Nia tiba dikediaman Evan pada pukul setengah delapan pagi. Biasanya di hari jumat, sabtu dan minggu Evan akan pergi bekerja agak lambat. Jadi wajar saja saat Nia sampai ia mendapati Evan masih ada di rumahnya.
"Udah sarapan?" Tanya Evan yang saat itu melewati Nia yang tengah menunggu Aliya keluar dari kamarnya. Aliya tidak suka jika dibangunkan, jadi Nia harus menunggunya bangun sendiri. Pernah Nia nekat membangunkannya, anak itu mengamuk hingga melemparkan barang-barang apa saja di kamarnya.
"Sudah Pak," balas Nia. Meskipun di rumah tadi ia hanya meneguk segelas teh manis, tapi itu masih bisa dikategorikan makan bukan? Nia bukanlah tipe orang yang harus sarapan setiap pagi sebelum beraktivitas. Ia nanti akan makan saat siang saja.
Meskipun tidak terang-terangan sedang melihat ke arah Evan, namun dari ekor matanya Nia bisa melihat pergerakan Evan yang tengah berkutat di dapur bersih, tampaknya ia sedang membuat sesuatu. Tapi jika dipikir-pikir, bukankah ia memiliki asisten rumah tangga? Kenapa ia malah mengerjakannya sendiri? Ia bahkan juga memiliki istri. Sungguh orang kaya yang mandiri. Ayah Nia saja yang sudah jelas-jelas miskin selalu malas-malasan. Selagi bisa menyuruh orang lain, ia tidak mungkin mau bergerak.
"Oh iya Nia, Aliya katanya ada tugas kerjainan tangan hari ini jadi nanti bantu dia bikinin ya. Dia minta saya bantuin, tapi kebetulan tangan saya gak rajin," ucap Evan. Tanpa sadar Nia terkekeh mendengarnya. Ia langsung menutup mulutnya saat sadar tengah menertawakan bosnya itu.
"Baik Pak."
"Mau nyoba?" Tiba-tiba Evan sudah berada di hadapan Nia dengan sepiring roti isi yang tampak menggugah selera. Sepertinya itulah yang sedari tadi ia kerjakan.
"Ah gak usah Pak," tolak Nia merasa tidak enak.
"Gak papa, ambil aja." Nia malah merasa semakin tidak enak jika harus menolaknya. Evan mengambil sepotong pula kemudian melahapnya sembari duduk di sofa yang berada di hadapan Nia. Nia sejujurnya merasa tidak nyaman karena mau bagaimanapun Evan adalah bosnya, namun Evan terlihat biasa saja duduk di satu ruangan yang sama dengan Nia seperti ini.
"Kamu sama mbak Hani udah lama kenal?" Tanya Evan. Ia tahu Nia gugup dan Evan tidak suka suasana seperti itu. Ia ingin membuat orang-orang di sekitarnya selalu merasa nyaman.
"Baru dua tahun belakangan ini Pak," jawab Nia. Evan mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Oh iya, Aliya gak nakalkan?" Tanya Evan kembali melayangkan pertanyaan agar percakapan yang mulai terasa canggung itu tidak putus. Nia tidak langsung menjawab. Sejujurnya ia ingin sekali memberitahu Evan apa saja yang sudah dilakukan anaknya itu padanya. Tapi Nia merasa ia sangat tidak profesional jika seperti itu. Lagi pula Nia merasa masih bisa mengatasinya. Jadi tidak ia belum perlu menceritakan apa-apa pada Evan.
"Enggak kok, cuma ya namanya anak-anak lebih suka main dari pada belajar," kata Nia jujur.
"Kalau dia terlalu gak bisa dibilangin, ya gak papa dimarahin. Saya butuh orang buat mewakili marahin dia karna kalau saya sendiri gak akan tega," jujur Evan. Ya, dia sejujurnya tahu bagaimana sikap anaknya yang keras kepala itu. Namun Evan benar-benar tidak tega bahkan untuk sekedar menegurnya. Bagi Evan biarlah orang lain yang menegur asal bukan dirinya.
"Jadi saya boleh marahin Aliya?"
"Boleh.. sedikit..." keduanya sama-sama terkekeh mendengar jawaban Evan. Perlahan suasana diantara mereka tidak secanggung sebelumnya. Tampaknya usaha Evan berhasil untuk membuat Nia tidak begitu takut padanya. Sejujurnya Nia bukannya takut karena tidak ada yang perlu ditakutkan dari sosok Evan. Ia luar biasa baiknya. Tapi karena baiknya itulah yang membuat Nia merasa segan terhadapnya.
"Daddy... Daddy belum pergi kerja?" Aliya tiba-tiba datang. Tampaknya ia baru bangun tidur karena rambutnya masih terlihat acak-acakan. Anak perempuan itu langsung menghampiri Evan dan duduk di pangkuannya dengan tubuhnya yang sebenarnya tidak kecil lagi.
"Daddy hari ini berangkatnya agak siangan. Aliya mau makan apa?"
"Pancake pakai sirup apel."
"Pakai keju?"
"Pakai tapi kejunya dipisah."
"Pakai buah apelnya?"
"Pakai tapi dua potong aja."
"Ya udah minggir dulu biar daddy bikinin."
"5 menit lagi Daddy." Evan pasrah dan membiarkan putrinya yang tampak masih ingin malas-malasan dalam pangkuannya. Kepalanya bersandar di d**a bidang Evan.
Diam-diam Nia tersenyum melihat pemandangan yang entah kenapa membuat perasaannya menghangat seperti itu. Betapa beruntungnya Aliya bisa merasakan hangatnya dekapan seorang ayah. Pasti rasanya sangat nyaman bisa bersembunyi dalam pelukan yang seolah mengatakan bahwa sang ayah akan melindungi sang anak dari beratnya dunia. Andai dulu Nia bisa merasakan itu.
"Okey udah 5 menit." Aliya bangkit dari posisinya dan duduk sendiri di sofa membuatkan ayahnya berlalu ke dapur. Seketika Nia baru ingat bahwa Evan selain pemilik hotel juga seorang chef. Pantas saja ia lebih suka masak sendiri.
"Aliya katanya mau bikin kerajinan ya, mau bikin apa?"
"Gak tau Mbak, bagusnya bikin apa ya?" Dalam hati Nia mencibir. Ada baiknya Evan memasukkan anaknya ini ke theater, ia tampak begitu pintar berakting. Lihatlah betapa manisnya ia menjawa pertanyaan Nia karena ayahnya masih dalam jarak jangkauan pandangannya. Padahal biasanya ia akan selalu menjawab Nia dengan begitu ketus.
"Gimana kalau kita bikin sesuatu dari botol bekas? Mbak lihat di kamar Nia ada cat, kita bisa hias pakai cat."
"Boleh.. boleh..." kata Aliya bersemangat. Nia tersenyum berharap anak itu bangun tidur benar-benar mendapat hidayah dan sudah berubah menjadi manis.
***
"Aliya, ayo sini bikin, ini ada kuasnya lagi."
"Mbak aja yang bikin, kan Mbak yang mau bikin itu." Nia menahan geramannya. Prasangka baiknya diawal tadi tampaknya tidak ada gunanya. Anak itu masih sama menyebalkannya.
"Kalau mbak yang bikin, nilainya buat mbak dong."
"Ya terserah," jawab Aliya enteng sembari asik pada gadgetnya. Nia yang masih melukis botol kosong itu melirik Aliya yang tampak benar-benar tidak ada niat untuk mengerjakan pekerjaannya sendiri. Nia bangkit dari duduknya dengan membawa satu botol yang masih polos beserta catnya.
"Nih Aliya bikin sendiri."
"Enggak."
"Tugas Aliya, itu kewajiban Aliya, jadi harus dikerjain sendiri."
"Minggir Mbak." Aliya menepis pelan tangan Nia yang menghalangi layar ponsel dengan botol dan cat yanv disodorkan.
"Letakin dulu HP-nya, kerjain ini sebentar, abis itu baru main HP lagi."
"Dibilang enggak ya enggak!" Kali ini Aliya menepis kasar hingga botol dan cat yang posisinya terbuka itu terlempar. Baju yang Nia pakai terkena percikan cat cukup banyak.
"Kenapa sih suka banget maksa-maksa? Aku gak mau lakuin yang gak aku mau. Mbak jangan sok ngatur-ngatur. Keluar aja deh dari rumah ini," kata Aliya marah kemudian berlalu pergi dengan kaki yang dihentak-hentakkan kesal.
Jika Aliya adalah adiknya, Nia sudah pastikan bahwa ia sudah menghardiknya sedari tadi. Tapi sayangnya bukan, jadi Nia harus menahan amarahnya. Apakah Nia harus membiarkan ia melakukan apapun yang dia inginkan? Kalau begitu sama saja Nia tidak bekerja.
Nia pergi untuk membilas sisa-sisa cat di bajunya. Ah padahal ini adalah baju yang belum lama ini ia beli, sayang sekali jika catnya tidak bisa hilang.
"Kenapa Nia?"
"Biasa Bik," balas Nia kala bi Asih datang melihatnya.
"Duh Aliya ada-ada aja. Yang sabar ya."
"Udah sabar banget ini Bik," jawabnya membuat Asih terkekeh. Wajah masam Nia terlihat begitu lucu. Asih membantu Nia membersihkan bagian yang tampaknya tidak bisa Nia lihat maupun di jangkau.
"Non Aliya emang gitu, ngeselin, sama kayak mamanya," kata Asih agak berbisik. Ah sudah Nia duga, kesan pertamanya bertemu dengan ibu Aliya saja sudah tidak baik.
"Mommy-nya Aliya kok jarang kelihatan ya Bik? Emang lebih sibuk dari Pak Evan? Perasaan gak pernah di rumah," tanya Nia penasaran. Sejujurnya ia memang sudah ingin menanyakan hal ini, tapi tidak pernah sempat.
"Kan emang nyonya Amanda gak tinggal disini."
"Oh ya? Kenapa?"
"Udah cerai sama pak Evan." Mata Nia membola sangkin kagetnya. Selama ini ia pikir Evan dan Amanda masih sepasang suami istri, tapi ternyata mereka sudah bercerai. Pantas saja Amanda jarang tampak di rumah ini. Tapi saat ia bertemu Amanda kala itu, ia terlihat baik-baik saja dengan Evan. Bahkan mereka terlihat seperti suami istri pada umumnya.
"Udah lama Bik cerainya?" Tanya Nia semakin penasaran.
"Baru tiga bulan." Nia mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Ia sedikit mengerti mengapa Evan memperkerjakan seseorang untuk istilahnya menemani Aliya. Mungkin agar Aliya tidak begitu kesepian.
"Tapi kok Aliya malah sama pak Evan bukannya sama bu Amanda?"
"Ya mungkin karena bu Amanda sibuk juga. Diakan wanita karier juga."
"Tapikan pak Evan juga sibuk."
"Iya sih, ah tau ah, urusan mereka," kata Asih menyadarkan Nia dari pergibahan bos mereka itu.
"Udah agak bersih nih, tinggal nyisa dikit doang," kata Asih. Nia mengangguk, untung saja bisa hilang.
"Duh abis ini apalagi yang bakal anak itu lakuin sama aku ya." Asih terkekeh mendengar ucapan Nia yang terkesan begitu frustasi itu.
"Ya banyak Mbak, tungguin aja."
"Makasih loh Bik, jawabannya menenangkan sekali," balas Nia dengan nada datar membuat Asih tertawa geli. Jika dipikir-pikir Nia cukup sabar menghadapi tingkah Aliya. Asih merasa bersyukur dirinya ditugaskan untuk membersihkan rumah meskipun rumahnya sebesar ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinyalah yang disuruh mengurus Aliya, pasti sejak awal ia sudah menyerah. Sedangkan dengannya saja Aliya tidak dekat dan selalu bersikap ketus.
***
Seperti biasa, Nia meminta supir suruhan Evan untuk menurunkannya di depan gang saja. Sebenarnya mobil bisa masuk ke dalam gang bahkan sampai ke depan rumahnya, namun Nia tidak ingin. Ia tidak ingin ayahnya melihat ia pulang dengan mobil mewah, nanti ia pasti akan banyak bertanya.
"Baru pulang?" Tanya Farhan basa basi saat Nia baru memasuki rumah.
"Iya Yah," jawab Nia.
"Ibukmu gimana? Masih lama disana? Bukannya disana bayar ya? Ngabis-ngabisin duit aja," katanya lagi yang membuat langkah Nia yang hendak ke kamar tertahan.
"Ibuk harus dirawat Yah, ibu butuh," balas Nia.
"Alah, bagusnya sih mati aja." Nia memejamkan matanya menahan diri yang mulai tersulut emosi. Tidak bisakah ayahnya itu membiarkannya istirahat dengan tenang usai bekerja seharian yang sudah cukup membuatnya kelelahan itu? Kenapa ada saja ucapan yang sebenarnya tidak penting namun tetap ia lontarkan.
"Besok orang koperasi nagih hutang, bayarin dulu." Setelah mengucapkan itu Farhan berlalu menuju pintu keluar pergi entah kemana. Ia selalu seperti itu berkeliaran di malam hari dan pulang pada subuh hari kemudian tidur hingga siang. Seperti itulah terus pekerjaannya. Nia hanya mampu menggeleng melihatnya. Entah kapan ayahnya akan berubah.