Nia memandangi Aliya yang tengah belajar dengan gurunya dari jarak sekitar sepuluh meter. Dari wajahnya Nia tahu bahwa anak itu pasti sedang tidak enak hati. Wajahnya ditekuk kala sang guru terliha begitu bersemangat untuk menjelaskan. Untung tadi Evan berangkat agak siang ke sekolah. Ia berangkat setelah guru Aliya datang. Nia bisa pastikan jika saja Evan pergi lebih dulu, anak itu pasti akan mencari cara agar tidak belajar.
Memangnya apa susahnya belajar sih? Rasanya pelajaran kelas lima SD tidak ada yang susah. Ya memang itu menurut Nia, wanita dewasa yang sudah sangat lama mempelajari itu, tapi tetap saja sekolah adalah kewajiban yang harus dilakukan. Sebenarnya Nia bingung kenapa Aliya bersekolah homeschooling. Bukankah akan lebih seru jika sekolah biasa? Ia bisa bermain bersama anak-anak seusianya.
Nia tiba-tiba teringat masa kecilnya. Nia sangat suka masa-masa saat ia bersekolah dulu. Baginya hanya di sekolahlah ia bisa belajar sambil bermain. Melupakan sejenak suasana rumah yang tidak senyaman rumah-rumah lain. Bertemu dengan teman-teman dan bermain bersama adalah saat-saat yang menyenangkan bagi Nia. Ia ingin mengulang masa kecilnya. Tapi jika dipikir-pikir lagi, ia tidak begitu berminat jika harus mengulang apa yang sudah berusaha mati-matian ia lalui selama ini.
Nia terkesiap saat melihat guru Aliya mulai berkemas, tampaknya jam belajar sudah usai. Guru itu berpamitan pada Nia sebelum pergi.
"Gimana belajarnya hari ini?" Tanya Nia bersemangat. Biasanya anak-anak selalu suka diberi pertanyaan dan akan menjawab dengan begitu antusias. Setidaknya begitulah adiknya dulu. Aliya menatap Nia tanpa minat kemudian berlalu pergi begitu saja. Nia mengerucutkan bibirnya, bisa-bisanya ia yang begitu bersemangat malah dicueki seperti itu.
"Abis ini Aliya mau ngapain?" Tanya Nia menyusul langkah kecil Aliya yang menaiki memasuki lift rumahnya. Tahu akan kemana Aliya membuat Nia langsung menekan lantai tiga dimana kamar Aliya berada.
"Mbak bisa gak nanya-nanya gak?" Kata Aliya ketus.
"Mbakkan dibayar pak Evan buat kerja sama Aliya, jadi mbak harus tahu Aliya mau ngapain," jawab Nia santai. Aliya menyipitkan matanya. Diantara orang yang dibayar ayahnya untuk menemaninya, hanya Nia lah yang tampak begitu banyak bicara meskipun Aliya sudah memberi signal-signal bahwa ia sedang tidak ingin diganggu. Hal itu benar-benar membuat Aliya semakin kesal.
"Aku mau main game, jadi gak usah diikutin," katanya memperingati.
"Oh mau main game. Tapi jangan lupa ya, gak boleh beli game yang berbayar. Kata pak Evan cuma boleh beli game waktu weekend doang," ucap Nia mengingatkan.
"Uang itu uang daddy aku, jadi terserah aku mau pakai kapan."
"Tapikan yang tau cara belinya mbak, jadi cuma mbak yang bisa beliin." Aliya memasang wajah marah sementara Nia tersenyum seolah tidak merasa bersalah.
"Mbak rese! Aku gak suka mbak Nia!" Aliya berlari memasuki kamarnya kemudian menghempaskan pintu membuat Nia agak tersentak kaget. Ia hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Aliya yang masih sama saja. Anak itu benar-benar keras kepala. Ia terlihat begitu dimanjakan hingga membentuk kepribadiannya yang selalu ingin mendapatkan apapun yang ia mau.
"Aliya, jangan lupa jam setengah dua ada les piano ya," kata Nia dari luar pintu kamar. Tidak ada jawaban. Nia mengedikkan bahunya, sepaling tidak ia sudah mengingatkan.
Nia memutuskan untuk duduk di ruangan yang berada di depan kamar Aliya, menunggunya hingga ia keluar sendiri nanti. Pekerjaan Nia sebenarnya begitu santai, tapi tidak santai untuk batinnya. Sembari duduk, Nia mengeluarkan ponselnya. Ia baru teringat sejak kemarin ia belum menghubungi ibunya. Kemarin karena kelelahan pulang bekerja dan badannya terasa pegal-pegal, Nia langsung tidur dan tidak sempat menghubungi ibunya. Akhirnya Nia pun memutuskan untuk menelfon ibunya yang saat ini sedang ada di Jogja.
"Hallo Ibuk."
"Hallo Nia." Nia tersenyum mendengar suara damai ibunya. Benar yang dikatakan bibinya bahwa semakin hari ibunya semakin membaik. Ia kini jauh lebih tenang. Sesuai dugaan, suana rumahlah yang membuat keadaan ibunya memburuk dulu. Harusnya sudah sejak lama Nia membawanya pergi dari rumah itu. Ya hanya membawa ibunya saja pergi, tidak dengan Nia dan adiknya. Jujur saja, Nia tidak tega meninggalkan ayahnya seorang diri mau bagaimanapun sikapnya.
"Ibuk apa kabar? Udah makan?"
"Ibuk sehat, baru aja selesai makan. Tadi bibi kamu bikin pepes." Lagi-lagi Nia tersenyum. Ibunya bahkan sekarang sudah banyak bicara.
"Ibu kalau butuh apa-apa bilang aja sama bibi ya, nanti Nia kirimkan uangnya."
"Gak usah Nak, uangnya ditabung aja. Nia susah-susah kerja kok buat ibuk terus." Hati Nia terasa menghangat sekaligus tercubit mendengar ucapan ibunya itu.
"Ya gak papa Buk. Nia gak butuh apa-apa."
"Sini main-main ke Jogja kalau ada libur."
"Iya, nanti kalau ada libur Nia bawa Windi ke Jogja ya."
"Iya, disini suasananya enak banget. Kalau uang Nia udah banyak kita pindah ke Jogja ya." Nia mengangguk mendengar ucapan sang ibu meskipun tahu sang ibu tidak akan melihatnya.
Baru saja Nia akan menjawab lagi, tiba-tiba pintu kamar Aliya terbuka. Anak itu berlari keluar kamar memasuki lift.
"Buk udah dulu ya. Nanti Nia telfon lagi." Nia langsung menutup telfonnya dan bergegas menyusul Aliya, sayangnya pintu lift sudah tertutup. Nia segera menuju tangga untuk ke lantai bawah. Kenapa anak itu berlari begitu tergesa-gesa tadi?
Nafas Nia naik turun karena berlarian di tangga. Takut jika sesuatu terjadi pada Aliya yang begitu terburu-buru. Saat sampai di lantai satu, yang Nia lihat adalah Aliya sedang berada di pelukan seseorang. Seorang wanita tinggi langsing dengan wajah cantik dan penampilan yang sangat menarik. Keduanya terlihat begitu akrab. Namun siapa wanita itu? Ini kali pertama Nia melihatnya.
"Mommy dari mana aja sih?" Tanya Aliya dengan wajah merajuk membuat wanita itu tersenyum hangat. Mendengar panggilan Aliya pada wanita itu Nia bisa langsung menyimpulkan bahwa ia adalah ibu Aliya. Ah akhirnya ia bisa bertemu dengan ibu Aliya juga.
"Mommykan kerja Sayang," jawabnya mengelus pucuk kepala sang anak.
"Mau jalan-jalan gak?"
"Mau... mau..."
"Kita belanja ya..."
"Mau Mom, mau komik baru."
"Boleh Sayang."
"Yeayyyy..." Aliya langsung melompat-lompat bahagia.
"Ya udah yuk."
"Maaf sebelumnya Buk," Nia memberanikan diri untuk berbicara membuat wanita itu yang tadinya sudah menggandeng tangan Aliya untuk membawanya pergi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Nia dengan dahi yang mengernyit heran. Sama seperti Nia, ia juga pasti merasa asing dengan kehadiran Nia.
"Oh iya, perkenalkan saya Nia Buk."
"Panggil Nyonya," potongnya cepat.
"Ah iya, maaf Nyonya. Perkenalkan, saya Nia, asisten Aliya saat ini," kata Nia memperkenalkan diri jaga-jaga jika Evan belum memperkenalkan Nia pada istrinya itu.
"Terus?" Tampaknya wanita itu sedang tidak ingin basa basi.
"Apa Nyonya sama Aliya mau keluar?"
"Iya."
"Tapi Aliya sebentar lagi ada les piano Nyonya."
"Batalin." Tanpa mengucapkan apa-apa lagi wanita itu kembali menggandeng Aliya pergi keluar rumah.
