10. Unboxing

1265 Words
Seminggu sudah hari pernikahan aku dan Aqila berlalu. Namun kami belum melakukan hubungan suami istri. Entah kenapa ada aja alasan yang aku dapatkan untuk menghindarinya, dan Aqila pun juga selalu diam tak pernah protes. Begitu juga malam ini, aku juga sudah menyiapkan alasan. Setelah aku selesai menyiapkan materi untuk bahan mengajar perkuliahan besok, aku pun memutuskan untuk segera istirahat dan pergi ke kamar. Karena hari pun juga sudah semakin larut. Namun saat aku membuka pintu kamar, betapa terkejutnya aku saat melihat Aqila. “Ya Tuhan, kenapa Aqila berpakaian seperti itu?” Aku benar-benar frustasi menatap Aqila saat ini. Bagaimana bisa Aqila yang biasa memakai pakaian yang sangat sopan, tapi saat ini ia mengenakan lingerie berwarna merah yang memperlihatkan lekukan-lekukan tubuhnya, sehingga membuatnya terlihat sangat sexy. Yang lebih membuatku heran, ternyata Aqila yang terlihat sangat pendiam dan polos juga mempunyai pakaian seperti itu, bahkan ia berani memakainya di depanku saat ini. Biar bagaimana pun aku masih laki-laki yang normal yang akan terangsang bila melihat wanita yang berpakaian seperti itu yang berada tepat di hadapannya. “Kenapa belum tidur?” Tanyaku sambil berjalan menundukkan kepalaku dan mengalihakan pandanganku dari Aqila menuju ke tempat tidur. Jika aku terus-terus menatapnya, entah apa yang akan terjadi. Mungkin nafsuku tidak akan bisa terkendali. “Nungguin mas Eshan.” “Ya sudah ayo tidur. Ini sudah larut malam.” “Mas Eshan!” Aku yang sudah berusaha mengalihkan padanganku pada Aqila. Namun Aqila yang semula duduk di bangku rias, kini malah berjalan menghampiriku. Dan saat ini ia sudah duduk di hadapanku. “I-iya? Ada apa?” Jawabku gugup. Bagaimana tidak gugup, saat ini lekkan tubuh Aqila terlihat sangat jelas di depan mataku. Kedua buah bukit kembar yang menonjol dan menantang terlihat jelas dari balik busana Aqila. Lehenya yang jenjang, putih, dan mulus. Bibirnya yang merah ranum. “Astaghfirullahal ‘azim. Tahan Eshan, kamu harus bisa menahannya.” Gumamku dalam hati. “Sebenarnya ada apa dengan mas Eshan? Mas Eshan kenapa? Atau Aqila ada salah dengan mas Eshan?” Tanya Aqila dengan suara bergetar. “Mak-maksud kamu apa?” “Kenapa mas Eshan tak mau menyentuh Aqila? Apa Aqila punya salah sama Eshan? Atau mas Eshan jijik sama Aqila?” Aqila mulai menitikkan air matanya. “Tidak. Tidak. Bukan begitu. Kamu tidak punya salah.” “Lalu kenapa? Kenapa mas Eshan tak mau menyentuh Aqila? Meskipun Aqila wanita bodoh, tapi Aqila paham setiap malam mas Eshan selalu menghindar untuk melakukan hubungan suami istri. Aqila sudah mencoba untuk diam dan tetap bersabar. Aqila pikir mungkin ada alasan lain yang mas Eshan miliki. Tapi sampai kapan Aqila harus bersabar mas? Sampai kapan? Aqila ini adalah istri sah mas Eshan. Aqila berhak mendapatkan apa yang seharusnya Aqila dapatkan. Aku kira mas Eshan pasti paham masalah agama tentang hak dan kewajiban pasangan suami istri. Atau mas Eshan seben….” Air mata Aqila sudah tak terbendung lagi dan mengalir dengan deras. Cup… Ucapan Aqila terhenti, karena aku mengecup bibirnya. Kuusap air mata yang membasahi pipinya. Aku tatap kedua matanya yang terlihat begitu sayu. Kali ini aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Nafsuku sudah benar-benar lebih besar daripada perasaanku. Aku kembali menautkan bibirku di bibirnya yang sedari tadi sungguh sangat menggoda. Namun kali ini bukan hanya kecupan, melainkan lumatan penuh nafsu, yang juga mendapatkan balasan dari Aqila, sehingga membuatku semakin tak terkendali. Sesuatu yang terus aku hindari setiap malam, akhirnya terjadi juga. Malam ini aku benar-benar telah dikalahkan oleh nafsuku, Hingga akhirnya kami berdua pun merasa sangat kelelahan dan mengakhiri kegiatan malam ini dan mengambil pakaian kami yang telah tersebar, kemudian memakainya kembali. Tiba-tiba aku kembali tersadar. Tidak seharusnya aku melewati batas seperti ini. Sekarang bagaimana aku