⚠️ 10 ⚠️

713 Words
"Hati-hati di jalan ya, Bu," ucap Lina saat mengantarku ke mobil. Aku mengangguk lantas masuk ke dalam mobil. Aku membuka kaca mobil lalu kembali menatapnya. "Besok pagi saya ke sini lagi." "Iya, Bu." "Yaudah, saya pamit ya." Setelah itu mobilku keluar dari pekarangan menuju ke jalan raya. Aku melirik ke arah jam tangan, masih pukul tujuh malam. Kira-kira aku sampai rumah nanti jam sembilan atau mungkin jam sepuluh. Semoga saja jalanan tidak macet. Di tengah-tengah perjalanan, aku melihat ada sebuah mobil yang berjalan ke arahku dengan kecepatan yang kencang. Semakin lama, mobil itu semakin mendekat. Jalan ini kecil, seharusnya memang untuk satu mobil. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang aku langsung membanting setir dan seketika mobil bagian depanku terbentur mengenai pembatas jalan. Aku menyentuh keningku yang terasa sakit akibat terbentur setir. Memar sedikit, tapi untung tidak ada darahnya. Deruh napasku bergerak tidak beraturan. Dadaku kembang kempis dan keringat dingin membasahi tubuhku. Aku menoleh menatap kiri dan kanan berharap ada seseorang yang bisa dimintai pertolongan, tetapi suasana jalan ini sangat sepi. Tidak ada rumah satu pun semuanya gedung-gedung industri. Aku menoleh ke belakang, mobil yang tadi hampir menabrakku juga sudah menghilang. Aku segera mengambil ponselku lalu segera menghubungi Mas Aarav. Suamik Mas Aku kecelakaan Ga ada yang bisa dimintai pertolongan Mengirimkan lokasi Aku meletakan ponsel itu dan kembali menatap ke arah depan. Tubuhku benar-benar lemas mungkin akibat detakan jantung yang begitu kencang. Semakin lama pandanganku semakin redup dan akhirnya menggelap sepenuhnya. ❤️ Aku terbangun dan menemukan Mas Aarav yang langsung memadangku dengan tatapan tajamnya. "Sudah saya bilang hati-hati. Enggak kamu dengarkan juga," ucapnya tegas. Aku mendesah pelan. Ini aku baru bangun dari pingsan loh. Masa langsung dimarah-marahin. Dia juga belum tahu cerita jelasnya, tetapi aku yang langsung dituduh salah olehnya. Aku enggak salah, tadi aku ngendarai mobil dengan super hati-hati. Hanya saja, ada mobil dari arah lain yang menuju ke arahku padahal kan jalanan tadi cuma satu arah. "Untung aja enggak parah. Kalau kamu sam-" ucapannya terputus saat tanganku menyentuh bibirnya. "Mas, bentar. Jangan marah-marah dulu," aku memejamkan mataku lalu membukanya, "aku masih pusing. Marahnya bisa di-pending dulu, bisa kan?" tanyaku dengan lemah. Mas Aarav berdecak sebal lantas tangannya bergerak mengelus keningku dengan begitu lembut. "Saya seperti kebakaran jenggot setelah membaca pesan dari kamu. Saya panik mendadak." Aku tersenyum kecil lalu menyentuh dagunya. "Mas, enggak punya jenggot. Jangan mengada-ada." "Itu cuma analogi, Dhara." Aku tersenyum lalu mengangguk. "Lapar," aku mendekatkan tubuhku ke arahnya, "aku lapar, Mas." Mata pria itu beralih menatap ke sebuah kotak makanan di atas nakas. "Makanan rumah sakit, mau?" ucapnya menawarkan. Aku mengangguk. "Tapi suapin," dia mengambil kotak makan itu dan juga sendoknya, "pakai tangan." Gerakannya mendadak terhenti lalu menatapku dengan bingung. "Mas Aarav suapin aku. Pakai tangan." Cukup lama Mas Aarav terdiam sampai akhirnya dia berdiri dari duduknya. "Saya cuci tangan dulu." "Iya." Beberapa saat kemudian, pria itu kembali duduk di sebelahku. Dia menyuapiku dengan tangannya. Ide iseng tiba-tiba masuk ke dalam otakku. Saat dia mengeluarkan tangan aku mengigit jarinya pelan. Sorot matanya mendadak tajam. "Jangan main-main," ucapnya tegas. Aku menyengir lalu kembali melanjutkan kegiatan makanku. "Aku enggak mau tidur di rumah sakit. Aku kan enggak parah," aku mengambil tissue lalu mengelap bibirku, "enggak mau pulang juga." "Terus maunya bagaimana?" "Kita menginap di hotel aja yang dekat-dekat sini. Boleh kan?" "Iya." "Aku yang bayar juga gapapa." "Saya yang bayar." "Yaudah, ayo." Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a. Di k********a kalian bisa mendapatkan 1. Ebook Lengkap (59 part) 2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa Sudut Pandang Aarav (10 part) Sudut Pandang Dhara (3 part) Sudut Pandang Fajar (1 Part) Sudut Pandang Penulis (3 Part) Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya. Cara belinya: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_) 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD