Malam hari.
“Mas Eshan, kalau malam ini Aqila mau tidur dengan ibu boleh tidak?”
“Memangnya kenapa?”
“Aqila ingin menghabiskan waktu bersama ibu dulu, karena besok Aqila sudah akan berpisah dengan ibu.”
“Oh ya sudah tidak papa kalau itu memang alasan kamu.”
“Berarti mas Eshan mengijinkan?”
“Tentu saja.”
“Terima kasih mas.”
“Iya. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Jadi silahkan kamu menikmati waktumu dengan ibumu. Aku tidak akan mengganggu kalian.”
“Kalau begitu aku pergi menemui ibu dulu ya mas. Jika mas Eshan butuh apa-apa, panggil saja Aqila.”
“Iya. Kamu tenang saja.”
Aqila pun keluar dari kamar dan pergi menuju kamar ibunya. Sebenarnya aku juga merasa sangat senang dan lega, karena aku tak perlu mencari alasan lagi untuk menghindar tidak melakukan hubungan suami istri dengan Aqila malam ini.
***
Keesokan harinya.
Saat ini aku dan Aqila sedang dirias untuk acara ngunduh mantu. Sedangkan yang lainnya juga sedang bersiap-siap. Ngunduh mantu adalah istilah yang berasal dari bahasa Jawa, ngunduh artinya panen atau memanen sedangkan mantu artinya adalah menantu. Singkat cerita, acara ngunduh mantu dilakukan ketika orangtua menikahkan anak laki-lakinya, kemudian si istri dibawa untuk tinggal bersama suami dan kedua orangtua serta keluarganya.
Tidak diragukan lagi, hari ini pun Aqila terlihat sangat cantik. Namun kecantikannya belum bisa menggetarkan hatiku.
Setelah semua siap, aku, Aqila, tentu saja kedua orang tuanya, dan tak lupa juga keluarga besar, kerabat, dan beberapa tetangga Aqila berangkat menuju ke rumahku. Acara ngunduh mantu kali ini akan dilakukan sangat sederhana.
Tak lama kemudian kami pun sampai. Kedatangan kami juga disambut dengan lantunan sholawat yang diiringi oleh grup rebana. Aku dan Aqila diiring menuju ke tempat pelaminan yang sudah disediakan.
Acara demi acara pun telah berlangsung hingga paripurna. Semua keluarga dari Aqila pun berpamitan, termasuk juga kedua orang tua Aqila. Saat kedua hendak berpamitan dengan kedua orang tuanya, Aqila pun berderai air mata, begitu juga dengan ibunya. Aku sangat memahami perasaaan mereka. Bagaimana tidak, anak semata wayangnya, yang biasa mereka manjakan, kini harus mereka tinggalkan dan hidup bersama dengan keluarga asing.
“Kamu jaga diri baik-baik ya nak. Turuti semua perintah suamimu. Jadilah istri yang baik. Semoga keluargamu selalu dalam kebagahian dan sehat selalu.” Pesan ibu Ratih pada Aqila.
“Iya bu. Ibu juga diri baik-baik. Jangan banyak pikiran. Jika ada apa-apa segera hubungin Aqila.” Ucap Aqila dengan tangisan sesegukan sambil memeluk ibunya.
“Nak Eshan, ibu titip Aqila ya.”
“Iya bu. Ibu jangan khawatir. Eshan akan berusaha menjaga anak ibu dengan baik.”
“Terima kasih nak. Kalau begitu kami pamit dulu.”
“Bapak dan ibu hati-hati dijalan.”
Akhirnya semua keluarga Aqila beserta tamu undangan lainnya pergi meninggalkan tempat.
****
Sore hari.
Aku sedang duduk bersama ibu dan adikku di ruang tamu. Sedangkan Aqila sedang merapikan beberapa pakaiannya yang ia bawa dari rumah.
“Dimana istrimu?” Tanya Ibu.
“Sedang merapikan pakaiannya bu.”
“Kenapa malah kamu tinggal dan tidak kamu bantu dia?”
“Tadi Eshan sudah menawarkan diri. Tapi katanya, dia bisa melakukannya sendiri.”
“Mas Eshan memang nggak pekaan. Seharusnya meskipun mbak Aqila bicara seperti itu, mas Eshan tetap membantunya, atau paling enggak menemaninya. Saat mbak Aqila sedang memasukkan pakaiannya ke dalam lemari, tiba-tiba mas Eshan memeluknya dari belakang. Wow… sungguh romantis sekali. Kayak di drakor-drakor itu loh mas.”
“Bu, lihat anak gadismu satu ini. Sudah menjadi korban drakor.”
“Biarin. Wek… wek… Dari pada mas Eshan, pengantin baru kok nggak ada romantis-romantisnya sama sekali. Padahal rata-rata seorang cewek itu sangat suka diromantisin. Makanya mas, sesekali mas Eshan juga nonton drakor, dan belajar.”
“Kamu itu anak kecil sok tahu.”
“Tapi apa yang dibilang adik kamu itu ada benarnya juga loh. Cobalah bersikap sedikit lembut dan romantis pada nak Aqila. Itu akan membuat hubungan kalian semakin dekat.”
“Tapi kan ibu tahu sendiri aku bukan tipikal laki-laki seperti itu. Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan. Apalagi bersikap romantis, itu sama sekali bukan diriku. Aku tidak bisa.”
“Haih, mas Eshan… mas Eshan… Semoga saja mbak Aqila betah mempunyai suami seperti mas Eshan.” Ucap Bella kesal sendiri.
“Udah, kamu anak kecil nggak usah ikut campur.”
“Baiklah orang dewasa yang tidak tahu apa-apa. Anak kecil ini mau menghampiri kakak ipar dulu. Bella ingin memberi semangat kepada mbak Aqila agar sabar menghadapi patung berjalan. Hahaha.”
“Apa kamu bilang?”
“Patung berjalan. Hahahaha.” Ejek Bella padaku sambil berlari menghampiri Aqila yang berada di kamar.
****
“Hallo mbak Aqila.” Sapa Bella saat memasuki kamar.
“Hai Bella.”
“Apa mbak Aqila butuh bantuan? Adikmu ini akan dengan senang hati membantu. Hehehe.”
“Tidak perlu Bel. Sebentar lagi juga akan selesai kok.”
“Baiklah. Kalau begitu Bella akan menemani mbak Aqila disini sampai selesai.”
“Memang dimana ibu sama mas Eshan?”
“Mereka sedang duduk di ruang tamu mbak.”
“Kenapa kamu nggak gabung sama mereka?”
“Nggak ah mbak. Bella males sama mas Eshan. Lebih baik disini sama mbak Aqila.”
“Memang kenapa mas Eshan? Dia nakalin kamu?”
“Iya. Mas Eshan selalu jahat kalau sama Bella.”
“Masa sih? Setahu mbak, mas Eshan sangat sayang sama Bella.”
“Mana ada. Orang tiap hari aja kita berantem terus. Mbak Aqila aja yang belum terlalu mengenal mas Eshan.”
“Bener juga sih. Kalau begitu kamu ceritain dong tentang mas Eshan kepada mbak.”
“Cerita tentang apa mbak?”
“Ya cerita tentang apa aja tentang mas Eshan. Misalnya makanan atau minuman kesukaannya apa? Hobinya apa? Warna kesukaannya apa? Cita-citanya apa? Hehehe.”
“Mbak Aqila bisa aja, kayak ngisi biodata tahu nggak sih. Hahaha. Sebenarnya Bella malas banget nyeritain tentang mas Eshan. Apalagi tentang yang baik-baik. Eh tapi perasaan nggak ada yang baik dari mas Eshan deh. Hehehe.”
“Hahaha. Kamu itu ya.”
“Tapi demi hubungan baik mbak Aqila dengan mas Eshan Bella harus menceritakannya. Makanan favorit mas Eshan itu udang asam pedas, kalau minumnya green tea, lemon tea, kayaknya apapun suka yang penting bukan yang bersoda-soda. Terus kalau hobinya mas Eshan apa ya? Kayaknya hobinya bikin emosi orang deh kak. Warna kesukaan mas Eshan Aqila nggak tahu, mungkin semua warna mas Eshan suka. Terus apa lagi yang inin mbak Aqila ketahui tentang mas Eshan?”
“Emm… apa ya? Oh ya , mas Eshan udah pernah punya pacar belum?”
“Sepertinya sudah, tapi itu udah dulu banget kak. Kayaknya waktu mas Eshan SMA. Waktu itu Bella masih kecil banget.”
“Kalau saat mas Eshan kuliah?”
“Kalau saat mas Eshan kuliah, Bella nggak tahu mbak. Mas Eshan kan kuliahnya dijauh sana. Lagipula mas Eshan juga nggak pernah cerita. Mas Eshan itu tipikal orang pendiam mbak, jarang mau curhat sama orang.”
“Oalah begitu. Terima kasih buat semua informasinya ya Bel.”
“Sama-sama mbak. Nggak ada yang mau ditanyakan lagi?”
“Untuk sekarang nggak ada Bel. Mungkin cukup itu dulu saja.”
“Baiklah mbak. Jika mbak Aqila butuh sesuatu atau perlu bantuan, jangan sungkan panggil Bella aja. Apalagi kalau mas Eshan jahatin mbak Aqila. Bilang sama Bella. Biar Bella maju paling depan sendiri membela kubu mbak Aqila melawan mas Eshan, meskipun mas Eshan kakak kandung Bella.”
“Hahaha. Iya sayang, tenang saja. Kamu lucu banget sih.”
“Ya udah mbak, Bella mau wudhu dulu, udah adzan maghrib. Ayo kita sholat berjama’ah mbak, sama ibu dan mas Eshan.”
“Iya Bel. Nanti mbak menyusul.”
TBC
***