Waktu terus berjalan, setelah acara khitbah minggu lalu, aku dan Aqila saling berkomunikasi lewat telepon. Tetapi aku masih merasa sangat asing. Yah mungkin karena memang belum terlalu lama. Seperti pagi ini, ia mengirimku pesan sebelum aku berangkat kerja.
“Selamat pagi mas Eshan. Selamat bekerja, semoga Allah selalu melindungi mas Eshan, dan selalu diberi kelancaran serta keberkahan disetiap langkah mas Eshan.” Isi pesan Aqila.
“Aamiiiin… terima kasih.” Balasku.
Pesan seperti itu akan terasa sampai di hati jika pengirimnya adalah seseorang yang kita cintai. Tapi pesan dari Aqila tidak mempengaruhi apa-apa bagiku saat ini. Aqila juga selalu mengirim pesan padaku saat masuk waktunya sholat, dan waktunya makan.
“Bu, Eshan berangkat kerja dulu ya?” Aku pamit pada ibu dan bersalaman dan mencium tangannya.
“Iya nak. Hati-hati di jalan.”
“Baik bu. Oh ya bu, insyaallah nanti Eshan pulangnya agak terlambat. Karena nanti sore Eshan dan Aqila mau fitting baju dulu.”
“Oh iya nak. Salam buat nak Aqila.”
“Iya bu, nanti akan Eshan sampaikan.”
“Cieeee… Ada yang mau ketemuan sama calon istri nih. Bella ikut dong.” Goda Bella.
“Mau ngapain?”
“Mau memantau aktifitas pasangan calon pengantin. Sekaligus jagain mas Eshan dan mbak Aqila dari godaan syaiton yang terkutuk, supaya tidak terjadi kekhilafan yang membuat kebaperan karena kalian hanya berdua saja.”
“Ngomong apaan sih. Nggak jelas banget sih kamu dek. Justru kalau dua orang, laki-laki dan perempuan, orang ketiganya itu adalah setan. Berarti nanti kamu dong yang jadi setannya. Hahaha.”
“Mas Eshaaaaaannnn!!!” Kesal Bella.
“Apa?”
“Ibu mas Eshan jahat. Masa bella dikatain setan. Bella kan anak yang baik, rajin menabung, dan sholehah.”
“Lagian kamu juga sih suka banget godain kakak kamu.”
“Kok ibu jadi belain mas Eshan sih.” Rengek Bella.
“Sudah… sudah… Kalian jadi berangkat nggak? Tiap pagi kok berantem mulu. Nanti kalian telat.”
“Jadi dong bu. Ya sudah Eshan berangkat dulu ya bu.” Aku berjalan menuju sepeda motorku.
“Mas Eshan!!! Tungguin!!! Bella juga berangkat dulu ya bu.”
Setelah mengantarkan Bella ke sekolahnya. Kini aku pun juga telah sampai di kampus. Beberapa teman dosen mengucapkan selamat padaku. Aku juga tak tahu ternyata berita tentang pernikahanku begitu cepat menyebar. Aku mencoba untuk tersenyum bahagia dan berterima kasih atas ucapan-ucapan dan doa-doa yang mereka berikan. Aku mencoba untuk tetap terlihat bahagia atas pernikahanku.
“Wah, akhirnya temanku satu ini akan mengakhiri masa lajangnya.” Ucap Gibran.
“Hehehe.”
“Selamat ya Shan. Semoga diberi kelancaran sampai hari H.”
“Aamiin. Terima kasih Gibran.”
“Pasti saat ini kau sudah sedikit lebih akrab dan mengenal dia kan? Bagaimana calon istrimu itu?”
“Entahlah, aku pikir belum telalu mengenalnya. Yang pasti dia baik, sopan, dan kalem. Hanya itu yang baru kuketahui saat ini.”
“Sabar, pelan-pelan pasti kau akan mengenalnya dan akan mencintainya.”
“Aku harap juga begitu. Aku juga akan berusaha untuk bisa mencintai.”
“Witing tresno jalaran soko kulino.”
“Iya Bran. Semoga saja itu bukan hanya sekedar pepatah.”
*****
Sepulang dari kampus, sesuai rencana aku dan Aqila mempunyai jadwal untuk fitting baju. Aku beniat ingin menjemputnya dan berangkat besama. Namun Aqila menolaknya, katanya ia tak ingin merepotkanku, karena memang tempatnya tak searah dengan rumah Aqila. Dan jadilah kami bertemu di butik tempat kami menyewa pakaian.
Sesampainya disana, ternyata Aqila sudah terlebih dahulu sampai. Kulihat ia tersenyum ketika melihat kedatanganku. Aku pun mencoba untuk membalas senyumnya setulus hati.
“Assalamualiakum mas.”
“Wa’alaikum salam. Apa kamu sudah menunggu lama? Maaf aku terlambat.”
“Tidak kok mas. Aqila juga baru saja sampai.”
“Mari mas, mbak, silahkan masuk.” Pemilik butik mempersilahkan kami masuk.
Kami pun masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan. Namun kami duduk agak berjauhan. Aku sendiri masih merasa canggung, begitu pula dengan Aqila. Kulihat dia juga sedikit malu-malu dan canggung. Karena ini baru kedua kalinya kami bertemu secara langsung setelah acara khitbah dan saat ini hanya kami berdua.
Aqila terlebih dahulu memasuki ruang ganti untuk mencoba gaun pengantin yang akan ia kenakan. Setelah beberapa menit, ia pun keluar dengan memakai gaun gaun putih dengan hiasan bunga dan pernak-pernik berwarna silver. Dan MasyaAllah, dia terlihat sangat cantik dan anggun. Aku tak memungkiri itu. Tapi anehnya, entah kenapa hatiku tak bergetar sama sekali. Aku seperti hanya merasa kagum melihat salah satu wanita cantik ciptaan Tuhan saja.
“Bagaimana mas?”
“MasyaAllah, kau terlihat sangat cantik.” Jawabku yang memang mengatakan apa adanya.
“Benakah mas?” Tanyanya lagi yang terlihat wajah sedikit memerah, mungkin karena tersipu malu mendengar jawabanku tadi.
“Iya, gaun itu sangat cocok untukmu.”
“Hehehe. Terima kasih mas. Syukurlah kalau mas Eshan menyukainya.”
Aqila pun kembali melangkah menuju ruang ganti dengan senyum merekah yang tak luntur dari bibirnya sejak aku mengatakan bahwa ia terlihat sangat cantik. Dan tak butuh waktu lama Aqila keluar dari ruang ganti, dan sekarang giliranku untuk mencoba pakaianku. Aku mencoba setelan jas berwarna silver. Aku dan Aqila sepakat memilih pakain dengan warna yang sesuai dengan dekorasi pernikahan kami, yaitu putih dan silver.
Setelah selesai kami pun keluar dari butik tersebut. Kami berjalan menuju tempat parkir dengan sedikit percakapan.
“Mas Eshan pulangnya hati-hati ya?” Ucap Aqila saat kami sampai di tempat parkir.
“Kamu yakin nggak mau aku antar dulu?”
“Nggak usah mas. Kan Aqila bawa sepeda motor sendiri.”
“Tapi….”
“Nggak papa mas. Aqila bisa pulang sendiri kok. Mas Eshan tenang aja. Aqila nggak mau merepotkan, Mas Eshan pasti capek banget habis pulang dari kerja.”
“Hehm. Ya sudah kalau begitu. Salam untuk ayah dan Ibu. Kamu hati-hati di jalan.”
“Iya mas. Salam juga buat ibu dan Bella. Mas juga hati-hati di jalan.”
Aqila pun menyalakan mesin sepeda motor dan melajukannya terlebih dahulu.
“Assalamualaikum mas.”
“Wa’alaikum salam. Hati-hati.”
Setelah sepeda motor Aqila sudah melaju cukup jauh, aku pun segera mengendarai sepeda motorku. Aku segera menyusul Aqila. Aku diam-diam mengikutinya dari jauh. Biar bagaimana pun aku tak tega membiarkan Aqila pulang sendiri.
Apa aku sudah mulai tertarik dan jatuh hati padanya? Tentu saja jawabannya tidak. Itu hanya sebuah naluri dari seorang laki-laki yang tak tega membiarkan seorang perempuan pulang sendiri, apalagi hari sudah mulai gelap. Dan satu lagi, itu hanya sebuah tanggung jawab yang memastikan bahwa calon istrinya pulang dengan selamat.
Aqila pun telah sampai rumah dengan selamat. Dan aku segera pergi sebelum Aqila menyadari keberadaanku.
Sesampainya di rumah, aku langsung dihadang oleh Bella.
“Bagaimana tadi mas?”
“Bagaimana apanya?”
“Bagaimana pertemuan mas Eshan dengan mbak Aqila tadi?”
“Ya nggak bagimana-bagaimana.”
“Ahh, mas mah gitu. Ceritain dong tadi ngapain aja ketemu sama mbak Aqila.”
“Kamu kan juga sudah tahu kalau mas ketemu sama mbak Aqila untuk mencoba baju pengantin.”
“Iya, tapi setelah itu kalian ngapain… Makan bareng atau jalan-jalan bareng gitu.”
“Setelah itu ya kami pulanglah.”
“Hah? Langsung pulang?”
“Iya bawel. Emang mau ngapain?”
“Kalian nggak menikmati waktu berdua dulu gitu. Biar lebih saling mengenal.”
“Nggak.” Aku mulai malas meladeni adikku yang super kepo ini.
“Ahh, Bella tahu, pasti mas Eshan masih malu-malu kan untuk berduaan sama mbak Aqila. Tapi tadi mas Eshan nganter mbak Aqila sampai rumah kan?”
“Enggak.”
“Hah? Enggak?”
“Tidak adikku tersayang.”
“Ya Allah mas Eshan. Laki-laki macam apa mas Eshan ini. Nggak peka, nggak peduli, nggak ada perhatiannya sama sekali. Kalau Bella besar nanti aku nggak mau punya suami seperti mas Eshan.”
“Ya ampun adikku ini, masih kecil sudah memikirkan suami. Ya sudah mas mau mandi dulu, terus istirahat. Oh ya ibu dimana?”
“Ibu lagi ke warung.” Jawab Bella kesal.
“Oh ya sudah kalau gitu. Bye bye adikku yang super kepo.”
Aku segera melangkah pergi menuju kamarku sebelum adikku yang super cerewet itu menghujaniku dengan beribu-ribu pertanyaan dan pernyataan.
TBC
***