Bab 9

1032 Words
Kimi berusaha menutupi rasa groginya. Ia merasa habis, berakhir, tak ada harapan. Gadis itu menangis di dalam hatinya. Mendapati pria yang dia maki, pria yang ia curhati asal-asalan di rooftop beberapa hari yang lalu ternyata pemilik perusahaan tempatnya melamar pekerjaan. Richie terlihat bersikap biasa di depan para karyawan dan pelamarnya. Ia beberapa kali melempar pertanyaan ke dua pelamar lain, dan saat giliran Kimi, Richie mengerutkan kening dan berhasil membuat gadis cantik itu menelan saliva. Kimi Zia Azzahra, Kimi-jadi namanya Kimi. Mata Richie fokus pada CV dan membaca catatan tim HRD yang mewawancarai Kimi kemarin, di sana tertulis 'tidak menjawab dengan baik alasan keluar dari rumah sakit tempatnya bekerja sebelumnya'. Namun, Richie memutuskan untuk tidak menanyakan hal itu kepada Kimi. “Jika kamu diterima bekerja di klinik rumah sakit ini, apa yang bisa kamu janjikan ke perusahaan kami?” tanya Richie sambil menekan pulpen miliknya lantas menyandarkan punggungnya ke kursi. Kimi mengembuskan napasnya, tangannya mengepal mencari kekuatan untuk mengumpulkan kembali rasa percaya dirinya. “Saya tidak bisa menjanjikan setelah saya bekerja di sini tidak akan ada karyawan yang sakit, tapi saya bisa menjanjikan bahwa saya akan memberikan pelayanan terbaik ke semua orang sebagai dokter di klinik perusahaan,” jawab Kimi tanpa keraguan sedikitpun di wajahnya. Richie memutuskan menahan senyumannya mendengar jawaban Kimi. Ia tidak ingin terlihat senang dengan jawaban gadis itu. Memberikan pelayanan terbaik ke semua orang ya? aku harap kamu mengingat ucapanmu. - - - Kimi mengemudikan mobilnya pulang ke rumah orangtuanya, baru saja dia turun dari mobil, sang mami sudah menghambur dan heboh menanyakan perihal tes wawancaranya. Kimi memang memberitahu Sara. Sebagai seorang anak yang baik dia sadar bahwa dia harus memulai setiap langkah yang akan dia ambil dengan meminta doa ke orangtuanya. “Apa wawancaranya lancar? Kamu tidak membuat kesalahan lagi kan?” Sara merasa sangat bersemangat, ia ingin segera mendengar cerita dari putrinya. “Lancar Mi, tapi sekarang aku merasa lapar. Mami masak apa hari ini?” Kimi bergelayut manja ke Sara sambil masuk ke dalam rumah. Jujur ia sangat berharap mendapatkan pekerjaan di T Factory agar wanita yang sangat mencintainya itu tidak lagi khawatir tentang masa depannya. “Mama masak semur, juga perkedel kentang,” jawab Sara sambil mengusap punggung putrinya. Wanita itu bangga sekali ke Kimi, Sara bersyukur karena sebagai seorang anak broken home gadis itu tumbuh dengan baik. Sara menikah dengan Faraj saat Kimi dan Mina masih berusia sepuluh tahun. Sara merupakan janda, ia bercerai dengan suaminya yang sering melakukan tindakan KDRT kepadanya, sementara Faraj seorang duda, istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil saat putrinya-Mina berusia delapan tahun. Mereka membentuk sebuah keluarga kembali bersama, membesarkan kedua putri mereka dengan baik tanpa membeda-bedakan status anak tiri dan anak kandung. *** “Mami!” Kimi berlari menuruni anak tangga, ia yang semalam menginap di rumah orangtuanya tidak menyangka akan mendapat kabar dirinya diterima bekerja di klinik T Factory secepat ini. “Apa teriak-teriak pagi-pagi?” sahut Sara yang sedang menghidangkan sarapan ke atas meja. Kimi bahkan melompati dua anak tangga terakhir, ia melingkarkan tangannya ke leher Faraj dan menciumi pipi papinya. “Ada apa? kenapa kamu senang sekali?” tanya Faraj yang tidak bisa menahan senyumannya melihat sang putri begitu bahagia. “Aku diterima bekerja di klinik T Factory.” Kimi mengangkat tangan kanannya seolah baru saja menerima sebuah piala penghargaan. “Apa?” Sara meletakkan piring ke meja dan langsung memeluk putrinya, keduanya bahkan berputar-putar kegirangan. “Selamat ya! Mami yakin kamu pasti dengan mudah diterima bekerja di sana, kamu kan berpengalaman dan pintar,”puji Sara. - - - Richie yang baru saja tiba di ruangannya, terlihat melepas jasnya kemudian membuka laptop di atas meja kerjanya. Sejenak ia mengingat bahwa hari itu seharusnya bagian HRD sudah memberitahu siapa dokter yang diterima bekerja di klinik pabriknya. Richie menutup kembali laptopnya, bukannya memanggil Jim masuk, pria itu memilih keluar. Ia berdiri di ambang pintu dan menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran. “Kapan dokter baru di klinik mulai bekerja?’ tanyanya ke Jim. “Sepertinya besok pagi Pak, apa ada masalah?” “Tidak-tidak ada,” jawab Richie kemudian kembali ke dalam ruangannya. Bibirnya tersenyum, ia bahkan memukul keningnya sendiri dengan tangannya yang terkepal. “Baru kali ini aku bersemangat ingin merebut istri orang,” ucapnya sedikit gila. *** “Permisi!” Pagi itu Kimi datang ke T Factory untuk mulai bekerja, setelah mendapat arahan dari HRD dia langsung menuju klinik tempatnya bertugas. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Apa lagi saat seorang wanita menyambutnya dengan hangat. “Saya yang akan membantu anda di sini dok.” Kimi pun berkenalan dengan seorang perawat yang memang bertugas membantu dokter di sana, namanya Eva. Mereka pun mulai berbincang, Kimi menanyakan beberapa hal salah satunya tentang alasan dokter sebelumnya yang memilih keluar dari pekerjaannya. “Oh … dokter Nia ikut suaminya ke luar negeri, suaminya yang juga seorang dokter melanjutkan kuliah ke Belanda.” Kimi pun menganggukkan kepala merespon ucapan Eva, karena pekerjaannya untuk lima tahun ke depan dirasa sudah aman, kini Kimi sadar harus mulai memikirkan mencari pasangan agar maminya tidak khawatir lagi dia akan menjadi jomlo abadi, meskipun sebenarnya masih sulit baginya untuk melupakan Noah. - - - Kimi duduk di kursinya, ia mendengarkan penjelasan dari Eva perihal bagaimana prosedur para karyawan melakukan pemeriksaan di klinik dengan seksama. Ia bahkan tak sungkan menanyakan ke Eva bagian-bagian yang dia kurang paham. “Jadi selama ini apa seluruh ranjang bisa penuh dengan karyawan yang sakit?” tanya Kimi. “Tidak juga, memang di sini disediakan sepuluh ranjang, tapi paling hanya beberapa yang terisi." Kimi mengecek beberapa rekam medis karyawan, ia menemukan kebanyakan sakit yang menyerang mereka adalah flu, maag dan nyeri pada persendian. Gadis itu masih sibuk dengan map-map di tangannya, saat seseorang masuk ke dalam klinik dan panik. "Dokter, ada masalah serius!" "Ada apa Pak?" tanya Eva yang tahu bahwa Pria yang datang adalah sekretaris Daniel yang kini menjadi sekretaris sementara Richie. "Pak Richard, dia mengeluhkan sesak napas tiba-tiba." Kimi langsung berdiri dari kursinya. Ia meminta Eva membawakan oksimeter juga tabung oksigen dan segera menyusul dirinya. "Apa Pak Richard punya asma? Apa beliau memiliki alergi makanan?" tanya Kimi. Jim menggelengkan kepala, Ia memilih diam mengekor Kimi yang berjalan cepat menuju lift. "Iya, dia punya penyakit Asma-Asmara. Dasar Pak Richard," gumam Jim di dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD