"Sumpah. Parah banget," ucapku sambil memandangi Mas Aarav dengan tatapan nanar, "aku masih belum benar-benar pulih loh ini. Keningku masih merah, mobilku juga masih berada di bengkel. Masa iya aku mau meninggalkanku ke Jakarta".
"Kerjaan saya banyak, Dhara. Besok pagi saya juga harus mengajar," ucapnya sambil menggeser bantal yang menjadi pembatas kami, "lagi juga kamu hanya memar. Besok juga hilang. Mobil kamu juga sudah saya perbaiki di bengkel. Nanti pulangnya saya jemput, saya ke sini lagi sehabis mengurusi urusan kantor."
Aku semakin tajam menatapnya. "Jadi Mas lebih pilih pekerjaan Mas daripada aku?" tanyaku dengan sebelah alis yang menukik.
Dia menggeleng lalu menarik tanganku pelan. "Bukan begitu, Dhara."
"Ya gimana?"
Dia tersenyum kecil, sangat kecil sampai-sampai tidak begitu terlihat. "Begini. Kamu punya kewajiban dalam pekerjaan saya juga punya kewajiban dalam pekerjaan. Benar?"
Aku mengangguk.
"Kita harus saling menunaikan kewajiban kita. Kamu dengan pekerjaanmu, saya dengan pekerjaan saya."
Aku mengerti maksud ucapannya. Dia tuh enggak ingin aku menganggu pekerjaannya. "Aku kan juga tanggung jawab Mas Aarav. Masa ditinggalkan begitu aja," aku menunjuk ke arah jendela, "masih malam lagi."
"Benar. Kamu tanggung jawab saya," dia bersandar di kepala ranjang lalu menarikku agar bersandar di bahunya, "saya juga sudah memikirkan kamu, Dhara. Mobil sudah saya benarkan, nanti saya yang ambil kalau saya kembali ke sini. Aku bawa orang nanti dari Jakarta buat bawa mobil saya, nanti kita pulangnya berdua pakai mobil kamu."
"Besok aku ke perkebunanku gimana? Naik apa? Kalau Mas Aarav malam-malam begini mau pergi."
Elusan tangannya di kepalaku mendadak terhenti. Dia terdiam beberapa saat sebelum kembali mengelusnya. "Minta tolong orang di perkebunan kamu bisa gak?" tanyanya memberi solusi.
"Nanti saya bayar."
"Aku sendiri yang bayar juga bisa, Mas," ucapku ketus.
"Iya. Coba ditanya dulu ke mereka, suruh salah satu pekerjamu untuk menjemputmu di sini."
Aku mengambil ponselku lalu segera menghubungi Fajar. Untung saja besok pagi dia mau menjemputku. "Siapa namanya?" tanya Mas Aarav saat aku kembali meletakan benda pipih itu.
"Fajar."
"Iya. Tolong sampaikan ucapan terima kasih dari saya ya."
Aku mengangguk lalu menegakan kepalaku sehingga tatapan mata kami saling bertemu. "Terus gimana? Mas mau ninggalin aku malam-malam begini."
"Kamu ikhlas gak? Jangan marah kalau saya pergi."
Aku mengambil bantal lalu memposisikan benda itu tepat di sebelah Mas Aarav. "Tunggu aku tidur, habis itu boleh pergi."
"Yaudah," dia membuka kemejanya sehingga saat ini hanya kaus hitam yang menempel di tubuhnya, "kamu bawa laptop gak? Sambil nunggu kamu tidur, saya mau buat soal UTS buat anak-anak."
"Di tas hijau."
"Minjem ya."
"Iya."
Dia mengambil laptop tipis itu lalu membukanya. Laptopnya memang tidak aku kunci sehingga dia bisa mengakses apapun sesuka hati. "Sayang," panggilnya saat aku baru saja ingin tertidur. Aku berdeham membalasnya. "Mau saya tambah lagi gak, foto-foto saya?" tanyanya.
Mendadak aku membeku. Sial. Dia membuka folder galeri foto-fotoku bersama dengannya. "Sampai ke wallpaper laptop kamu, ada foto sayanya," ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Mas, diam. Aku malu."
Tawanya semakin terdengar. Dia mengambil ponsel lalu beberapa detik setelahnya dia memberikan ponsel itu ke arahku. "Saya juga pakai wallpaper foto kamu."
Aku melihatnya dan seketika wajahmu mendadak datar. "Akunya jelek banget. Wajah baru bangun tidur."
"Ya, iya. Ini kan foto saat pagi pertama kita. Saya ambil foto kamu diam-diam."
"Ganti, Mas. Jelek itu," aku berniat mengambil ponselnya, tetapi dia sudah lebih dahulu memasukan benda itu ke dalam saku celananya, "aku kirimin foto aku yang cantik."
"Itu udah cantik, Dhara," dia menepuk bantal di sebelahnya, "udah sekarang tidur lagi."
Aku berdecak sebal lalu menuruti perintahnya. "Have a nice dream, love." Kata-katanya yang menjadi pengantar tidurku.
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a.
Di k********a kalian bisa mendapatkan
1. Ebook Lengkap (59 part)
2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa
Sudut Pandang Aarav (10 part)
Sudut Pandang Dhara (3 part)
Sudut Pandang Fajar (1 Part)
Sudut Pandang Penulis (3 Part)
Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya.
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_)
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".