Bab 4

1310 Words
Teresa adalah seorang wanita berusia 28 tahun yang bekerja sebagai seorang penulis terbaik di Italia. Bahkan beberapa karyanya juga sudah diangkat ke layar lebar oleh beberapa produser ternama di negaranya. Teresa bukanlah keturunan satu-satunya dari keluarga Longobardi. Dia memiliki seorang adik perempuan bernama Piera Longobardi yang usianya hanya terpaut 2 tahun dari Teresa. Ayahnya bekerja sebagai seorang arsitek terkenal di Italia yang bernama Gustavo Longobardi, sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga bernama Fiorella Baldini. Teresa dan Piera bersaing dalam dunia kepenulisan di Italia, namun berbeda genre. Teresa lebih suka menulis novel bergenre thriller, sementara Piera lebih fokus pada genre romance. Teresa sebenarnya tidak terlalu peduli dengan Piera yang juga ikut menjadi seorang penulis seperti dirinya. Justru Teresa ikut senang melihat adiknya juga berhasil bersamanya. Namun sayang, Piera tidak memiliki perasaan seperti itu pada Teresa. Piera justru ingin menjatuhkan Teresa karena dia tidak suka jika Teresa lebih terkenal daripada dirinya. Saat ini, Teresa tengah disibukkan oleh karyanya yang akan segera difilmkan oleh sutradara ternama. Dan kunjungannya ke Santorini, justru membuat pekerjaannya terbengkalai. Hingga editor yang mengurus naskahnya terus meneror Teresa agar segera menyelesaikan revisi naskahnya. Bahkan Teresa sampai mengabaikan perkenalan Nieve dengan Chris dan memilih untuk menjauh. Teresa menghela napas kasar bahkan hampir menangis saat berada di kamar. Dia merasa tidak enak dengan Nieve karena mengingkari janji untuk menemaninya makan malam bersama Enzo dan Chris. Saat ini ia sedang dalam kondisi stress berat akibat memikirkan deadline novel yang akan difilmkan. Brak! Layar Macbook ditutup dengan kasar oleh Teresa. Selanjutnya ia beranjak dari atas kasur untuk keluar dari kamar menuju halaman depan. Suasana hatinya sedang kacau sehingga membuatnya mengasingkan diri dari Nieve, Enzo, dan yang lainnya. “Astaga! Perasaanku benar-benar kacau,” gumam Teresa. Wanita itu melamun dan membiarkan beberapa helai rambutnya berayun saat diterpa angin malam. Kedua tangannya terlipat di bawah d**a, sedangkan pandangannya tertuju pada langit malam yang dihiasi taburan bintang-bintang dengan kerlipan yang menyejukkan hati. Untuk kesekian kalinya, Teresa menghela napas pelan. Disaat seperti ini, Piera pasti akan merasa sangat senang karena Teresa mengalami tekanan untuk mengejar deadline dari editor. “Bagaimana kalau dia tahu?” gumam Teresa untuk yang kedua kalinya. Sebulir airmata jatuh membasahi pipinya. Teresa menangis dan disaksikan oleh malam, bintang, serta rembulan. Teresa benar-benar membutuhkan dukungan untuk tetap bertahan disaat seperti ini. Satu-satunya orang yang dapat mengerti dirinya hanyalah Nieve. Namun, ia juga tidak ingin Nieve ikut memikirkan masalahnya dan menjauhkannya dari kata ‘bahagia’. Apalagi Nieve juga sudah kehilangan ibunya. Teresa tidak mau menambahkan beban dipikiran Nieve lagi. Ia harus menyembunyikan kesedihannya agar Nieve tidak curiga. Dia terus berjalan menjauh dari teras villa dan berhenti di depan tanaman bunga mawar dengan aroma khas yang tercium di indra penciumannya. Wangi bunga mawar sedikit membuatnya merasakan ketenangan. Sesaat Teresa menoleh ke arah teras villa yang sudah ia tinggalkan tadi dan melihat Enzo sedang berbicara dengan Chris. Sedangkan dari arah lain, ia melihat Jack dan Manolis menghampiri kedua pria tersebut. Teresa menyadari jika Nieve sedang menghampirinya karena tidak ingin mengganggu percakapan sesama pria di teras tersebut. Dia mengembangkan senyumannya untuk menyambut kedatangan Nieve agar Nieve tidak curiga. “Kenapa tadi kau pergi dan tidak makan malam bersama kami? Kau bilang ingin menemaniku,” ujar Nieve. “Maafkan aku,” ucap Teresa menyesal. “Apakah editor itu mengganggumu lagi?” tanya Nieve. Teresa hanya tersenyum masam sambil menganggukkan kepala. Nieve yang melihat ekspresi Teresa pun merasa sangat kasihan. Wanita itu berusaha menghibur Teresa seperti menghibur anak kecil yang ingin menangis. “Ssstt… Sini, biar aku membantumu.” “Benarkah?!” Ekspresi Teresa mendadak begitu bahagia saat mendengar tawaran Nieve. Namun Nieve justru tertawa sehingga membuat Teresa mendengus kesal. Keramaian kecil yang terjadi di antara mereka, cukup menarik perhatian dari sekumpulan pria yang masih berada di teras, terutama pria berkemeja putih. Chris tak berkedip sedikitpun saat melihat paras Teresa. Seketika tubuh Chris menegang dengan kedua mata yang sedikit membelalak. “Dia….” batin Chris. Chris mencoba mengerjapkan matanya berulangkali. Ia berpikir bahwa dirinya sedang berhalusinasi saat ini. Namun ternyata ia salah. Dia tidak sedang berhalusinasi karena Teresa itu nyata. Selanjutnya, Chris sedikit dikejutkan oleh tepukan di bahunya yang dilakukan oleh Enzo. “Kenapa?” “Ah, tidak,” jawab Chris. “Kalau begitu, aku permisi,” sambungnya sambil menatap Enzo dan sedikit berdeham untuk meredakan rasa keterkejutannya akibat melihat Teresa. “Ya,” jawab Enzo. Chris melangkahkan kakinya menjauhi Enzo diikuti Manolis di belakangnya. Langkah Chris perlahan berhenti saat iris matanya terpaku pada sosok wanita bergaun abu-abu muda tersebut. Hanya dalam waktu singkat, Chris mampu terhipnotis oleh wajah Teresa. Kedua matanya tak berkedip barang sekejap, sampai akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan villa tersebut bersama Manolis. *** Setengah jam berikutnya, Chris tiba di mansionnya dan memilih untuk beristirahat. Namun saat hendak masuk ke kamar, Manolis menahannya sejenak. Chris dengan sangat terpaksa mengurungkan niatnya tersebut. Ia menoleh ke belakang menatap Manolis. “Kýrie, maaf kalau saya lancang. Kenapa Anda ingin saya mencari tahu tentang wanita itu? Apa karena wajahnya yang mirip dengan Korinna?” tanya Manolis. “Entahlah. Tapi aku melihatnya memang seperti itu,” jawab Chris diikuti helaan napas kasar. “Tolong, kau cari tahu tentang dia, malam ini juga. Jika sudah, segera kabari aku. Aku mau istirahat sebentar.” Manolis menunduk hormat, membiarkan tuannya masuk ke kamar setelah sebelumnya ia cegah dengan pertanyaan. Manolis pergi ke ruangannya sambil mengotak-atik layar ponselnya, seperti sedang mencari kontak seseorang. Mungkin untuk membantunya mencari tahu informasi tentang wanita yang dimaksud tuannya. Sedangkan di dalam kamar, Chris terlihat begitu gusar. Ia berjalan kesana-kemari sambil berkacak pinggang. Kerutan di keningnya menunjukkan bahwa dirinya sedang memikirkan sesuatu yang ada kaitannya dengan Teresa. Selanjutnya, ia duduk kembali di tepi kasur sambil menghela napas kasar. “Kenapa mereka mirip sekali? Astaga!” Chris menyibak rambutnya ke belakang sambil meremasnya. Terlihat jelas ia sedang frustrasi karena Teresa. “Padahal aku sedang berusaha melupakan Korinna. Tapi, kenapa wanita itu justru muncul sebagai jelmaannya?” gumam Chris lagi. Sekali lagi, Chris berdiri dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Berjalan kesana-kemari sebab gelisah. Sosok Teresa mampu membuatnya bertingkah seperti ini. Dan untuk kesekian kalinya, Chris kembali duduk di tepi kasurnya. Hal itu terus dilakukannya berulang-ulang selama setengah jam. Sampai pada akhirnya, suara ketukan pintulah yang membuatnya berhenti melakukan tingkah konyol itu. Chris berdeham sejenak sambil merapikan rambutnya, sebelum membukakan pintu kamar untuk Manolis. Ia tidak ingin Manolis bertanya lebih detail tentang keadaannya. Saat pintu dibuka, Chris menatap datar kearah Manolis untuk menghilangkan rasa gelisahnya tadi. “Sudah dapat informasinya?” “Sudah, Kýrie,” jawab Manolis sambil memberikan sebuah map berwarna merah kepada Chris. Chris pun menerimanya. “Di dalam sini, ada beberapa infomarsi mengenai Teresa. Anda bisa membacanya lebih dulu,” sambung Manolis. “Baiklah. Kumpulkan semua orang di ruanganku. Kita akan berdiskusi malam ini dan tunggu aku di sana sampai aku selesai membaca informasi ini,” ujar Chris memerintahkan. “Málista, Kýrie,” ucap Manolis. Dia memberi hormat pada tuannya, kemudian bergegas pergi untuk mengumpulkan anggota di ruang kerja Chris. *** Setelah selesai membaca informasi tentang Teresa, Chris berjalan keluar kamar menuju ruang kerjanya yang terletak tidak jauh dari sisi kiri kamarnya. Saat Chris masuk ke ruangan tersebut, semua anggota yang duduk segera berdiri dan menunduk hormat padanya sampai Chris duduk di kursinya. Chris mempersilakan anggotanya untuk duduk sambil meletakkan map merah tersebut di atas mejanya. Pria tampan yang masih mengenakan kemeja putih ini bersandar di badan kursi, lalu berdeham sejenak untuk memulai diskusinya. “Malam ini, aku akan memberikan tugas pada kalian. Tidak semua, hanya beberapa orang saja,” ujar Chris. “Tugas ini akan kita laksanakan besok, di waktu yang tepat.” “Apa tugasnya, Kýrie?” tanya Manolis. “Tugasnya…,” Chris terdiam sejenak sambil menatap seluruh anggotanya yang masih menantikan lanjutan dari kalimatnya, “…menculik seorang gadis bernama Teresa Longobardi di villanya Enzo.” “Kýrie, apa Anda serius ingin melakukan ini? Kalau Enzo tahu, kerjasama kita akan dibatalkan olehnya,” ujar Manolis yang sepertinya kurang menyetujui ide gila Chris untuk menculik seseorang yang ada hubungannya dengan Enzo. “Anda tahu kan bagaimana karakter Enzo? Dia itu bisa melakukan apapun pada orang yang mengganggunya.” Chris menatap Manolis dengan tajam. Menginterupsinya agar mengikuti saja apa yang sudah diperintahkan. “Turuti saja perintahku dan jangan membantah!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD