“Mi!”
“Apa? udah nggak usah!”
Kimi yang malam itu kembali menginap di rumah maminya terheran dengan ke-gede rasaan Sara kepadanya.
“Mami tahu kamu mau kasih gaji pertama kamu di T Factory buat Mami kan? udah ga usah,” ucap Sara dengan santainya.
Wanita itu memeluk bantal sofa dan asyik menonton acara gosip sore di televisi. Bukan tanpa alasan Sara mengatakan hal itu, Kimi terkadang memang suka berjanji akan melaksanakan sesuatu jika tujuan yang diinginkannya tercapai, semacam nazar.
“Mami GR, bukan itu!” Kimi mencebik, ia lantas bangkit dan pergi meninggalkan Sara sebentar menuju dapur.
“Apa? kamu mau martabak manis?” teriak Sara setengah peduli ke putrinya itu. "Pesen aja via go back."
Sara masih menatap layar televisi saat Kimi kembali dengan membawa dua cangkir teh di tangannya. Menyuguhkan teh itu ke maminya, Kimi pun bertanya,” Mi, kalau ada pria yang tanya apa kamu sudah punya pacar, Mami tahu nggak itu artinya apa?”
“Suka sama kamu lah apa lagi? jangan sok polos deh Kimoci,” sembur Sara sembari mengangkat cangkir teh yang disuguhkan putrinya.
“Jadi apa mungkin Richard Tyaga pemilik T Factory anak dedengkot MAPAN yang bernama Mamano itu suka sama aku?”
PRTTTT
"Panas-panas!" Sara menyemburkan air teh dari dalam mulutnya, matanya memelototi putrinya dengan mimik wajah tak percaya. “A-a-apa kamu bilang?”
“Pria bernama Richard Tyaga bosku itu, tadi siang bertanya apa aku sudah punya pacar,” ungkap Kimi.
Kepala Sara seketika pening, jika orang lain akan bahagia bahkan mendorong putrinya untuk mengejar pria kaya saat kesempatan itu datang, tidak dengan Sara. Ia malah takut, sebagai seorang wanita yang pernah menikah dengan seorang pria kaya raya, ia tidak ingin nasip putrinya sama seperti dirinya. Mengalami penghinaan sekaligus kekerasan dalam rumah tangga.
Papa kandung Kimi adalah seorang pengusaha bahkan pemilik sebuah hotel ternama. Kimi sebenarnya adalah putri seorang sultan. Namun, setelah bercerai dan hak asuhnya jatuh ke tangan Sara, Kimi tidak pernah bertemu lagi dengan sang papa, ia juga tidak sudi melihat muka pria yang sudah membuat maminya trauma dan dirinya kehilangan masa kecil yang bahagia itu.
“Kimi-kepala Mami pusing,” ucap Sara sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Ampun deh Mami, lagian siapa juga yang mau deket-deket sama dia, aku juga sadar diri," celetuk Kimi.
"Kamu nggak lihat Mina? dulu juga gitu dia sama Nic. Astaga! astaga! Papi-----."
Melupakan acara sinetron Ikatan Batin yang akan segera tayang, Sara memilih berjalan entah ke mana, Ia memanggil Faraj padahal suaminya itu juga belum pulang dari toko bangunannya.
-
-
-
Richie tersenyum-senyum seperti orang yang sedang teler. Pria itu sampai tak sadar bahwa sejak tadi, tiga orang yang duduk satu meja makan dengannya mengerutkan dahi melihat tingkahnya. Nova bahkan ingin melempar serbet ke arah putranya, jika saja perbuatan itu sopan untuk dilakukan.
Setelah makan pun, tingkah Richie masih sama. Duduk di sofa sambil menatap layar televisi, Richie menyuapkan makana ringan ke dalam mulutnya sambil tersenyum. Daniel sang kakak yang gemas dengan tingkahnya pun, mengalungkan tangan kirinya ke leher Richie, sementara tangan kanannya dia pakai untuk mengusap dahi adiknya itu berulang-ulang.
"Pergi kau demit! Pergi!" ucap Daniel berulang-ulang, seolah dirinya dukun sakti yang ingin mengeluarkan mahkluk yang menempeli Richie.
Bukannya marah, Richie malah tertawa dan berucap," Aku melihat bidadari di T Factory."
Daniel melepaskan tangannya ke Richie, Ia memandang Nova dengan mimik ketakutan. Begitu juga dengan wanita yang melahirkannya itu. Bidadari yang diucapkan Richie barusa diartikan sebagai dedemit oleh Daniel dan Nova.
"Niel! Apa kita butuh bikin acara syukuran dan selamatan atas resminya Richie menjadi pemilik T Factory? Apa jangan-jangan dia stress karena pekerjaannya?"
Bukannya menanggapi saat mendengar percakapan kakak dan mamanya, Richie lagi-lagi malah tersenyum. Ia bahkan dengan sengaja memberikan makanan ringan di tangannya ke Daniel lalu berdiri dan pergi dari ruang keluarga.
"Daniel! Mama takut," ucap Nova frustrasi, meski dia tahu putranya itu sedang jatuh cinta.
***
Tidak seperti biasanya. Hari itu, pagi-pagi sekali Richie berangkat ke pabrik, Ia bahkan melewatkan sarapannya. Richie sengaja menunggu Kimi di depan klinik pabrik untuk memulai melakukan pendekatan.
Setelah kemarin Kimi menjawab pertanyaannya dengan sebuah gelengan kepala, Richie semakin ingin mendekati gadis cantik itu. Gadis yang tidak mengingat dirinya sama sekali.
Mustahilkah jatuh cinta pada pandangan pertama? tidak, tapi ada kemungkinan perasaan itu akan menguap seiring berjalannya waktu, apa lagi jika mahkluk yang merasakan love at the first sight itu tidak memiliki kesempatan mendekati mahkluk yang membuatnya jatuh cinta.
Kimi Zia Azzahra, tidak mungkin mengingat seorang Richard Tyaga yang Ia kalahkan dalam lomba mata pelajaran fisika tingkat kota saat SMA. Jangankan menaruh hati pada Richie, melirik cowok di sebelahnya saat menerima hadiah dan piagam penghargaan pun tidak. Sepertinya kata-kata 'kamu tidak akan diingat jika tidak menjadi nomor satu' memang benar adanya.
Richie tersenyum, jika saat remaja dirinya begitu culun sampai tidak berani mengejar seorang gadis yang dia sukai. Kini dia tidak ingin kehilangan kesempatan lagi.
"Siapa dia? Richie, siapa dia? Richie."
Supporter dalam dirinya berteriak-teriak layaknya komentator sepak bola bernama Pelentino Njepret. Richie bertekad harus mendapatkan hati Kimi, bagaimanapun caranya.
Kimi yang baru datang pun berhasil dibuat kaget dengan kehadiran Richie di klinik tempatnya bekerja. Gadis itu sedikit kikuk, tak bisa dipungkiri Kimi juga sedikit gede rasa karena pria yang sekarang duduk di hadapannya ini menanyakan hal yang begitu pribadi kepadanya kemarin.
"Apa anda tidak enak badan sampai pagi-pagi sudah datang ke sini Pak?" tanya Kimi sopan.
Setelah menaruh tas dan memakai jas snellinya Kimi duduk dan menatap Richie dengan pandangan menuntut sebuah jawaban.
"Iya aku tidak enak badan, rasanya gemetaran," Jawab Richie.
Dan obatnya hanya dengan melihatmu.
"Silahkan! Saya akan memeriksa anda" Kimi mempersilahkan Richie untuk naik ke atas ranjang. Namun, pria itu malah menggeleng.
"Kenapa?" tanya Kimi heran.
"Aku tahu kenapa aku gemetaran, sepertinya aku lapar. Apa kamu mau menemaniku sarapan?"
Kimi semakin heran, pria ini benar-benar menunjukkan rasa ketertarikannya tanpa basa-basi.
_
_
_
Richie tersenyum senang. Bersandar pada kursi empuknya, pria itu memandangi sebuah kotak makan yang berada di atas meja kerjanya sambil menggerak-gerakkan kursi itu ke kiri dan ke kanan. Meskipun Kimi menolak saat dia mengajak sarapan, tapi dia senang karena mendapat jatah makan dari gadis yang ditaksirnya itu.
“Maaf Pak, saya sudah sarapan tadi?” Tolak Kimi tadi. Namun, gadis itu seketika menggigit bibir bawahnya saat Richie menatap tas bekal yang dia letakkan di atas meja pajangan tak jauh dari tempatnya duduk. “Em …. Itu bekal makan siang saya,” ucapnya memberi alasan.
“Apa menu makan siangmu hari ini?”
“Hah … ya! i-itu, kalau itu saya kurang tahu karena Mami saya yang membuatkannya dan memaksa saya membawanya.”
Meraih tutup kotak makan yang diberikan Kimi, Richie lagi-lagi menipiskan bibirnya. Ia geli karena yakin kalau gadis itu berbohong. Kimi belum sarapan dan malah memberikan bekal itu kepadanya.
Meraih sendok dan mulai menyuapkan nasi uduk yang dibuat oleh Sara, Richie mengangguk-anggukkan kepalanya dan bergumam, “Wah … masakan calon mertua enak juga.”
Lagaknya penuh percaya diri. Ia pun menyambar ponselnya, dan dengan mulut yang masih penuh dengan makanan, dia menelepon Nova. Meminta mamanya mengirimkan sarapan ke kantorya.
-
-
-
Kimi menyandarkan kepalanya ke meja, perutnya terasa keroncongan tapi entah kenapa ingin keluar dari klinik pun dia enggan. Hari itu Eva izin berangkat siang, Kimi menyesal kenapa harus memberikan sarapannya kepada Richie tadi.
Hingga sebuah sapaan dari arah pintu membuatnya kaget. Kimi mengerjabkan matanya tak percaya saat seorang satpam datang ke klinik dengan membawa kotak bekal. Tidak hanya satu tapi empat susun.
“Ini dari pak Richard,” ucap satpam itu dan berlalu setelah Kimi menerima barang yang dia bawa.
Kimi menelan saliva, selain nasi dia mendapati sei daging sapi, potongan buah segar, acar dan sayur brokoli di dalamnya.
“Apa dia bertukar bekal denganku?” gumam Kimi.
Sementara itu, Nova yang duduk di taman belakang rumahnya sibuk mengirimkan pesan ke sang anak bahwa sarapan yang dia minta sudah dikirimkan tadi.
[Terima kasih Ma, bekalnya sudah sampai. Sepertinya calon menantu mama menyukainya]
Nova pun membalas pesan putra bungsunya itu dengan semangat empat lima, terlebih dia memang menginginkan Richie menikah sesegera mungkin. Jelas Nova sudah bisa menebak, bahwa gadis incaran putranya itu adalah dokter yang bekerja di klinik T Factory.
[Buruan tembak ah! jangan kelamaan!]
[Sabar mama, aku ingin dia menyukaiku pelan-pelan]
“Halah … ntar diembat orang nyesel,” gerutu Nova sambil menekan-nekan layar ponselnya gemas.
Wanita itu hampir beranjak dari tempat duduknya, saat menyadari bahwa di grup perkumpulan MAPAN nya ada satu sosok yang jarang muncul belakangan ini.
“Kemana ya si Sara, apa dia sakit?”
Nova mencari keberadaan rekan duet mautnya di grup MAPAN. Sebagai teman di dunia maya, Nova sering berbalas pesan pribadi dengan Sara, ia merasa cocok dengan wanita yang tanpa dia sadari adalah ibu dari gadis yang disukai putranya itu.
Sementara di rumahnya, Sara ternyata edang duduk di sofa sambil membungkus tubuhnya dengan selimut, wanita itu bahkan menempeli pelipisnya dengan koyo cap merica.
“Mami kenapa sih?”
Mina datang karena khawatir. Kimi menghubunginya untuk menemani sang Mami yang sedang sakit. Kimi tidak bisa izin karena pada surat perjanjian kerjanya tertulis jelas, bahwa dia tidak boleh izin di dua bulan pertama bekerja jika memang tidak ada sesuatu yang mendesak.
“Mami demam Mina.”
Segara dan Biru yang datang bersama Mina pun mendekat ke arah Eyang uti mereka. Tangan mungil Segara bahkan menyentuh pipi Sara dan berucap, “Apa dompet eyang kering kerontang?” tanya bocah itu dengan polosnya.
“Memang kenapa?” Sara menjawab pertanyaan aneh dari cucunya itu.
“Kata Papa kalau Mama lagi sakit artinya dompet mama kering kerontang,” jawab Segara.
“Lalu Papa akan menempelkan kaltuna di kening Mama,” imbuh Biru sambil menepuk jidatnya, memeperagakan bagaimana papanya menempelkan kartu ke jidat sang mama.
Mina menekuk bibirnya, cerita kedua putranya itu begitu menyentil ginjalnya. “Dasar anak Nicholas!” gerutunya.