Selamat membaca ya ^^
Tiga jam lebih 45 menit kemudian, tepatnya di pukul satu siang, Manolis kembali mendatangi kamar Chris karena baru saja mendapatkan kabar dari Rery, orang kepercayaan Enzo, bahwa mereka sudah tiba di Santorini. Manolis bergegas memanggil Chris. Ia juga meminta supir pribadi Chris yang bernama Fiorenzo Titone, untuk menyiapkan mobil. Mereka akan berangkat menemui Enzo, setelah Manolis memberitahukan hal ini pada Chris.
Manolis mengetuk pintu kamar Chris, berharap penghuni di dalam segera keluar dan menemuinya.
“Kýrie Chris,” panggil Manolis.
Tidak ada jawaban. Bahkan Chris tak kunjung keluar dari dalam sana. Sekali lagi, Manolis mengetuk pintu tersebut sambil memanggil nama Chris. Ia tidak mungkin masuk begitu saja ke dalam karena kamar adalah tempat privasi tuannya. Dia akan masuk jika Chris mengizinkannya.
“Kýrie, Enzo dan yang lainnya sudah tiba di Santorini. Mereka sudah menunggu kita di Desa Oia. Jika Anda ingin berangkat sekarang, mobil sudah disiapkan,” ujar Manolis.
Tak lama pintu tersebut terbuka dan menampilkan wajah Chris yang sedikit sembab. Ia memang habis menangis tadi. Manolis pun tidak ingin menanyakan perihal wajah tuannya, karena ia sudah tahu sejak tadi.
“Kita akan pergi sekarang,” kata Chris. “Kalian tunggu di bawah. Aku akan siap-siap.”
“Málista, Kýrie.”
Manolis sedikit menunduk, kemudian pergi dari hadapan Chris. Sedangkan Chris tengah bersiap-siap untuk menemui Enzo yang telah menjadi rekan bisnisnya selama tiga tahun belakangan ini. Sebisa mungkin ia menutupi wajah sembabnya dengan menyiramkan air secara berulang-ulang. Dia tidak ingin orang lain tahu tentang kesedihannya.
Setelah selesai membersihkan diri, Chris mengambil pakaian yang sudah disediakan oleh pelayan di mansion tersebut. Dengan mengenakan setelan jas putih, wajah Chris semakin terlihat segar dan tampan. Membuat wanita yang melihatnya seakan ingin memilikinya. Tubuhnya yang atletis membuat siapa saja terpana saat melihatnya dan menimbulkan rasa iri hati bagi para pria lainnya.
Chris turun ke bawah menemui Manolis. Semua yang ada di sana menunduk saat melihat kehadiran Chris. Manolis pun segera membukakan pintu belakang mobil untuk Chris, setelah itu ia masuk ke kursi bagian depan bersamaan dengan Fiorenzo.
Pria berusia 48 tahun yang menjadi supir pribadi Chris itupun menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal menuju Desa Oia, tempat Enzo menginap selama di Santorini.
“Manolis,” panggil Chris sesaat setelah mobil itu berjalan.
Manolis menoleh ke belakang, menatap Chris. “Ada apa, Kýrie? Apa ada sesuatu yang tertinggal?”
“Den.”
Manolis mengernyit bingung, namun tidak ingin bertanya. Dia memilih untuk diam dan menunggu Chris melanjutkan kalimatnya.
“Apa kau sudah mendapatkan kabar dari Vincenzo?” tanya Chris tanpa menatap Manolis. Ia lebih memilih menikmati pemandangan diluar jendela daripada harus menatap Manolis yang selalu tahu akan kesedihannya.
“Sampai saat ini belum ada kabar, Kýrie. Tapi jika Kýrie Chris merasa penasaran, saya akan menghubunginya sekarang,” jawab Manolis.
Seketika Chris menggeleng. “Lupakan saja.”
Manolis hanya tersenyum menanggapi kegelisahan tuannya itu. Ia memahami kejadian kelam itu akan membuat kehidupan Chris menjadi terpuruk seperti ini. Manolis memilih untuk kembali menatap ke depan, sedangkan Fiorenzo hanya melihat Chris dari kaca spion yang berada di dalam mobil.
***
Mobil sedan yang dikemudikan Fiorenzo melewati sebuah toko roti yang ada di tepi jalan. Chris yang secara tak sengaja menatap kearah toko roti tersebut pun sekilas memperhatikan seorang wanita yang ada di dalam sana. Setelah mobil itu benar-benar melewati toko tersebut, Chris kembali menoleh ke belakang seakan menyadari sesuatu. Ia ingin melihat kembali wanita yang ada di sana, namun sudah tak terlihat lagi sebab jarak mobil yang semakin menjauh dari toko tersebut. Pria tampan berusia 30 tahun itu mengernyit dan segera menangkis apa yang ada dipikirannya saat ini. Mungkin ia sedang tidak fokus sehingga memikirkan hal-hal aneh.
“Ada apa, Kýrie?” tanya Manolis saat menyadari perubahan ekspresi Chris.
Chris menatap Manolis dalam diam. Sedetik kemudian ia menggelengkan kepala. “Tidak ada apa-apa,” jawabnya seolah tidak ingin memikirkan sesuatu yang belum pasti. Dia juga tidak ingin membuat rekannya menunggu hanya karena ingin memastikan siapa wanita yang ia lihat tadi saat melewati toko tersebut.
Manolis hanya mengangguk dan kembali duduk tegak lurus ke depan.
Sekitar kurang lebih setengah jam, mobil sedan itu pun tiba di depan villa yang terletak di Desa Oia. Manolis turun dari mobil terlebih dulu, kemudian berbalik ke belakang, membuka pintu belakang mobil untuk Chris.
Pria berjas putih itu turun dengan tubuh yang gagah sambil membenarkan jasnya. Manolis menunduk hormat pada tuannya, sedangkan Chris maju selangkah dan membiarkan Manolis menutup pintu tersebut. Selanjutnya, Chris yang didampingi Manolis bergegas menghampiri Rery dan Jack sambil melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, kemudian menyimpan benda tersebut di saku jas bagian atas.
Jack dan Rery sudah menunggu kedatangan Chris di teras depan villa milik Enzo. Kedua anggota Enzo itu sangat baik menyambut kedatangan Chris. Pria berjas putih ini menghentikan langkahnya tepat di depan Jack.
“Silahkan masuk,” ucap Rery mempersilahkan.
Jack dan Rery masuk terlebih dulu ke dalam villa, sedangkan Chris dan Manolis mengikuti di belakang. Saat berada di ruang depan, perhatian mereka teralihkan oleh suara derap kaki milik Enzo yang hendak menghampiri mereka. Chris tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya pada Enzo.
“Apa kabar, Enzo?” tanya Chris untuk sekedar berbasa-basi agar suasana diantara mereka tidak terlalu canggung.
“Baik. Bagaimana kabarmu?” Enzo balik bertanya pada Chris sambil membalas uluran tangan rekannya itu.
“Sangat baik setelah melihat kedatanganmu,” jawab Chris, membuat Enzo memperlihatkan senyuman manisnya.
Selanjutnya, Chris mengikuti langkah Enzo menuju sebuah halaman yang terletak di belakang villa milik Enzo. Kunjungan Chris kali ini adalah ingin membahas bisnis illegal yang telah mereka berdua lakukan bersama selama tiga tahun.
Enzo mempersilakan Chris duduk di kursi yang berhadapan dengan Enzo. Taman itu terlihat indah dan mampu membuat pikiran Chris tenang seketika. Segala pikiran buruk tentang masa lalunya pun seakan menghilang begitu saja. Kini, ia bisa fokus membicarakan masalah bisnis narkotikanya dengan Enzo.
“Jadi, hal apa yang bisa aku bantu, Chris?” tanya Enzo.
“Soal penyelundupan narkotika,” jawab Chris. “Aku ingin meminta bantuanmu. Apa kau bisa membantuku?”
Enzo tampak terdiam sejenak seakan memikirkan sesuatu. Selanjutnya ia bertanya, “Kau akan menyelundupkannya ke negara mana?”
“Spanyol. Aku dengar, kau memiliki relasi yang kuat dengan Ketua mafia di sana,” ujar Chris sambil meminum minuman yang sudah disediakan oleh pelayan Enzo.
“Ya, aku punya relasi di sana. Namanya Leopoldo Vallejos.”
“Allora, sei disposto ad aiutarmi?” tanya Chris menggunakan bahasa Italia.
Enzo tersenyum sambil mengangguk. “Sì, ti aiuterò.”
“Grazie, Signor Enzo.”
“Apa kau ada kesibukan lain, Chris?” tanya Enzo.
Chris terdiam sejenak kemudian menatap Manolis. Orang yang ditatap pun menjawab dengan gelengan kepala. Chris mengangguk sambil tersenyum lalu kembali menatap Enzo.
“Sepertinya aku free hari ini,” jawab Chris.
“È fantastico. Kalau begitu, mari kita makan malam bersama,” ujar Enzo menawarkan.
Chris mengangguk. “Grande idea.”
Enzo pun memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan makan malam, sementara Chris menunggu sambil tetap berbincang-bincang dengan Enzo. Manolis memilih untuk bergabung bersama Jack dan Rery.
***
Matahari hampir saja menutup cahayanya di senja yang indah ini. Tepat di depan villa milik Enzo, terlihat dua orang wanita sedang menjinjing banyak sekali paper bag di tangannya. Mereka baru saja kembali ke villa setelah sebelumnya mengelilingi tempat-tempat yang ada di Desa Oia ini. Sepertinya mereka berdua begitu menikmati keeksotisan negara ini.
Seketika, mereka berdua sedikit bingung melihat mobil sedan yang terparkir di depan villa tersebut. Keduanya saling bertatapan sambil memasang ekspresi yang sama.
“Ada tamu?” tanya seorang wanita yang memiliki rambut panjang lurus itu pada sahabatnya sekaligus kekasih dari Enzo, Nieve Valente.
“Entahlah. Sepertinya memang iya,” jawab Nieve.