Chef Evan

2147 Words
Nia dan Evan kini sudah berada di dapur, tapi tampaknya ini bukan dapur yang biasa Nia datangi untuk mengintip apa yang sedang dimasak oleh bi Asih. Ia bahkan baru tahu selain dapur bersih dan dapur yang memang biasa digunakan Asih untuk memasak ternyata ada dapur lain juga. Tampaknya masih banyak ruangan yang belum Nia jajaki selama ini bekerja di rumah ini. Dapur ini terlihat agak berbeda dari dapur yang lain. Tampaknya jauh lebih lengkap dengan nuansa hitam mendominasi. Dapat Nia simpulkan mungkin ini adalah dapur khusus yang memang disiapkan Evan untuk memasak jika ia ingin bereksperimen di rumah ini. Nia hanya berdiri diam dengan jarak beberapa langkah di samping Evan saat pria itu terlihat mulai berkutat menyiapkan bahan-bahan dan alat. Bisa dikatakan ia terlihat begitu telaten, tidak ada sedikitpun kebingungan dari dirinya. Ia terlihat begitu tahu apa yang harus ia lakukan disetiap tahapnya. "Berasa ikut master chef nih dilihatin gitu aja," kata Evan dengan kekehan kecilnya membuat Nia tersadar. Tangannya bahkan tanpa sadar terlihat di depan d**a bak seorang juri yang tengah memperhatikan salah satu peserta. Dengan segera Nia melepaskan lipatan tangannya itu dan berganti meletakkan kedua tangannya ke belakang. "Bantu motongin bawang bombai ya, di chop aja," kata Evan memberikan sebuah bawang bombai berukuran sedang. Nia mengambil bawang itu dan segera melakukan sesuai perintah. Ia sudah seperti seorang asisten chef saat ini. Disaat Nia memotong bawang, Evan terlihat sibuk membersihkan udang yang tampaknya akan ia gunakan. "Tadi bukannya saya bilang dichop ya? Kok malah dislice?" Ketika sedang membersihkan udang, Evan sempat melirik pekerjaan Nia. Ia sempat menggeleng sejenak melihat hasil kerja Nia. "Ha? Maksudnya Pak? Dipotongkan?" Tangan Nia yang memegang pisau melayang diudara, ia menghentikan aksinya saat merasa ada yang salah. Evan mencuci tangannya kemudian meninggalkan sejenak aktivitasnya untuk menghampiri Nia. Ia mengambil alih pisau yang berada di tangan Nia dan bawang bombai yang masih ada sekitar lebih dari setengahnya itu. "Ya memang motong, tapi motong itu gak sembarangan motong. Kalau saya bilang chop, itu artinya kamu potong kecil-kecil aja ngasal, gak perlu beraturan ukurannya." Evan memberi contoh dari penjelasan yang ia maksud. "Nah kalau slice, kayak yang kamu lakuin tadi, motongnya pipih dan datar tadi." Nia mengangguk-anggukkan kepalanya paham dengan mulut yang agak terbuka. "Ada lagi cara motong yang lain, namanya dice. Itu artinya kamu potong kotak-kotak kayak dadu, kayak gini nih." Evan kembali mencontohkan. Ah cara ia memegang pisau saja terlihat begitu berbeda. "Ada lagi satu lagi teknik memotong, namanya mince. Kalau mince itu hampir sama kayak dichop, cuma dia lebih harus lebih kecil-kecil lagi hasilnya. Sampai sini paham?" "Paham... paham... ternyata beda-beda toh," kata Nia kembali mengangguk-anggukkan kepalanya membuat Evan tersenyum. "Terus megang pisaunya harus gini nih, jangan kayak kamu tadi. Bisa-bisa kalau lengah tangan kamu bisa kepotong. Lihat ni kayak saya, mau saya gak lihatpun gak bakal kepotong." Ketimbang melihat bawang yang sedang ia potong, Evan malah melihat kearah Nia membuat Nia takjub. "Wah kerennn, bisa motong bawang tanpa ngeliat bawangnya. Gak perlu nangis bombai dong." Evan tertawa mendengar ucapan Nia atas aksinya yang sebenarnya biasa saja ini dan entah mengapa malah membuat Nia takjub. "Kamu beruntung loh Nia saya kasih ilmu gratis, biasanya saya kalau seminar atau demo masak dibayar," ucap Evan kembali berkutat pada udangnya. "Makasih Pak ilmunya, nanti bisa saya praktekin di rumah," balas Nia. "Kamu suka masak emangnya?" "Enggak Pak, kalau di rumah adik saya yang masak, saya kan kerja soalnya. Jadi gak sempat," balas Nia. Evan mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Pantas saja Nia terlihat begitu kaku di dapur. Evan bahkan bisa begitu mudah menilai orang yang memang suka berkutat di dapur dan yang tidak hanya dengan sekali melihatnya saja. "Udah Pak. Apa lagi yang bisa dibantu?" "Kupasin kulit kentang ya, tiga buah aja." "Siap Pak." Nia lansung mengerjakan sesuai perintah. Usai membersihkan udang, Evan pun segera merebusnya. Ia memasukkan udang saat air sudah benar-benar mendidih. Ini benar-benar sangat perlu, jangan masukkan udang ketika airnya belum mendidih. Ia menambahkan sedikit garam kemudian menutup panci. Tidak butuh waktu lama udang tadi sudah matang karena sudah berubah warna. Evan segera mencelupkan udang itu ke dalam air dingin dengan tujuan untuk menghentikan proses memasaknya agar udang nantinya tidak keras. Selesai dengan udang, Evan bergeser kembali untuk menyiapkan sausnya. Ia sebelumnya sudah menyiapkan saus tomat, saus sambal, saus tiram, serta potongan nenas yang sangat halus yang tadi sudah ia siapkan saat baru saja bangun tidur. Kemudian ia mulai menumis bawang bombai yang tadi di potong oleh Nia. Memasukkan bahan-bahan untuk sausnya. Wangi masakan langsung menyeruak ke dalam indra penciuman Nia membuat Nia melirik apa yang tengah Evan kerjakan. Untuk sesaat dan entah sudah keberapa kalinya, Nia dibuat terpana oleh Evan. Evan memang tampan, itu tidak usah diragukan lagi. Wajahnya bahkan tampak seperti keturunan Turki seperti serial yang dulu pernah Nia tonton. Namun yang membuatnya terlihat semakin tampan itu adalah bagaimana ia begitu cekatan di dapur. Nia tiba-tiba terpikir bahwa pria ini adalah seorang duda. Bukannya sangat tidak masuk akal jika seseorang melepaskan orang seperti Evan? Bisa dikatakan untuk ukuran pria ia mendekati sempurna, bahkan sempurna sebab Nia belum menemukan celahnya. Ia juga sosok ayah yang baik. Buktinya ia begitu dekat dengan Aliya. Tapi apakah ia bukan suami yang baik hingga tidak bisa mempertahankan hubungannya. Entahlah, mungkin disitulah letak kekurangannya. Mungkin saja Evan bukan suami yang baik, sebab jika ia suami yang baik tentu saja hingga sekarang rumah tangganya akan utuh. "Awwwww..." Nia meringis saat tanpa sadar malah menggoreskan pisau ke kulit tangannya dan bukan ke kulit kentang. Evan yang mendengar ringisan Nia langsung menghampirinya. Darah segar terlihat keluar dari ujung jari Nia. "Cuci dulu biar saya ambilin kotak obat." Evan langsung berlalu pergi, tidak berapa lama setelah itu kembali dengan kotak obat di tangannya. Karena lukanya kecil, jadi tampaknya bisa diberi plester saja. "Biar saya ajak Pak," kata Nia menahan tangan Evan yang hendak memakaikan plester ke tangannya. "Di dapur itu yang paling gak boleh dilakuin itu ya bengong," kata Evan. Apakah ia tahu tadi Nia memang sedang melamunkan dirinya? Padahal tadi posisi Evan sedang tidak menoleh ke arahnya. "Gak bengong kok Pak." Evan terkekeh sembari menggeleng. "Sama banget kaya Aliya, kalau salah pasti gak mau ngaku." Nia ikut tersenyum seolah senyum Evan seperti sihir yang tidak bisa menahannya untuk ikut tersenyum. Setelah beberapa saat berkutat di dapur, makanan yang Evan dan Nia buat akhirnya selesai juga. Mereka membuat beberapa hidangan dari yang berat hingga yang ringan. Tadinya Nia pikir akan sangat membosankan apalagi mengingat harusnya saat ini ia sedang