Bab 5. Hampir Menabrak Seseorang

1081 Words
Arryan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, semua itu bohong! Aku ditipu," ucap Arryan yang kemudian menjelaskan apa yang terjadi kepada dirinya sebelum bertemu dengan Liam dan Derren. Liam menganggukkan kepalanya mengerti setelah Arryan menjelaskan apa yang terjadi. "Kakek percaya kepadamu, Arryan. Kakek juga sudah membersihkan namamu." "Terima kasih, Kakek," ucap Arryan sambil tersenyum getir dengan Liam yang ternyata percaya kepadanya. "Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini. Kau juga akan diajari bagaimana cara mengurus dan mengelola perusahaan yang akan Kakek turunkan kepadamu." "Tapi, aku belum pernah mengurus atau pun mengelola sebuah perusahaan, Kakek. Aku merasa tidak yakin bisa melakukannya," ucap Arryan yang tidak percaya diri jika dirinya bisa mengelola sebuah perusahaan. Tentu saja Arryan merasa seperti itu, karena jangankan bekerja di sebuah perusahaan. Selama ini ia hanya bekerja serabutan. Ia bekerja siang malam di tempat pekerjaan kasar dan berbeda-beda tempat, membuat tangannya pun begitu kasar, wajahnya terkena terik sinar matahari. Selama ini Arryan bekerja memakai tenaganya, bukan pikirannya. "Tenang, Kakek dan Derren akan membantumu," timpal Liam sambil tersenyum penuh percaya diri jika Arryan bisa melakukannya. Liam memang sudah sepenuhnya yakin dan percayalah kepada Arryan meskipun itu adalah pertama kalinya Liam berbicara kepada Arryan. Hatinya mengatakan jika Arryan adalah cucunya. Diperkuat dengan wajah dan cara bicara Arryan sangatlah mirip dengan mendiang putranya, membuat Liam benar-benar dengan yakin untuk mendidik Arryan agar cucunya itu bisa melakukan apa yang harusnya ia lakukan. *** "Tuan, Anda dipanggil Tuan Liam," ucap Derren yang datang ke ruangan kerja Arryan yang terletak tidak jauh dari kamarnya. Ruangan itu menjadi tempat Arryan belajar cara mengelola perusahaan. Selama beberapa bulan ini Arryan selalu menghabiskan waktunya di sana. Ia memang selalu giat setiap kali mempelajari sesuatu. Arryan datang ke ruangan di mana Liam berada. Terlihat kakeknya itu begitu berwibawa meskipun sedang duduk. Arryan menunduk hormat ketika berada di depan Liam, lalu duduk di salah satu sofa yang berseberangan dengan Liam. "Apa Kakek memanggilku?" tanya Arryan dengan nada suara yang begitu sopan. Kini penampilan Arryan sudah berubah 180 derajat dari sebelumnya. Arryan memakai pakaian yang begitu rapih sama seperti yang dikenakan oleh Liam. Wajah Arryan juga terlihat begitu bersih dari sebelumnya, karena memang selain mempelajari cara mengelola perusahaan, Arryan juga melakukan beberapa perawatan wajah dan juga tubuhnya. Sebenarnya, Arryan tidak mau melakukannya, tetapi karena paksaan dari Liam, membuat Arryan akhirnya mau melakukan perawatan yang harganya benar-benar menguras dompet. "Benar, mulai besok kau akan menggantikan Kakek mengurus perusahaan," ucap Liam membuat Arryan tentu saja terkejut dengan apa yang baru saja Liam katakan. Arryan belum siap, ia merasa jika apa yang dipelajarinya belum sepenuhnya ia pelajari. "Tapi Kakek, aku belum siap." "Kau sudah siap. Menurut Kakek kau belajar dengan cepat, hanya dengan beberapa bulan saja kau sudah menguasai beberapa hal yang harus kau kuasai. Kakek percaya kepadamu. Kakek akan tetap memantau setiap pergerakan yanh kau lakukan," ucap Liam membuat Arryan berdebar tidak karuan karena kini ia benar-benar akan memimpin sebuah perusahaan menggantikan kakeknya. *** Dua tahun sudah berlalu, kini ia sudah menjadi pemimpin di perusahaan itu. Ia terkenal dengan kedisiplinannya dan juga sikap dinginnya kepada semua pegawai wanita. Arryan benar-benar tidak menyukai orang-orang yang terlambat datang. Ia akan marah dan tidak segan untuk memecat siapa pun yang berani terlambat. Itulah kenapa setelah Arryan menggantikan posisi Liam, semua pegawai yang bekerja disana benar-benar disiplin. Hari itu Arryan sedang menjalankan mobilnya membelah jalanan yang cukup lenggang. Ia harus segera pergi ke kantor karena ada sebuah rapat penting. Meskipun ia sedang menyetir mobilnya, tetapi Arryan tidak lepas dari ponselnya. Ia sedang menelepon Derren. Memang, Derren sudah menjadi tangan kanannya semenjak Liam pensiun. Mereka sedang membicarakan pekerjaan seperti biasa. Hingga tiba-tiba Arryan menabrak seorang wanita yang menyebrang begitu saja ketika ia sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Sial!" umpat Arryan yang terpaksa harus menghentikan laju mobilnya disaat ia sedang terburu-buru. "Ada apa, Tuan? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Derren khawatir dibalik sambungan telepon. "Aku menabrak seseorang," jawab Arryan dengan enteng. "Apa?" Tanpa menimpali perkataan Derren lagi, Arryan langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja. Ia turun dari mobil dan melihat seorang wanita yang baru saja terbangun setelah Arryan tidak sengaja menabraknya. Aliran cairan berwarna merah kental mengalir dari dahi wanita itu, membuat Arryan sedikit terkejut, tapi ia terlihat biasa-biasa saja. "Oh, Tuhan! Aku … aku berdarah." Wanita itu menjerit karena panik setelah melihat darah yang mengalir dari dahinya. Kemudian, ia melihat ke arah Arryan yang hanya diam saja tanpa ada pergerakan sekali pun. "Apa kau akan diam saja seperti patung seperti itu?" tanya wanita itu sambil menatap Arryan dengan tatapan nanar. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Arryan tanpa rasa bersalah. Memang, semenjak pengkhianatan yang dilakukan oleh Alice membuat hati Arryan menjadi beku. Tidak ada lagi rasa peduli dan juga simpati terhadap semua wanita. Arryan memandang jika semua wanita itu sama. Berpura-pura lemah untuk menjebak pria akan mengasihaninya. Setelah terjebak, wanita itu akan memanfaatkannya dan Arryan tidak mau semua itu terjadi lagi kepadanya. Itulah kenapa Arryan membatasi diri dan memasang tembok yang begitu tebal di hatinya agar tidak ada wanita mana pun yang akan ia kasihani. "Setidaknya kau bertanggung jawab dan membawaku ke rumah sakit," ucap wanita itu lagi yang menatap Arryan dengan tatapan heran. "Aku tidak punya waktu untuk melakukan semua itu," jawab Arryan sambil mengambil dompet yang ada di sakunya. "Berapa yang kau inginkan? Aku akan memberikanmu sejumlah uang dan kau bisa pergi sendiri ke rumah sakit." Arryan memberikan beberapa lembar uang kepada wanita itu. Ia menganggap semua masalahnya beres hanya dengan uang. Kemudian, ia hendak pergi setelah wanita itu menerima uang yang diberikannya. Namun, langkahnya terhenti ketika tangan seseorang memegang bahunya, membuat Arryan menoleh ke arah wanita itu lagi. "Apa seperti ini caramu memperlakukan seorang wanita?" tanyanya yang tidak terima dengan Arryan karena akan pergi dari tanggung jawab. "Apa?" tanya Arryan sambil menaikkan sebelah alisnya karena tidak mengerti dengan apa yang dimaksud olehnya. Wanita itu melempar uang yang diberikan oleh Arryan tepat ke wajah tampannya. Tentu saja lagi-lagi Arryan terkejut, tetapi ia berusaha tetap tenang dan menatap wanita itu dengan marah. Arryan sudah berbaik hati kepadanya dengan cara memberikannya uang, tetapi ternyata ini adalah balasannya. "Ambil uangmu kembali! Aku tidak butuh uang darimu, yang aku butuhkan hanyalah tanggung jawabmu membawaku ke rumah sakit!" ucap wanita itu dengan nada suara yang meninggi. "Jika tidak mau bertanggung jawab, setidaknya kau bisa menghargaiku. Tidak semuanya bisa kau selesaikan dengan uang!" Kemudian, wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Arryan yang kini menjadi tontonan semua orang. "Sialan, seharusnya aku tidak turun saja dari mobil," ucap Arryan sambil menatap punggung wanita itu dengan nanar. "Lihat saja nanti jika kita bertemu lagi!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD