Sebuah ranjang berukuran 160x200 dengan dilapisi sprei berwarna merah muda yang berhiaskan bunga-bunga cantik menjadi tempat dimana aku dan Aqila membaringkan badan untuk melepaskan penat karena acara yang begitu padat hari ini.
Saat ini aku dan Aqila sama-sama sedang duduk di tepi ranjang namun saling membelakangi. Suasana menjadi begitu hening dan canggung. Aqila saat ini sudah mengenakan baju tidurnya. Hatiku begitu bergetar, jantungku berdetak sangat cepat. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jujur aku belum siap untuk melakukan hal itu sekarang.
“Mas Eshan…” Panggil Aqila lembut.
“Iya?”
Aqila beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiriku.
“Apa yang sedang mas Eshan pikirkan?” Aqila duduk tepat di sampingku dan menatap wajahku.
“Tidak. Aku tidak memikirkan apapun.” Bohongku tanpa berani membalas tatapan Aqila.
“Mas Eshan…!!!” Aqila menggenggam kedua tanganku.
“Sekarang Aqila sudah seutuhnya milik mas Eshan. Aqila sudah ikhlas dan ridho memberikan semua yang Aqila miliki untuk mas Eshan. Jadi mas Eshan jangan ragu-ragu untuk melakukan hal yang ingin mas Eshan lakukan.”
Deg…
Perkataan Aqila sungguh menusuk-nusuk relung hatiku. Ragu? Bukan. Aku sungguh tidak merasa ragu sama sekali. Tapi aku benar-benar tidak ingin melakukan hal itu sekarang. Aku tidak ingin menyakiti Aqila nantinya.
“Aqila…” Aku melepas genggaman tangan Aqila, lalu mengalihkan tanganku untuk memegang kedua pundak Aqila.
“Apakah kamu hari ini tidak lelah? Aku rasa kamu harus segera beristirahat. Lusa masih ada acara ngunduh mantu. Sebaiknya kamu jangan terlalu kecapekan.” Aku mencoba mencari alasan untuk menghindari melakukan hal yang seharusny dilakukan pasangan baru suami istri.
“Apa mas Eshan capek?”
“Iya. Aku rasa aku sangat lelah. Badanku rasanya pegal semua.”
“Ya sudah kalau mas Eshan memang sangat lelah, mas Eshan istirahat saja. Aqila mau pergi ke kamar mandi buat cuci muka dulu.”
Tanpa menunggu balasan dariku, Aqila langsung beranjak dan pergi melangkah menuju kamar mandi. Aku tahu, pasti saat ini Aqila merasa sangat sedih dan kecewa. Tapi aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku ingin melakukan itu jika hatiku benar-benar sudah bisa menerima Aqila. Karena aku tidak ingin menyakiti Aqila lebih dalam lagi.
Saat Aqila kembali dari kamar mandi, aku sudah berbaring di ranjang dengan berselimut. Posisiku membelakangi Aqila. Aku memejamkan mataku dan pura-pura tidur.
Tak begitu lama Aqila juga menyusul membaringkan badannya di kasur. Sepertinya ia berbaring menghadap ke arahku. Karena aku bisa merasakan deru nafasnya.
“Ternyata kamu memang benar-benar kecapekan ya mas. Baru aku tinggal sebentar kamu udah tertidur pulas. Maaf tadi aku sempat berpikir yang tidak-tidak. Selamat malam suamiku. Semoga mimpi indah.” Ucap Aqila lirih namun masih terdengar jelas di telingaku.
***
Keesokan harinya.
Jam 3 pagi Aqila sudah terbangun dan menjalankan sholat tahajud dan tak lupa Aqila juga membaca beberapa ayat Al-qur’an.
Hingga akhirnya sang mentari pun menampakkan wujudnya untuk menyinari dunia. Aqila membantu ibunya di dapur menyiapkan makanan untuk sarapan pagi ini. Setelah semuanya siap, kami pun sarapan bersama.
“Bagaimana tidur kalian semalam? Apakah nyenyak?” Tanya Ibu Ratih (Ibunya Aqila).
“Alhamdulillah nyenyak bu.” Jawab Aqila.
“Bagaimana denganmu nak Eshan? Apakah tempat tidurnya nyaman?”
“Nyaman kok bu. Eshan juga bisa tidur sangat pulas.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Oh ya bagaimana masakannya nak Eshan? Apakah kamu menyukainya? Atau kamu pengen makan sesuatu?” Tanya ibu Ratih lagi.
“Ini sangat lezat bu. Tak kalah dengan masakan ibuku. Hehehe. Tidak bu, Eshan tidak ingin apa-apa. Ini semua sudah lebih dari cukup.”
“Syukurlah kalau kau menyukainya. Ini semua Aqila yang memasaknya. Ia sengaja ingin menyiapkan semua masakan ini untukmu.”
“Benarkah bu?” Aku melihat ke arah Aqila yang tersipu malu.
“Iya. Aqila sangat pandai memasak. Jika kamu ingin makan yang lain bilang aja, biar Aqila yang memasaknya.”
“Tidak bu. Ini semua sudah membuat Eshan makan sangat lahap.”
“Ya sudah kalau begitu. Jika kamu butuh sesuatu, kamu tanyakan saja pada Aqila, atau kamu suruh saja dia. Jangan sungkan-sungkan, ini juga sudah menjadi rumah dan keluargamu sekarang.”
“Baik bu. Terima kasih banyak bu.”
“Eh tapi ngomong-ngomong, kapan kalian akan memberikan ibu cucu. Hehehe.”
Uhuk… uhuk…
Aku tersedak makananku saat mendengar pertanyaan dari ibu mertuaku. Aqila denan segera menyodorkan segelas air putih padaku.
“Ibu, kenapa ibu bertanya seperti itu?” Tanya Aqila.
“Loh emangnya kenapa? Kalian kan sudah resmi menikah. sudah sah menjadi pasangan suami istri. Emangnya ada yang salah kalau ibu bertanya seperti itu?”
“Iya sih bu. Tapi kan kami juga baru kemarin menikahnya. Masa udah ditanyain begitu bu?”
“Ya nggak papa dong. Kan lebih cepat lebih baik. Cepetan das des gitu loh. Ibu udah nggak sabar pengen gendong cucu. Iya kan pak?”
“Udah buk… Jangan godain mereka terus. Nanti kalau udah waktunya dikasih sama Allah juga akan ada.”
“Bener kata bapak. Semua itu kan udah Allah yang ngatur to bu.”
“Udah nggak usah dimasukin dalam hati nak Eshan. Ibumu ini emang suka bercanda begitu.”
“Iya pak. Tidak apa-apa.”
Kujawab dengan senyuman. Sebenarnya aku agak risih dengan percakapan ini. Bagaimana tidak, orang aku dan Aqila saja belum pernah melakukan hubungan suami istri. Apalagi aku sama sekali belum berniat untuk melakukannya.
Aku jadi kepikiran akan hal itu. Bagaimana caraku berbicara pada Aqila, kalau aku belum siap untuk melakukan hubungan suami istri dengannya. Untuk semalam, aku punya alasan capek untuk menghindarinya. Tapi bagaimana dengan malam-malam berikutnya. Apa yang harus aku lakukan.
“Nak Eshan…” Panggil Bapak Muhsin.
“Mas Eshan… mas…” Aqila memengang pundakku dan membuyarkan lamunanku.
“Iya, ada apa?”
“Dipanggil bapak mas.”
“Ahh iya pak, maaf. Ada apa pak?”
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Tidak pak. Tidak ada.”
“Nanti selesai sarapan, kamu ikut bapak ya? Ada yang ingin bapak bicarakan padamu.”
“Baik pak.”
Akhirnya kami pun selesai sarapan. Kini aku dan bapak mertuaku sudah duduk di taman belakang rumah. Sebenarnya aku sedikit gugup dan cemas saat berhadapan dengan bapak Muhsin. Karena beliau terlihat berwibawa dan berkarisma banget, tapi sebenarnya beliau sangat baik dan ramah.
“Bagaimana dengan pekerjaan kamu nak? Kamu ambil cuti berapa hari?” Tanya Bapak Muhsin.
“Alhamdulillah lancar pak. Eshan ambil cuti seminggu pak.”
“Eshan, bapak pengen ngomong hal penting padamu. Bapak harap kamu tidak keberatan.”
“Tentu saja tidak pak.”
“Setelah ijab qobul kemarin, itu artinya bapak telah menyerahkan anak semata wayang bapak kepadamu. Kini Aqila sudah sepenuhnya menjadi milikmu dan menjadi tanggung jawabmu.”
“Iya pak.”
“Kamu sudah tahu kan kalau Aqila adalah anak semata wayang bapak dan ibumu ini. Jadi kami berdua sangat menyayangi dan menjaga Aqila dengan sangat baik. Mungkin tanpa sadar ternyata kami sangat memanjakan dia dan mungkin juga itu membuatnya memiliki sifat yang kurang dewasa. Bapak harap kamu bisa memakluminya dan bisa merubahnya sedikit demi sedikit. Bapak yakin Aqila masih banyak kekukarangan sebagai seorang istri, jadi bapak mohon kamu bimbing dia dan ajari dia agar bisa menjadi istri yang baik dan sholehah.”
“Insya Allah Eshan akan melakukan apa yang Eshan bisa pak.”
“Apa kamu sudah mempunyai rencana kedepannya untuk rumah tangga kalian?”
“Maksud bapak rencana apa?”
“Ya misalnya rencana setelah kalian sudah menikah ini, apakah kalian mempunyai rencana untuk tinggal di rumah sendiri atau kalian mau tinggal di rumah ibumu atau disini juga boleh.”
“Kalau masalah itu kami belum membahasnya pak.”
“Baiklah. Apapun keputusan kalian, kami sebagai orang tua tidak akan ikut campur. Tapi jika kalian membutuhkan saran atau nasehat, kami sebagai orang tua akan selalu membantu yang terbaik buat kalian. Oh ya bapak juga ingin berpesan, suatu hari kalian pasti akan menghadapi suatu masalah, bapak harap kalian bisa menyelesaikan masalah itu berdua dengan kepala dingin. Dan jika Aqila melakukan kesalahan, tolong kau tegur dia, lalu kau benarkan dia.”
“Iya pak. Eshan akan berusaha yang terbaik.”
“Terima kasih nak Eshan.”
“Tidak pak. Seharusnya Eshan yang berterima kasih, karena bapak telah mempercayakan anak semata wayang bapak kepada Eshan.”
“Karena bapak yakin, kamu adalah anak yang baik.”
TBC
***