka memperkenalkan pria itu. "Ini Pak Richard Tyaga, pemilik T Factory, beliau meluangkan waktunya yang begitu berharga untuk melakukan wawancara ini, jadi kami harap anda bertiga bisa menjawab setiap pertanyaan dengan penuh percaya diri." Demi Upin dan Ipin yang tidak lulus-lulus dari Tadika Mesra. A-a-apa? Tidak mungkin kan di-di-dia pemilik pabrik ini. Kimi ingin sekali berubah wujud saat itu juga, dan ketika Richie melempar senyum dengan sudut bibirnya, Kimi hampir saja ambruk ke belakang. Mami! Tolong aku!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD