🚫 13 🚫

882 Words
Sudut Pandang Aarav "Kak Dhara udah pulang," ucap Lulu memberitahuku. Aku mengangguk lantas tersenyum kecil. "Kak Aarav pergi ke depan dulu ya. Mau nemuin Kak Dhara," mataku beralih menatap Dani dan Lulu secara bergantian, "kalian lanjutin ya makannya." Mereka berdua mengangguk lantas kembali menyuapkan potongan martabak ke mulutnya. Aku nelangkahkan kakiku keluar rumah. Dari kejauhan aku bisa melihat Dhara keluar bersama pria lain yang aku tebak namanya Fajar. Langkah kakiku semakin mendekat ke arah mereka dan seketika pandangan mereka tertuju "Fajar ya?" ucapku sambil tersenyum ramah. Kata Dhara, wajahku menyeramkan sehingga saat ini aku perlu menarik kedua ujung bibirku membentuk senyum agar wajahku terlihat sedikit ramah. Fajar mengangguk lantas dia mendekatkan tangannya ke tanganku. Aku menbalas tangan itu lalu kedua tangan kami saling berjabat. Dia menundukkan kepalanya sambil tersenyum. "Fajar, Pak." "Terima kasih ya, sudah mengantar Dhara." Dia kembali mengangguk. Kali ini senyumannya lebih lebar. "Iya, Pak. Sama-sama." "Ayo, masuk dulu," ucap Dhara sambil berjalan mendahului kami, "istirahat. Habis perjalanan jauh," lanjutnya. Fajar menatapku seakan meminta izin yang tentunya aku balas dengan anggukan kepala. "Silahkan." Dia menunduk lalu berjalan di belakang Dhara, sedangkan aku menutup pintu pagar dulu sebelum masuk ke dalam rumah. "Istirahat di kamar tamu ya," Dhara menunjuk ke sebuah ruangan yang terletak di samping tangga, "di situ ya." "Terima kasih, Bu." "Iya." Setelah perbincangan itu, Dhara menaiki tangga lalu aku berjalan mendekatinya. Dia menoleh ke arahku lalu menambah kecepatan jalannya lebih cepat. Aku menarik napas panjang. Aku tahu, perempuan itu masih marah. Sesampainya di kamar. Aku menunggunya di atas ranjang, sedangkan perempuan itu sedang membersihkan dirinya di kamar mandi. Tidak selang beberapa menit kemudian, Dhara keluar dengan baju piyama pink-nya. "Sayang," panggilku. Dia berjalan ke arah meja rias, membuka krim wajah yang biasa dia pakai di malam hari, "masih marah?" tanyaku. Dia hanya memandangku dengan tayapan yang sinisnya melalui pantulan cermin. "Maaf ya." Dia mempercepat pemakaian krim di wajahnya lalu berjalan mendekatiku. "Aku nunggu dari tadi sore. Nungguin Mas sampai ketiduran. Aku pikir pas aku bangun, Mas udah sampai atau paling enggak ngabarin aku gitu," kedua matanya berkaca-kaca, "tapi ternyata pas aku bangun. Mas enggak ada di sana. Mas juga enggak ngirim pesan apa-apa. Sampai aku harus nelepon dulu." Dia duduk di sebelahku lalu menatapku dengan tatapan tajamnya. Perempuanku kalau lagi marah, bisa menyeramkan juga. "Aku emang terlatih buat menunggu. Tujuh tahun lebih aku nungguin, Mas," dia mengelap air matanya yang mendadak terjatuh, "tapi masa sekarang aku terus dilatih menunggu. Untuk hal-hal kecil kaya gitu aja aku harus nunggu," ucapnya dengan diselingi isak tangis. Aku hanya terdiam, menatapnya tanpa menjawab apapun. Tadi aku benar-benar lupa karena hari ini terlalu banyak yang aku kerjakan. Haru ini mengajar ditiga kelas, pulangnya aku langsung ke kantor dan mengurus data-data kantor, dilanjut lagi dengan meeting sampai malam. Bukannya aku sengaja tidak memberi kabar, tapi aku benar-benar lupa. Aku tidak menyangka, kesalahan yang bagiku kecil, tetapi bisa membuat Dhara menangis sehisteris ini. Bahkan, dia sampai membahas yang dulu-dulu. "Apa aku ditakdirkan sebagai pihak yang selalu menunggu ya?" tanyanya tiba-tiba. Aku menggeleng lantas mendekatkan mendekatkan tubuhnya untuk aku rengkuh, tetapi dia menolaknya. "Saya lupa." "Karna aku enggak penting? Sampai kelupaan begitu?" tanyanya lagi. Sinis sekali dia, tetapi aku tidak boleh membalasnya dengan tatapan tajam. Kedua orang yang sedang bertengkar, salah satunya harus menjadi air. Enggak bisa jadi api dua-duanya. "Bukan begitu," tanganku bergerak mengusap air mata di pipinya, "besok sehabis saya mengajar, kita ke perkebunanmu ya?" tanyaku sambil berusaha tersenyum tipis. "Ga usah. Kan ada Fajar. Aku sama dia aja. Nanti pulangnya aku sendiri." "Sama saya aja. Saya juga mau lihat konsep yang kamu buat," pandangan perempuan itu berubah menjadi kian melembut, "saya dosen pembimbing kamu, kalau kamu lupa. Lagi juga bidang yang kamu geluti juga masih dalam ranah saya." Dhara mengangguk, mengambil bantal lalu memeluknya. "Besok siang?" tanyanya. "Iya. Saya cuma satu kelas." "Yaudah." "Besok pakai mobil saya. Kita jalan bertiga." "Iya." "Jangan marah lagi ya?" "Tergantung," tatapan matanya kembali menjadi sinis, "kalau Mas Aarav kaya gitu lagi. Aku marah." "Iya. Enggak lagi." Dhara berjalan menjauhiku lantas dia berhenti tepat di depan almari milikku. "Minjem baju dong, Mas. Buat Fajar," dia berbalik menatapku, "yang mana?" tanyanya. "Yang mana aja, kasih. Kecuali baju mengajar saya." "Yaudah. Minjem ya." Dia mengambil baju kaus yang aku punya lalu pergi dari kamar ini dan tidak lama kemudian dia kembali. "Matiin lampunya ya?" "Iya," jawabnya mengakhiri perbincangan kami pada malam ini. Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a. Di k********a kalian bisa mendapatkan 1. Ebook Lengkap (59 part) 2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa Sudut Pandang Aarav (10 part) Sudut Pandang Dhara (3 part) Sudut Pandang Fajar (1 Part) Sudut Pandang Penulis (3 Part) Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya. Cara belinya: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_) 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD