Arryan masuk ke dalam apartemen milik Alice, ia benar-benar terkejut melihat adegan yang terhenti di depannya. Dadanya terasa sesak seolah oksigen di dalam ruangan itu menghilang. Air matanya tiba-tiba saja mengalir begitu saja karena hati Arryan begitu sakit, seperti dihujam ribuan pedang tiada henti. Bagaimana tidak, Arryan melihat dengan jelas Alice sedang berhubungan dengan seorang pria yang Arryan kenal. Pria itu adalah Glen. Ya, Glen Blade yang membantunya mendapatkan uang sebanyak itu dan membuat Arryan mendekam di penjara tanpa kesalahan apa pun yang diperbuatnya. Ia tidak pernah menyangka jika dirinya baru saja dikhianati oleh seseorang yang sangat Arryan cintai selama hidupnya.
“Arryan?!” pekik Alice dengan kedua mata membulat karena terkejut, seraya mendorong tubuh Glen yang sedang berada di atas tubuhnya. “Kenapa kau bisa berada di sini?!”
“Alice, kau ....” Arryan tidak bisa berkata-kata, suaranya tercekat karena menahan emosi. Bisa-bisanya Arryan datang disaat seperti ini membuat hatinya benar-benar hancur berantakan. Rasa rindu karena ingin bertemu dengan kekasihnya seketika hancur sudah karena pengkhianatan yang diberikan oleh Alice. Hidup Arryan terasa hancur setelah melihat semua itu, ia bahkan hanya diam mematung tanpa bisa bergerak satu langkah pun karena terlalu syok dengan keadaan.
“Yah, ketahuan,” timpal Alice yang diakhiri dengan suara tawa yang menggelegar membuat Arryan semakin terkejut dengan kelakuan dua insan yang tidak memiliki akhlak itu. Alice baru saja berselingkuh dan bisa-bisanya ia berbicara sesantai itu kepada Arryan, membuat Arryan semakin mearah. Ia tidak peduli dengan air matanya yang terjatuh. Ya, seumur hidup Arryan, ia baru pertama kali menangis di depan orang lain. Bisa dibayangkan betapa sakit hatinya Arryan sampai tidak bisa menahan air matanya sendiri.
“Kejutan ...,” teriak Glen sambil bertepuk tangan sambil tersenyum merendahkan kepada Arryan.
“Apa?!” pekik Arryan yang masih mematung ditempatnya semula tanpa bergeming sedikit pun. Ia masih mencoba mencerna semua yang ia lihat di depan kepalanya sendiri.
“Arryan, kau memang pria polos dan pemberani! Kau patut diacungi jempol, karena ternyata kau juga bodoh,” lanjut Glen sambil berjalan menghampiri Arryan.
Alice memakai pakaiannya tanpa malu dilihat oleh Glen atau pun Arryan. Ia berjalan mendekat lalu memeluk Glen dengan manja.
“Perkenalkan, ia adalah Alice, kekasihku,” ucap Glen seraya mencium bibir Alice sekilas membuat Arryan semakin murka. Namun, Arryan berusaha keras untuk menahannya.
“Kalian ... berselingkuh di belakangku selama aku tidak ada?!” bentak Arryan dengan suara yang menggelegar membuat Alice terkejut. Ini baru pertama kalinya Alice mendengar suara bentakan dari mulut Arryan.
Glen menggelengkan kepalanya. “Sayangnya tidak! Sejak awal, Alice adalah milikku.”
“Ya, aku hanya menjebakmu agar kau bisa menggantikan Glen di dalam penjara sana,” timpal Alice seraya menatap Arryan dengan rendah. Ia tidak percaya jika hari ini akan datang juga. Di mana Arryan akan tahu semuanya bahwa selama ini Alice tidak pernah mencintainya.
“Jadi ... kau tidak mencintaiku?” tanya Arryan dengan air mata yang berderai seraya menatap Alice dengan tatapan marah. Ia tidak percaya jika selama ini Alice membohonginya. Padahal Arryan benar-benar tulus mencintai Alice sampai rela melakukan hal yang seperti ini untuknya.
“Kau hanya dimanfaatkan selama ini, bodoh,” jawab Alice tanpa ingin melepaskan pelukannya dari Glen.
“Tapi ... aku sangat berterima kasih padamu, Arryan. Berkatmu, aku bebas dari tuduhan apa pun tanpa takut harus masuk ke dalam penjara. Aku juga bisa menikmati semua harta itu yang kau berikan kepada Alice saat itu,” ucap Glen sambil tersenyum miris kepada Arryan.
“Kalian ... benar-benar kejam! Aku akan membalas semua perbuatan kalian padaku. Apalagi kau, Alice.” Arryan menunjuk ke arah Alice dengan tatapan nanar. “Aku akan membuatmu sangat menderita karena sudah mempermainkanku!”
“Ah, takut ....” Alice meledek Arryan seraya bersembunyi dibalik tubuh kekar Glen. Bagaimanapun, ia merasa takut dengan tatapan Arryan yang benar-benar marah padanya.
Tak lama terdengar suara mobil polisi yang tampaknya berada di depan gedung apartemen, membuat Arryan kembali panik karena sebentar lagi para polisi akan menangkap dirinya.
“Kau harus lari Arryan jika tidak ingin ditangkap,” titah Glen seraya menatap tajam Arryan dan menyuruhnya untuk pergi.
Arryan semakin mengepalkan tangannya melihat tingkah Glen yang tidak tahu malu. Seharusnya, Glen yang harus mendekam di penjara bukan dirinya. Ia menatap tajam ke arah Glen dan juga Alice bergantian dengan perasaan yang begitu marah karena tidak terima dengan jebakan yang dilakukan oleh pasangan yang tidak beradab itu.
Detik berikutnya, Arryan berlari keluar menuju tangga karena ia yakin di dalam lift ada polisi. Ia menuruni tangga dengan cepat hingga ia bertemu dengan polisi yang hendak naik ke atas melewati tangga. Tidak ada jalan lain lagi selain jendela yang terpasang tak jauh dari Arryan berdiri. Ia naik ke atas lalu menggapai jendela itu sampai berhasil keluar dari sana melalui jendela itu. Arryan melompat membuat kakinya terasa sakit namun ia tidak peduli. Arryan tetap mencoba berdiri dan berlari.
Suara tembakan demi tembakan berarah kepadanya namun beruntungnya peluru itu tidak mengenai tubuh Arryan. Ia mencoba masuk ke dalam sebuah pertokoan untuk mencoba bersembunyi di sana. Namun, tanpa disangka wajahnya disiarkan di televisi membuat semua orang yang berada di toko langsung melihat ke arahnya. Arryan kembali berlari keluar dan tak sengaja tertabrak oleh sebuah mobil polisi yang sedang melaju, membuat Arryan tidak sadarkan diri saat itu juga.
***
Arryan membuka kedua bola matanya secara perlahan-lahan. Pandangannya memburam membuat Arryan harus menutup kembali matanya untuk beberapa saat. Detik berikutnya, Arryan mencoba membuka kembali matanya, kini pandangannya kembali jelas. Ia bisa melihat lampu yang bersinar terang di atasnya. Kemudian, Arryan menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan. Ia terkejut karena Arryan berada di sebuah kamar yang cukup luas dan juga mewah. Cat dinding berwarna abu-abu dengan lemari hias yang di dalamnya seharga jutaan rupiah membuat Arryan membulatkan kedua bola matanya. Bahkan, Arryan tidak pernah merasakan kasur yang seempuk ini selama hidupnya.
“Apa aku berada di surga?” tanya Arryan kepada dirinya sendiri, ia mencoba memukul pipinya dengan tangannya sendiri, membuatnya mengaduh kesakitan. “Hah, aku masih hidup.”
Terdengar suara pintu dibuka membuat Arryan langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang pria yang seumuran dengannya masuk ke dalam kamar. Raut wajah pria itu langsung tersenyum senang melihat Arryan. Ia bergegas menghampiri Arryan.
“Anda sudah sadar, Tuan muda?” tanya pria itu yang menunjukkan ekspresi betapa senangnya a melihat Arryan yang akhirnya tersadar setelah satu minggu koma.
“Tuan ... muda?” tanya Arryan dengan kening berkerut.