"Ibu, aku enggak denger apa-apa." Hening menahan tawa, begitu juga dengan Naka yang sedang mengoleskan madu di roti gandum yang akan Qeila santap, gadis kecil itu memang begitu mirip dengan Bundanya tidak pernah bisa sarapan nasi. "Ibu, kok adik bayi enggak gede-gede?" tanya Qinara seraya kembali menempelkan telinganya ke perut Hening yang tengah berdiri di samping meja makan. Ini memang bukan pertama kalinya Qinara akan memiliki adik tetapi saat Asih hamil dulu Qinara belum sebesar sekarang dan rasa penasarannya juga belum sebesar sekarang, hanya saat Meisya hamil Qinara sudah mulai cerewet seperti ini. "Ibu nanti kalau aku sudah besar aku mau jadi dokter kandungan biar bisa liat adik bayi dalam perut," ujar Qinara, Hening tersenyum mendengarnya ketertarikannya pada adik bayi dalam