libur. Namun ternyata tidak begitu. Banyak hal yang ia pelajari dari Evan sebab Evan tidak pelit dengan ilmunya. Saat tangannya sedang bekerja, mulutnya mengoceh memberikan tips-tips memasak. Evan juga sangat pandai membuat suasana tidak canggung dan tidak membosankan. "Silahkan dicobain," kata Evan saat keduanya duduk di meja yang sudah penuh dengan makanan. Nia menatap lapar makanan-makanan itu yang sebenarnya sedari tadi sudah membuatnya menelan ludah beberapa kali. "Sebenarnya menu utama dan harusnya menjadi highlights itu yang ini." Evan menunjuk udang yang disusun digelas tulip sedangkan di dalam gelas itu terdapat saus yang begitu mengunggah selera. "Ini tu sebenarnya makanan yang populer di Las Vegas, namanya shrimp cocktail. Kalau di Las Vegas sausnya itu pakai cocktail, jadi ya cocok kalau dimakan di bar atau pub gitu. Tapi karena berhubung ini Indonesia, jadi sausnya saya ganti sama saus sejenis suas padang cuma ada rasa asamnya dari potongan nanas kecil-kecil yang udah menyatu sama kuahnya dan ada potongan apel hijau juga. Jadi rasanya agak mirip sama cocktail," jelas Evan begitu rinci atas makanan yang ia buat. Nia mencoba makanan itu. Ia tidak begitu yakin makanan ini akan cocok dengan lidahnya sebab selama ini makanan yang Nia makan relatif sama. Bisa dikatakan itu-itu saja. Jadi ia tidak begitu familiar dengan makanan dengan rasa aneh-aneh yang bercampur ini dan itu. Saat makanan itu bersentuhan dengan indra perasaannya, dahi Nia agak mengkerut sedikit membuat Evan menatapnya serius. Meskipun sudah yakin makanannya enak, namun tetap saja Evan butuh pendapat orang lain dan melihat respon mereka. Tampaknya indra perasa Nia tengah beradaptasi dengan rasa baru itu. "Enak... enak banget." "Serius Pak ini enak banget..." "Udangnya kok bisa manis banget sih? Sausnya juga, cocok banget." Evan tersenyum puas mendengar respon Nia yang memang sudah sesuai dugaan. "Ya enaklah, kalau gak enak saya gak jadi chef," kata Evan bangga ikut memakan makanan kesukaannya. Nia tidak bisa berhenti memakannya, tubuhnya bergerak-gerak senang saat mendapatkan makanan enak membuat Evan terkekeh. Sepertinya usianya dan Nia tidak berbeda begitu jauh, namun gadis ini terkadang bisa terlihat seperti wanita yang sangat dewasa, namun juga bisa seperti gadis-gadis remaja pada umumnya. "Oh iya Pak, saya lusa boleh minta izin pulang agak sore gak?" Tanya Nia. Ia memang berencana untuk meminta izin, jadi mungkin ini waktu yang tepat. Jaga-jaga kalau besok ia lupa atau tidak sempat bertemu Evan. "Kenapa emangnya?" "Saya mau hadiri pesta pernikahan teman saya Pak." "Oh, kalau kamu hari itu mau libur, gak papa juga sih," kata Evan santai. "Eh gak usah Pak. Lusa Aliya ada ujian soalnya. Jadi saya mau pastiin Aliya belajar." "Oh yaudah kalau kamu gak keberatan. Saya bakal usahain pulang lebih awal lusa." Nia mengangguk-anggukkan kepalanya, ternyata meminta izin pada Evan tidak sulit sama sekali. "Asih... Asih..." panggil Evan membuat bi Asih tidak lama sudah datang menghampiri. "Iya Pak." "Panggilin yang lain ya, ajak makan bareng sini. Cobain makanan buatan saya." "Baik Pak," balas Asih terlihat begitu bersemangat langsung memanggil orang-orang bekerja di rumah itu. Ia selalu antusias memakan masakan Evan karena rasanya yang sangat lezat. Tapi tentu saja ia tidak bisa selalu merasakannya sebab memasak juga merupakan tugasnya. Terkadang ada beban tersendiri bagi Asih untuk memasakkan makanan untuk Evan yang pandai memasak itu. Namun untungnya Evan tidak pernah protes sekalipun. Ia selalu memakan apapun yang Asih buat. *** "Aliya, buka dong, mbak suka ya becandaanya kayak gini." Nia mengetuk-ngetuk pintu kamar Aliya berharap anak itu segera membukannya. Namun hening tidak ada jawaban membuat Nia semakin panik, entah apa yang tengah dilakukan anak itu dengan tas miliknya yang tadi ia sembunyi dan ia bawa masuk ke dalam kamarnya. "Kembaliin dong tas Mbak." Nia sudah mulai jengah. Entah akan sampai kapan anak itu akan terus menjahili Nia tiap kali Nia memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak ia suka namun memang harus ia lakukan. Seperti saat ini, ia ada tugas mengambil video membaca puisi. Nia mati-matian membujuknya untuk segera melakukannya, namun anak itu terus saja berlarian kesana kemari seperti kelebihan gula hingga tidak ada lelahnya. Nia yang kesal menyembunyikan komik terbarunya hingga membuat Aliya yang sadar langsung marah besar dan kesal. Sebagai gantinya ia mengambil tas yang Nia bawa dan menyembunyikannya di dalam kamar dah ikut mengunci diri di kamar. "Aliya, sebentar lagi daddynya pulang loh. Mbak gak bakal ya lindungin Aliya kali ini. Pak Evan harus tau kalau Aliya gak mau nurut." Usai mengatakan itu, jeda beberapa saat pintu kamar Aliya terbuka sedikit. Tangan Aliya terjulur keluar memberikan tas Nia yang tidak ia tutup rapat kemudian kembali mengunci pintu kamarnya. "Astagaaaaa!!!" Mata Nia membola melihat gaun berwarna coklat muda yang diberikan Ovi untuk datang ke pernikahannya hari ini sudah penuh dengan cat warna warni dimana-mana. Nia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ini satu-satunya gaun yang layar ia pakai di pernikahan Ovi, lagi pula ini adalah pemberian Ovi dan gaun yang sama dengan milik Lala dan Dita. "Aliya, mbak salah apa sih? Astaga..." nada Nia melemah. Lututnya terasa lemah, ia sedih karena gaun indah itu kini terlihat sudah mengenaskan. Apa yang harus ia katakan pada Ovi? Dan apa yang akan ia pakai nanti? Ia bahkan kini sudah telat datang ke pernikahan Ovi karena harus melakukan pekerjaannya ini. Mata Nia tiba-tiba menanas. Ia tidak sering menangis, bahkan jarang, tapi kali ini ia menangis untuk Ovi, sahabatnya yang sudah sangat baik menyiapkan gaun yang layak untuk ia pakai namun dirinya tidak bisa menjaganya dengan baik. Nia padahal tadi sengaja membawanya karena tidak ingin pulang lagi untuk berganti pakaian. "Nia... astaga, baju kamu kenapa?" Evan yang baru datang dengan niat ingin mengecek apakah Nia sudah pergi atau belum tiba-tiba dikagetkan dengan Nia yang mematung melihat gaun di tangannya di depan kamar Aliya. "Nia, ini kenapa?" "Gak papa kok Pak." Tepat saat Nia berkedip, air matanya jatuh, dengan cepat ia seka. "Aliya... buka pintunya. Daddy tau ini kerjaan Aliya." Tanpa menunggu jawaban dari Nia, Evan mengetuk-ngetuk pintu kamar anaknya. "Aliya, daddy bilang buka..." "Udah Pak, gak papa," kata Nia menahan Evan yang tampak begitu kesal. Ia memang selama ini selalu menampik jika ada laporan bagaimana kejahilan anaknya itu. Tapi jika melihat sendiri seperti ini tentu saja ia tidak bisa menepisnya lagi. "Itu gaun yang kamu mau pakai buat acara nikahan teman kamukan? Mana bisa dipakai lagi." "Gak papa Pak, nanti saya coba bersihin," balas Nia meskipun sebenarnya tidak yakin. "Kita cari yang baru ya. Saya akan carikan yang sama persis, ayo." Nia tertegun saat salah satu tangannya diraih oleh tangan Evan membawanya untuk ikut melangkah. Hangat, ternyata tangan yang ukurannya lebih besar dari tangan Nia itu terasa hangat digenggam. Nia yang masih belum terjaga dari keterkejutannya hanya pasrah mengikuti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD