“Ibu ... Ayah ....” Siska langsung berdiri, membersihkan sudut bibir dan hidung yang mengeluarkan darah dengan baju dasternya. Siska menyalami ke dua orang tuanya, namun kedua paruh baya tersebut menolak jabat tangan dari Siska. Mereka menyentak tangan putrinya. “Apa-apaan ini, jelaskan kepada kami apa yang terjadi,” ucap Ayah Siska, tegas. “Aisyah bukan anak kandungku, Yah,” jawab Hengki dengan penuh tekanan. Ibu Siska seketika terduduk di lantai seraya menutup mulutnya. Ayah dan Ibu Siska begitu terkejut mendengar apa yang di sampaikan Hengki. Mereka berdua yang awalnya begitu sumringah pergi dari Kota Padang menuju kota Batam untuk menemui putri dan cucu mereka, kini harus menelan kecewa. Rasa rindu orang tua Siska terhadap cucu perempuan satu-satunya, memaksa mereka untuk terbang

