Teresa Longobardi atau yang biasa disapa Tere, masuk ke dalam villa diikuti Nieve di sampingnya. Pandangan mereka berdua mengitari ruangan yang terlihat sepi meskipun lampu-lampu di sana sudah dinyalakan. Bahkan pintu depan tidak ditutup, menandakan bahwa pemilik mobil sedan itu masih berada di villa tersebut.
“Sepi. Aku juga tidak melihat Enzo,” ucap Nieve sambil memikirkan hal konyol yang memancing perhatian Teresa saat ini.
“Nieve,” panggil Teresa. Ia menyenggol lengan Nieve sehingga Nieve tersadar dari lamunan konyolnya itu. “Kenapa?” tanyanya.
“Ah, tidak ada apa-apa,” jawab Nieve memamerkan senyum kakunya.
“Lebih baik kita masuk ke kamar.”
Teresa mengajak Nieve dan menggandeng lengannya. Saat berada di kamar, Teresa dan Nieve memilih untuk membersihkan diri dan memakai pakaian baru yang mereka beli siang tadi.
Nieve memakai gaun berwarna hitam tanpa lengan, bercorak emas di setiap tepinya dan menampilkan belahan di dadanya. Sedangkan Teresa mengenakan gaun berwarna abu-abu muda, berlengan panjang hingga ke siku dan memiliki kerah seperti kain yang melingkari leher mulusnya. Gaun yang mereka kenakan panjangnya hanya menutupi sebagian paha saja. Keduanya terlihat sangat cantik dan seksi saat mengenakan gaunnya masing-masing.
Disaat Teresa dan Nieve masih sibuk merias diri, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara ketukan pintu dari luar. Nieve menghentikan aktifitasnya sejenak untuk membuka pintu, sementara Teresa memilih untuk tetap pada posisinya. Cukup lama Nieve berada di depan pintu sambil berbicara dengan seseorang.
“Siapa, Nieve?” tanya Teresa tanpa melihat Nieve karena sibuk dengan maskara dan bulu matanya.
“Rery,” jawab Nieve sambil menutup pintu dan berjalan kearah Teresa. “Dia mengatakan kalau Enzo sudah menunggu di halaman belakang.”
“Halaman belakang?” Teresa menjauhkan maskara tersebut dari bulu matanya, lalu menoleh kearah Nieve, “Kenapa menunggu di halaman belakang? Atau jangan-jangan dia mengajak makan malam di sana?”
“Hah?! Makan malam? Aku masih kenyang,” ucap Nieve merasa tidak semangat.
“Itu karena kau memesan banyak makanan tadi siang. Perutku saja terlihat membuncit karena makan makanan sebanyak itu denganmu.”
Teresa tersenyum tipis saat mendengar helaan napas pelan dari sahabatnya itu. Setelah selesai merias diri, Teresa bangkit berdiri sambil memakai sepatu heels berwarna putih. Dia menarik lengan Nieve untuk keluar dari kamar bersamanya.
“Ayo, aku akan menemanimu,” ujar Teresa. Membuat Nieve hanya mengangguk dan mengikutinya saja.
***
Ketika sampai di ambang pintu menuju halaman belakang, Teresa dan Nieve tertegun akan keindahan taman tersebut yang terkesan sangat romantis. Suara ombak di bawah terdengar seperti suara alunan musik malam yang merdu. Ditambah dengan cahaya bintang di atas sana membuat suasana semakin menenangkan pikiran. Belum lagi lampu-lampu taman yang bersinar jingga di tepian pagar menambah kesan romantis, terpancar dari meja makan serba putih yang terletak di tengah-tengah halaman, tak jauh dari kolam renang bertepi bebatuan.
Enzo menghampiri mereka berdua dan berdiri tepat di depan Nieve. Ia memuji kecantikan Nieve malam ini menggunakan bahasa Yunani yang tak dimengerti oleh Nieve. Sedangkan Teresa, masih berdiri di samping Nieve sambil memperhatikan keindahan di halaman belakang. Hingga perlahan tatapannya tertuju pada seorang pria berkemeja putih. Mungkin saja, jas putih yang tergantung di kepala kursi itu adalah miliknya.
Pria asing itu berdiri memunggungi mereka. Dia memasukkan jemari tangan kirinya di saku celana sedangkan tangan kanannya memegang sesuatu. Teresa menghela napas pelan, seakan tak ingin terlalu dalam memperhatikan pria yang tak dikenalnya itu. Dia kembali menjatuhkan pandangannya sekilas kearah Nieve dan Enzo.
Seketika pikiran Teresa melayang pada satu titik, dimana ada banyak pertanyaan yang terlintas di pikirannya. Salah satunya adalah mengenai Enzo yang masih menganggap Nieve sebagai p*****r atau tidak. Dan pertanyaan selanjutnya, mungkinkah Enzo akan mengeksekusi Nieve?
Jika dilihat sekilas, mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Terlebih saat Nieve menatap Enzo, Teresa bisa merasakan bahwa sahabatnya itu menyukai Enzo. Namun, Nieve tidak ingin jujur saat Teresa menanyakan hal itu.
“Enzo, ada acara apa ini?” tanya Nieve. Nieve menjatuhkan tatapannya ke sekeliling halaman dan tak melihat satupun wanita di sana, kecuali dirinya dan Teresa.
“Aku pernah mengatakan padamu, kunjunganku ke sini adalah melakukan pertemuan dengan rekan bisnisku untuk membicarakan hal penting,” jawab Enzo lalu menoleh ke belakang. Jari telunjuknya mengarah kepada sosok pria asing yang sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka. “Setelah selesai membahas masalah bisnis, kami pun mengadakan acara makan malam bersama.”
“Siapa dia?” tanya Nieve.
“Mari, aku akan mengenalkannya padamu,” ajak Enzo sambil menarik pinggang Nieve sehingga membuat wanita itu tidak bisa menolak ajakannya.
Teresa hanya mengikuti kedua sejoli itu menemui pria asing yang dia perhatikan tadi. Hingga langkahnya berhenti di belakang pria tersebut dan Enzo memanggil Chris yang tengah berbincang dengan Manolis. Manolis pun izin pergi bersama Jack dan anak buah Enzo lainnya menuju bar yang letaknya tak jauh dari villa tersebut.
“Chris,” panggil Enzo.
Chris menoleh ke belakang dan berhadapan dengan Enzo. “Ada apa?”
“Perkenalkan, ini Nieve Valente, kekasihku,” ucap Enzo memperkenalkan Nieve pada Chris.
Chris tersenyum ramah pada Nieve sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat-tangan dengan wanita itu. “Chrysanthos Carras,” ucapnya sambil melirik kearah Teresa yang menahan langkahnya jauh di belakang Nieve.
Teresa berjalan menjauh dari Nieve sambil menerima sebuah panggilan telepon dari salah satu editor yang mengurus novelnya. Dia berjalan melewati pintu belakang lalu masuk ke dalam villa, seolah tidak ingin mengganggu mereka dengan kesibukannya.
Nieve memperhatikan arah pandang Chris yang tertuju pada punggung Teresa. Nieve mengira Chris merasa kesal karena Teresa enggan berkenalan dengan Chris dan memilih menjauh dari mereka, sebelum memperkenalkan dirinya pada Chris.
“Maafkan temanku. Dia sedang sibuk mengejar deadline,” ujar Nieve membuat Chris kembali menatapnya. “Dia Teresa, teman dekatku. Dia seorang penulis. Salah satu novelnya akan diangkat menjadi sebuah film di layar lebar, sehingga membuatnya sibuk seperti ini,” sambung Nieve.
Chris membalas penjelasan Nieve hanya dengan senyum manisnya. Senyuman yang mampu membuat semua wanita jatuh cinta padanya.
Setelah perkenalan itu, mereka bertiga melanjutkan acara makan malam tersebut tanpa sosok Teresa di sana. Enzo dan Nieve terlihat menikmati acara ini, sedangkan tengah memikirkan Teresa yang hanya dilihatnya dari belakang saja. Sungguh, Chris sangat penasaran dengan wanita itu.
“Siapa wanita itu?” batin Chris.
Enzo yang melihat Chris tidak fokus pada makanannya pun mencoba berdeham untuk menyadarkan pria berdarah Yunani itu. Chris pun menatap mata Enzo, kemudian tersenyum.
“Ada masalah, Chris?” tanya Enzo.
“Tidak ada masalah,” jawab Chris tetap dengan senyum manisnya.
“Kau yakin?”
Chris mengangguk mantap untuk meyakinkan Enzo. “Ya, aku yakin. Sudahlah, kita nikmati saja makanannya. Ini sangat lezat,” ujarnya berbohong.
“Syukurlah kalau kau menyukai makanannya.”
Chris hanya membalas dengan senyuman. Sejujurnya ia sedang tidak baik-baik saja karena masih memikirkan Teresa yang belum sempat berkenalan dengannya. Terlebih lagi, Chris merasa bahwa dirinya tidak asing dengan wanita tersebut. Seperti telah mengenalnya sejak lama. Dan Chris seketika mengingat wanita yang telah meninggal tiga tahun lalu. Wanita yang selama ini ia cintai dan tewas saat terakhir kali mereka bertemu di sebuah restoran.
Chris mengerjap untuk menghilangkan ingatan itu. Harusnya saat ini ia lebih fokus pada Enzo dan acara makan malamnya. Kenapa pikirannya menjadi kacau seperti ini setelah melihat Teresa?
“Enzo, setelah makan malam ini, aku akan segera pulang,” kata Chris disela-sela makannya sambil menatap Enzo.
“Kenapa terburu-buru? Kita bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan di sini, Chris,” ujar Enzo.
“Aku hanya lelah saja.” Chris mencoba untuk mencari alasan yang tepat agar Enzo percaya padanya. “Aku juga harus menyiapkan barang-barang itu,” sambung Chris.
Enzo mengangguk. “Baiklah. Aku tidak akan menahanmu lagi.”
Chris tertawa ringan menanggapi ucapan Enzo barusan. Ia tahu, Enzo sedikit kecewa karenanya. Tapi, ada hal penting yang harus ia lakukan setelah ini.
Setelah menghabiskan makan malamnya, Chris mengambil ponsel di saku celana kanannya, kemudian mengirimkan pesan kepada Manolis yang masih bersama Jack dan Rery.
Chris : Manolis, tolong cari informasi tentang wanita bernama Teresa.
Manolis : Málista, Kýrie.