Bab 10

1268 Words
“Ada apa?” "Pa-pak Ri-Ri-Richard." Jim tergagap-gagap melihat adik atasannya bersikap biasa saja saat Kimi sampai ke ruangannya. Gadis itu pun bingung, menatap secara bergantian Richie dan Jim yang terlihat megap-megap. “Bukankah anda tadi berkata akan berpura-pura sesak napas dan meminta saya memanggilkan dokter dari klinik?” Jim menyatukan giginya, alis matanya bergerak-gerak mencoba berkomunikasi dengan Richie yang benar-benar membuatnya malu. “Maaf jim, tapi aku merasa seperti orang bodoh saat memandangi wajahku sendiri yang berpura-pura sesak napas tadi, mukaku seperti ikan terkena kail. Tidak mungkin aku membiarkan dia melihat wajah jelekku.” “Jadi, apa anda sudah baik-baik saja?” tanya Kimi dengan wajah kebingungan. “Ya-ya aku baik-baik saja!” jawab Richie yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalahnya ke Jim. Kini tatapan Kimi beralih ke pria bernama lengkap Jimmy Lin itu. Sorot matanya jelas menuntut sebuah jawaban. Jim benar-benar tak berkutik, hingga Richie mengalihkan fokus Kimi dengan menyambar sebuah kertas dan iseng bertanya. “Menurutmu apa produk makanan seperti ini baik untuk kesehatan?” Kimi memandang Richie dengan binar kebingungan, keningnya mengernyit melihat gambar produk mi instant bernama Mikurame, yang juga merupakan makanan kesukaan saudara tirinya-Mina. “Ini? maksud anda semua produk mi instant atau hanya mikurame saja?” “Semua produk mi instant, aku menunjukkan produk ini karena dia lah yang sekarang laris di pasaran,” ucap Richie sambil memberikan kode mata kepada Jim untuk meninggalkan ruangannya. Jim pun pergi dengan setumpuk rasa kesal di dadanya. Saat berada di depan pintu, sekretaris tampan itu berpapasan dengan Eva- perawat klinik yang tergopoh membawa tabung oksigen. Merasa kasihan kepada gadis itu, Jim pun menyambarnya sambil berkata,” kembali saja ke tempatmu, aku bantu bawakan.” “Tapi-Pak!” “Asmanya tidak jadi kambuh” ucap Jim sambil berjalan menuju lift. “Apa?” Eva kebingungan, tapi mau tak mau dia menuruti saja ucapan Jim, yang menjadi incaran banyak staff wanita di pabrik itu. - - - “Semua makanan yang mengandung banyak pengawet sebenarnya tidak baik untuk kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan,” jawab Kimi bijak. “Aku heran kenapa produk mi ini begitu digemari orang-orang,” protes Richie. “Mungkin karena kekinian, saudara saya bahkan suka memakan Mi ini sejak SMA, jadi sekitar delapan tahun dan produk mi ini masih saja laris di pasaran.” Kimi malah berdiskusi tentang produk mi dengan Richie, ia sampai lupa apa tujuan awal datang ke ruangan pria itu. “Pabrik kita juga akan membuat produk mi instant, tapi mi sehat namanya mi kemonilo” Kimi mengernyit lagi, untuk apa pria ini mengatakan hal itu kepadanya? Mungkinkah Pria bernama Richard ini sudah menganggapnya teman? Ah … mana mungkin, Kimi bahkan memakinya dan tanpa malu mengeluarkan unek-unek di depannya. “Mungkin saja, siapa yang menjadi bintang iklannya berpengaruh ke penjualan Pak,” ucap Kimi menanggapi pernyataan Richie tadi. “Menurutmu siapa artis yang cocok membintangi iklannya agar Kemonilo T Factory bisa menyaingi kepopulern Mikurame?” “Noah,” jawab Kimi asal-asalan. “Noah?” “Iya, pemeran ZIdan di sinetron Ikatan batin, dia sedang populer, wajahnya tampan dan memiliki banyak penggemar, dia juga terkenal baik hati dan dermawan.” “Apa kamu juga anggota perkumpulan MAPAN?” tanya Richie yang tiba-tiba saja berkacak pinggang. “Ah … dari mana anda tahu perkumpulan MAPAN?” Oh … bukankah Mami bilang istri pemilik Tyaga group adalah dedengkot MAPAN, kenapa aku bisa lupa. Richie memandangi wajah Kimi datar. - - - Kimi keluar dari ruangan Richie dengan mulut tertekuk ke sana kemari, dia heran kenapa pria itu tiba-tiba emosi saat dia memuji Noah tampan. Kenapa kamu memuji pria sampai seperti itu, bagaimana kalau suamimu tahu? “Suami? Suami siapa yang dia maksud, apa jangan-jangan dia memiliki gangguan kejiwaan?" gumam Kimi. Gadis itu menghentikan langkah dan berbalik untuk menatap kembali pintu ruang