"Sejak awal aku juga sudah sadar jika tidak sepantasnya untuk berharap, tetapi kadangkala hati berjalan meraih rasa tanpa permisi pada logika. Aku sadar, kecewa itu karena sebuah harap yang tidak seharusnya ada," ujar Tara lirih, tidak ada jawaban yang ia dengar karena yang ia ajak bicara adalah sebuah daun anggrek artifisial yang tertempel di dinding luar balkon kamarnya, dengan jemari lentiknya Tara memegang ujung daun itu lalu melepaskannya, seperti melepaskan sebuah asa yang baru mulai tumbuh dalam dadaa. "Mungkin aku memang ditakdirkan untuk seperti ini, tidak seberuntung wanita lain yang bisa merasakan bahagia dengan seseorang yang ia cintai." Tara bersenandika, lalu memeluk dirinya sendiri dalam dinginnya malam yang mendekap hingga jauh ke dalam relung sukma. "Tidak pernah ada y

