Aku terbangun dari tidurku karena ada suara alarm yang terdengar begitu bising. Aku membuka mataku lalu menyapu ke sembarang arah. Sudah pagi dan Mas Aarav sudah tidak berada di sini. Aku meraba-raba mencari ponselku dan di pinggir nakas aku baru menemuinya.
Aku semakin memperjelas pandanganku lalu memperhatikan ada sebuah pesan singkat di sana.
Suamik
Saya sudah bilang sama pihak hotel
Suamik
Jam enam mereka akan mengantar makanan kesukaanmu ke kamar
Suamik
Jangan lupa sarapan ya
Senyum simpul terlukis di bibirku. Senang rasanya memiki suami seperhatian itu. Pikiranku melambung jauh, mengingat masa-masa pendekatan kami. Dulu aku tidak nyaman jika dia memperhatikan aku terlalu berlebihan, tetapi sekarang perhatian seperti ini aku harapkan.
Dengan gerakan tangan yang cepat aku langsung mengetikkan balasan untuknya.
Anda
Iya, Mas ?
Anda
Makasih ya ?
Anda
Semangat ngajarnya ???
Setelah itu aku bersiap-siap untuk membersihkan diri dan segera menghubungi Fajar untuk menjemputku.
❤️
"Iya. Kita sudah sepakat ya dengan konsep lahannya," mataku beralih menatap Fajar, "besok sudah bisa direalisasikan ya, Jar."
Fajar mengangguk cepat. "Iya, Bu. Besok saya dengan tim akan segera membuat lahannya sesuai dengan konsep yang telah kita sepakati."
Setelah perbincangan itu Lina dan Fajar masuk ke dalam ruang kantor pribadinya, sedangkan aku memilih keluar untuk mencari udara segar. Aku berjalan-jalan di sekitar perkebunanku sambil memperhatikan buah-buahan yang sebentar lagi akan panen.
Aku terus berjalan sampai akhirnya duduk di sebuah pos penjaga. Mataku memandangi terus dahan-dahan yang bergerak karena tertiup angin. Burung-burung yang berkilauan membuat suasana sore ini semakin mengesankan.
Sejujurnya aku lebih suka suasana di sini dari pada di perkotaan, tapi aku enggak mungkin terus menetap di sini. Ada Ibu, adik-adik, dan tentunya suamiku yang tinggal di Jakarta sehingga mau tidak mau aku harus tetap tinggal di sana.
Aku bersandar dan mendadak teringat Mas Aarav. Pria itu sudah berjanji akan menjemputku, tetapi sampai sore ini belum ada kabar. Dengan inisiatif, aku membuka ponselku lalu segera mengunjunginya.
Sekali panggilan tidak dia angkat. Aku mencoba kedua sampai kelima kali juga menampilkan hasil yang sama. Aku menarik napas dan mencoba berpikir jernih. Pria itu sibuk, dia mengemban dua tanggung jawab dalam satu harinya. Mungkin saja saat ini dia sedang meeting di kantornya sehingga panggilanku tidak dia angkat.
Aku memasukan kembali ponselku lalu berjalan menuju ke rumah singgah. Rumah yang biasanya dipakai untuk beristirahat dan juga menginap olehku dan juga oleh pekerja yang lain.
Aku masuk ke dalam rumah itu, berjalan menuju lantai atas karena di lantai itulah kamar singgahku berada. Di lantai bawah hanya disediakan beberapa kamar untuk para pekerja, sedangkan lantai atas adalah bagianku.
Aku masuk ke dalam kamar, membuka cardigan yang aku pakai lalu meletakkannya di atas meja. Setelah itu aku mencuci muka dan bersiap untuk tidur, mungkin saat aku bangun nanti aku mendapat kabar dari Mas Aarav atau mungkin bisa jadi dia sudah sampai di sini. Namun, dugaanku salah. Nyatanya saat aku terbangun, aku tidak menemui siapa-siapa di sini. Ponselku juga tidak menerima pesan dari pria itu, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Aku kembali menghubungi Mas Aarav. Kali ini, hanya satu kali memanggil, panggilan kami sudah terhubung.
"Di mana? Udah malam. Kok belum jemput," ucapku dengan nada kesal.
"Waalaikumsalam."
"Ih, Mas," ucapku sambil menghentakkan kakiku di lantai.
"Salam dulu."
Aku memutar bola mataku sebelum menjawabnya. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Jadi kenapa belum jemput?"
"Dhara. Maaf. Saya baru selesai meeting, kayanya kalau saya sampai di sana sudah larut malam."
Aku mengambil bantal di sebelahku lantas memeluknya dengan kesal. "Terus gimana?"
"Pulang sendiri bisa nggak?"
Aku kesel banget. Kalau dia emang enggak bisa menjemputku, seharusnya dari awal bilang. Kalau begini kan aku jadi menunggu lama dan akhirnya enggak akan di jemput juga. Kalau dari awal aku tahu, aku pasti akan meminta antar Fajar ke Jakarta atau dengan pekerjaku yang lain pada saat sore hari tadi.
"Marah ya?"
Aku hanya membalasnya dengan decakan sebal.
"Besok sore saya jemput. Sehabis mengajar saya enggak ada meeting lagi."
Aku masih terdiam.
"Dhara," suaranya terdengar lebih halus, "jangan marah ya," lanjutnya.
Mendengar suaranya yang sudah seperti itu, aku jadi luluh.
"Aku kesel habisnya. Nungguin dari tadi, lama. Enggak tahunya, Mas enggak jadi jemput," ucapku dengan nada lebih tinggi.
"Iya. Maaf ya. Besok saya jemput."
"Aku pulang aja malam ini, diantar sama pekerjaku."
"Yaudah. Hati-hati ya. Sampai ketemu di rumah."
Sambungan telepon aku putuskan sepihak.
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a.
Di k********a kalian bisa mendapatkan
1. Ebook Lengkap (59 part)
2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa
Sudut Pandang Aarav (10 part)
Sudut Pandang Dhara (3 part)
Sudut Pandang Fajar (1 Part)
Sudut Pandang Penulis (3 Part)
Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya.
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_)
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".