harus menghadapinya. “Maaf.” Ucapku lirih. “Kenapa mas Eshan minta maaf? Emang mas Eshan salah apa?” “Pokoknya apapun yang terjadi sekarang atau nanti, aku minta maaf.” Aku memeluk Aqila. “Aqila juga minta maaf, jika perkataan Aqila tadi sudah berlebihan. Dan Aqila juga minta maaf kalau Aqila sempat berburuk sangka terhadap mas Eshan.” Aku hanya tersenyum. Malam ini pun berakhir dengan aku dan Aqila tertidur dengan saling memeluk. *** Pagi hari. Aqila sedang membantu ibu menyiapkan sarapan. Sedangkan aku sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Karena hari ini aku ada kelas pagi. Setelah siap, aku menyusul yang lain ke meja makan. “Mas Eshan, ini Aqila buatkan grean tea hangat. Kata Bella ini minuman kesukaan mas Eshan.” “Oh iya terima kasih.” Aku melirik ke arah Bella dan dia hanya tersenyum. Aku khawatir, apa saja yang sudah Bella katakan pada Aqila tentangku. Ini tidak bisa dibiarkan. Nanti akan aku introgasi dia. “Mari kita sarapan, ini semua Aqila yang menyiapkan.” Ucap Ibu. “Wow, kelihatannya sangat enak. Bella sudah tidak sabar ingin makan.” Semuanya pun menyantap makanan yang telah dimasak oleh Aqila. Jujur, ini memang enak. Aqila memang sangat pandai memasak. “Bagaimana mas Eshan? Masakannya mbak Aqila enak kan? Tidak kalah dengan ibu.” Tanya Bella padaku. “Enak. Tapi masih enakan masakan ibu.” “Eshan!!!” “Mas Eshan!!!” Teriak Ibu dan Bella bersamaan. “Kalian kenapa? Apa aku salah?” Ibu dan Bella hanya diam dan melototiku saja. “Tidak papa bu. Mungkin Aqila memang harus banyak belajar memasak lagi dengan ibu.” Ucap Bella dengan tenang dan tentunya dengan senyuman di bibirnya. “Eh tunggu dulu, Bella lihat dari tadi kok sepertinya mbak Aqila kelihatan ceria dan bahagia banget pagi ini? Apakah terjadi sesuatu? Atau ada kabar baik?” Uhuk… uhuk… Aqila pun tersedak makanannya mendengar pertanyaan Bella, adikku yang super kepo dan cerewet satu ini. “Pelan-pelan nak. Ini minum dulu.” Ibu menyodorkan segelas air pada Aqila. “Maaf. Terima kasih bu.” “Kamu ini ya, dasar tukang kepo, tukang ikut campur urusan orang, super cerewet, super bawel.” Ucapku sedikit kesal pada Bella. “Kok mas Eshan sewot sih. Emang ada yang salah dengan pertanyaan Bella? Bella kan cuman ingin tahu kenapa mbak Aqila bahagia banget hari ini. Siapa tahu mbak Aqila bisa berbagi cerita. Biar kami juga ikut merasakan kebahagian yang mba Aqila rasakan.” “Sudah ah sudah. Kalian ini setiap bersama di meja makan kok berantem terus sih. Apa nggak malu sama Aqila?” Ibu mencoba melerai perdebatan aku dan Bella. “Hehehe. Tidak papa bu.” Ucap Aqila. “Lagian mas Eshan duluan tuh yang mulai duluan. Setiap apapun yang Bella lakukan atau katakan, selalu salah di mata mas Eshan.” “Lagian kamu anak kecil, mau tahu aja urusan orang dewasa.” “Kenapa mas Eshan selalu menganggap aku anak kecil? Aku tuh udah besar mas. Kalau mas Eshan lupa, kalau aku udah menstruasi loh.” “Ya Allah. Kenapa malah diterus-terusin? Sepertinya ibu sudah tidak kuat lagi.” Ucap ibu sambil mengelus-ngelus dadanya dan menundukkan kepalanya. “Ibu? Ibu kenapa?” Ucapku dan Bella bersamaan. “Maafin Eshan bu.” “Maafin Bella juga bu.” “Ya sudah kalau begitu kalian lanjutkan sarapan dengan tenang. Lalu segera berangkat.” “Baik bu.” Ucapku dan Bella. Suasana pun kembali tenang. *** Aqila POV “Terima kasih mas. Kalau mas Eshan tidak membantuku menjawab pertanyaan Bella. Aku tidak tahu akan menjawabnya bagaimana. Aku tidak menyangka akan sebahagia ini setelah kejadian semalam. Kini aku merasa sudah menjadi seorang istri seutuhnya.” Gumamku dalam hati sambil menatap mas Eshan dengan senyum kebahagian. Aku juga harus berterima kasih pada Novi sahabatku. Karena saran dan kado darinya, akhirnya aku bisa merasakan hal luar biasa. Kupikir rencana itu tak akan berhasil dan kukira mas Eshan akan menganggapku sebagai w************n. Ternyata itu hanya perasaanku saja yang terlalu curiga dan berlebihan. TBC ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD