Arryan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia terdiam sambil menatap pria itu. Tentu saja karena Arryan tidak mengenalinya. Bagaimana bisa pria itu memanggil Arryan tuan muda?
"Siapa kau?" tanya Arryan sambil memandanginya dengan tatapan takut. Ia kembali melihat ke arah sekelilingnya. Ternyata Arryan memang benar-benar berada di dalam sebuah kamar yang lebarnya pun melebihi rumahnya.
"Saya Derren Tuan," ucap pria yang mengaku bernama Derren itu sambil menundukkan kepalanya penuh hormat kepada Arryan.
"Derren?" Arryan mencoba mengingat nama itu, tetapi seberapa kuat pun ia mencoba untuk mengingatnya, tetapi tidak ada ingatan satu pun yang mengingatkannya kepada nama pria itu. "Aku tidak mengenalimu."
Pria itu hanya tersenyum. "Sebaiknya Anda kembali beristirahat."
"Tunggu, kenapa aku ada disini? Jawab dulu pertanyaanku sebelum kau pergi," tanya Arryan yang membutuhkan jawaban sebelum pria bernama Derren itu pergi.
"Anda adalah cucu dari Liam Smith yang hilang beberapa tahun yang lalu," jelas Derren yang mulai menjelaskan kepada Arryan kenapa ia berada di kamar itu.
"Apa?" pekik Arryan yang begitu terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. "Siapa kau bilang? Liam Smith?"
Derren menganggukkan kepalanya meyakinkan Arryan jika pernyataannya itu benar. "Ya, Liam Smith adalah Kakek kandungmu. Sudah bertahun-tahun lamanya Tuan Smith mencari Anda, hingga pada akhirnya ia menemukanmu. Awalnya, Tuan Smith cukup terkejut ketika melihat Anda disiarkan di televisi oleh pihak kepolisian. Namun, pada akhirnya ia tetap yang menjamin Anda dan mengeluarkan Anda dari penjara."
"Sebentar, aku masih belum mengerti," timpal Arryan yang mencerna semua penjelasan Derren kepadanya. "Jika memang aku adalah cucu dari Liam Smith. Kenapa ia bisa mengetahui bahwa aku adalah cucunya? Bukankah cucunya hilang selama bertahun-tahun lamanya. Itu berarti harusnya ada perubahan dari fisik yang tidak mungkin Liam Smith langsung mengenalinya."
"Anda benar, Tuan, tetapi masalahnya Anda begitu mirip dengan mendiang Ayah Anda," jelas Derren lagi.
"Ayah?" pekik Arryan sambil tersenyum kecil. "Aku bahkan yatim piatu sejak kecil. Aku tidak mengetahui bagaimana rupa kedua orang tuaku. Sekarang, bisakah kau membuktikan kemiripan yang kau bilang."
Arryan masih tidak percaya jika ia adalah cucu dari Liam Smith. Menurutnya, semua yang menimpanya terlalu tiba-tiba. Ia tidak ingin tertipu lagi, membuatnya tidak ingin mudah percaya kepada siapa pun. Arryan baru saja masuk penjara karena ia mengakui sebuah kesalahan yang tidak ia lakukan, lalu tiba-tiba ia harus menerima sebuah fakta bahwa dirinya adalah seorang cucu yang hilang dari Liam Smith? Tentu saja itu tidak masuk akal bagi Arryan. Tidak mudah bagi Arryan untuk mempercayai seseorang lagi. Hatinya sudah beku dan berbeda dari sebelumnya.
"Aku bisa membuktikan." Terdengar suara serak di ambang pintu membuat Arryan refleks melihat ke arah sana.
Terlihat seorang pria tua memakai jas yang begitu rapih dengan sebuah tongkat di tangannya, membantu pria tua itu berjalan. Pria itu terlihat begitu rapih dengan pakaian yang Arryan tebak senilai jutaan rupiah. Ia tahu betul jika yang digunakan oleh pria tua itu bukanlah barang-barang murah atau pun bajakan. Terlihat dari jam tangannya saja bahwa jam itu asli meskipun Arryan melihatnya dari kejauhan. Arryan memang tidak pernah memiliki barang-barang itu semua karena ia tidak mampu membelinya, tetapi ia mengetahuinya karena itu adalah impiannya. Memakai barang-barang serba mahal di tubuhnya seperti orang-orang yang ia lihat ketika hendak pergi bekerja.
"Perkenalkan ini adalah Tuan Liam Smith, Kakek Anda," ucap Derren memperkenalkan pria tua itu kepada Arryan.
Liam Smith memang sudah tua, tapi tidak terlihat begitu tua. Wajahnya masih terlihat tampan meskipun sudah ada kerutan di beberapa bagian wajahnya. Sangat terlihat jelas dari tampangnya saja bahwa Liam memang bukan orang biasa saja. Ada rasa segan yang Arryan rasakan ketika Liam menghampirinya. Kharisma yang terpancar di tubuh Liam sangatlah kuat, membuat Arryan hanya terdiam tanpa berkata apa pun.
"Apa yang ingin kau ketahui cucuku?" tanya Liam yang berdiri di samping ranjang Arryan.
Derren mengambilkan sebuah kursi untuk Liam, membuat Liam bisa duduk di sana. Sementara Derren, ia berdiri di belakang Liam.
"Kenapa kau begitu yakin jika aku adalah cucumu?" tanya Arryan kemudian.
"Derren sudah menjawabnya, kau begitu mirip dengan ayahmu dan aku bisa mengenalimu hanya dengan melihatmu sekilas saja." Liam menjawab pertanyaan Arryan sambil menatap cucunya itu dalam-dalam.
Selama bertahun-tahun Liam mencari keberadaan cucunya yang hilang. Ia tidak menyangka jika hari ini akan tiba. Dimana Liam menemukan cucunya yang selama ini ia cari, meskipun Liam menemukan Arryan di tempat yang tidak terduga.
Liam mengambil sebuah foto yang ada di atas nakas. Arryan baru sadar jika di sana terdapat sebuah foto. Sejak tadi ia hanya terfokus ke arah sekeliling kamar dan juga Derren, membuatnya tidak melihat foto itu. Kemudian, Liam memberikan foto yang ia ambil kepada Arryan. Terlihat sebuah foto keluarga kecil yang terdapat seorang wanita dan pria muda. Di pangkuan wanita itu ada seorang bayi laki-laki yang tersenyum ke arah kamera. Arryan juga terkejut ketika melihat foto pria itu. Seperti yang dikatakan oleh Liam, putranya mirip sekali dengan Arryan dan itu memang benar, jika foto pria itu mirip dengan Arryan. Benar-benar mirip membuat Arryan mengira jika ia memiliki seorang kembaran.
"Waktu itu kedua orang tuamu membawamu pergi untuk sebuah urusan yang sangat penting, tapi naasnya diperjalanan mobil yang kalian tumpangi mengalami sebuah kecelakaan. Ayah dan Ibumu meninggal di tempat, tapi Kakek tidak pernah menemukanmu. Semenjak saat itu, kau dinyatakan hilang. Kakek begitu yakin kau masih hidup, karena selama Kakek belum melihat jasadmu, Kakek anggap kau masih hidup dan ternyata dugaan Kakek benar. Kau masih hidup," jelas Liam panjang lebar dengan air mata yang tiba-tiba saja menetes membasahi wajahnya karena kembali teringat akan kejadian dimana ia kehilangan putra dan menantunya sekaligus.
Arryan terdiam. Ia kembali mencerna semua penjelasan dari Liam. Ia ternyata hilang saat insiden kecelakaan. Arryan tidak mengerti siapa yang mengambil dirinya, karena Arryan sudah hidup sendirian dari kecil bersama dengan seorang pria yang ia anggap sebagai keluarga, tapi orang itu sudah meninggal dunia dan memberikan rumah yang hampir rubuh menjadi milik Arryan.
"Arryan, hanya kaulah yang Kakek miliki. Kau harapan Kakek yang bisa mengurus semua perusahaan yang Kakek jalankan," lanjut Liam lagi membuat Arryan yang sedang melamun menoleh kembali ke arah Liam. "Beruntung Kakek menemukanmu disaat Kakek masih hidup. Meskipun Kakek terkejut karena kau berada di dalam penjara. Apa yang kau lakukan sampai kau bisa masuk penjara Arryan? Benarkah kau seorang pembunuh?"