🚫 14 🚫

792 Words
"Pakai seatbelt-nya," ucapku sambil melirik ke arah Dhara yang berada di sebelahku. Perempuan itu mengangguk lantas mengikuti perintahku. Dari bagian tengah, terdengar suara pintu yang ditutup dari dari dalam. Fajar masuk ke dalam mobil lalu dia dengan segera memakai seatbelt. Setelah itu aku menjalankan mobilku menembus jalan raya. "Mas Aarav ini, dulunya dia dosen pembimbingku, Jar," ucap Dhara membuka topik. Fajar yang sedang bersandar langsung menegakan tubuhnya. "Serius, Bu?" "Iya," jawabnya sambil melirik ke arahku, "makanya dia mau lihat konsep final yang udah kita bikin." "Kalau nanti saya menyarankan ada yang direvisi. Kemungkinan konsepnya akan diubah lagi tidak?" tanyaku sambil membesarkan volume AC di mobil ini. "Kalau dari saya, selama saran itu baik untuk konsep kami. Akan saya lakukan perbaikan," ada jeda sebentar, "tapi semuanya balik lagi ke Bu Dhara." Dhara mengangguk. "Ya, boleh aja," perempuan itu menoleh ke arah Fajar, "nanti konsep lahan yang udah kita buat tolong diprint dua lembar ya." "Oh, iya, Bu. Sampai di sana nanti langsung saya print." "Iya," Dhara kembali menatapku sambil tersenyum tipis, "Bapak ini hobi sekali nyoret-nyoret kertas rancangan soalnya." Aku seketika terkekeh pelan, pikiranku langsung melambung jauh ke masa saat aku masih menjadi dosen pembimbingnya. Dhara yang sangat sebal apabila proposal penelitiannya aku coret-coret, meskipun begitu aku semakin gencar untuk menyoret-nyoretnya. "Tolong siapkan aja ya, Jar." "Iya, Pak." Setelah perbincangan itu, kami semua diselimuti keheningan. Aku melirik ke arah sebelah, Dhara masih terdiam sambil menatap ke arah depan. Pandanganku beralih menatap kaca spion, menampilkan Fajar yang sedang terdiam dengan tatapan kosong. "Udah punya anak berapa, Jar?" tanyaku memecahkan keheningan. Dari wajah dan tubuhnya aku bisa menduga Fajar umurnya tidak jauh berbeda dengan Dhara sehingga tidak menutup kemungkinan pria itu sudah mempunyai anak. Dhara bergerak tidak nyaman. "Dia belum menikah, Mas," ucap perempua itu mewakilkan. "Oh, begitu. Maaf ya." "Gapapa, Pak. Saya sering kok ditanya seperti itu." Aku tidak ingin lagi membuka suara sehingga aku hanya terdiam sampai kami berada di tujuan. "Satu jam lagi kita ketemu di ruang meeting ya," ucap Dhara yang mendapat anggukan dari Fajar. "Iya, Bu. Saya mau print rancangan lahan kita." Setelah itu Fajar berjalan menjauhi kami. "Aku mau istirahat dulu," Dhara menarik tanganku lalu membawaku ke sebuah rumah yang berada di seberang parkiran ini, "cape banget. Aku mau tiduran bentar." Dia membuka sepatunya lalu masuk ke dalam rumah. "Kamar aku ada di lantai dua." Tanpa menjawab aku langsung menginjakkan kakiku menaiki tangga dan berhenti sebentar saat berada di tangga terakhir. Dhara membuka kunci kamar itu lalu mempersilahkan aku untuk masuk. "Kemarin aku sampai ketiduran di sini." Dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang lalu aku menyusulnya. "Enggak usah dibahas," aku mengambil bantal, menjatuhkannya tepat di pahaku lalu menarik Dhara agar tidur di pangkuanku, "nanti kamu kesal lagi." "Enggak kesal lagi, aku kan mau cerita doang." "Iya. Iya," tanganku bergerak untuk mengelus rambutnya yang panjang tergerai, "yaudah tidur dulu. Nanti saya bangunkan." Dhara perlahan-lahan mulai memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian, matanya sudah benar-benar terpejam. Aku membuka ponselku lalu memeriksa kontak email pada hari ini. Pekerjaan kantorku memang tidak terlalu memusingkan karena aku punya beberapa sekertaris yang bisa aku andalkan. Mungkin karena aku tidak begitu menyukai bidang ini sehingga aku perlu banyak bantuan dari mereka. Biasanya, hanya meeting yang benar-benar penting yang akan aku hadirkan. Kalau aku bisa memilih, tentunya aku tidak akan menyebur dalam perusahaan ini. Hanya saja mengingat kedua orangtuaku bersusah payah untuk membesarkan namanya, aku jadi harus mengemban kewajiban untuk menjadi penerusnya. "Mas, dingin," suara Dhara yang tiba-tiba terdengar. Aku dengan sigap mencari keberadaan selimut di kamar ini, tetapi aku tidak menemukannya. "Selimutnya ada di mana?" "Enggak ada selimut di sini. Biasanya enggak sedingin ini," Dhara membuka matanya lalu memandangku dengan sayu, "peluk," pintanya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menuruti perintahnya. Semoga saja Fajar tidak menelepon apabila kami ketiduran. "Mas, pasang alarm dulu." Aku hanya terdiam, tidak menanggapi. Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a. Di k********a kalian bisa mendapatkan 1. Ebook Lengkap (59 part) 2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa Sudut Pandang Aarav (10 part) Sudut Pandang Dhara (3 part) Sudut Pandang Fajar (1 Part) Sudut Pandang Penulis (3 Part) Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya. Cara belinya: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_) 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD