"Memang kenapa?" David tersentak. Lelaki yang berdiri membelakangi kelima orang penggosip itu langsung membalikkan tubuh. Bibirnya tanpa sadar menyunggingkan seringai kecil. Tangannya yang semula terkepal keras kini perlahan memudar. Emosinya mulai meluap ke atas. Melihat sosok yang kini berada tepat di depan para teman Bundanya, David seketika paham jika semuanya hanya perlu kesabaran. "Memang kenapa jika cucu saya tidak kembali bekerja di rumah sakit? Memangnya kenapa jika anak saya belum mengumumkan David berhenti di rumah sakit? Apa sepenting itu berita keluarga kami untuk anda? Sampai-sampai kalian menggerombol di acara yang seharusnya baik ini?" Kakek David menggeram pelan. Wajah dinginnya itu menatap satu persatu teman anaknya. Netra biru itu mengecil dan menipis karena tatapa