kerja Richie. “Dasar! Orang aneh!” *** Hari itu, di malam hari. Richie dan keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Nova sedari tadi tak henti-hentinya memuji seorang artis pria yang merupakan aktor ternama, siapa lagi kalau bukan Noah. “Noah itu cerminan hot daddy banget ya ga sih?” tanyanya. “Apa Mama tidak lihat? Putra mama ini juga sebentar lagi akan menjadi hot daddy. Pria itu- si Noah hanya akting, sementara apa yang akan aku lakukan dua bulan lagi adalah nyata,” sanggah Daniel sambil membanggakan diri. “Apa bagusnya Pria itu? hanya akting, muka juga paling hasil operasi plastik dan make up.” Ghea dan Nova langsung menoleh ke arah Richie yang memang duduk bersebelahan dengan Daniel. Kedua pria dewasa itu bahkan saling membenturkan telapak tangan melakukan tos, seolah mendukung pendapat masing-masing soal Noah. Nova heran, kenapa Richie sekarang berminat ikut menonton sinetron, dan belakangan anaknya selalu menghina artis idolanya itu. Sebagai dedengkot MAPAN- Mama Mama Pecinta Noah sebutan penggemar pria itu, jelas Nova tidak terima. “Ada masalah hidup apa sih Richies nabates ih?” hinanya ke sang putra. “Dosa apa Noah sama kamu? masih mending Noah lah dari pada kamu yang suka sama istri orang.” “Prttt!” Daniel menyemburkan teh yang baru saja diminumnya. Ia kaget setengah mati dengan ucapan Nova. “Apa? apa mama bilang tadi? Richie menyukai istri orang?” Richie yang menjadi obyek pembicaraan memilih memasang muka datar. Ia memang sudah bertekad untuk menjadi pebinor. Maju terus pantang kendor merebut Kimi. “Siapa? siapa wanita yang ingin kamu rebut dari suaminya itu?” tanya Daniel takut-takut sang adik mengincar istrinya. “Dokter di klinik T Factory,” jawab Nova mewakili putra bungsunya. “Jangan-jangan dia wanita yang pernah kamu bicarakan?” tanya Ghea yang keningnya sudah membentuk tiga garis halus. “Memang,” jawab Richie singkat. Ghea terkejut sampai mulutnya membentuk huruf O dengan sempurna. Ia ingat betul belum sempat menyampaikan fakta yang sebenarnya ke sang adik ipar. “Istri Pak Nic bukan seorang dokter Richies.” “Apa?” Nyalang Richie menatap kakak iparnya, ia benar-benar kaget setengah mati. “Mengada-ada,” imbuh Daniel. “Istrinya seorang ibu rumah tangga biasa.” “Benarkah?” wajah Richie berbinar, hembusan angin surga terasa meniup wajahnya. Ia merasa semangat empat lima para pahlawan merasuki jiwanya. *** Pagi itu, hati Richie terasa riang gembira, ia bahkan menyapa setiap orang yang dia temui saat menginjakkan kaki di T Factory. Mengetahui fakta bahwa Kimi belum menikah ia bagaikan dilambungkan terbang sampai ke angkasa. “Ini namanya rezeki anak soleh,” gumamnya sambil berjalan menuju lift. Ia bahkan menggeser badannya dan menggunakan pintu lift untuk memastikan penampilannya. Richie menyapa Jim yang selalu dibuatnya kesal, ia bahkan mengerlingkan sebelah matanya dan sukses membuat Jim merinding . “Ya Tuhan kapan pak Daniel kembali?” Jim memanjatkan doa agar atasannya itu bisa segera bekerja, dia sudah ingin balik ke gedung utama milik Tyaga Group untuk bekerja dengan Daniel. Meskipun selama membimbing dan membantu Richie dia memiliki banyak fans di sini, tapi semua tidak berarti bagi Jim karena atasan sementaranya itu sering membuatnya darah tinggi. - - - Setelah Richie tahu bahwa Kimi masih single, kini PR yang harus dia selesaikan adalah mencari tahu apakah gadis itu memiliki kekasih atau tidak. Saat jam makan siang kantor, Richie sengaja turun menuju klinik pabrik untuk menemui gadis itu. Namun, tak Richie sangka Kimi tidak berada di tempatnya. Richie hampir berbalik dan pergi, saat Kimi tiba-tiba datang dan membawa sebuah gelas plastik di tangannya, gadis itu sepertinya baru saja membeli kopi di kafe dekat pabrik. “Pak Richard, untuk apa anda berada di sini, apa anda sakit?” tanya Kimi tanpa basa-basi. “A-a-aku, aku hanya ingin bertanya- apa kamu sudah punya pacar?” “Ya!” Kimi terperanga, pria macam apa yang menanyakan hal seperti itu tanpa basa-basi lebih dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD