6. Kegalauan Hati

1483 Words
Hari demi hari pun begitu cepat berlalu. Keluargaku dan keluarga Aqila kini sudah mulai mempersiapkan semua keperluan untuk acara pernikahanku dan Aqila. Mulai dari makanan, sewa alat, undangan, dan yang lainnya. Dihari-hari menjelang akad nikah aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku pada Aqila, Aku mencoba bersikap baik dan mesra layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, tetapi itu malah membuatku merasa jijik dan muak. Yah usahaku untuk berdamai dengan perasaan dan hatiku selalu saja sia-sia. Usahaku justru membuat diriku sangat tersiksa. Bibit cinta yang kuharapkan malah menjelma menjadi pohon-pohon kaktus berduri yang tumbuh hingga mengganjal dan menusuk-nusuk di dalam hatiku. Bahkan terkadang bibit cinta yang kuharapkan itu malah menjelma menjadi tiang gantungan yang mencekam. Hidupku tidak terasa tenang. Aku hidup dalam hari-hari yang mengancam. Aku hidup dalam hari-hari yang mencekam. Aku meratapi nasibku dalam derita yang tertahan. Aku hidup dengan penuh kepalsuan dan kebohongan. Malam ini aku melihat ibuku yang sedang beistirahat sambil menonton layar TV di hadapannya. Beliau meluruskan kedua kakinya dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Aku tahu pasti ibu sangat lelah karena akhir-akhir ini begitu sibuk mempersiapkan untuk pernikahanku. Aku menghampiri ibuku dan duduk di sampingnya. “Ibu?” Sapaku. “Iya sayang.” “Ibu pasti capek banget hari ini ya. Biar Eshan pijit ya bu?” “Boleh nak.” Aku memijit-mijit pelan kedua kaki ibu, lalu beralih ke pundak ibu. “Maafkan Eshan bu. Ibu sampai kecapekan gara-gara menyiapkan acara untuk Eshan.” “Tidak papa Eshan. Semua rasa capek yang ibu rasakan sudah tertutupi oleh rasa bahagia ibu. Terima kasih kamu sudah mau menerima perjodohan ini. Ibu juga sangat berterima kasih kamu sudah mau memenuhi keinginan ibu. Ibu akan selalu berdoa semoga kamu dan nak Aqila akan menjadi pasangan yang bahagia dunia akhirat. Ibu harap kamu juga merasa bahagia seperti yang ibu rasakan saat ini.” Aku terdiam mendengar semua ucapan ibuku. Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Galau, bimbang, bingung, resah, marah, kecewa, semua yang kurasakan saat ini. Aku kecewa dan marah karena aku belum bisa mencintai Aqila seperti yang ibuku inginkan. Aku takut semuanya tidak akan sesuai dengan apa yang ibu harapkan. Haruskah aku jujur saja dengan perasaanku saat ini kepada ibu? Namun tiba-tiba lamunanku terhenti saat terdengar suara lembut menyembutkan namaku. “Eshan…!!!” Panggil ibu. “Iya bu.” “Kenapa kamu diam saja? Apa ada yang sedang kamu pikrikan?” “Ibu bolehkah Eshan mengatakan sesuatu?” “Tentu saja boleh. Katakanlah! Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan.” “Ibu…. Sebenarnya…” Aku kembali terdiam. Hatiku kembali menolak untuk mengatakan semuanya kepada ibu. “Eshan! Ada apa? Kenapa kamu malah melamun?” “Ahh tidak papa bu. Eshan hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak pada ibu. Terima kasih banyak buat semua kasih sayang dan pengorbanan ibu selama ini. Maafkan Eshan karena belum bisa membalas semuanya dan belum bisa membahagiakan ibu. Apalagi sebentar lagi Eshan akan berumah tangga dan mempunyai seorang istri. Mungkin waktu Eshan buat ibu akan berkurang.” Tak terasa kedua mataku sudah berlinang. Ibu menggenggam kedua tanganku yang sedang memijitnya. Lalu ibu menatapku sangat dalam seperti memiliki banyak arti dan makna yang tersirat. “Eshan… Dengarkan ibu! Seorang ibu tidak akan meminta balasan apapun dari anaknya. Seorang ibu bisa melihat anaknya tumbuh dengan sehat dan sukses itu sudah menjadi salah satu keberhasilan sebagai orang tua. Apalagi melihat anaknya bisa hidup bahagia dan menemukan pendamping hidup yang baik dan tepat. Ibu sudah sangat bahagia. Ibu hanya ingin berpesan padamu. Apakah boleh?” “Tentu saja boleh bu.” “Ibu harap kamu bisa memberikan rasa cinta, menyayangi serta menjaga nak Aqila dengan tulus. Jadilah imam yang baik untuknya. Jadilah panutan yang baik untuknya. Ibu harap kamu bisa membimbingnya menjadi istri yang solehah untuk bisa menuju ke surga Allah. Sebentar lagi tanggung jawab kamu yang sebenarnya baru akan dimulai. Sebuah rumah tangga pasti akan menghadapi berbagai rintangan. Ibu harap kalian bisa menghadapi dengan sabar dan ikhlas. Jika ada masalah selesaikan dengan cara baik-baik. Jangan pernah mengambil keputusan disaat sedang hati dan pikiran kamu tersulut emosi. Lebih baik diam atau pergi dulu hingga hatimu sudah merasa lebih tenang. Karena perkataan dan keputusan yang keluar di saat hati sedang emosi itu tidak akan pernah baik dan berakhir penyesalan.” Setiap kata yang diucapkan oleh ibu begitu menusuk hatiku Untuk kesekian kalinya rasa ini ingin memberontak pada ibu. Aku ingin mengatakan kepada ibuku tentang perasaanku yang sebenarnya. Aku ingin menolak dan membatalkan perjodohan ini. Aku ingin mengatakan, bahwa aku tak bisa mencintai Aqila meskipun aku sudah berusaha semampu yang aku bisa. Namun setiap kali bibir ini hendak mengucap terasa sangat kelu saat aku menatap wajah ibuku yang terlihat teduh dan senyum kebahagian yang terukir di wajahnya, sehingga lagi dan lagi itu membuat segenap hatiku luluh lantah. Ibu, apakah aku akan menjadi anak yang durhaka? Jika ternyata apa yang menjadi keinginanmu, tidak kutemui keinginanku. Tapi durhakakah aku, ibu? Jika dalam diri Aqila tak kudapatkan cintaku. Ibu, berdosakah aku? Jika perjodohan ini diawali dengan keboongan dan kepalsuan. Ibu, Aku sudah berusaha semampuku. Tapi cinta itu tak kunjung datang kepadaku. Ya Allah, haruskah aku menikah dalam keadaan tersiksa seperti ini? Haruskan aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai? Dan lagi-lagi aku hanya bisa pasrah. Sinar wajah ibu berkilat-kilat, hadir didepan mata. Tapi aku selalu mencoba untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa Allah-lah yang membolak balikkan hati dan perasaan manusia. Jadi aku selalu berharap dan berdoa agar Allah juga membalikkan hatiku agar nanti aku dapat mencintai istriku dengan sepenuh hati. Ya Allah, Aku percaya, hanya Engkau yang bisa membolak balikkan hati manusia. Aku memohon pada-Mu, Agar Engkau juga membalikkan hatiku, Sehingga aku bisa menumbuhkan rasa cintaku pada wanita yang akan menjadi istriku. ***** H-1 Akad Nikah Semua persiapan sudah hampir 100 pesen selesai. Aku mengambil cuti kerja dua hari sebelum hari pernikahanku dan aku meminta cuti selama satu minggu. Malam ini suasana begitu sangat ramai. Karena semua keluargaku berkumpul di rumah. Sejenak aku melupakan semua kegelisahan dan gundah gulananya hatiku. Suasana seperti ini sangat jarang terjadi. Semua keluarga sangat jarang untuk bisa berkumpul bersama seperti ini. Selain karena sebagian rumah mereka jauh, yang dekat pun juga sudah memiliki aktifitas masing-masing. Candaan dan tawa keponakan-keponakan, sepupu-sepupu ikut meramaikan suasana malam ini. “Cieeee… yang sebentar lagi akan melepas masa lajang.” Ejek sepupuku yang bernama Najwa. Dia adalah anak dari kakaknya ibu. Umurnya juga tak jauh berbeda dennganku. “Mas Eshan, gimana perasaan anda sekarang? Apakah hati anda sedang dugun-dugun sekarang?” Ejek sepupuku yang lain, bernama Rina. “Aku tahu pasti Eshan sudah tidak sabar untuk menantikan besok malam kan?” Sahut Indra, kakak dari Najwa. “Ada apakah dengan besok malam?” Tanya Najwa menggoda. “Apalagi kalau bukan unboxing barang istimewa. Hahaha.” Semuanya pun ikut tertawa. Begitulah keluargaku jika sudah berkumpul. Sebenarnya aku sedikit risih dan malu membahas tentang ini. “Sudah, sudah. Kalian jangan ngledekin calon pengantin baru terus. Tuh liat pipi Eshan sudah memerah.” Ucap Bu Dhe Ajeng. Kakak dari ibu, yaitu ibu dari Najwa dan juga Indra. Tiba-tiba ponselku berdering, tanda ada sebuah pesan masuk. Aku mengambil ponselku yang berada di saku celanaku. Lalu nyalakan ponsulku dan kulihat layarnya, ternyata ada sebuah pesan masuk dari Aqila. “Cie pasti itu pesan dari dek Aqila. Iya kan?” Tanya Najwa. Aku hanya tersenyum. Akhirnya aku memilih untuk pamit pada mereka semua dan pergi ke kamar. Bukannya bermaksud tak sopan atau menghindar. Tapi hari ini aku benar-benar lelah. Lelah hati, pikiran, dan juga lelah badan. Lagipula aku juga harus segera beristirahat dan menyiapkan semuanya untuk besok. “Semuanya maaf. Aku pergi ke kamar dulu ya? Aku mau istirahat dulu. Kalian nikamatilah waktu kalian dan bersenang-senanglah.” “Baiklah. Kamu memang harus segera istirahat. Karena besok malam kamu harus lembur.” Goda Indra lagi. Aku hanya tersenyum, lalu beranjaka dari tempat mereka dan berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar, aku merebahkan tubuhku di ranjang. Aku membuka ponselku dan membuka pesan yang telah dikirimkan Aqila. “Assalamualaikum mas. Mas Eshan sedang apa? Apa mas Eshan sudah tidur?” Pesan Aqila. “Wa’alaikum salam. Ini mau tidur. Kenapa kamu belum tidur?” Balasku. “Aqila nggak bisa tidur mas.” “Kenapa?” “Nggak tahu mas. Perasaan Aqila nggak tenang, gelisah. Mungkin kepikiran acara besok.” “Sudah nggak usah dipikirkan lagi. Kamu tenang saja. InsyaAllah semua acara akan berjalan dengan lancar.” “Aamin.” “Sekarang kamu ambil air wudhu biar hatimu bisa tenang. Terus berdoa dan lalu tidur.” “Baik mas. Terima kasih buat waktu dan sarannya mas.” “Sama-sama.” “Assalamualaikum mas.” “Wa’alaikum salam.” Aku sok-sokan untuk menenangkan Aqila, padahal perasaanku sendiri pun saat ini juga campur aduk. Aku juga merasakan apa yang Aqila rasakan. Aku juga tak bisa tidur. Kedua mataku hanya berkedip-kedip menatap atap langit rumah. Perasaan cemas tak menentu. Akhirnya aku melakukan apa yang aku sarankan pada Aqila. Tak begitu lama mataku pun terlelap. Begitulah aku melewati malam terakhir masa lajangku. TBC ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD