Libur akhir pekan kali ini tidak dipakai Nia untuk bersantai. Ia tengah sibuk menemani Ovi mengurus keperluan pernikahannya yang waktunya sudah semakin dekat itu. Nia memang selalu memiliki waktu libur di hari minggu. Biasanya ia akan menggunakan waktu itu untuk beres-beres rumah hingga ke celah-celah terdalam serta beristirahat. Namun karena kami ini Ovi memintanya untuk menemaninya, tentu saja Nia tidak bisa menolak. Lagi pula sahabat-sahabatnya yang lain sedang ada urusan sehingga hanya Nia lah yang bisa.
Mereka baru saja selesai mengecek gedung sekaligus meeting dengan pihak WO. Calon suami Ovi yang merupakan seorang CEO di perusahaan periklanan ternama itu benar-benar sangat sibuk. Jadilah Ovi harus mencari orang yang bisa menemaninya dalam mengurus beberapa urusan yang belum usai. Padahal calon suami Ovi sudah mengatakan bahwa Ovi tidak perlu mengurus apapun dan cukup menyerahkan seluruhnya pada pihak WO. Tapi namanya juga Ovi, sahabat-sahabatnya kerap melabelinya 'Si Rempong' karena sangat suka menyibukkan diri dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.
"Aaaaa akhirnya selesai juga hari ini," kata Ovi lega memasuki mobilnya diikuti oleh Nia.
"Ternyata ribet juga ya kalau mau nikah," kata Nia.
"Ribetlah, makanya orang-orang pada mau nikah itu sekali aja. Masa iya mau ribet kayak gini berkali-kali." Nia yang mendengarnya terkekeh namun juga mengangguk setuju.
"Oh iya Nia, gue udah siapin ini buat lo." Ovi memberikan sebuah paperbag pada Nia.
"Apaan nih?"
"Buka aja, semoga pas sih." Nia membuka paperbag yang ternyata berisi kotak itu. Di kotak itu tertulis 'For my beloved, braids mate'. Nia membuka kotak itu dengan tidak sabaran yang ternyata isinya adalah sebuah gaun yang sangat indah dan elegan namun juga ada kesan mewahnya.
"Pakai itu ya diacara nikahan gue nanti. Gue udah ukur badan lo jadi harusnya muat sih kalau lo gak gendutan," kata Ovi.
"Bagus banget, lo kok gak bilang sih, kan jadi ngerepotin sampai lo yang nyiapin."
"Gak papa lah. Untuk Dita sama Lala juga ada."
"Aaaaaa makasih Ovi." Nia memeluk Ovi yang langsung dibalas Ovi dengan pelukan hangat.
"Gue jadi sedih nih bentar lagi lo mau nikah. Gak tau deh masih bisa sering-sering ketemu lo kayak gini atau enggak."
"Ya bisalah, lo akan selalu bisa ketemu gue kapan aja." Nia melepaskan pelukannya menatap Ovi haru. Jujur Nia sangat senang karena sahabatnya itu akan segera mewujudkan impiannya. Sejak dulu Ovi memang selalu mengatakan bahwa ia ingin cepat-cepat menikah.
"Dandan yang cantik di pernikahan gue, siapa tau ada yang nyantol," goda Ovi menaik turunkan alisnya. Nia terkekeh mendengarnya.
Sampai saat ini Nia bahkan tidak pernah memikirkan tentang pasangan sekalipun. Menurutnya masih banyak hal yang harus pikirkan ketimbang memikirkan masalah pasangan meskipun bisa dikatakan diusianya saat ini memang sudah seharusnya memiliki pasangan bahkan menikah seperti Ovi.
Sebelum memulai, Nia sudah takut terlebih dahulu. Ia merasa akan sulit menemukan pria dan saling mengenal satu sama lain sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Lagi pula dengan kondisi keluarganya, Nia merasa akan sulit untuk mencari pria yang bisa menerimanya. Oleh karena itu Nia tidak berekspektasi banyak untuk urusan pasangan. Baginya jika waktunya sudah tiba nanti, ia hanya berharap bisa dipertemukan dengan seorang pria yang bisa menerima Nia dan kehidupan yang ia jalani. Siapapun dia dan apapun pekerjaannya, Nia tidak begitu mempersalahkannya, lagi pula rasanya tidak mungkin orang sepertinya akan bertemu dengan pria yang seperti calon suami Ovi.
"Okey, siapa tau dapat sugar daddy," balas Nia menimpali candaan Ovi.
"Ih tapi gue serius tau. Mau gue cariin calon suami gak?"
"Enggak, makasih, udah ah yuk pulang, gue ngantuk banget ini."
"Mau yang gimana?"
"Buruan pulang."
"Kriterianya gimana,"
"Bacot banget deh Vi." Ovi terkekeh melihat kekesalan Ovi. Ovi sejujurnya bingung mengapa sahabatnya itu belum memiliki kekasih padahal ia luar biasa cantiknya. Ovi yang seorang wanita saja tidak bisa memungkiri kecantikan Nia, jika ia adalah seorang pria ia pasti akan melirik Nia. Terkadang Ovi ingin memperkenalkan Nia dengan teman-teman di kantornya atau teman calon suaminya, tapi sahabatnya itu selalu menolak dan lebih dulu memperingati Ovi agar tidak melakukannya. Ia bilang ia belum siap memiliki hubungan. Jika sudah begitu, tentu saja Ovi tidak bisa memaksa. Ia hanya berharap suatu hari nanti Nia benar-benar bertemu dengan pria yang baik dan mencintainya dengan tulus karena Nia sangat pantas mendapatkan itu.
***
Nia memasuki kediaman Evan, seperti biasa ia datang pagi-pagi sekali. Ia mengedarkan pandangannya pada rumah yang memang selalu sepi itu.
"Astaga Nia..." Nia terlonjak kaget mendengar suara Evan yang tiba-tiba datang. Pria itu tampak menepuk dahinya berkali-kali membuat Nia mengernyitkan dahinya heran.
"Kenapa Pak?"
"Saya benar-benar lupa banget kasih tau kamu, padahal tadi malam saya rencananya mau langsung ngabarin kamu tapi malah ketiduran," katanya terlihat panik. Nia masih tidak mengerti apa yang diucapkan Evan karena belum mendapat intinya.
"Harusnya hari ini kamu gak usah datang, soalnya Aliya lagi dibawa mamanya ke rumah oma opanya. Kemarin mereka nginap disana. Paling baru pulang nanti malam," kata Evan merasa tidak enak karena sudah membuat Nia yang harusnya bisa libur hari ini namun harus tetap datang karena kelupaannya.
"Gak papa kok Pak. Jadi saya hari ini gak kerja Pak?"
"Iya, lagian Aliya juga gak adakan." Dalam hati Nia langsung bersorak gembira. Ia merasa benar-benar lega saat tahu tidak harus berhadapan dengan Aliya hari ini. Itu artinya ia bisa menyimpan stok kesabaran yang sudah ia siapkan untuk besok.
"Ya udah kalau gitu saya pamit ya Pak."
"Eh sebentar..." Evan menahan langkah Nia.
"Karena udah terlanjur datang juga, jadi saya mau minta bantuan kamu."
"Bantuan apa Pak?"
"Bantu saya masak."
"Masak?" Nia tampak terkejut. Membantu Evan masak? Bukannya tidak mau membantu Evan, tapi bukankah Evan punya beberapa asisten rumah tangga di rumah ini? Jadi kenapa harus Nia?
"Sebenarnya sih kalau kamu gak mau bantuin masaknya gak papa, kamu bantuin saya buat nyicipin aja."
"Nyicipin Pak?"
"Iya, saya lagi nyobain resep baru untuk dimasukin ke dalam menu hotel baru bulan ini. Jadi saya butuh orang buat kasih pendapat."
"Ta... tapikan Pak, belum tentu selera saya bagus juga."
"Gak cuma kamu sendiri kok yang bakal nyobain, nanti semua yang ada di rumah juga bakal nyobain. Tapi saya cenderung udah tahu selera mereka semua, jadi saya butuh kamu sebagai orang baru buat nyobain, bentar doang kok," kata Evan. Jika Evan sudah meminta seperti ini, Nia jadi tidak enak menolaknnya. Tapi jika dipikir-pikir apakah Evan tidak punya tim khusus untuk mencoba makanannya? Kalau benar resep terbaru yang ia coba ini untuk menu di hotel super mewah miliknya bukankah tidak cukup hanya pendapat dari orang-orang disekitarnya? Pengunjung hotel Evan pasti berasal dari orang-orang kelas atas. Tentu saja selera mereka berbeda dengan orang-orang seperti Nia. Ah Nia benar-benar tidak mengerti cara kerja Evan. Tapi bisa saja Evan memang sengaja ingin tahu pendapat orang-orang seperti Nia yang memang terbilang jarang makan makanan mewah seperti itu.
"Ya udah deh Pak, saya mau."
"Gitu dong. Kamu duduk aja ya, biar saya bikin dulu."
"Gak usah Pak, saya bantuin aja."
"Ya udah, saya ganti baju dulu." Nia mengangguk membiarkan Evan berlalu. Tentu saja ia tidak mungkin membiarkan Evan untuk masak sendiri sementara dirinya hanya duduk-duduk saja. Bukankah akan sangat tidak sopan, ya meskipun Evan yang memintanya.
Nia menghela nafas panjang. Jika begini sama saja ia tidak libur. Jika dipikir-pikir Evan terlalu deka dengan karyawan-karyawannya. Ia bahkan sama sekali tidak menjaga jarak. Nia sampai bingung harus bersikap seperti apa pada Evan. Nia hanya takut saja ia jadi kebiasaan dan malah bersikap seperti teman kepada Evan.
"Nih, pakai dulu." Setelah berberapa saat Evan kembali dan memberikan sebuah apron berwarna abu-abu pada Nia. Nia sempat terpaku beberapa saat menatap Evan yang kini sudah memakai chef jacket yang terlihat begitu pas di badannya yang tinggi tegap. Nia tidak habis pikir bagaimana bisa seseorang terlihat begitu tampan dengan seragam seperti itu padahal ia akan berkutat di dapur.
"Nia..." panggil Evan saat Nia tidak kunjung mengambil apron yang ia sodorkan. Nia mengedipkan matanya beberapa kali tersadar hingga membuatnya langsung salah tingkah dengan pipi yang memerah malu sebab diam-diam memperhatikan Evan. Nia segera mengambil apron itu dari tangan Evan.
"Okey ayo kita mulai," kata Evan mendahului Nia menuju dapur. Nia memukul dahinya pelan untuk menyadarkan dirinya agar tidak lagi memperhatikan duda beranak satu dengan tatapan kelaparan seperti tadi, sungguh memalukan. Dengan cepat Nia menyusul Evan menuju dapur. Sejujurnya ia cukup penasaran dengan skill Evan di dapur. Jadi ini waktu yang tepat untuk melihatnya.