Nia menghela nafas sejenak. Kini ia tahu dari mana sifat Aliya itu berasal.
***
"Jadi perginya udah dari tadi siang?" Nia mengangguk takut-takut pada Evan meskipun Evan sebenarnya tidak memperlihatkan raut marah sama sekali. Hanya saja ia merasa tidak enak pada Evan karena Evan terlihat begitu terkejut saat Nia mengatakan bahwa Aliya pergi bersama ibunya. Nia pikir ia tidak perlu memberi tahu Evan karena Aliyakan pergi dengan ibunya, pasti ibunya sudah memberi tahu Evan terlebih dahulu.
"Lain kali kamu harus selalu ikuti Aliya kemanapun dia pergi ya," kata Evan.
"Baik Pak."
"Amanda kemana sih, ditelfon gak diangkat. Udah malam gini, Aliya kan besok sekolah," Evan berbicara sendiri sembari berusaha menghubungi seseorang melalui telfon.
"Daddy..." panggilan itu membuat fokus Evan teralihkan.
"Aliya, kamu kemana aja Sayang?"
"Tadi aku pergi jalan-jalan sama mommy, ketemu oma sama opa juga," jawabnya.
"Dia kan pergi sama aku Van, kenapa pakai dicariin segala sih."
"Tapikan udah malam Man, aku udah bilangkan kalau bawa Aliya keluar pulangnya jangan kemalaman."
"Iya-iya, maaf ya..." wanita yang Nia tangkap bernama Amanda itu mengelus lengan Evan. Nia merasa posisinya disini agak canggung berada di tengah-tengah keluarga ini.
"Nia, Antarin Aliya ke kamar ya."
"Baik Pak."
"Sayang, langsung tidur ya, besokkan mau sekolah."
"Okey Daddy. Bye Mommy."
"Good nite sweety." Amanda mencium dahi Aliya lembut sebelum Aliya berlalu ke kamarnya. Melihat Aliya yang sudah berjalan menuju kamar membuat Nia membuntutinya dari belakang.
"Aliya kemana aja tadi? Pasti seru deh jalan-jalan sama mommy-nya."
"Gak usah kepo deh," jawab Aliya ketus membuat Nia langsung tutup mulut. Tampaknya untuk ke depannya ia tidak perlu bertanya-tanya lagi.
***
Nia keluar dari lift sembari melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hari ini Evan memang pulang agak lambat, belum lagi tadi Nia harus menunggu Aliya dan ibunya pulang dulu karena merasa tidak enak jika harus pulang begitu saja.
"Kamu pulang pakai apa?" Nia agak kaget saat melihat Evan masih ada di ruangan yang sama dengan ruangan ia menunggu Aliya tadi. Kini ia hanya sendiri disana.
"Pakai ojek online Pak."
"Emangnya jam segini masih ada?"
"Masih sih Pak harusnya."
"Saya anterin aja."
"Eh jangan Pak." Nia langsung menolak cepat. Yang benar saja, mana mungkin bosnya malah mengantarkan dia pulang.
"Gak papa Pak saya bisa sendiri kok. Tinggal pesan aja ini."
"Rumah kamu agak jauhkan dari sini? Bahaya malam-malam pakai ojek online. Mulai besok kamu akan saya siapkan satu supir untuk antar jemput." Mata Nia membola mendengarnya.
"Gak usah Pak, gak usah repot-repot."
"Ya terserah sih kalau masih mau kerja disini." Evan berdiri di hadapan Nia dengan dua tangan ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Emangnya beneran gak papa Pak?" Tanya Nia merasa tidak enak.
"Ya gak papalah. Kalau kamu kenapa-kenapa di jalankan saya juga yang bakal dibawa-bawa," kata Evan sembari tertawa kecil.
"Yaudah deh Pak, terserah Bapak aja."
"Gitu dong, pasrah."
"Ha?"
"Ya maksdnya nurut."
"Ho?"
"Ha ho ha ho aja. Yuk saya antar ke supir kamu." Evan mendahului Nia membuat Nia yang masih kebingungan mengekorinya dari belakang. Evan memanggil salah satu supir yang bekerja dengannya, tapi supir ini berbeda dengan supir Aliya. Akhirnya Nia pun diantar pulang menggunakan salah satu mobil mewah milik Evan. Nia bingung kenapa pekerjaannya menjadi terlihat begitu exclusive hingga memiliki sopir pribadi seperti ini. Tapi enak juga rasanya. Ia tidak harus pulang dengan melawan angin malam karena perjalan pulang ke rumah yang memang agak jauh.