Bab 12

1347 Words
“Onikim, kasih obat Eyang biar cepat sembuh!” Segara menarik-narik tangan Kimi, yang baru saja akan melepas sepatunya. Karena sang mami sakit, Kimi memutuskan untuk menginap lagi di rumah orangtuanya hari itu. Apa lagi ada dua keponakannya yang lucu di sana. Belum juga menghalau Segara, kini giliran Biru yang menarik tangannya, alhasil empat kotak makan kosong yang dia bawa jatuh ke lantai. “Biru! Segara! Kasihan onty Kiminya baru pulang.” Mina mendekat lalu membungkuk memungut kotak-kotak itu. “Banyak banget kotak makanmu, emang Mami masak apa tadi?” Mina berjalan masuk dan meletakkan kotak itu di meja makan di mana Sara dan Faraj sedang duduk mengobrol di sana. “Itu bukan koperwere Mami.” Sara menatap wadah makan yang diletakkan Mina, menyebutkan merek sebuah produk wadah makanan dan minuman yang dulunya sangat digilai Sara sampai mengoleksinya beberapa. “Hem … tadi pagi Pak Richard memberikan makanan untukku. Aku memberikannya bekal nasi uduk dari Mami dan dia menggantinya dengan nasi sei.” Kimi melirik Mina, saudara tirinya itu menganggukkan kepala. Tidak usah menggunakan kalimat yang jelas, otak cerdas Mina juga sudah bisa menerima informasi dengan jelas, bahwa Richard adalah nama atasan Kimi yang membuat maminya gelisah, galau dan meriang. “Apa kamu menyukai pria itu?” “Apa Pi?” Kimi tak menyangka bahwa Papinya juga akan tertarik dan menanyakan hal seperti itu kepadanya, tapi mana mungkin dia menyukai Richard, bahkan belum genap satu bulan dia mengenal pria itu . “Tidak,” jawab Kimi tanpa perlu berpikir. Kini Faraj menatap tajam istrinya, dengan tatapan menusuk pria yang memiliki darah India itu menggelengkan kepalanya-mencibir Sara yang sepertinya ketakutan sendiri jika sampai putri kesayangannya itu mendapat jodoh seorang ‘Billionaire’. “Feeling Mami mengatakan bahwa pria itu menyukai dan akan terus mendekati Kimi Pi,” elak Sara membela diri. “Ya kalau deketin Kimi kenapa? bukankah wajar seorang pria mendekati wanita untuk menjalin hubungan? Bahkan pernikahan kan juga harus dimulai dari pendekatan dulu, apa kamu ingin Kimi melakukan taaruf dan langsung menikah?” tanya faraj ke istrinya yang ketakutan sendiri jika memiliki menantu dan besan kaya raya. “Mau taaruf langsung menikah juga boleh, tapi nggak sama pria itu Pi.” Mina menggelengkan kepalanya dan menepuk pundak Kimi, kedua gadis itu saling melempar senyuman tak percaya mendapati ketakutan Sara yang benar-benar sedikit tidak masuk akal. “Semua orang tua pasti bangga dan bahagia punya menantu kaya, tapi Mami? Mami aneh banget sih,” ucap Mina yang terdengar seperti ikut menyalahkan Sara. “Atau jangan-jangan Mami dulu juga sebenarnya terpaksa merestui hubunganku dan kak Nic.” “Mina-kasusmu itu berbeda, kamu kan terlibat skandal sama Nic, kalau Kimi kan nggak.” “Ya sudah, aku doakan Kimi terlibat skandal dengan pak Richard itu biar mama mau tidak mau menerimanya sebagai menantu.” Sara melotot mendengar ucapan Mina, sedangkan Kimi memilih memukul lengan sang saudara tiri sebagai bentuk keresahan akibat ucapannya yang seenaknya tadi. “Dih Mina, maghrib-maghrib jangan ngomong sembarangan,” sembur Sara. - - - Hari berikutnya Richie melakukan hal yang sama, dengan alasan mengembalikan kotak bekal Kimi. Pria itu menunggu gadis itu di depan klinik. Kimi tidak ingin menanyakan alasan pria itu datang karena tangannya jelas menenteng tas bekal miliknya. “Terima kasih, bekal anda sungguh mewah,” ucap Kimi sambil menyerahkan kotak makanan milik Richie. Gadis itu tidak mempersilahkan Richie untuk masuk ke dalam klinik. Sebisa mungkin Kimi memang ingin menghindari pemilik T Factory itu. “Aku merasa tidak enak badan.” Ucapan Richie membuat Kimi menghentikan langkah kakinya, Ia menoleh dan menatap Richie yang berpura-pura memegang kening dan pipinya sendiri. “Jika kamu sakit kenapa kamu berangkat bekerja?” Ingin sekali mulut Kimi mengucapkan kalimat itu. Namun, ia sadar akan posisinya. Sebelum tiga bulan menjadi dokter di sana, dia sadar posisinya masih bisa digantikan oleh orang lain. “Apa anda ingin saya periksa?” tanya Kimi dengan sangat sopan, hal ini sebenarnya Richie benci, karena dia ingin gadis itu menganggapnya teman, apa lagi usia mereka hanya terpaut satu tahun. “Iya, aku butuh diperiksa.” Richie pun mengekor Kimi masuk, dan setelah gadis itu meletakkan tas dan memakai snellinya seperti biasa, Richie mulai menyampaikan keluhan yang dia rasakan saat Kimi menanyakannya. Dokter cantik itu pun meminta Richie berbaring di ranjang pasien, dan kali ini putra bungsu klan Tyaga itu menurutinya. Kimi mulai memeriksa detak jantung Richie menggunakan stetoskop. “Detak jantungku terasa cepat,” keluh Richie, ia sukses membuat Kimi mengernyitkan keningnya, karena menurut Kimi detak jantung pria itu normal-normal saja. “Apa belakangan anda stress? Maaf permisi!” Kimi meminta izin dan mencoba menekan bagian perut Richie. “Apa sakit?” Pria itu menggeleng, “Entah kenapa aku sekarang sering panas dingin dan gemetaran sendiri.” “Sejak kapan anda mengalaminya?” tanya Kimi lagi. “Sejak bertemu denganmu,” gumam Richie di dalam hatinya, bibirnya tersenyum dan terus menatap Kimi yang hari itu mengikat rambutnya dengan model ekor kuda. “Pak!” Kimi mencoba menyadarkan Richie dari pikirannya. “Sekitar satu bulan yang lalu. Aku pikir terkena malaria, tapi sepertinya bukan,” jawab Richie yang terus berharap di dalam hatinya agar Kimi segera sadar dengan semua modus yang sedang dia mainkan. Bukannya tidak sadar, Kimi memang sengaja berpura-pura. Dia wanita dewasa, mana mungkin dia tidak tahu dengan modus yang dilakukan oleh Richie. Kimi memilih mengulas senyum di bibirnya mendengar keluhan Richie. Gadis itu heran, karena pria itu sampai datang ke klinik perusahaan dengan keluhan yang berbeda-beda setiap harinya hanya untuk mendekatinya. "Banyak gejala penyakit yang menyerupai satu sama lain, kita tidak bisa memutuskan penyakit apa itu sebelum mendapatkan diagnosa yang tepat.” Kimi meminta Richie untuk bangun, setelah ia selesai memeriksanya. "Benarkah? menurutmu, kalau ini bukan malaria, apa ini yang dinamakan malarindu?” Kimi tak bisa menyembunyikan tawanya, ia menoleh dan dengan sengaja menanyakan hal ini tanpa sungkan kepada Richie. “Apa anda merindukan saya? apa anda menyukai saya?” “Apa kamu sudah tahu? jika tahu kenapa kamu berpura-pura tidak tahu?” Jawaban Richie membungkam mulut Kimi, ia memilih diam dan memberikan saran ke pria itu untuk mengkonsumsi vitamin untuk menjaga kesehatannya. *** Sore harinya saat akan pulang, langkah Kimi terhenti karena di luar tiba-tiba saja hujan. Ia ingin meminjam payung dari satpam, sayang payung mereka juga sudah dipinjam beberapa karyawan lainnya lebih dulu. Kimi pun memilih menunggu hujan sedikit reda, ia mengeluarkan ponsel dan memasang earphone ke telinga, gadis itu memutar sebuah lagu milik seorang penyanyi ternama. Jika bertemu denganmu sudah ditakdirkan oleh Tuhan Maka tidak akan pernah aku sesali Meskipun perpisahan menorehkan luka sesakit ini Memilikimu di dalam hidupku merupakan hadiah terindah dari semesta Kimi meyukai lagu itu, jika bisa dia ingin sekali bertemu dengan sang pencipta lagu dan menanyakan apakah dia mungkin pernah mengalami kehilangan orang yang dicintai di dalam hidupnya? Kenapa lirik lagu yang diciptakannya begitu mengena di hatinya? Suara hujan yang begitu deras membuat lagu yang Kimi dengarkan via earphone menjadi terdengar sedikit samar. Tangan kirinya menjulur, ia sengaja membiarkan air yang tumpah dari langit membasahi tangannya. Gadis itu masih termenung, hingga seseorang menarik satu earphone yang terpasang di telinga kirinya, untuk dipakai di telinga kanannya. Kimi heran, apalagi melihat wajah sumringah pria yang kini sedang tersenyum lebar ke arahnya. "Bukankah ini seperti adegan FTV? aku romantis, iya kan?" Kimi menatap datar wajah Richie, untuk sesaat pandangan mata mereka pun saling mengunci. Richie menaikkan kedua alis matanya mendengar ternyata lagu ciptaannya lah yang sedang didengarkan gadis itu. “Apa kamu menyukai lagu ini?” tanyanya penasaran. Kimi menjawab dengan anggukan kepala kemudian berucap, “Lagu ini mengingatkanku dengan sosok pria yang aku cintai.” DEG Jawaban Kimi membuat d**a Richie tersentak, mungkinkah Kimi tidak pernah menggubrisnya karena sudah memiliki seorang kekasih? Tapi kenapa gadis itu tidak menjawabnya dengan jelas saat dia menanyakannya? Jangan bilang Kimi seperti Abel, yang memanfaatkan dua orang pria di saat yang bersamaan lalu meninggalkan salah satunya saat sudah menentukan pilihan. "Apa mungkin kamu memiliki seseorang yang kamu cintai?" tanya Richie lagi. "Hem ... tapi dia berada di tempat yang sangat jauh," Jawab Kimi. "Jauh? Memang di berada di negara mana?" Kimi malah tersenyum, ia mengembuskan napas panjang dan menatap ke arah langit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD